
Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira ya.
Jangan lupa bantu vote ya, ajak teman-temannya ikut baca
***
Tuan, saya sudah menemukan keberadaan Zahra.
Satu notifikasi pesan masuk pada ponselnya. Erwin menghela napas lega.
Me : Di mana?
Ting!
Pesuruh Erwin langsung membalas, cepat.
Di tempat prostitusi online, balasnya.
Pria itu terbelalak. Tidak menyangka Zahra berada di tempat yang menjijikan.
Erwin langsung menelpon pesuruhnya. "Antarkan saya ke tempat itu malam ini juga," ucapnya saat panggilan telepon sudah terangkat.
"Bagaimana bisa Zahra berada di sana?" tanyanya.
"Kuat dugaan saya Rustam yang membawanya, Pak."
"Hah? Bukankah Rustam saudara dekatnya?"
"Menurut penyelidikan saya, Rustam sering terlibat bisnis prostitusi online, Pak."
Erwin mengepakan tangannya geram. "Bajingan!"
***
Erwin merasa bertanggung jawab atas keselamatan Zahra. Karena Zahra adalah karyawannya.
Selain itu, Erwin juga sangat membutuhkan Zahra untuk menjadi alat balas dendamnya kepada Rustam.
Pria itu kini sudah berada di tempat yang diinformasikan pesuruhnya. Bertemu dengan seorang mucikari yang menawarkan deretan gadis-gadis sexy yang siap ia tiduri.
Mucikari itu tersenyum menghitung segepok uang yang Erwin berikan. Seratus juta rupiah.
Kemudian Erwin meneliti setiap inchi wajah wanita ****** yang berbaris dihadapannya.
Ada yang mengedipkan sebelah mata, ada yang menggoda, ada juga yang menghampiri lalu mencoba memeluknya.
Namun, dengan cepat Erwin langsung menepisnya. Jujur saja ia merasa jijik dengan kebobrokan moral mereka.
Sorot matanya akhirnya menemukan sosok gadis berwajah imut yang mengenakan mini dress berwarna pink.
Sudut bibirnya merekah karena berhasil menemukan gadis yang ia cari.
Gadis imut itu terlihat terkejut menatap Erwin. Mungkin masih tidak percaya kalau bosnya ternyata hobi jajan.
Erwin melangkah mendekatinya, tapi gadis itu malah terlihat gugup. "Siapa namamu?" tanyanya pura-pura tidak kenal.
"Z... Zahra," jawabnya sambil *******-***** pakaian yang ia kenakan.
Erwin menoleh ke arah si mucikari dan memberi isyarat untuk mengangkut gadis bernama Zahra tersebut. Mucikari itu mengangguk.
__ADS_1
Erwin dan Zahra kemudian diantar ke kamar hotel yang sudah disediakan di tempat itu.
"Aku tidak menyangka bapak ternyata suka jajan kayak gini!" ejek Zahra setelah mereka masuk ke kamar.
"Kenapa kamu menjual diri?" tanya Erwin sambil menyorot tajam.
Zahra terlihat kikuk. "Aku sudah dijual oleh Rustam ke mucikari itu."
Erwin menghela napas kasar. "Tega sekali dia."
"Tolong saya Pak, bebaskan saya dari tempat ini." Zahra memohon sambil memegang tangan Erwin.
"Saya tidak ingin jadi pelacur."
"Kamu sudah melayani berapa pria?" tanya Erwin khawatir.
"Baru bapak yang pertama," jawab Zahra malu.
"Jangan bohong, kamu sudah hampir satu minggu menghilang. Itu artinya sudah hampir seminggu kamu berada di sini."
"Saya dikurung di dalam kamar, Pak. Selama 3 hari saya tidak dikasih makanan sama sekali. Mucikari itu akan memberi makan, kalau saya mau menerima tawarannya menjadi kupu-kupu malam. Awalnya saya berpikir lebih baik mati daripada harus menjual diri. Eh, tapi saya nggak mati-mati. Terpaksa deh aku bersedia mengikuti permintaan mucikari itu karena tubuhku sudah sangat lemah berhari-hari tidak diisi makanan."
Erwin menahan tawa mendengar cerita Zahra. Terdengar lucu.
"Tolong Pak, bebaskan saya dari sini!" gadis itu memohon dengan wajah memelas.
"Enak saja, kamu belum melayani saya."
Zahra terbelalak. "Emangnya bapak memang benar-benar ingin saya layani?"
Erwin mengangguk.
