
"Dari mana nggak pulang selama dua hari?" tegur Viola saat Rustam baru saja melangkahkan satu kakinya memasuki apartemen.
"Ada kepentingan yang harus diselesaikan," jawab Rustam tenang, kemudian melemparkan jasnya ke sofa.
"Kamu kerja apa, sih, Mas?" Viola mematikan televisinya kemudian menghempaskan remodnya ke meja.
Rustam terdiam.
"Atau jangan-jangan kamu jadi mafia di sini?" tebak Viola ngeri.
"Huffttt, aku capek. Jangan ngajak berantem, lah."
"Kamu itu aneh. Nggak pulang sampai dua hari! Ditanyain kerja apa, nggak pernah jawab. Aku juga nggak boleh pegang Hp, itu maksudnya apa coba?! Aku juga kangen sama orang-orang rumah, Mas." Viola mulai meledak.
"Aku mau kerja apa itu nggak penting, yang penting hidup kamu tercukupi." Rustam mengambil sebotol orange juice di dalam kulkas kemudian meneguknya.
Viola tersenyum miris. "Apa dengan itu bisa bahagia?"
"Ah, sudah, lah. Aku mau istirahat." Rustam menutup pintu kulkas dengan kasar, kemudian masuk ke dalam kamar dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Lelaki itu memijat-mijat pangkal hidungnya pening. Bingung harus bagaimana cara melarang Viola agar tidak memegang ponsel. Ia takut kebusukannya akan terbongkar jika Viola menelpon orang rumah.
"Aku mau beli handpone sekarang. Aku kangen sama orangtuaku." Viola membuka pintu kamarnya.
Rustam tidak bisa berkutik. Ia bingung harus melakukan apa untuk melarang istrinya.
Merasa tidak ada persetujuan, membuat Viola akhirnya berbalik badan untuk pergi saja.
"Tunggu!" Rustam beranjak dari duduknya kemudian duduk di tepi ranjang.
Viola menoleh.
"Sebenarnya aku malu sama Papa kamu." Rustam menghela napas kasar. "Aku pergi, waktu perusahaan mengalami kebangkrutan. Itu semua salahku. Aku mau bilang apa sama mereka?"
Viola termenung.
"Kamu percaya sama aku, kan?" lirih Rustam lembut. "Aku bekerja di sini untuk menambal kebocoran finansial perusahaan Papa."
Viola tidak tega melihat wajah Rustam yang memelas. "Kenapa kamu nggak cerita?" Viola berjalan menghampiri Rustam kemudian duduk di sebelahnya.
"Aku nggak pengen kamu kecewa sudah memilih aku." Rustam menunduk.
Viola memaksakan seulas senyum muncul di bibirnya, bermaksud untuk menghibur Rustam. "Aku memilih kamu karena aku sayang sama kamu."
"Ak… aku takut."
Viola mengernyit.
"Akan ada kesalahpahaman dari Papamu kepadaku, jika kamu nelpon dia. Pasti Papa bakalan marah sama aku. Itu yang aku takutkan kalau kamu nelpon Papa."
Viola termenung.
"Maksudku, aku ingin mempertanggungkan kesalahanku dulu, sebelum meminta maaf ke mereka." Rustam melirik ke arah Viola.
Viola terdiam, kemudian tangannya tergerak mengusap-ngusap punggung Rustam. Ia masih belum paham arah pembicaraan Rustam.
"Sabar dulu, ya. Tahan rindunya. Jangan ngehubungin orang rumah dulu, sebelum aku mengganti semua yang telah aku rusak dari mereka. Aku ingin bertanggung jawab." Rustam memasang wajah puppy eyesnya.
Viola terdiam.
"Please!" Lelaki itu memegang tangan Viola dan mengelus-ngelusnya pelan.
Viola akhirnya mengangguk ragu.
Rustam menyeringai saat Viola pergi dari kamarnya, menghampiri Rena yang tiba-tiba menangis di kamar mandi.
***
Suasana di rumah kediaman Ibu Erwin cukup ramai, karena banyak saudara-saudara Erwin yang datang berkunjung menengok keponakan yang sukses di Ibu kota itu. Kebanyakan dari mereka menyayangkan hubungan Erwin dengan Viola yang harus kandas di tengah jalan. Tapi, penyesalan mereka terobati dengan hadirnya Zahra di sebelah Erwin.
Zahra merasa tidak nyaman karena ketiga keponakan-keponakan Erwin yang masih bujang tak henti-hentinya menatapnya sambil melongo. Zahra merapatkan duduknya dengan Erwin.
