Bos Somplak

Bos Somplak
Part 7 : Lomba Selingkuh


__ADS_3

...Jangan lupa bantu vote hehe ......


...***...


"Kita mau meeting kemana sih, Pak?" tanyaku kepo.


"Ke Korea Selatan," jawabnya asal.


"Enak dong, ketemu oppa-oppa?"


"Hmm."


"Jangan sering ngomong hmm deh, Pak. Bikin baper tahu!" Aku mengerucutkan bibir, sambil melipat tangan di depan dada.


Mobil yang kami tumpangi berbelok ke sebuah taman. Pak Erwin mengotak-atik ponselnya dengan satu tangan, kemudian menempelkannya ke telinga.


"Hallo Refan, mereka di mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Menyisir setiap tempat yang ada di taman.


Aku hanya mengamati sambil menaikkan sebelah alis. Pak Erwin menghentikan mobil, sebelum mematikan telepon.


"Kita mau meeting di taman?"


Pak Erwin menghela napas kasar. Kemudian menunjukkan sesuatu dengan dagunya.


Pandanganku langsung beralih ke arah yang ditunjuk Pak Erwin. Menyorot sepasang kekasih yang sedang berduaan di taman.


Mataku langsung membulat dengan sempurna. "Itu kan, kak Rustam?"


Pak Erwin mengangguk dengan wajah sendu. Tampak gurat kesedihan pada wajah tampannya.


"Dengan siapa dia? Gila, pengangguran itu diam-diam selingkuh di belakang kak Sari. Tega sekali dia!" Aku berteriak heboh. Sedikit geram, karena pengangguran yang katanya mantan abdi negara itu menghianati kakak keponakanku.


"Dia bersama wanita spesial dalam hidupku."


Apa?


Aku melongo menatap pak Erwin. Otakku mulai ngeklik nih, menghubungkan rentetan kejadian yang terjadi kemarin.


Mungkin, alasan kenapa pak Erwin sejak kemarin mematai-mataiku hanya untuk menyelidik soal Rustam. Pasti alasan itu juga yang membuat pak Erwin memberi perhatian spesial kepadaku yang notabenya hanya seorang pekerja kelas rendahan di perusahaannya.


Karena aku adalah kerabat dekat kak Rustam. Pria beristri yang sudah merebut perempuan spesial dalam hidup pak Erwin.


Sialan! Ngapain aku baper selama ini, elah!


"Ya benar, itu alasanku mendekatimu," ucap pak Erwin seolah bisa membaca isi pikiranku.


Hancur sudah harapanku. Rupanya apa yang dia lakukan hanya sekedar sandiwara.


"Mari kita mulai permainan." Pak Erwin tersenyum getir. Mengenakan kembali kaca matanya yang tadi sempat dilepas.


"Permainan apa, Pak?"


"Memanas-manasi mereka."


"Ha, maksudnya?" tanyaku.

__ADS_1


"Awalnya aku ingin mengajak istri Rustam selingkuh. Tapi susah, lebih baik aku ngajak kamu aja. Kita pura-pura pacaran."


Aku menggigit jari telunjukku dengan sorot datar. "Kenapa bapak nggak langsung labrak mereka aja. Lalu, kita cincang-cincang! Aku bantuin, Pak. Udah geregetan juga sama itu Perkedel sejak lama."


"Hmm, nggak elegan banget," jawab pak Erwin dengan suara berat.


"Saya hanya ingin menunjukkan kepada dia siapa yang paling merasa kehilangan."


"Kemarahan adalah wujud dari kelemahan, dan ketakutan akan kehilangan."


"Saya ingin menunjukkan bahwa saya lebih berharga daripada selingkuhannya."


Aku menghela napas panjang. "Hufft, oke."


Sepertinya seru juga kalau pura-pura jadi pacar pak Erwin. Aku ingin melihat respon siluman ular itu melihat adik keponakan istrinya yang sering didzolimi membawa pacar seorang CEO tampan, yang tak lain dan tak bukan adalah kekasih dari perempuan yang dia selingkuhi.


Kami berdua turun dari mobil. Aku mengumpat tanpa suara saat menyadari bahwa aku hanya memakai sandal jepit.


"Duh, kenapa nggak sekalian beli high heels di mall, sih?" Aku menepuk jidat.


Pak Erwin menggandeng tanganku. Membuat percaya diriku kembali meningkat.


Tak apa pakai sendal jepit, asal bisa digandeng bos tampan, slebew!


Untung saja baju muslimah yang kukenakan terjulur sampai ke bawah, nyaris menutupi kaki.


