
"Selamat, sebentar lagi Bapak akan punya momongan."
Erwin tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengar kabar baik itu dari dokter Budiman.
"Bu Zahra harus banyak-banyak beristirahat. Tidak boleh melakukan aktivitas yang melelahkan," ujar Sang Dokter lagi memberi nasihat.
"Nggak usah ngurusin warung makan lagi, ya?" Erwin mengusap-usap pipi Zahra. Zahra mengangguk seperti anak kecil.
"Hmm, tapi...," Zahra tampak berpikir. "Tapi bilangin sama Pak dokternya dulu jangan panggil aku pakai 'Bu' lagi, ya," jelas Zahra manja. Dokter itu hanya terkekeh.
Erwin tersenyum sambil mencubit hidung Zahra, gemas.
***
Pada tengah malam Zahra masih menggeliat resah tidak bisa tidur.
Akhirnya ia menggoyang-goyangkan bahu Erwin yang terlelap di sebelahnya. "Mas, Mas, bangun!"
Erwin mengucek-ngucek mata sayunya yang masih lengket. "Ada apa?"
"Aku pengen sate kambing dikasih sambel kacang." Zahra cemberut.
Erwin langsung terlonjak. "Jam berapa?" Pria itu melirik ke arah jam dinding di kamarnya, menunjukan pukul 02 dini hari. Erwin yakin kalau Zahra sekarang sedang nyidam.
Erwin membuka selimut kemudian meraih jaketnya yang tersampir di lemari. "Aku cari dulu, ya?" ucapnya kemudian buru-buru keluar dari kamar.
Zahra tersenyum. Ia sangat bersyukur memiliki suami seperti Erwin. Lihatlah dia yang tidak mengeluh sama sekali ketika Zahra meminta sesuatu pada tengah malam. Karena tak tega, akhirnya Zahra memutuskan untuk menemani Erwin.
"Mas, tunggu!" teriak Zahra, membuat Erwin yang baru saja membuka gerbang rumah menoleh.
Zahra langsung tersentak, karena udara dingin langsung menusuk kulitnya. Perempuan itu memeluk erat tubuh mungilnya yang hanya dibalut oleh piyama biru muda bermotif Doraemon.
"Kenapa kamu keluar?" tanya Erwin sambil mengernyitkan dahi. "Di luar dingin."
"Aku mau nemenin, Mas." Zahra tersenyum sambil memainkan pipinya, begitu menggemaskan.
Erwin hanya ber 'oh ria kemudian berjalan meninggalkan rumah, memulai pencarian berburu penjual sate yang biasanya beroperasi di pinggir jalan. Ia bersyukur karena kota Jakarta tidak pernah tidur. Selalu ada orang yang beraktivitas 24 jam nonstop tanpa henti, baik kegiatan buruk maupun kegiatan baik. Hanya saja jika dini hari terlihat sedikit sepi daripada malam hari.
"Aku takut kalau penjualnya nggak ketemu, Mas," gumam Zahra dengan gigi bergemulutuk, karena menggigil kedinginan. Namun, tak berlangsung lama karena Erwin tiba-tiba menyampirkan sweater ke bahunya.
"Biar nggak dingin," ucap Erwin sambil membenarkan rambut panjang Zahra yang berantakan menjatuhi wajah.
"Romantis," lirih Zahra menunduk, mencoba menyembunyikan kebahagiaan yang membuncah di hatinya.
"Mau gandengan tangan?" ucap Erwin tanpa menoleh ke arah Zahra.
Zahra melirik ke arah Erwin dengan tatapan sejuknya. Rahang tegas Erwin sangat menggambarkan kewibawaan. Apalagi, dengan keadaan rambutnya yang berantakan, terlihat sangat begitu mempesona.
"Mau nggak, pumpung sepi?" tanya Erwin lagi karena Zahra masih terdiam.
Perempuan itu dengan cepat menggandeng tangan Erwin. Seketika itu juga memorinya langsung terlempar pada kenangan. Kenangannya bersama seorang laki-laki bernama Vilan. Teman SMA-nya dulu, yang berjanji akan kembali kepada Zahra ketika sukses nanti. Dan, sekarang laki-laki bernama Vilan itu sudah kembali, namun, dengan keadaan yang berbeda. Takdir memang pandai memanipulasi harapan. Nyatanya sekarang mereka tidak mungkin bisa bersama. Karena Zahra sudah punya Erwin.
Bos tampan dengan sejuta pesona. Laki-laki jenius yang menyelamatkannya di kelab malam, ingin membelinya bukan sebagai kupu-kupu malam, tapi sebagai istri sirih untuk dijadikan selingkuhan.
__ADS_1
"Udah nggak ada. Adanya tukang ketoprak?" Erwin menghela napas kasar.
