
...Komen sebanyak-banyaknya ya, jangan lupa vote, love you hehe......
...***...
Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang hendak menyambar tubuh pak Erwin.
"Awas, Pak!!!"
Bruuggg…
Pak Erwin terlempar ke rerumputan, setelah salah satu warga menarik tubuhnya yang hampir tertabrak oleh mobil yang melaju kencang itu.
"Bapak tidak apa-apa?"
"Sial sekali, sih, nasib Bapak ini. Tadi mobilnya nabrak pohon, sekarang hampir mati lagi ketabrak mobil."
Pak Erwin mengusap-ngusap wajahnya shock. Lalu, beranjak dari posisinya yang terjerembab di rerumputan. Di bantu oleh beberapa warga.
Refan yang melihat kejadian itu langsung turun dari mobilnya.
"Ya ampun?" Refan terlihat panik.
"Kita harus buru-buru ke rumah kakek saya," ucap pak Erwin yang langsung dibopong oleh pak Refan masuk ke dalam mobil.
Pak Refan memang adalah orang kepercayaan bos Erwin.
"Ayo Zahra, buruan masuk!" Aku mengangguk, kemudian ikut masuk ke kursi penumpang.
"Memangnya kenapa Bapak buru-buru ke sana?" tanya Refan saat mulai melajukan mobilnya.
"Rumahnya kebakaran." Pak Erwin mengusap-usap wajahnya gusar.
"Bapak tenang dulu, tidak perlu terburu-buru sampai-sampai mobil Bapak nabrak pohon."
"Astagfirullah, semua di luar kendali saya, Fan." Pak Erwin menghela napas. "Saya tidak tau kenapa remnya blong, sepertinya ada orang yang berniat membunuh saya," lanjut Pak Erwin dengan suara parau.
"Termasuk orang yang hampir nabrak Bapak tadi?"
"Mungkin," angguk pak Erwin sambil menghempaskan kepalanya ke kursi mobil yang terbuat dari busa itu.
Sesampainya di sana kami disambut dengan teriakan histeris, dan juga kepulan asap tebal pada sebuah rumah.
Suasana semakin mencekam. Sudah banyak orang yang bergerumul di depan rumah yang ditinggali kakek bos Erwin.
Dua mobil pemadam kebakaran mencoba memadamkan kobaran api yang melalap rumah itu.
"Kakek saya mana?" tanya pak Erwin panik.
"Masih ada di dalam, Pak!"
"Sial! Kenapa tidak ada yang menolongnya!" umpat Pak Erwin kesal.
"Itu sangat beresiko Pak, karena di dalam apinya sudah membesar."
Pak Erwin menyeka keringat di wajahnya dengan kasar. Tangan yang satunya lagi terkepal.
"Tenang, Pak." Refan memegang pundaknya. Namun, pak Erwin malah menepisnya. Lalu berlari memasuki rumah bertingkat dua yang di atasnya sudah dipenuhi dengan asap itu.
"Pak Erwin!"
"Tuan, jangan masuk!!!"
"Itu berbahaya!!!"
Pak Erwin tidak peduli dengan orang-orang yang meneriakinya. Lelaki yang masih mengenakan jas kantornya itu menerobos masuk ke dalam rumah.
Kulirik Refan yang mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Pandanganku beralih ke arah seseorang yang menyenggol lenganku.
Bola mataku langsung membulat, menatap sosok yang tidak asing di sebelahku. Tiba-tiba muncul dari kerumunan para warga.
Rustam, ternyata pria bengis itu juga berada di sini. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum licik.
"Bagus, semoga bosmu mati bersama Kakeknya di dalam," bisik Rustam ke telingaku.
Aku mengepalkan tangan, geram. Pasti Rustam adalah dalang di balik rentetan bahaya yang dialami pak Erwin.
__ADS_1
"Ikut aku!" Rustam menarikku keluar dari kerumunan.
"Ke mana?"
"Sudah, ayo!" Rustam membawaku masuk ke dalam sebuah mobil berwarna silver.
"Aku harus memastikan pak Erwin selamat!" ucapku.
"Tidak ada harapan. Dia pasti mati di dalam. Sudahlah, ayo!"
"Enggak!" Aku tetap bersikukuh.
"Zahra! Kita punya urusan yang lebih penting." Rustam memasang wajah memelas.
"Emangnya ke mana?"
"Kita akan mengurus surat-surat tuntutan kepada keluarga pak Aji. Atas perampasan warisan dan kekerasan yang dilakukan kepadamu."
Aku terperangah. "Sekarang?"
"Iya!" jawabnya sedikit kesal.
Aku menghela napas kasar. Menoleh ke arah kobaran api yang semakin membesar melalap rumah mewah itu.
Berat rasanya meninggalkan tempat ini. Aku masih memikirkan nasib pak Erwin.
"Sudahlah, nggak usah dipikirkan. Dia bukan siapa-siapamu!" Rustam mendorongku agar cepat masuk ke dalam mobil.
Aku menatap nanar ke arah rumah yang terbakar itu. Dari balik kaca jendela mobil aku bergumam. "Maafkan aku pak Erwin. Mungkin, itu semua sudah takdirmu."
***
Setelah beberapa jam perjalanan. Rustam membelokan mobilnya pada sebuah rumah megah berlantai dua. Seorang satpam buru-buru membuka pagar.
