Bos Somplak

Bos Somplak
Part 42 : Saling Melindungi


__ADS_3

Zahra terbangun dari tidurnya tatkala hembusan napas hangat menerpa kulit, terdengar rintihan kecil dari bibir Erwin. "Re... Rena...."


Zahra mengucek-ngucek mata sayunya, kemudian menatap Erwin yang masih meracau tidak jelas. "Mas?"


Wanita itu menempelkan punggung tangan ke dahi Erwin. Hangat! Zahra terbelalak. Sepertinya Erwin begitu kelelahan karena melakukan aktivitas ekstra seharian penuh.


"Re..., Rena..." lirih Erwin yang bibirnya tak henti-hentinya merintih.


Zahra menggigit jari telunjuk bingung. Malam-malam begini mau cari obat ke mana? Zahra kembali memegang kening Erwin. Suhu tubuhnya semakin meninggi.


Zahra buru-buru berlari menuju dapur. Mengambil baskom kemudian menunggu air pada dispensernya mendidih, panas.


Zahra begitu panik. Perempuan itu mengambil karet gelang yang berada di dapur, kemudian mencepol asal rambutnya yang tergerai. Setelah baskom terisi dengan air panas, Zahra langsung mematikan dispenser. Tak lupa ia juga menambahkan sedikit air dingin, supaya air dalam baskom tidak terlalu panas, namun sedang-sedang saja, hangat.


Zahra kembali berlari menuju ke kamar. Kemudian mengobrak-abrik lemari bajunya, untuk mengambil handuk kecil. Mencelupkan handuk tersebut ke dalam baskom berisi air hangat kemudian memerasnya dan meletakkannya ke dahi Erwin. Jika handuk itu mulai kering, Zahra akan segera mencelupkannya kembali ke dalam baskom kemudian kembali mengompres dahi Erwin dengan handuk tersebut, begitu seterusnya. Dan, apabila air dalam baskom habis, Zahra akan segera berlari menuju dapur mengambil air hangat.


Dug!


Karena terlalu tergesa-gesa, kening Zahra harus terpentok pintu. "Aisshh!" Zahra meringis karena keningnya berdarah.


Zahra kembali berlari menuju ke kamar. Mengompres dahi Erwin dengan tlaten, sambil mengelus-ngelus lengan suaminya itu. Ia merasa lega karena suhu tubuh Erwin mulai menurun, dan Erwin berhenti merintih.


Zahra menguap. Ia masih sangat mengantuk, namun ia masih tetap memaksakan diri untuk menurunkan demam Erwin. Sampai pada akhirnya ia tidak mampu menahan matanya untuk terus terbuka dan akhirnya berbaring di sebelah Erwin.


***


"Rena...!!!" teriak Erwin kemudian terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Ia meraba handuk kecil yang berada di dahinya.


"Mimpi buruk?" tanya Zahra yang berbaring miring menatap ke arahnya.


Erwin menghela napas, kemudian tersenyum ke arah Zahra. Zahra hafal betul dengan kebiasaan Erwin, yang mengganti kata 'iya' dengan sebuah senyuman.


"Udah agak mendingan?" tanya Zahra lagi.


"Aku kamu kompres?" tanya Erwin lembut. Selain menyadari handuk kecil yang berada di dahinya ia juga melihat baskom di bawah ranjang.


"Heem." Zahra mengangguk. "Demam kamu tinggi semalem."


Erwin terperangah sesaat, kemudian menatap luka di kening Zahra. "Itu kenapa?" tanya Erwin.


"Apanya?" Zahra malah balik bertanya.


"Itu luka dikeningmu?"


"Owh, ini kepentok pintu tadi malem." Zahra terkikik.


"Hmm, maaf, ya, aku nyusahin kamu." Erwin merasa bersalah.


"Ngomong gitu lagi aku tonjok!" Zahra melotot.


Erwin menaikkan sebelah alisnya. "Kok?"


"Kamu, sih, aneh. Aku ini emang apanya kamu, kok, kamu bilang maaf udah nyusahin?!" Zahra mendengus. "Kita, kan, saling memiliki juga saling melindungi."


Erwin tersenyum melihat Zahra yang cemberut, terlihat menggemaskan. "Kamu, kan, punyanya tukang cilok itu."

__ADS_1


"Ishhh..." Zahra mencubit lengan Erwin, hingga membuat Erwin terkekeh. "Dasar!"


"Kamu jangan marah." Erwin membelai pipi lembut Zahra. "Kalau kamu marah, nanti aku ngilang."


"Nggak balik lagi?"


"Nanti baliknya kalau kamu nggak marah lagi."


Pipi Zahra langsung memerah. "Aku nggak marah, kok."


Erwin tersenyum. "Kok, bisa ya aku tiba-tiba nemuin gadis kayak kamu?"


"Tuhan baik banget, ya, ngasih aku malaikat penyelamat kayak, Mas?" Zahra tak kalah sengit.


"Semua terjadi begitu cepat. Kita bertemu dan langsung menikah. Walaupun niat awalku jelek, tapi akhirnya benih cinta itu muncul sendiri. Emang kalau yang halal-halal itu selalu nikmat."


"Maafin, aku Mas yang hampir pernah menjual diri." Zahra kembali mengungkit masa lalu kelamnya.


"Kamu apanya aku, kok, minta maaf?!" Erwin meninggikan nada suaranya, meniru gaya bicara Zahra tadi.


"Eh, kamu jangan marah. Kalau kamu marah aku ngilang, wuuusss... Ke Arab Saudi." Zahra mengulang kembali kalimat yang pernah diucapkan Erwin, meledek.


