Bos Somplak

Bos Somplak
Part 39 : Kecupanmu Menenangkan


__ADS_3

"Aku punya Penthouse sendiri di Beijing," ucap Rustam sambil memainkan ponselnya.


Viola mencoba melirik ponsel Rustam, penasaran kira-kira dengan siapakah suaminya berkomunikasi.


"Curiga banget?" Rustam menyadari tingkah aneh Viola. "Aku chattan sama klient."


"Aku pikir sama perempuan lain." Viola melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menghempaskan tubuhnya pada kursi ruang tunggu bandara. "Kenapa, sih, harus main rahasia-rahasiaan? Mau sampai kapan?"


"Mau sampai kapan apanya?" tanya Rustam.


"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan sesuatu dari aku perihal pekerjaanmu?" Viola mendengus. "Apa dengan rahasia-rahasia seperti ini yang dinamakan romantis?"


"Dari awal Mama sama Papa bersatu aja udah nggak romantis," decih Rena di sebelah mereka, menggerutu tidak jelas sambil memainkan rubik di tangannya.


Rustam meneguk ludah saat mendengar sindirian dari Rena. Sepertinya aku harus menyingkirkan anak ini secepatnya? Itu benar-benar harus dilakukan, agar aku bisa hidup tenang dengan Viola, pikir Rustam dalam hati.


"Kenapa diem?" tanya Viola.


"Aku itu pebisnis, Sayang, aku rasa kamu nggak perlu tau pekerjaanku apa. Aku nggak pengen kamu terjun ke perusahaan bantuin aku. Kamu tau sendiri, kan, produk yang aku pasarkan sampai ke mancan negara? Aku takut merepotkan kamu."


Viola terdiam. Sementara Rena memutar bola matanya malas. Jijik melihat sikap Rustam yang sok lembut.


"Aku cuma pengen tau apa? Bekerja dibidang apa suamiku? Apa itu salah?" Viola kembali berucap setelah sempat terdiam beberapa saat.


Rustam terdiam. "Hmm, sebenarnya..." Ada jeda cukup lama yang membuat Viola tidak sabar menunggu jawaban dari Rustam.


"Aku mengurusi jaringan perdagangan manusia, dan juga penyelundupan narkoba."


Deg.


Viola langsung tersentak. Perempuan itu begitu shock, lalu menutupi telinga Rena yang sedang sibuk bermain dengan rubiknya. "Ka... kamu... ma... mafia?"


Rustam menghela napas berat. "Kamu tenang aja, aku hanya bertindak jahat terhadap orang lain. Tidak dengan orang yang aku cintai." Rustam menatap Viola dengan wajah memelas.


"A... apa?" lirih Viola, lidahnya terasa kelu.

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin kamu takut dan menjauhiku jika aku berterus terang perihal pekerjaanku."


Rena yang tidak tau apa-apa hanya melirik ke arah Rustam dan Viola secara bergantian.


"I... itu pekerjaan orang jahat, Mas." Viola tampak pucat, tubuhnya melemas. "Antarkan aku dan Rena pulang!"


"Tidak, Sayang. Aku tidak ingin pisah sama kamu. Aku melakukan ini semua hanya demi kesejahteraan kamu." Rustam menggenggam tangan Viola, merasakan getaran kecil di tangan istri hasil rampasannya itu.


Viola tak kuasa menahan air matanya. "Kesejahtaraan macam apa yang dimiliki seorang buronan?"


Rustam menatap Viola lamat-lamat sambil memegang kedua tangannya meyakinkan. "Percaya sama aku, semua akan baik-baik saja setelah aku mengganti rugi seluruh kebocoran perusahaan Papa kamu."


"Kamu harus selalu ada di sampingku. Kita pasangan yang serasi, Sayang, seharusnya kamu nerima aku apa adanya."


Viola menyeka air mata yang menggenangi pipinya. Tak percaya ia memiliki suami seorang mafia. Kini ia mengerti kenapa Rustam melarangnya memegang handpone, ia juga mengerti kenapa sekarang ia akan pergi ke Beijing, menjadi buronan, ya, seolah semuanya sudah hancur karena ia salah arah saat menuju ke puncak kebahagiaan. Dulu Viola berpikir, keputusannya menerima perjodohan dari Ayahnya dengan Erwin adalah pilihan yang salah. Karena Viola harus menyakiti hati Rustam dan membuat Rustam frustasi dan akhirnya menghilang dari hidupnya. Lalu kemudian, tak disangka-sangka Rustam kembali membawa rindu dan candu dari cerita cinta masalalu yang syarat akan kenangan itu, memporak porandakan rumah tangganya dengan Erwin. Sehingga Viola memilih jalan yang ia kira yang terbaik dengan kembali bersama Rustam, tanpa tau jika Rustam yang dulu bukanlah Rusam yang sekarang. Pilihan yang ia kira tepat itu ternyata hanyalah bagian dari kesalahan fatal dalam hidupnya.