"Owh, jadi kamu sekarang buka usaha rumah makan?" tanya Paman Erwin.
"Iya, Mang." Erwin mengangguk. Sedari tadi ia diberondongi berbagai macam pertanyaan dari Paman dan Bibinya.
"Naon atu Aa, Viola pindah ke Prancis?" tanya Bibinya.
"Hmm, mungkin suaminya yang sekarang punya kerjaan di sana, Bik."
"Yah, padahal Bibik kangen pisan atu sama Rena." Bibi Erwin cemberut.
__ADS_1
"Mas…" Zahra menyenggol-nyenggol lengan Erwin.
"Apa, sih?" bisik Erwin pelan di telinga Zahra.
"Aku risih. Keponakan-keponakanmu, tuh, dari tadi ngliatin terus," desis Zahra merasa tidak nyaman.
"Cuek aja, lah. Kasihan mereka nggak pernah liat bidadari." Erwin terkikik.
"Naon? Kok, bisik-bisik gitu?" Kepo Bibi Erwin.
Zahra dan Erwin langsung menoleh dengan wajah cengo. "Ah, ini kebelet katanya." Erwin beralasan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Zahra nyengir kuda. "Saya ke belakang dulu, ya, Teh," pamitnya.
"Sok atuh." Bibinya Erwin yang satu lagi mengangguk. Ada tiga paman, dan dua Bibi Erwin yang datang, sisanya ketiga keponakan Erwin yang masih bujang, dan dua anak yang masih balita.
Zifa langsung beranjak dari duduknya. "Aku temenin," ucapnya berjalan menyusul Zahra. Setelah sebelumnya melotot ke arah sepupunya dengan tatapan tajam seolah berkata, 'dasar mesum'.
"Kenapa, Teh?" tanya Zifa karena mendapati Zahra terlihat resah di dapur.
"Ah, enggak." Zahra terlihat kikuk.
"Katanya mau ke toilet. Kok, berhenti di sini?" Zifa mengernyitkan dahi.
"Sebenarnya aku risih sama keponakan-keponakan kamu." Zahra cemberut. "Mereka ngliatin aku terus."
Zifa menaikkan sebelah alisnya. "Mereka ngiler kali, ngliat kecantikan Teh Zahra."
"Ya, masak sampai segitunya ngliatin aku." Zahra tersentak kaget, jantungnya seperti mau copot melihat tiga sosok yang menyembulkan kepalanya di ambang pintu, orang mengintip. Ia pikir hantu.
Zifa langsung menengok ke arah pandang Zahra kemudian melotot tajam. "Hey, kenapa kalian di situ?!" pekiknya kencang.
Ketiga keponakan-keponakan Erwin langsung berhambur dari tempat itu.
Wajah Zahra berubah pucat. Ia seperti diteror oleh komplotan tak bersenjata perusak anak gadis. Memang, para ABG lebih berbahaya daripada komunitas Om-Om hidung belang.
"Issshhh, mereka itu emang norak banget!" Zifa mendengus.
"Aku ke kamar aja, deh." Zahra menggigit jari telunjuknya resah.
"Iya, Teh, nggak pa-pa nanti aku bilangin ke Abang."
Kemudian keduanya berpisah meninggalkan dapur. Zahra menuju ke kamar, sementara Zifa kembali ke ruang tamu.
"Owh, iya." Erwin mengangguk. Kemudian kembali berbincang dengan Ayah, Ibu, Paman, dan Bibinya.
Zifa merasa ada yang tidak beres. Kemana perginya ketiga cecunguk-cecunguk tadi? Hmmm, jangan-jangan? Zifa tampak berpikir.
Karena penasaran Zifa kembali beranjak dari duduknya. Mencari ketiga sepupunya di seluruh penjuru ruangan rumah. Zifa geleng-geleng kepala melihat tiga laki-laki seumuruan dengannya itu berdesak-desakan mengintip di depan pintu kamar.
"Sstt, jangan berisik, oy!"
"Aisshh, kaki gue keinjek."
"Gantian-gantian."
"Ah, nggak kelihatan."
Zifa menyeringai. Gadis itu meraih gagang sapu dibalik pintu kemudian ia pukulkan dengan membabi buta ke arah mereka. "Hayoo…, ngapain kalian di sini?!"
"Dasar malu-maluin!!"
"Pergi nggak, pergi!!!"
"PERGIII!!!"
Mereka yang tidak siap akan diserang hanya bisa menggunakan tangannya sebagai tameng. Zifa masih memukuli mereka dengan membabi buta.