"Berarti bapak emang suka order kayak gini?"
"Wah parah, kirain bapak ke sini niatnya untuk menyelamatkan saya." Zahra mendengkus. "Kukira pahlawan ternyata bajingan!"
Erwin menyemburkan tawanya.
"Dih malah ketawa," cibirnya kesal. "Dasar pria hidung belang!"
"Kamu harusnya bersyukur karena kebetulan saya pria pertama yang membooking kamu."
Zahra merengut sebal. "Bapak kok nggak kasihan sama saya sih?"
"Hmm, kasihan sih, tapi sedikit." Erwin kembali terbahak.
"Saya masih perawan, Pak. Bapak tega mau merusaknya?"
"Saya sudah menyewa kamu, Zahra." Erwin menepuk-nepuk bahunya.
"Ya tapi jangan nodain saya dong, Pak. Diselamatkan aja dari sini terus dihalalin."
"Saya yang rugi dong. Andai saja saya bukan yang pertama menyewa kamu. Pasti kamu sudah menyerahkan keperawanmu ke orang itu."
"Bener sih, kalau bukan bapak pasti aku sudah nangis kejer sekarang." Zahra mengehela napas berat.
"Saya akan menyelamatkan kamu, tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Kamu harus melayani saya, saya sudah mengeluarkan banyak uang untuk menyewamu."
Zahra menatap Erwin dengan wajah memelas. "Tapi bapak harus janji, habis ini nikahin saya."
__ADS_1
"Enak aja kan, aku lagi jajan."
"Ish, gimana sih, Pak?" Zahra bergindik sebal.
"Itu tuntutan pekerjaanmu."
Gadis itu mulai menitikan air mata. Kemudian menangis sesenggukan.
Entah kenapa Erwin merasa lega sekali. Untung saja tepat waktu. Kalau tidak, Zahra pasti sudah dijamah oleh laki-laki lain. Selain dirinya.
"Cepet naik ke kasur!" titahku sambil mendorong gadis itu ke ranjang. "Pelacur kok cengeng, yang strong dong!"
Kedua tangan gadis itu berlomba-lomba menyeka air matanya.
Erwin mulai mendekatkan wajahnya, menatap dengan intens kecantikan wajah Zahra. Hidung bangir, bibir tipis, dan leher jenjangnya begitu menggoda iman.
Gadis itu memejamkan mata, bersiap menerima ciuman yang akan dilancarkan Erwin. Zahra sudah pasrah jika kehormatannya akan direnggut oleh bosnya sendiri.
Namun, ia terkejut bukan kepalang saat sebuah kain disampirkan ke kepalanya. Setelah diraba ternyata kain itu adalah kerudung segi empat.
Erwin menghela napas lalu duduk membelakangi Zahra.
"B ... bapak tidak jadi meniduri saya?"
Erwin melemparkan seulas senyum. "Saya tidak mau melakukannya jika kamu cuma terpaksa."
Zahra terenyuh mendengar ucapan Erwin. "Saya pasrah kalau bapak ingin mencelakai saya. Ini memang sudah tugas saya sebagai kupu-kupu malam."
Erwin tertawa. "Haha, lucu."
"Kok malah ketawa sih, Pak?"
"Yaudah ayo?"
"Mau mulai?" tanya Zahra kikuk. Ia menyesal sudah merasa tidak enak dengan bosnya yang sifatnya tidak bisa ditebak ini.
Erwin tersenyum manis. "Saya tidak hobi bermaksiat, Zahra. Apalagi berzinah. Niat saya ke sini memang untuk menyelamatkan kamu."
Zahra terperangah. "Beneran, Pak?"
"Ya. Ikut saya, kamu akan saya nikahi."
Gadis itu bertambah kaget. "Bapak sedang bercanda?"
"Menurutmu?" tanya Erwin menoleh ke arah Zahra. "Lagi pula kamu mau pulang ke mana kalau aku bebaskan dari sini?"
Zahra terdiam.
"Keluargamu sudah tidak peduli kepadamu. Terlebih, di rumahmu ada Rustam yang kejam."
"Lebih baik kamu pulang ke hatiku saja."
Zahra menunduk, menyembunyikan semburat merah yang ada di pipinya.
"Bagaimana? Mau menikah denganku?"
Bersambung...
Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira ya.
__ADS_1
Jangan lupa bantu vote ya, ajak teman-temannya ikut baca
Kira-kira gimana pendapat kalian soal Zahra dan Erwin. setuju nggak kalau Zahra nikah sama Erwin?