Rena yang berada di tengah-tengah mereka tampak risih karena wajahnya terganggu dengan kedua tangan yang saling menggenggam. "Issshhh, aku gigit nanti tangannya!"


Rustam langsung melpaskan genggaman tangannya kepada Viola, kemudian mendengus.


Viola mengambil tissue untuk membersihkan air matanya.


***


"Aku pengen masuk! Aku pengen masuk!!!" Zahra begitu kesetanan ingin masuk ke ruang interogasi khusus. Tapi, dengan cepat Bu Anti, Vina, dan anak-anak panti lainnya merengkuh tubuh Zahra.


"Kamu tenang, Ra, kamu tenang..." Bu Anti memegangi tangan Zahra.


"Dia udah membunuh Alin dan teman-temannya. Aku kasihan sama mereka, Bu," tangis Zahra pecah, semua orang yang melihatnya ikut menangis hanya karena melihat kesedihan yang dialami Zahra.


"Iya, kamu tenang dulu. Mau ngapain juga kamu masuk? Mereka sudah diurusi oleh pihak yang berwajib. Harusnya kamu lega karena mereka udah ketangkep dan nggak akan ada korban lain lagi setelah ini." Bu Anti memeluk Zahra mencoba menenangkan.


Wanita itu melirik dua anak kecil bersama orangtuanya yang hampir saja menjadi korban penculikkan. Ia ikut menangis tersedu-sedu mengingat anak panti yang tidak seberuntung mereka. Suasana begitu riuh, karena warga terlihat geram ingin menghakimi pelaku.


Zahra sedikit merasa tenang, namun amarahnya kembali bangkit saat melihat dua wajah biadab yang sedang diwawancarai oleh polisi dari kaca pintu ruangan interogasi khusus kantor polisi tersebut.

__ADS_1


Zahra kembali meronta-ronta, sampai menggigit bahu Sari yang memeluknya. "Aku pengen bunuh orang biadab itu! Aku pengen bunuh mereka!!!"


Semua orang kerepotan menghentikkan aksi Zahra. Bahkan Bu Anti sampai jatuh terjengkak ke lantai karena tubuhnya dihempaskan oleh Zahra. "Nyawa harus dibayar nyawa!!!" Suara Zahra mulai serak. Seperti orang kerasukan.


Sari tampak panik. Bahkan beberapa polisi harus turun tangan untuk menghentikkan Zahra. "MINGGIIIIRRR!!!" pekik Zahra dengan napas yang menderu-deru.


"Aku mau masuuuuukkkkk!!!" Zahra memukuli tubuh kekar polisi dengan membabi buta. Tak peduli dengan tangannya yang terasa sakit sendiri saat melayangkan sebuah pukulan bertubi-tubi.


Sampai sebuah tangan menghentikkan aksinya, dan menariknya ke dalam pelukan.


"Sejak kapan istriku suka ngamuk?" tanya Erwin dengan nada lembut nan menenangkan. Terdengar merdu bagaikan angin sepoi-sepoi di pepohonan.


Zahra memberontak. "Aku nggak terima mereka melakukan ini semua, Mas. Lepaskan!!! Aku mau hajar penjahat itu!!!" Zahra meronta-ronta, namun Erwin tidak akan pernah melepas pelukannya.


"AKU MAU MASUK, MAS!!!" teriak Zahra kesetanan.


"AKU MAU MAS..."


Cup.


Sebuah ciuman hangat di pipinya membuat Zahra terdiam. Tubuhnya mematung seketika, saat sebuah ketenangan tiba-tiba menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia kelelahan. Kemudian, menenggelamkan wajahnya pada pelukan Erwin.


Erwin mengusap-ngusap punggung Zahra. Berbisik pelan ke telinga istri tercintanya itu, tenang. "Mau kamu masuk, dan mengahajar mereka. Anak-anak juga tidak akan kembali. Mungkin..." Erwin mengiggit bibir bawahnya kuat-kuat. "Anak-anak sudah tenang dialam sana. Jangan buat mereka sedih, karena melihat dendammu yang tidak jelas ini. Biarkanlah mereka tersenyum bangga, karena melihat Kakak terhebatnya membalas kejahatan dengan pintu maaf yang sebesar-besarnya. Tuhan aja maha pemaaf, kenapa kita tidak?"


Sungguh, lembut sekali suara Erwin. Kalian pasti akan luluh mendengar suara lirih dari lelaki tampan tersebut. Zahra memejamkan matanya menenggelamkan wajahnya lebih dalam lagi kepelukan Erwin. Perlahan amarahnya mulai padam tersiram oleh air yang segar.


***


Cklek, bunyi punti yang terbuka. Tampak Refan masuk ke ruangan Dendy.


"Apakah Erwin sudah kembali ke kantor?" tanya Dendy mendongak.


Refan menghela napas, memberikan selembar kertas berisi foto yang ia bawa.


Rahang Dendy mengeras. Pria paruh bayah itu *******-***** kertas yang disodorkan oleh Refan.

__ADS_1


"Di mana Erwin sekarang?"


Bersambung...


__ADS_2