Erwin terkekeh. "Ngapain ke Arab Saudi?" tanyanya.


"Naik haji." Zahra nyengir.


"Dasar!" Erwin mencengkram tubuh Zahra lalu menghujani Zahra dengan ciuman bertubi-tubi. Zahra memekik kencang sambil tertawa. "Aku gemes!"


"Udah, ah, Mas, malu!"


"Itu dilihat sama readers Bos Somplak."


***


"Istirahat aja dulu, Mas."


"Enggak, aku harus cepat-cepat menyelesaikan urusan kantor. Supaya bisa cepat-cepat nyusul Rena ke Paris." Erwin melahap roti tawar yang diolesi selai strawberry.


"Kondisi fisik kamu?" tanya Zahra sambil meneguk susu coklatnya.


"Aku udah agak mendingan. Kamu yang harusnya istirahat aja di rumah, warung makan biar diurusin sama Vina."


"Kok, aku yang harus istirahat, sih?"


"Itu, kening kamu kejedot pintu?" ucap Erwin di tengah kunyahannya.


Zahra memutar bola matanya. "Ini nggak ngaruh kali, Mas."


Erwin meneguk segelas susunya hingga tandas. "Break dulu bertangkarnya, aku harus buru-buru ke kantor." Erwin mencium kening Zahra kemudian menuju ke mobilnya.


Erwin masuk ke dalam mobil, kemudian mengutak-ngatik ponselnya hingga menampilkan foto seorang gadis kecil berumur 7 tahunan. "Papa kangen sama kamu, Nak!" Erwin menatap nanar foto tersebut, kemudian meneguk ludahnya dengan susah payah.


Erwin menginjak pedal gas dan melenggang pergi meninggalkan rumahnya.


Drrrttt.... Drrrttt...

__ADS_1


Ponselnya berdering, sehingga foto Rena terganti dengan gambar hijau panggilan whattsup. Pak Dendy?


Buru-buru Erwin langsung mengangkatnya. "Hallo, Pak?"


"Erwin, mereka tidak ada di Paris," ucap Dendy di seberang sana.


Erwin langsung mengerem mobilnya secara mendadak. "Bapak tau darimana?"


Kami sudah mencarinya," dengusan berat terdengar di seberang sana.


"Paris luas, Pak!" Erwin begitu gusar.


"Erwin, kami sudah bekerja sama dengan badan intelejen dan kepolisian yang berada di Paris. Tapi, tidak menemukan mereka. Apartemen yang ditempati Rustam sudah kosong. Pun, juga dengan markasnya yang sudah kami obrak-abrik."


"Rena dan Viola, Pak?!" Erwin menggertakkan giginya kesal.


Lagi-lagi terdengar hembusan napas berat di seberang sana. "Kami masih menyelidikinya. Oh, iya, jangan bilang ke istri saya, ya, saya takut nanti dia shock."


"Saya akan menyusul ke Paris, Pak!"


"Erwin, kamu bisa apa di sini? Polisi yang sudah profesional saja kesulitan apa lagi kita. Berdoalah, Win, supaya mereka baik-baik saja."


Tut!


Erwin mematikan ponselnya, kemudian menjatuhkan kepalanya ke kemudi. "Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini?"


Tin... Tin... Tin...


Erwin kembali melajukan mobilnya saat mobil di belakangnya membunyikan klakson sambil berteriak menyebut nama-nama binatang. Erwin telah menjadi penyebab kemacetan karena berhenti mendadak di tengah-tengah jalan.


Erwin Menghela napas, kepalanya yang sebenarnya masih pusing akibat demam tadi malam sebenarnya masih belum pulih. Dengan adanya masalah-masalah ini, kepala Erwin menjadi berputar-putar sampai tujuh keliling.


***


"Bapaknya direktur, Kakeknya punya perusahaan handphone. Kok, nggak boleh pegang HP, sih?" Rena ngomel-ngomel tidak jelas. "Kita itu lagi diculik, Ma!"


"Rena, kamu bisa diem nggak, sih, Mama pusing!"


Rena mendengus. "Habis Mama diem aja kayak orang lagi kekurung gini. Ayo pulang, Ma!"


"Emang kamu pikir mudah? Mama mana tau bandaranya sebelah mana, cara pesen tiket pesawatnya gimana? Di China beda sama di Indonesia. Kalau ke sasar gimana?"


"Minta bantuan sama Doraemon atau Naruto gitu?" jawab Rena polos.


Viola langsung menggeplak kening Rena. "Kamu itu bikin Mama darah tinggi aja. Mirip siapa, sih, kamu?"


"Mirip sama Mama lah, kalau mirip sama Papa Erwin aku pasti baik, ramah, murah senyum." Saat itu juga Rena membayangkan wajah tampan ayah kandungnya.


"Kamu itu kalau dibilangin jawab terus." Viola menjewer telinga Rena. Rena menangis, kakinya dengan membabi buta menendang-nendang Viola.


"Sakit, Ma. Ihhh, aku benci sama Mama, aku benci...!!!" Viola sudah melepas jewerannya, namun Rena belum puas menendang-nendang Viola dengan kakinya.


Begitulah keseharian mereka berdua di Beijeng. Duduk di atas sofa sambil berdebat sepanjang hari. Nanti kalau sudah waktunya makan Rustam langsung memesankan makanan delevery, kalau Rustam sudah pulang mereka diajak makan di luar sambil jalan-jalan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2