
Aku membuka pintu kamar Rena perlahan. Tampak gadis kecil itu sedang terlalap dipelukan Zahra.
Rena masih menganggap Zahra hanya sebagai seorang babysitter. Kami sengaja tetap berbohong, agar bocah itu tidak membenci Zahra.
Tamparan kakek masih membekas di pipi. Kata-katanya juga masih menancap diulu hati. Dengan cara apa aku harus membawa Viola kembali?
Aku kembali menutup pintu dengan pelan. Kemudian melangkah menuju ruang keluarga. Menghempaskan tubuh pada sandaran sofa.
Bi Ijah baru saja datang, membawa sebungkus rokok yang aku minta. "Ini Tuan!" ucapnya sambil menaruh sebungkus rokok beserta uang kembalian dari warung.
"Uang kembaliannya ambil aja, Bi," ucapku.
"Makasih, Tuan."
"Owh iya, tolong buatkan secangkir kopi ya."
Bi Ijah mengangguk, kemudian bergegas menuju dapur.
Ketika stres melanda, tidak ada sesuatu yang menyenangkan selain menghisap asap rokok. Demi pelampiasan, lewat candu dari kepulan asap yang membangkitkan kenangan masa lampau.
Namun, permasalahan hidupku sepertinya sudah sangat parah. Hingga batinku terus tersiksa. Viola benar-benar membuatku rapuh dan tak berdaya.
Aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang dia pikirkan? Kenapa dia rela melakukan apapun demi laki-laki bejat seperti Rustam?
Ujung batang rokok yang terselip dijemari perlahan mulai terkikis menjadi abu. Aku menjejalkan rokok itu ke asbak dengan kasar, kemudian beranjak dari duduk.
Melangkah menuju dapur, tempat bi Ijah membuatkan secangkir kopi susu untukku.
"Bi Ijah, tolong pergi dulu dari dapur," titahku.
"Kenapa Tuan?" tanya perempuan paruh bayah itu bingung.
"Saya mau ngamuk!" Aku menghela napas kasar.
Bi Ijah terdiam, kemudian meninggalkan secangkir kopi yang baru saja ia seduh dengan wajah ngeri.
Aku mengacak-acak rambut frustasi. Kemudian menghempaskan seluruh gelas yang ada di dapur hingga pecah berserakan di lantai. Piring-piring dan perabotan dapur lain aku dorong hingga berjatuhan.
Dengan emosi yang meletup-letup, aku memporak porandakan semua barang yang ada di dapur.
Aku meluapkan semua kekesalanku pada barang-barang itu. Berharap beban hidup ini sedikit terangkat, dan aku bisa tidur nyenyak walau hanya malam ini saja.
Aku sudah lelah, sangat-sangat lelah.
Aksiku langsung terhenti setelah seorang wanita tiba-tiba memeluk pinggangku dari belakang.
"Pak Erwin kenapa?" tanyanya dengan suara serak.
Tubuhku langsung membeku seketika.
"Sabar Pak, jangan berlarut-larut dalam kesedihan." Zahra memelukku semakin erat.
"Aku tidak ingin pak Erwin kenapa-napa."
Mataku terpejam beberapa detik, mencoba mengontrol emosi.
__ADS_1
"Aku sudah terlanjur sayang sama, Bapak. Aku akan menemani bapak kemanapun bapak pergi, meski aku harus jadi yang kedua. Meski aku hanya bapak jadikan sebagai babu!"
"Karena di dunia ini, hanya bapak yang peduli sama aku."
"Aku hanya punya bapak!"
Aku masih terdiam dengan wajah kaget.
"Banyak-banyak istighfar Pak, lalu sholat. Bukankah bapak sering bilang begitu?"
"Tolong jangan begini terus, Pak. Kasihan Rena!" Zahra menangis terisak-isak.
"Aku juga tidak ingin kehilangan bapak. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi sekali lagi!"
***
Aktivitas tetap berjalan seperti biasanya. Setiap hari aku harus berangkat bekerja. Mengurus beberapa perusahaan.
Agenda rapat dan meeting dengan para klien juga tetap lancar seperti biasanya. Aku menyembunyikan kesedihanku di depan banyak orang. Meski Viola sudah satu minggu menghilang tanpa kabar.
Sebenarnya aku sudah tidak terlalu memikirkan keberadaannya. Hatiku sudah terluka tidak bisa disembuhkan, melihat kelakuannya. Aku hanya memikirkan keadaan Rena, yang terus menangis karena rindu dengan mamanya.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel yang ada di meja berdering. Setelah menyesap secangkir kopi, aku langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, ada apa?"
"Pak, mbak Viola baru saja datang jemput Rena," ucap Zahra di seberang telepon.
"Iya, mbak Viola juga mengambil semua pakaian Rena. Mereka pindah dari rumah Bapak."