"Kok, nggak ke kantor polisi?" tanyaku sambil mengernyit.
"Ini rumah pengacara yang akan kita sewa untuk mengusut kasusmu," jawab Rustam memberhentikan mobilnya di halaman rumah yang memancarkan aura menyeramkan itu.
"Ayo, turun!"
Aku masih terdiam menatap rumah tersebut, curiga.
"Paris?"
Rustam mengangguk.
"Lalu, kak Sari?"
"Hmm, dia akan kuceraikan. Aku akan menikah dengan pujaan hatiku yang baru."
Aku membulatkan mata. "Kamu gila!"
Rustam tersenyum masam.
"Perempuan yang akan kamu nikahi, kekasih bos Erwin?"
"Ya, Erwin sekarang sudah mati. Tidak ada lagi yang menghalangi kami."
"Sinting!" decihku.
"Sudahlah ayo, kita selesaikan urusanmu." Rustam melangkah lebih dulu.
Aku berdecak, membuka sabuk pengaman kemudian keluar dari mobil dan melangkah mengekori Rustam.
Pintu rumah terbuka, menampilkan dua pria kekar yang mengenakan pakaian serba hitam. Otot-otot di lengannya terlihat begitu kekar.
Di kursi ruang tamu, duduk seorang wanita berambut panjang yang mengenakan dress mini berwarna merah.
"Rustam kau datang," ucap wanita berlipstik tebal itu sebelum menghisap sebatang rokok di genggamannya.
Aku bergidik ngeri melihatnya. Kutaksir umurnya sekitar 40-an. Tampak dari kerutan yang mulai muncul di wajahnya.
"Barang bagus," tuturnya sambil menatapku penuh minat.
Aku terbelalak, kemudian menoleh ke arah Rustam penuh tanda tanya.
"Keponakanku," jawab Rustam sambil menyalakan sebatang rokok dengan pematik.
__ADS_1
Kepulan asap rokok menguar menutupi wajahnya. Perlahan asap itu melayang, dan nampaklah senyuman dari bibirnya.
"Cantik, masih perawan?" tanyanya lagi.
"Ya, tentu." Rustam mengangguk.
Aku yang mulai paham apa yang dibicarakan langsung mengumpat.
"Brengsek! Apa maumu!"
Rustam terkekeh saat aku menarik kemeja yang ia kenakan, kasar.
"Kau menjebakku!"
Rustam mendorongku agar melepaskan cengkraman. "Ini tempat yang tepat untukmu!"
"Sial! Aku tidak mau!" Aku beranjak dari duduk. Kemudian hendak berlari kabur.
Namun, dua pria berbadan besar tadi menghadangku. Menjorokkan tubuhku hingga terjerembab ke lantai.
"Bawa dia ke kamar!" titah wanita tua itu.
Kedua pria berbadan besar itu langsung menyeretku masuk ke dalam kamar.
Menghempaskan tubuhku dengan kasar. Kemudian menguncinya dari luar.
Aku menangis, terisak, menjerit, mengumpat, menggedor-gedor pintu, dan mengacak-acak rambut.
Hingga tubuh ini merasa lelah.
Sialan! Rustam telah menjebakku. Bodoh, benar-benar bodoh sudah mempercayai orang selicik Rustam.
Hancur sudah hidupku!
***
Mataku terbuka setelah tersorot cahaya dari pintu kamar yang terbuka. Muncul sosok wanita yang berjalan dengan anggun di ambang pintu.
Karena kelelahan menangis, aku sampai ketiduran. Entah sudah jam berapa ketika kamar ini berubah menjadi gelap gulita. Karena lampunya belum aku nyalakan.
"Kau lapar sayang?" tanyanya dengan wajah arogan.
"Keluarkan aku dari sini!" teriakku dengan suara serak.
"Tidak semudah itu. Aku sudah mengeluarkan banyak uang untuk membelimu dari Rustam!" Wanita itu bersedekap sambil tersenyum miring.
Aku mengepalkan tangan. Sialan Rustam!
"Apa kamu lapar?" tanyanya dengan alis yang tartaut.
Aku memalingkan wajah sambil mengusap mataku yang sembab.
"Aku akan membawakanmu makanan kalau kamu mau berdandan cantik malam ini."
"Aku tidak mau jadi pelacur sepertimu!"
Wanita itu tertawa. "Terserah, aku tidak akan memberimu makan kalau kamu tidak mau menuruti perintahku."
"Keluarkan aku dari sini jal*ng!" Aku meludahinya dengan kasar.
Wanita itu hanya tersenyum. "Kamu tidak akan keluar dari kamar ini."
"Aku lebih baik mati membusuk di kamar ini daripada harus menuruti perintahmu!"
"Oke!"
Wanita itu berbalik badan. Kemudian melangkah keluar dan menutup pintu dengan kasar.
Aku kembali menangis sesenggukan meratapi nasibku.
Apakah ini karma, karena aku sudah berusaha mencelakai bos Erwin?
Berjam-jam aku menangis, sambil menahan lapar.
Tubuhku terasa sangat lemah. Tidak ada makanan apapun yang bisa dimakan.
Aku benar-benar kelaparan.
__ADS_1
Bersambung...
Hargai Penulis dengan follow Instagram nurudin_fereira 🙏