"Iya, ampun, Fa, ampun!"
Zifa melotot. "Gue malu punya sepupu kayak kalian!!!"
"Norak tau nggak!"
"Das…"
Salah satu dari ketiga cowok itu langsung membekap mulut Zifa. "Sssttt!"
Semua orang yang berada di ruang tamu langsung berlari ke arah kegaduhan. "Hey-hey, kenapa ini?!" tanya Ayah Zifa.
__ADS_1
"Eh, enggak, kok, ini lagi belajar drama buat acara pensi besok lusa." Zifa menginjak kaki salah satu dari mereka bertiga.
"I… iya, Om." Mereka terlihat kikuk.
"Owh, kirain apa ribut-ribut?" Erwin menghela napas. Mereka semua yang sempat panik mendengus secara bersamaan, kemudian membubarkan barisan kembali ke ruang tamu.
"Udah sana-sana balik ke habitat kalian!" usir Zifa melotot. Mereka bertiga menunduk kemudian mengekori orangtua mereka ke ruang tamu.
Tinggalah Erwin dan Zifa di depan kamar. "Kak Zahra mana?" tanya Erwin.
"Di dalem," jawab Zifa ketus kemudian melenggang pergi meninggalkan Erwin.
Erwin mengernyit kemudian membuka pintu kamarnya. Tampak Zahra yang terduduk memeluk lutut di pojokan kamar. Membuat Erwin seketika itu juga langsung menahan tawa. "Kamu kenapa di situ?"
"Situasinya udah kondusif, Mas?" tanya Zahra pucat.
"Belum, di luar masih ricuh." Erwin tersenyum.
"Issshhh."
"Kenapa kamu masih di situ? Kayak orang yang merasa tidak terlindungi. Padahal ada aparat keamanan di sini." Erwin memuji dirinya sendiri.
"Keponakan kamu tuh, mata keranjang!" Zahra mendengus kemudian beranjak dan duduk di tepi ranjang.
"Nggak papa, bikin aku makin sayang."
"Kok, gitu?" Zahra mengernyit.
"Ya, aku merasa harus nglindungin kamu. Karena kamu kayak emas yang diburu banyak orang."
"Aku tidak merasa begitu."
"Karena kamu tidak mencintai dirimu sendiri."
Zahra mengerucutkan bibirnya. "Aku sudah tidak suci, Mas."
Erwin menghela napas. "Kenapa harus mengungkit masalalu, kalau kita bisa merubah masadepan?"
Zahra terdiam.
"Sekarang kamu adalah Zahra yang berbeda. Arsyilla az-Zahra si perempuan solehah, yang tercantik, yang paling cantik, dan tercantik karena mengenakan busana muslimnya." Erwin menangkup pipi Zahra. Wajah imutnya jika dilihat dari dekat semakin menggemaskan.
"Aku…" Zahra menggigit bibir bawahnya. "Baper."
"Hmm, kalau baper-baperan kayak gini, kapan kita bertengkarnya?" Erwin mengernyit.
"Owh, nantang nih ceritanya?" Zahra mengangkat dagunya seolah menantang. "Berantem sama kamu aku berani, kok!"
Erwin menaikkan sebelah alisnya.
"Gini-gini dulu di sekolah aku pernah ikut taekondwo tau!"
"Oh, ya?"
"Iya, tapi cuma dua hari, habis itu nggak pernah berangkat lagi." Zahra terkikik.
Erwin mencubit pipi Zahra gemas. "Dasar!"
"Emang bener, ya, pasangan kalau nggak pernah bertengkar nggak ada manis-manisnya gitu." Zahra mencebikkan bibirnya.
"Iya ntar kalau sayang-sayangan terus nanti tiba-tiba nyesek."
"Iya, ya. Kita, kan, nggak bisa melawan takdir." Zahra menyenderkan kepalanya pada bahu Erwin.
"Tapi doa yang baik-baik aja, deh." Erwin tersenyum.
"Aku keinget anak-anak yang diculik, Mas."
Erwin hanya berdehem singkat. "Aku peluk mau?"
"Monggo."
Bersambung…
Wihhh, seneng nggak liat Zahra sama Erwin?
Jangan lupa rekomendasikan cerita ini ke temen-temen kalian, ya!
Terimakasih untuk kalian yang sudah comment dan suport cerita ini. Sungguh kalian sangat mempengaruhi perkembangan cerita ini. Yang rajin lagi ya comentnya hehe…
__ADS_1
Jangan lupa vote dan commentnya ditunggu.
Bye-bye sampai jumpa di part selanjutnya hehe…