Bos Somplak

Bos Somplak
Part 31 : Main Gila-Gilaan


__ADS_3

"Kita mau kemana sih, Ma?" tanya Rena ketika mereka sudah mulai memasuki kabin pesawat.


"Kita mau liburan, Sayang." Viola mencium Rena yang duduk di sebelahnya.


"Kok, nggak ngajak Papa Erwin, sih?" Rena mengerucutkan bibir.


Viola menghela napas. Entah kenapa ia merasa bersalah kepada Erwin. Perempuan itu melirik ke arah Rustam yang tersenyum ke arahnya.


Sebentar lagi pesawat akan take off. Mereka mulai bersiap-siap memakai sabuk pengaman.


"Kamu tidur, ya. Perjalanan kita jauh." Viola mengusap-usap puncak kepala Rena.


Tak lama setelah Rena tertidur. Viola langsung menatap Rustam dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa ini keputusan yang paling tepat, Mas?" tanyanya.


"Aku nggak pengen jadi beban orangtua kamu. Karena nggak becus ngurusin perusahaan. Lagi pula aku punya usaha sendiri yang lebih menjanjikan di Paris."


"Tapi, kasihan orangtuaku, Mas." Juga Mas Erwin, lanjutnya dalam hati. Viola yakin Erwin dan Rena pasti akan tersiksa menahan rindu.


"Mereka akan mengerti. Mereka akan selalu bahagia melihat kamu bahagia."


"Tapi ini terlalu mendadak!" Viola meninggikan nada suaranya.


Rustam memegang pipi Viola kemudian menyelipkan anak rambut Viola di belakang telinga. "Semua akan baik-baik saja."


"Rena juga belum pamitan sama Mas Erwin."


Rustam menyeringai. "Atau biarkan Rena tinggal sama Erwin? Kita berdua hidup di sana."


"Enggak!" Viola melotot. "Aku yang harus membesarkan Rena."


Rustam terkekeh. "Udahlah, nikmatin aja."


Viola membuang pandangannya dari Rustam. Kemudian menatap putri kecil malangnya yang tertidur. Maafin, Mama, Nak. 


***


Erwin duduk terdiam dengan tatapan kosong di ruang keluarga. Entah kenapa ia malas melakukan apa-apa. Beginikah yang dirasakan Rena?


"Kamu nggak kerja, Mas?" tanya Zahra saat keluar dari kamarnya.


"Mas?" panggilnya lagi.


"Mas Erwin?" Zahra menepuk pundak Erwin. Membuat pria itu langsung tersadar dari lamunannya.


"Eh iya, apa?" Erwin terlihat kikuk.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Zahra dengan wajah prihatin.


"Aku lagi liatin Rena main kejar-kejaran sama kamu," gumam Erwin. Membuat hati Zahra langsung mencelus.


Zahra duduk di sebelah Erwin sambil menatap Erwin dengan tatapan nanar.


"Hmm, lucu. Rena teriak-teriak waktu ketangkep."


Tubuh Zahra gemetar, tangannya tergerak untuk mengelus-elus pundak Erwin.


"M … Mas?" Zahra meneguk ludahnya dengan susah payah.


Erwin masih sibuk berhalusinasi. Membuat Zahra tak kuasa menahan tangisnya.


Zahra beranjak dari duduk, lalu meninggalkan Erwin. Tak lama kemudian ia kembali membawa boneka beruang kecil miliknya.

__ADS_1


"Mas, ini Rena nangis." Zahra menimang-nimang boneka itu seolah itu adalah Rena.


"Ah? Sini-sini! Biar Papa gendong." Erwin  mengambil alih boneka yang digendong Zahra, seolah itu benar-benar Rena.


"Rena cantik, jangan nangis, ya." Erwin menciumi boneka itu. "Itu lihat, nanti dimarahin Mama Zahra, lho."


Zahra memutuskan mengikuti permainan Erwin. "Iya, kalau nangis nggak imut lagi kayak Mbak Zahra."


"Katanya kamu cantik kayak Nissa Sabyan."


Brakkk…


Erwin melemparkan boneka itu ke sembarang arah.


"Kok, kamu ikut-ikutan gila, sih?" tanya Erwin kesal.


Ia takut jika Zahra sudah gila, padahal Zahra menduga kalau Erwin sudah gila.


"Aku malah menyangka kalau Mas itu udah gila." Zahra menunduk.


"Aku hanya menghibur diriku sendiri."


"Kamu bikin aku khawatir, Mas!" Zahra memeluk Erwin. Pelukan hangatnya mampu membuat Erwin tenang.


"Itulah dunia, Ra. Kejam. Kita tidak bisa melawan takdir," lirih Erwin dengan suara berat.


"Gimana kalau kamu jadi Renanya?" Erwin melepas pelukannya lalu menggendong Zahra yang menggunakan gamis.