Zahra menatap Erwin dengan tatapan sendu. "Aku nggak pengen ketoprak."
"Di gang sebelah sana mungkin ada." Erwin menunjuk sebuah gang yang berada 100 meter dari tempatnya.
"Harusnya tadi nyarinya naik mobil," gerutu Zahra karena kakinya mulai pegal setelah berjalan jauh.
"Kamu capek?" tanya Erwin melepas genggamannya dari tangan Zahra.
"Enggak, sih, aku...," ucapan Zahra terhenti saat melihat Erwin berjongkok di hadapannya.
"Ayo naik!"
Zahra hanya terdiam. Melihat punggung Erwin yang mengenakan kaos berwarna hitam dengan celana training Adidas berwarna abu-abu.
"Ayo!"
Zahra langsung terbangun dari lamunannya. "Kamu nggak capek, Mas?"
"Atau beli ketoprak aja?"
Zahra langsung cemberut. "Nggak pengen."
"Buruan naik, keburu dikerubungin lalat."
Zahra mendesis kemudian naik ke punggung Erwin. "Apanya yang dikerubungi lalat?"
"Tukang ketoprak." Erwin terkekeh setelah Zahra naik ke punggungnya.
Erwin kembali tertawa saat bahunya dicubit. Kemudian ia menghentakkan tubuh Zahra, agar tubuh mungil perempuan itu tidak merosot dari gendongannya.
"Kita kayak anak SMA, ya?" lirih Zahra yang menenggelamkan wajahnya pada bahu Erwin.
"Bentar lagi jadi Mama-Papa," jawab Erwin tenang, dengan kaki yang terus melangkah menyusuri trotoar.
"Aku pantes nggak, sih, punya anak?" tanya Zahra polos.
"Enggak, kamu pantasnya jadi Ibu."
"Isshhh, sama aja kali!"
Erwin melompati lubang yang berada di pinggir trotoar. "Anak kita pasti senang ngeliat ibunya pinter masak."
"Anak kita pasti senang karena ayahnya punya pabrik smartphone terbesar di dunia."
"Anak kita pasti senang, kalau dia punya Kakak yang lucu seperti Rena." Suara Erwin melemah. Pria itu kembali teringat dengan putri kesayangannya.
Zahra juga ikut sedih. "Semoga Rena baik-baik saja, ya, Mas."
"Amin!" jawab Erwin singkat.
"Aku yakin, kok, kalau Caramel bisa menyelesaikan masalah ini, dan Rustam akan segara tertangkap."
__ADS_1
"Sehebat itukah Caramel?" tanya Erwin. "Seniornya banyak yang gugur di Paris."
"Buktinya dulu Caramel bisa memberantas jaringan narkoba di sekolah aku. Bahkan, dia juga menangkap gembong narkobanya."
"Hmm, semoga dugaanmu benar."
Zahra menepuk-nepuk pundak Erwin. "Mas, Mas, ada bintang jatuh. Buruan, gih, minta sesuatu."
Erwin tersenyum. "Aku nggak percaya sama gitu-gituan. Kalau kamu punya permintaan minta aja."
"Aku bingung permintaanku apa."
"Emang kamu pengen apa?" tanya Erwin.
"Hmm, apa ya?" Zahra tampak berpikir.
"Ya, terserah kamu."
"Aku ingin menghentikan waktu."
"Lalu?"
"Memelukmu."
"Terus?"
"Sudah. Aku tidak ingin apa-apa lagi selain kamu."
Erwin tersenyum manis.
***
Viola meronta-ronta karena dirinya diikat dengan tambang oleh Rustam dan dikunci di dalam kamar. "Mas, tolong jangan apa-apain Rena, Mas!" teriak Viola dengan suara serak, karena terlalu lama menangis.
"Ikatanmu bakalan aku lepaskan kalau kamu berhenti ngomongin Rena," jawab Rustam yang duduk di tepi ranjang membelakangi Viola setelah menghisap rokoknya.
"Bunuh saja aku, Mas. Tapi kembalikan Rena ke Indonesia, kepada Ayahnya." Viola kembali menangis terisak-isak.
"Justru Rena yang sebenarnya akan aku bunuh!" Rustam menekankan kata-katanya. "Dan, kamu akan tetap hidup untuk menemani hari-hariku."
"Mas, tolong...., Jangan! Jangan bunuh Rena!"
"Tidak ada yang bisa menolak permintaanku." Rustam menyeringai.
"Kamu jahat!"
"Emang, dari dulu!"
"Dasar iblis!"
Rustam malah terkekeh. "Iblis yang akan menanam benih iblis di rahimmu."
"Bajingan!"
__ADS_1
"Terserah!"
Bersambung...