Aku mengusap-usap wajahku gusar. Apa lagi ini?
Dengan wajah lelah, aku meminta izin kepada sekretaris untuk keluar sebentar.
Aku akan pergi ke rumah mertua. Ingin meminta penjelasan kenapa Viola membawa Rena pergi dari rumah.
Setelah mobil terparkir di halaman rumah Dendy Wijaya, papa mertua. Aku langsung turun dengan tergesa.
Seorang pembantu membuka pintu dengan pelan. Wanita paruh bayah itu langsung tertunduk lesu, melihat kehadiranku.
"Masuk lah, Win." Mama mertua mempersilahkan aku masuk.
Aku melangkah menuju sofa ruang tamu untuk duduk. Dengan sorot yang meredup. "Kenapa Viola membawa Rena pergi dari rumah?"
Mama mertua tersenyum getir, sambil *******-***** kemeja yang ia kenakan. "Viola meminta kamu untuk segera menceraikannya."
Deg!
Seperti dipukul palu godam, tubuhku langsung membeku tidak bisa bergerak.
"Kamu sudah menikah lagi kan, Win?"
Aku menghela napas kasar. Kemudian mengangguk.
__ADS_1
"Karena itu, aku tidak bisa menghentikan Viola bersama orang yang dia cinta." Mama mertua mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes.
Kedua tanganku terkepal. "Aku terpaksa melakukannya agar ...."
"Saya sudah tahu semuanya Win, kakekmu yang cerita. Maafkan kami karena tidak bisa mendidik Viola dengan baik."
Aku menundukkan wajah. "Saya ikhlas jika Viola bersama pria lain, tapi tidak dengan Rustam. Dia bukan orang baik-baik."
"Biarkan Win, biarkan Viola menjalani sendiri keputusan yang ia ambil." Mama mertua menepuk-nepuk pundakku.
"Saya hanya memikirkan nasib Rena." Aku mengusap-usap wajahku gusar. "Saya tidak bisa menjadi orang yang baik untuk anak saya."
"Kamu masih bisa menjenguknya kapan pun yang kamu mau." Mama mertua masih menyemangati. "Asalkan jangan biarkan Rena kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya. Kalian tetap bekerja sama untuk membesarkan Rena."
Aku menatap mama mertua dengan wajah pias. "Baik," jawabku dengan suara serak. "Saya akan segera mengurus surat perceraian."
***
"Erwin!"
Aku berhenti melangkah saat mama mertua memanggil.
"Kamu masih bisa panggil saya mama," ucapnya dengan air mata yang sudah menggenangi pipi.
Aku tersenyum tipis kemudian berbalik badan untuk pulang ke rumah. Meski hati ini tetap merasa sakit.
Rena meronta-ronta sambil menangis, menggigit tangan Viola yang sedari tadi mengurung tubuhnya. Viola terpekik, hingga Rena berhasil lolos dan berlari menghampiriku.
"Papa!!!" teriak Rena yang membuat tubuhku mematung di tempat.
Rena berlari menghampiriku sambil menangis terisak-isak. "Papa jangan pergi..."
Aku membungkuk dan memeluk Rena erat-erat. Pasti dia sangat tersiksa. Jika, ikut denganku dia merindukan mamanya. Jika, ikut mamanya dia pasti rindu denganku. Dia tidak bisa lagi mendapatkan kasih sayang kedua-duanya dalam waktu yang bersamaan.
Pantas jika Tuhan membenci perceraian, meski diperbolehkan.
"Rena nggak mau diledekin temen-temen karena Rena nggak punya Papa lagi."
Hatiku seperti tercabik-cabik, air mata menitik seolah ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh putri semata wayangku.
Sejak talak pertama hingga sidang terakhir perceraian, dalam proses yang cukup lama. Rena menjalani hari-harinya dengan menangis, sampai pada detik ini, pada detik paling mengerikan, di mana ia harus melihat sang papa benar-benar berpisah dengan mamanya.
"Papa akan sering-sering datang untuk nengokin kamu, Sayang." Aku menarik tubuh Rena semakin dalam kepelukan. Dadaku terasa sangat sesak.
"Kenapa, sih, Papa sama Mama pisah?"
"Karena Papa pengen Mamamu bahagia," ucapku dengan getir.
"Tapi Rena sekarang nggak punya Papa," isak Rena sesenggukan.
"Mamamu udah nyiapin Papa baru yang lebih keren daripada Papa."
"Sana kamu kembali ke Mama kamu dulu. Nanti kalau mama ngizinin kamu ikut papa, papa langsung jemput. Kapanpun kamu kangen papa, akan papa jemput. Papa nggak peduli sama semua yang ada di dunia ini. Asalkan kamu bahagia." Aku menempelkan dahiku ke wajah Rena sambil menggerakkan gigi. "Apapun papa lakukan demi kamu, Rena!"
Bersambung...
__ADS_1