"Ihhh, gimana, sih, Mas?" Zahra memekik.


"Nina bobo, oh, nina bobo. Kalau tidak bobo digigit Om-Om." Erwin menimang-nimang tubuh mungil Zahra yang sebenarnya sangat berat.


"Nina bobo, oh, nina bobo. Kalau tidak bobo digigit Om-Om!" Erwin memberengut lalu mencubit bibir mungil Zahra. "Bukannya tidur malah ketawa. Dasar bayi tua."


"Udah, Mas, turunin. Apa nggak berat?"


"Hmm, mau cium dulu?" Erwin tersenyum.


"Boleh." Zahra mengangguk malu-malu.


"Maaf, ya." Erwin mendekatkan hidungnya ke pipi Zahra.


"Gak boleh minta maaf," jawab Zahra.


Cup!


Erwin mengecup pipi Zahra lembut. Kemudian tersenyum. Cieee… loh. Eh, mereka udah halal, ya. Jadi, bagi yang belum nikah dibikin santai aja, oke.


Dear, pembaca yang bijaksana ahahaha.


Erwin menurunkan Zahra dari gendongannya. "Tidur, yuk!"


"Ha?" Zahra terlihat bingung.


"Tidur siang. Aku ngantuk banget semaleman nggak tidur."


"Ayo!"


"Khusus siang ini, aku mau tidur sambil nyium pipi kamu."


"Enak aja!" Zahra memberengut. "Hmm, ya boleh sih," lanjutnya sambil terkikik.

__ADS_1


"Kamu hobi bikin aku deg-degan."


"Kamu itu kali, Mas. Bikin aku khawatir, karena udah gila ngedumel sendiri liat Rena main kejar-kejaran." Zahra mentoyor dahi Erwin.


"Lho, berani sama suaminya?!" Erwin melotot karena kepalanya ditoyor.


Zahra terkikik. Ia langsung berlari kabur saat Erwin mengejarnya. "Ahaha ampun, Mas."


Zahra masuk ke dalam kamar lalu naik ke atas ranjang. Melempari Erwin dengan bantal dan guling.


Erwin menangkis bantal dan guling yang melayang ke arahnya. Menterlentangkan tangannya untuk membuat Zahra tidak bisa kabur.


"Ampun Mas, ampun!" Zahra menyipitkan mata saat posisinya sudah terjepit, dan tidak bisa kabur.


Cup!


"Emangnya aku tega mukulin kamu?" Erwin tersenyum saat mencium Zahra. Keduanya terkekeh.


Bahagialah kalian, karena masih punya seseorang yang selalu menyemangati dalam posisi terpuruk. Banyak orang di luar sana yang merasakan keterpurukan sendirian, tanpa teman, tanpa ada yang membantu, dan tanpa ada yang peduli.


"Makasih ya," ucap Erwin ketika keduanya saling tatap.


"Untuk?" tanya Zahra dengan kikuk. Karena wajah mereka berdua begitu dekat.


"Karena sudah manggil aku Mas. Bukan Pak, lagi."


***


Viola terlihat kelelehan karena menempuh perjalan selama kurang lebih 20 jam dengan dua kali transit. Kini mereka sudah berada di sebuah apartemen mewah yang letaknya tak jauh dari menara eiffel.


Viola dan Rustam kualahan menghadapi Rena yang rewel karena rindu dengan Erwin. Padahal belum genap dua hari mereka tidak tinggal di Indonesia.


"Ma, Rena pengen ketemu sama Papa."


"Kita lagi liburan, Sayang." Viola mencoba menenangkan Rena. Entah sampai kapan ia akan terus berbohong kepada Rena.


"Main, sama Papa Rustam aja, yuk!" ajak Rustam meraih tubuh Rena dan menggendongnya.


"Rena mau ketemu sama Papa Erwin.


"Ya, nggak bisa sekarang, Sayang. Kita sekarang jauh dari Indonesia." Rustam menggendong Rena keluar dari apartement. "Nikmatin aja, tempat-tempat di sini. Jangan mikirin Papa kamu."


"Rena pengen pulang!" Rena masih merengek.


"Jangan nakal, dong." Rustam memasang wajah memelasnya.


"Papa Rustam sama Mama yang nakal." Rena cemberut.


"Sssttt… itu, tuh. Ada banyak burung dara. Kita kasih makan, yuk." Rustam mengajak Rena memberi makan sekelompok burung dara di tengah taman.


Rena terdiam. Sebenarnya ia agak sedikit risih memakai baju tebal. Tapi, mau bagaimana lagi udara di Paris sangatlah dingin.


Bersambung…


Jangan jadi siders dong, please comment biar author makin semangat nulisnya.


Spam next lah minimal.


Jangan lupa share ceritanya ya biar banyak yang baca.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2