
Follow Ig : nurudin_fereira
Semoga kalian suka dengan part ini.
***
"Maafin gue, ya, Ra?" ucap Caramel memeluk tubuh Zahra. Mereka baru saja keluar dari studio shooting acara talk show yang dipandu oleh Deddy Corbuzier.
"Kalau aku nggak nyuruh Rian buat bikin tuan Erwin datang kesana. Pasti tuan Erwin masih hidup." Caramel merasakan getaran kecil di tubuh mungil Zahra.
"Ini semua bukan salah kamu, Mel, ini semua sudah takdir. Kalaupun Mas Erwin tidak kesana pasti Mas Erwin tetap akan sedih karena melihat Rena tidak terselamatkan."
Caramel menghela napas sesak. "Yang sabar, ya, Ra."
Zahra mengangguk. Mereka melepas pelukannya setelah Pak Dendy datang menghampiri mereka. "Zahra, terjadi sesuatu dengan Viola. Kita harus segera ke rumah sakit." Dendy menggoyang-goyangkan ponselnya.
"Ya ampun, ada apa lagi?" Zahra menggertakkan giginya. Belum tuntas kesedihannya sudah datang kesedihan-kesedihan yang lain. Rasanya Zahra ingin kabur dari dunia yang menyeramkan ini.
Dendy dan Zahra bergegas menaiki mobil. Melesat kencang melewati jalan protokol untuk menuju ke rumah sakit.
"Ada apa dengan Mbak Viola, Pak?" tanya Zahra khawatir.
Dendy menggeleng gusar. "Aku tidak tau, Ra."
"Cepetan, Pak!" Zahra terlihat begitu panik, takut terjadi apa-apa dengan Viola. Viola memang selalu terlihat biasa-biasa saja, tapi siapa yang tau jika ternyata wanita itu sedang menahan depresi yang sangat luar biasa. Bisa saja Viola melakukan hal-hal yang tidak-tidak untuk dirinya sendiri. Seperti bunuh diri, misal. Pikiran Zahra melayang-layang kemana-mana.
Baru saja Pak Dendy memarkir mobilnya. Zahra sudah buru-buru turun untuk memasuki gedung rumah sakit.
Zahra berlari kencang, menyusuri lorong rumah sakit. Menabrak beberapa petugas dan beberapa orang yang sedang melintas di hadapannya.
Sampailah Zahra di depan ruangan Viola dirawat. "Mbak Viola!!!" teriaknya sekuat tenaga seolah tidak ingin terjadi apa-apa dengan Viola. Zahra membuka pintu dengan kasar, dan...
Huffftttt...
Perempuan itu membungkuk dengan napas terengah-engah, kelelahan. Ternyata Zahra hanya dikerjai oleh Viola. Viola hanya tertawa terbahak-bahak di ranjangnya. Ada boneka beruang besar berwarna biru di sebelahnya.
"Kejutan!!!" Pria yang bersembunyi dibalik boneka sebesar manusia itu melompat memberi suprise kepada Zahra.
Zahra menepuk jidatnya. Vilan lagi? Nggak kapok apa? Batin Zahra kesal.
"Hiyaaa, kena prank lagi!" Viola kembali tertawa meledek Zahra.
"Hiiihhh, nggak lucu tau, Mbak! Bikin aku panik aja!" Zahra benar-benar marah.
Vilan mendorong boneka besarnya ke arah Zahra. Kemudian mengambil setangkai bunga mawar yang ada di balik punggungnya. "Zahra, aku punya sesuatu buat kamu."
"Ini lagi, kamu nggak malu apa ganggu-ganggu aku terus?!" Zahra kini melotot ke arah Vilan.
"Aku hanya mau ngasih hadiah ke kamu, Ra, karena hari ini kamu ulang tahun." Vilan berjongkok di depan Zahra dengan wajah memohon sambil mengulurkan setangkai bunga mawar itu ke arah Zahra.
Bahkan, Zahra sendiri tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Zahra kembali menatap bunga mawar yang diulurkan Vilan.
__ADS_1
"Please, Ra, kali ini aja terima hadiahnya!" Vilan masih memohon.
Zahra melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Zahra, please..."
"Enggak! Kalian udah bikin aku jantungan tau nggak?!" Zahra berbalik badan hendak pergi dari ruangan itu.