"Kok kita honeymoon di sini sih sayang?" ucapku sambil mengeraskan suara.


Pak Erwin tampak terkejut. Ia menatapku dengan wajah terperangah. Mungkin, tidak menyangka aku memanggil dia sayang. Ciee, sayang!


"Ah, jadi nggak sabar!" Aku memeluk lengan pak Erwin, manja.


Rustam dan selingkuhannya akhirnya menoleh ke arah kami. Mereka berdua terbelalak dengan wajah kaget. Seperti sedang tertangkap basah, tetapi tidak terlalu parah.


Bisa kulihat sorot mata tajam dari Rustam mengarah ke arahku. Aku hanya membalasnya dengan tersenyum simpul. "Kita duduk di kursi sebelah sana yuk, Sayang!"


Pak Erwin mengangguk. Aku menariknya duduk di kursi kayu panjang yang tak jauh dari tempat Rustam dan selingkuhannya duduk.


Kekasih pak Erwin terlihat cemburu,  melihat kedekatan pak Erwin denganku. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga selingkuh.


"Sayang?" ucapku manja.


"Hmm." Pak Erwin berdehem.


"Jangan diulangi lagi ya, main ke sini?"


Dari balik kaca mata hitamnya, pak Erwin menaikkan sebelah alis.


"Kalau dipikir-pikir, orang yang pacaran di sini nggak modal banget. Nggak romantis!" decihku menyindir si Rustam dan selingkuhannya.


Mereka mungkin sudah gosong terpanggang.


"Ok, lain kali kita pacaran ke luar negeri aja atau ke pantai."


"Jangan ah, ke hotel aja lebih enak!" Aku menjatuhkan kepalaku ke bahu pak Erwin, manja.

__ADS_1


Kembali kulirik ke arah mereka yang terdiam seperti cacing kepanasan. Haha mampus!


Lagian goblok banget sih, punya kekasih setampan dan semapan pak Erwin malah diselingkuhin. Mau-maunya jadi madu seorang pengangguran sekelas Rustam yang wajahnya sebelas-duabelas sama kambing pak RT.


Atau jangan-jangan kekasih pak Erwin belum tahu ya, kalau si Rustam udah punya istri? Duh, kasian banget ning Maza.


Wanita cantik yang selingkuh dengan Rustam itu mengalihkan pandangannya ke arah lain, ketika sadar aku sedang mengamati.


"Sayang," ucapnya menggenggam tangan Rustam, sengaja mengeraskan nada suaranya.


Mungkin, agar kami bisa mendengarnya.


"Nanti kita ke bioskop yuk, nonton film yang romance-romance biar berasa muda lagi." Dengan manjanya wanita itu menyenderkan kepalanya ke bahu Rustam. Meniru gayaku.


Aku dan pak Erwin menelan ludah.


Gawat! Mereka berdua melakukan serangan balik.


"Hmm." Pak Erwin berdehem singkat.


Aku langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu itu orang apa matahari sih, sayang?" Pak Erwin mengibas-ngibaskan tangannya yang gerah.


"Emang kenapa, sayang?" tanyaku bingung.


"Kok, kalau aku deket-deket kamu hati aku langsung meleleh." Pak Erwin tersenyum simpul.


Cie elah, ternyata romantis juga nih bos somplak tapi ganteng. Kulirik mereka berdua yang melongo.


Seperti segerombolan burung dara yang sedang asyik makan di atas tanah lalu terbang secara serempak setelah didekati manusia. Mereka buru-buru mengalihkan pandangannya saat kami membalas tatapan mereka dengan senyum kemenangan.


"Sayang, kamu pilih aku apa harta?" tanya wanita itu tak mau kalah.


Rustam terlihat kikuk. "Hmm, aku pilih kamu, karena harta tidak menjamin kebahagiaan."


Wanita itu mendesis. "Isshh, nggak romantis, ah, gombalanmu," bisiknya sambil mencubit lengan Rustam.


Aku yang diam-diam mengamati mereka terkikik.


"Zahra, kamu pernah digodain cowok nggak?"


"Pernah," jawabku renyah.


"Terus respon kamu gimana?"


Aku tampak berpikir. "Emang harusnya gimana?" tanyaku balik.


"Bilang dong sama mereka, kalau aku terlalu subhanallah untuk dirimu yang asstaghfirullah." Pak Erwin mencubit pipiku gemas.


Gosong-gosong! Makan tuh sindiran!


Mungkin, karena kalah telak dalam battle selingkuh kali ini.


Wanita itu menarik Rustam untuk pergi dari hadapan kami.

__ADS_1


Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira ya 🙏


__ADS_2