Bos Somplak

Bos Somplak
Part 8 : Rencana Pembunuhan


__ADS_3

Aku masih mengenakan baju muslimah bermotif bunga-bunga yang dibelikan bos Erwin sepulang dari rumah.


Tampak di meja makan sudah berkumpul anggota keluarga benalu. Melahap makanan dengan santai, seakan berada di rumah mereka sendiri. Tanpa peduli dengan pemilik rumah yang asli.


Rustam menatapku dengan sorot tajam. Aku membalasnya dengan tersenyum simpul.


Kak Sari istri Rustam menatapku sengit. "Eh, si songong baru pulang. Makanan lo ada di dapur. Buruan di makan, keburu di makan kucing!"


Dih, nggak tahu diri!


"Tinggal di rumahku, makan juga dari hasil bisnis yang keluargaku miliki, tapi tetap tak tahu diri!" sindirku sambil memutar bola malas.


Brakk!!


Paman Aji menggebrak meja dengan kasar. "Zahra! Jangan memancing pertikaian!"


"Jaga mulutmu!" bi Susi melotot geram. "Emangnya tanpa kami, kamu bisa mengurusi semua bisnis dan usaha yang sudah papamu bangun?"


"Iya! Kamu tuh bodoh, nggak kuliah! Bisa apa kamu selain jadi tukang sapu di perusahaan Wijaya Group?" sahut kak Sari.


Aku menghela napas kasar. Malas berdebat dan malas dihajar oleh mereka. Tubuhku sudah terasa remuk dan capek.


***


Ternyata aku cantik juga kalau memakai busana muslimah. Pantesan pak Erwin sampai kesemsem. Aku duduk di depan cermin sambil mengagumi diri sendiri.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, muncul sosok Rustam dengan tatapan tajam.


"Katanya mantan pejabat, tapi kok nggak punya sopan santun, ya?" sindirku.


"Apa yang kau lakukan tadi siang?" tanya Rustam penuh penekanan.


"Menurutmu?" Aku menoleh ke arahnya sambil menaikkan sebelah alis.


Pria itu masih menyorot dengan tatapan tajam.


"Aku jadi paham kenapa kamu nyuruh aku buat membunuh pak Erwin. Rupanya kamu selingkuh dengan pacarnya." Aku tertawa.


"Mau aku adukan ke istrimu?"


Tubuhku langsung merinding saat pria itu mendekat, kemudian mengacungkan pisau tajam.


"Kau tahu resikonya kalau sampai membuka mulut!" ancamnya.


Aku menelan ludah dengan susah payah melihat pisau yang mengkilat itu.


"Sekarang kau kuberi dua pilihan, Erwin yang terbunuh atau kau yang kubunuh?" Rustam mencengkram bahuku sambil mengacungkan pisaunya.


"Bunuh saja aku, kamu akan masuk penjara!"


Rustam terkekeh. "Kau pikir mereka akan melaporkan kejahatanku? Tidak, Zahra. Mereka akan sangat senang kalau kau mati!"


Sial! Aku memejamkan mata saat pisau itu semakin mendekat ke arahku.


"Berpihaklah kepadaku kalau kau ingin aman. Kau tidak ingin mati muda, kan?" desisnya di telingaku.


"Semua hartamu akan kembali, kau akan hidup tentram dan bahagia."


Aku terdiam.


"Tugasmu cuma satu, bunuh Erwin Zamzami."


"Tidak!"


"Kenapa? Dia bukan siapa-siapamu. Aku tahu kalian tadi siang cuma bersandiwara. Lagi pula dia tidak sayang kepadamu, dia sayang kepada selingkuhanku. Dia bukan siapa-siapamu, dia bukan orang baik-baik! Dia yang telah membunuh kedua orang tuamu!"


Aku membulatkan mata. Tubuhku langsung membeku seketika. "Apa maksudmu?"


"Ya, Erwin yang telah membunuh kedua orang tuamu. Dia yang sudah sengaja manabrak kedua orang tuamu di pinggir jalan. Itu semua dia lakukan karena persaingan bisnis. Erwin ingin menyingkirkan papamu agar bisnisnya tidak bangkrut karena kalah saing dengan papamu."


Aku meneguk ludah dengan susah payah.


"Dan, pamanmu itu juga ikut andil dalam pembunuhan itu. Dia ingin merebut harta milik keluargamu. Mereka bersekongkol."


"Waktu itu kau masih kecil, Zahra. Kau tidak tahu apa-apa."


"Berpihaklah kepadaku. Kita singkirkan orang-orang yang sudah jahat kepada kita."

__ADS_1


"Paman dan bibimu, serta...


Erwin Zamzami.


Bunuh dia!"


Deg!


Aku masih termenung dengan tatapan kosong.


***


"Pak Erwin minta dibuatkan kopi susu," ucap receptionist yang baru saja menerima telepon.


Aku mengangguk, kemudian melangkah menuju dapur kantor.


Meracik kopi susu dengan tatapan menerewang. Menimang-nimang kembali niat jahat yang akan dilakukan.


Semalam aku tidak bisa tidur, hanya karena memikirkan ucapan Rustam.


Apa benar pak Erwin adalah pelaku yang membunuh kedua orang tuaku?


Perlahan tanganku mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana jeans yang kukenakan. Sebungkus serbuk racun yang diberikan Rustam.


Masih ragu mengambil keputusan. Akankah aku menjadi orang jahat yang tega membunuh atasan sendiri.


Namun, setelah mengingat perlakuan pak Erwin pada orang tuaku membuat rasa balas dendam ini semakin menggebu.


Dengan tangan gemetar, aku memasukkan serbuk racun itu ke dalam secangkir kopi susu. Kemudian mengaduknya hingga tercampur rata.