"Kalau itu dari aku?"
Langkahnya langsung terhenti setelah mendengar suara bariton itu. Bukan suara Vilan, bukan pula suara Viola. Yang jelas Zahra masih enggan untuk berbalik badan, tubuhnya terasa beku.
"Kalau itu dari aku, kamu masih nggak mau menerimanya?"
Suara itu telah meluluh lantahkan dunia Zahra. Zahra menyipitkan matanya saat berbalik badan untuk melihat langsung pria yang berbicara itu.
Kakinya melemas, tubuhnya gemetar, rasanya seperti mimpi. Benar-benar seperti mimpi. Pria itu menterlentangkan tangannya, mempersilahkan Zahra untuk memeluknya.
Zahra tersenyum dalam tangisnya. Zahra tersenyum. Akhirnya hari itu Zahra benar-benar tersenyum, Akhirnya detik itu juga Zahra bisa tersenyum sangat tulus.
Zahra berlari dan melompat memeluk tubuh pria tampan itu, hingga tubuh Erwin menabrak tembok di belakangnya.
Zahra terisak didekapan Erwin. Seperti biasa Erwin hanya tersenyum sambil mengusap-ngusap punggung Zahra.
"Ini beneran kamu?" tanya Zahra sesenggukan.
"Menurutmu siapa?" tanya Erwin sambil terkekeh kecil.
Erwin hanya tersenyum miring.
"Ishh, kamu jahat! Jahat! Masih hidup nggak bilang-bilang!" Zahra memukul-mukul dada Erwin sambil terisak.
Erwin hanya terkekeh santai. Sementara Viola dan Vilan hanya tersenyum haru menatap mereka berdua.
"Aku sebel, deh, sama kamu bikin khawatir aja!" Zahra masih memukul-mukul dada Erwin.
Tak lama kemudian, terdengar suara anak kecil menyanyikan lagu ulang tahun. Membuat Erwin dan Zahra langsung menoleh. Anak perempuan itu mendengus karena kue ulang tahun yang dipegangnya terjatuh. "Anjiirr, malah tumpah. Bajingan!"
Orang-orang yang berada di belakang Rena langsung membekap mulut Rena. "Rena, mulutnya!" tegur neneknya, Ibu Viola.
Zahra langsung merekahkan senyumnya tatkala melihat anak bandel itu masih tetap sama seperti dulu.
Zahra berjalan menghampiri Rena yang tampak menyesal karena menjatuhkan kue ulang tahunnya.
"Nggak usah sedih, nanti Om Refan beli lagi," bisik neneknya pelan ke telinga Rena. Rena masih tertunduk lesu sambil menatap kue ulang tahun yang berserakan di atas lantai.
Zahra langsung mengangkat tubuh Rena dan menggendongnya. Perempuan itu berulang kali menciumi pipi lembut Rena.
"Bibi-Mama nggak marah, kan, kuenya aku jatuhin?" Rena malah membahas hal itu.
"Kok, masih manggil Mama Zahra kayak gitu?" Zahra mengernyit.
__ADS_1
Rena yang ada di gendongan Zahra memanyunkan bibirnya. "Habis Bibi-Mama masih unyu-unyu kayak kakaknya Mira yang masih SMA."
Erwin yang sudah ada di belakang mereka menepuk-nepuk puncak kepala Rena, sementara Zahra mencubit hidung Rena.
Tak lama kemudian, Refan bersama Pak Dendy datang membawa kue ulangtahun Zahra. Pesta kecil-kecilan itupun dirayakan di tempat Viola sedang dirawat. Zahra tidak menyangka hari ini akan menjadi seperti ini. Merayakan ulangtahunnya sambil menjenguk Viola. Untung saja ruangan Viola cukup besar, sehingga kegaduhan di dalam ruangan itu tidak mengganggu kenyamanan pasien-pasien lain.
Zahra melihat semburat aneh di wajah Viola. Sepertinya wanita itu cemburu melihat kemesraannya dengan Erwin.
Zahra menyuapkan sepotong kue ulangtahun itu ke mulut Erwin. Lihatlah dari dekat wajah tampan yang ia rindu-rindukan. Melihat wajahnya saja Zahra sudah seperti melihat syurga. Sungguh wajah tenangnya selalu menghangatkan hati Zahra.
Erwin mengunyah kue yang disuapkan Zahra sambil tersenyum. Kemudian dengan jahil mengolesi pipi Zahra dengan kue itu hingga wajahnya belepotan. Semua orang tersenyum bahagia melihat keceriaan mereka berdua.
Ya Tuhan, kalau ini mimpi, please, jangan bangunin aku!
Masih ingat kata Viola kemarin? Tuhan akan membayar tuntas ketulusanmu, Ra.
Dan, hari ini Tuhan membayar tuntas kesetiaan Zahra!
***
Zahra tidak menyangka kalau Erwin selamat. Rasanya seperti mimpi, karena banyak yang mengatakan bahwa suaminya tewas terkena ledakkan bom.
Sebenarnya Erwin sudah mendarat di Indonesia sejak sore hari. Karena Zahra menghadiri acara di stasiun TV, akhirnya Erwin diajak ibu mertuanya untuk menjenguk Viola di rumah sakit. Dan, saat itulah mereka menyusun rencana untuk memberikan suprise kepada Zahra, sampai-sampai mengundang Vilan untuk mengerjai Zahra.
Semua orang harus berterimakasih kepada Rian, anak buah Caramel, karena berkat anak jenius itu Erwin dan Rena bisa selamat. Meskipun Rian sendiri yang merakit bom, tapi dia sendiri yang menyelamatkan Erwin. Pada waktu itu Rian meletakkan bomnya di dekat cctv, hanya untuk memuaskan Rustam saja. Padahal Rian mendisein bom itu dengan ledakkan yang hanya bisa terjangkau satu meter dari posisinya.
Saat Erwin masuk dan bom meledak, Rian langsung menarik Erwin dan Rena ke sudut ruangan agar tidak terkena ledakkan itu. Mereka lega karena cctv-nya rusak terkena ledakkan, sehingga anak buah Rustam mengira bahwa mereka sudah tewas. Tapi sayangnya kepala Rena terbentur hingga tak sadarkan diri. Buru-buru mereka membawa Rena keluar dari gedung itu menuju rumah sakit.
"Tapi, kenapa radar yang saya tempelkan ke lengan Bapak tidak terdeteksi lagi?" tanya Caramel yang sudah datang ke situ untuk menjemput Rian. Setelah sampai di Jakarta, Rian terpaksa membuntuti Erwin dan Rena karena tidak tau bagaimana caranya bisa kembali pulang ke Bandung.
"Saat aku menarik Pak Erwin, Pak Erwin menyangga tubuhnya yang terjatuh dengan lengannya." Rian yang duduk di sebelah Erwin menunjuk sedikit luka di lengan Erwin. "Sehingga lengannya tergores dan radar kecil itu jatuh."
Caramel mengangguk, kemudian menoleh ke arah Rian. "Lalu kamu, kenapa nggak ngasih kabar?" tanya Caramel dengan nada mengintimidasi.
Rian hanya cengengesan.
"Cangkul aja mulutnya, Tante polisi!" celetuk Rena yang duduk di ranjang tempat Viola berbaring. Viola yang berada di sebelahnya langsung mencubit mulut Rena. Setelah merayakan ulang tahun Zahra mereka akhirnya ngobrol-ngobrol di ruangan itu.
Rena melihat Vilan yang duduk di sofa sambil tersenyum melihat Caramel, Pak Dendy, dan Zahra memberondongi Erwin dengan berbagai pertanyaan.
Rena meraup kacang atom di dalam bungkusnya kemudian melemparkannya ke arah Vilan.
Vilan sempit terkejut, kemudian menoleh ke arah si biang keladi yang tidak sopan itu. Hallo, pilot tampan seperti dirinya dilempari biji kacang atom oleh anak kecil?
"Om ganteng mau pacaran sama Mamaku?" Sebelum Vilan marah Rena buru-buru menjelaskan maksudnya kepada Vilan. Semua orang yang sedang berbincang menoleh ke arah Rena. Viola mendesis sambil mencubit lengan mungil Rena.
Vilan hanya membalas pertanyaan Rena dengan senyuman.
"Mamaku cantik lo, Om, kalau senyum ada lesung pi...." Buru-buru Viola membekap mulut kurang ajar Rena. Semua orang akhirnya terkekeh melihat kenakalan Rena.
Bersambung...
__ADS_1