Aku mencoba menetralkan kepanikan dengan menarik napas beberapa kali. Harus rileks dan jangan sampai ada orang yang curiga.


Setelah menaruh secangkir kopi itu ke nampan. Aku bergegas menuju ke ruangan pak Erwin di lantai atas.


Pandanganku masih kosong menatap ke sembarang arah, setengah tidak percaya kalau aku melakukan tindak kejahatan.


Lift terbuka. Aku melangkah keluar menuju ke ruangan yang di atas pintu tertulis "RUANG DIREKTUR UTAMA."


Tok ... Tok ... Tok ...


Aku mengetuk pintu dengan sekujur tubuh yang gemetar.


Aku melangkah perlahan, sambil menunduk.


"Taruh situ, aja," ucap pak Erwin yang tengah sibuk menandatangani beberapa berkas-berkas penting yang menumpuk di atas meja.


Aku mengangguk kemudian meletakkan secangkir kopi susu tersebut ke atas meja.


"Kenapa hari ini kau pucat sekali Zahra?"


Aku hanya terdiam, menatapnya dengan wajah sayu.


Pak Erwin menghela napas kemudian meraih secangkir kopi susu yang kuberikan.


Jantungku berdebar kencang ketika bibir pria itu sudah menyentuh ujung cangkirnya.


Baru saja hendak menyruput, ponselnya tiba-tiba berbunyi.


Pak Erwin meletakkan kembali kopinya kemudian meraih ponsel genggamnya di atas meja. "Hallo?"


"…"


"Waalaikumsallam."


"…"


"Apa?" Pak Erwin beranjak dari duduknya, dan tanpa sengaja lengannya menyenggol secangkir kopi susu yang berisi racun itu hingga tumpah.


Priakk.


"Iya, aku ke sana. Kamu tunggu sebentar, ya." Pak Erwin melirik ke arah cangkir yang pecah tadi. Kemudian mendengus dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana.


"Zahra, tolong ikut saya keluar sebentar!"


"Ba... baik, Pak," jawabku dengan bibir bergetar.


Aku mengekori pak Erwin yang bergegas keluar dari ruangan.

__ADS_1


Pria nomor satu di perusahaan itu memanggil pak Refan yang sibuk dengan pekerjaannya.


"Refan, bersihin kopi yang tumpah, ya, saya ada urusan mendadak," ucap pak Erwin sebelum mengajakku memasuki lift.


Mungkin para pembaca akan bilang. "Syukurlah kopinya nggak jadi di minum."


Apa kalian pikir itu sebuah kebetulan? Oh mungkin, bukan. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Tuhan pasti menyelamatkan hamba-hambanya dari bahaya dengan sangat rapi.


***


"Kita mau ke mana, Pak?"


Pak Erwin tidak menjawab. Masih serius mengemudikan mobilnya.


"Kak Rustam pacaran dengan kekasih bapak lagi?"


"Lebih besar dari masalah itu."


Pak Erwin mengemudikan mobilnya dengan khusyuk. Hingga tidak sadar kalau di depan ada seorang nenek tua yang sedang menyebrang.


Aku menjerit ketakutan.


Pak Erwin buru-buru menginjak pedal rem dengan cepat. Namun nahas, rem mobilnya blong.


Ia membanting stir ke arah kiri dan…


Braakkkk…


Mobil yang kami kendarai menabrak pohon besar di pinggir jalan hingga bamper depannya remuk dan berasap.


Kepalaku sempat terpentok dashboard mobil. Kejadiannya begitu cepat, membuat sekujur tubuhku terasa lemas.


Pria itu mengusap wajahnya dengan napas terengah-engah.


"Kamu nggak pa-pa?" tanyanya panik.


Aku mengangguk sambil mengusap-usap dadaku.


"Astagfirullah," ucapnya kemudian buru-buru keluar dari mobil. Kemudian membantuku untuk turun.


Semua orang yang melihat kejadian langsung berbondong-bondong menghampiri kami.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya salah seorang warga.


Aku membungkuk dengan napas tersengal-sengal. Tubuhku gemetaran.


"Alhamdulillah, Pak." Pak Erwin meggeleng, sambil memejamkan mata. Lelaki itu masih terlihat shock.


"Mau diantar ke klinik, Pak?" tanya salah satu warga.


"Oh, nggak usah, Pak," jawab pak Erwin mencoba menetralkan pernapasan.


Kemudian mengambil ponselnya di dalam saku celana. "Hallo, Refan, bisa ke sini sekarang. Di jalan Raden Intan, saya kecelakaan."


Tut!


"Kok, bisa nabrak pohon, Pak?" kepo salah satu warga yang menyayangkan mobil semewah itu rusak seperti barang bekas.


"Kurang tau, Pak, remnya tiba-tiba blong." Pak Erwin memijat pangkal hidungnya, pening.


"Wah, pasti ada yang punya niat jahat sama Bapak. Saya yakin pasti orang itu ingin membunuh Bapak."


Pak Erwin mengernyit. "Hmm, kayaknya saya nggak punya musuh, deh, Pak."


Aku menatapnya dengan tatapan menyelidiki. Apa jangan-jangan Rustam yang sengaja merusak rem mobil pak Erwin? Tebakku dalam hati.


Sesaat kemudian pak Refan datang dengan mobilnya di seberang jalan. "Saya boleh minta tolong urusin mobil saya, Pak?"


"Oh siap, Pak," angguk salah satu warga.


"Ayo Zahra kita ke sana!"


Kami kemudian menyebrangi jalan untuk menuju mobil pak Refan.


Namun tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang hendak menyambar tubuh pak Erwin.


"Awas, Pak!!!"

__ADS_1


Bersambung...


Hargai penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira, ya 🙏


__ADS_2