
Kubuka pintu kamar yang biasanya menjadi tempat favorit untuk istirahat. Tampak seorang wanita terbungkus selimut tertidur dengan nyenyak.
Aku mendekat perlahan. Memasukan kedua tangan yang gemetar ke dalam saku celana. Sorot mataku tak berpaling sedikitpun dari wajah cantik itu.
Rasa sayang ini semakin bertambah dalam ketika Viola sedang tidur, daripada saat dia terbangun. Karena aku bisa menatap wajah ayu itu sepuasnya.
Andaikan aku bisa terus menatap indah wajahmu.
Aku tersenyum getir. Menyayangkan kehancuran keluarga kami.
Perlahan, air mata ini menitik. Tangan bergerak, menghapusnya dengan ujung jari.
Wanita itu menggeliat hingga membuat rambut pirangnya menjatuhi wajah. Lalu, kembali mendengkur halus, menikmati petualangan di alam mimpi.
Aku mendekatkan wajah, mengecup bibirnya sekilas. Membuat Viola kembali menggeliat.
Wanita berlesung pipit itu membuka matanya perlahan. Kemudian mengerjap-ngerjap setelah melihat kehadiranku.
Lama kami membeku saling tatap. Hingga pada akhirnya Viola beranjak, menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Kenapa kamu di sini?!" tanyanya kesal, dengan wajah sayu.
"Kita masih sah sebagai suami-istri," jawabku datar.
"Sana pergi! Tidur sama istri mudamu!" usirnya.
"Aku ingin tidur denganmu."
"Aku nggak sudi! Lagi pula sebentar lagi kita akan bercerai!" teriaknya kesal, sambil merapikan rambut yang acak-acakan.
Aku menghela napas berat. "Aku masih mencintaimu, Vi."
"Bullshit!"
"Aku sama sekali tidak punya niatan untuk poligami. Hal itu aku lakukan hanya untuk membuatmu menyesal," lanjutku dengan suara serak.
"Itu keputusanmu yang tepat!" jawab Viola dengan tatapan tajam. "Karena sebentar lagi kita akan bercerai."
"Sadarlah Vi, Rustam bukan orang baik-baik. Dia sudah jelas-jelas menghianati istrinya, bagaimana bisa kamu malah ingin jadi istrinya?"
"Aku lebih mengenal Rustam daripada kamu, Mas!" sentak Viola kesal. "Cepat sana pergi dari kamar ini!"
Hatiku terasa mencelus mendengar hal itu.
"Baik lah, tapi kamu tetap harus tinggal di sini sampai menunggu masa Iddahmu selesai. Sampai kita bisa menjelaskan pada Rena keadaan kita yang sesungguhnya," ucapku tertunduk lesu.
"Tidak masalah."
***
PoV Zahra
Aku mendengkus kesal karena pak Erwin tidak menjawab panggilan teleponku. Suami macam apa dia.
Aku merasa di permainkan. Mungkin, pria itu tidak benar-benar ingin menikahiku. Kurang ajar sekali.
Kuputuskan untuk menyusul pak Erwin ke kantor. Meminta penjelasan. Setelah berdandan cantik mengenakan tunik berwarna maroon serta kerudung hitam. Aku melangkah keluar dari apartemen.
Saat pintu terbuka, aku terlonjak kaget karena sudah ada pria berbadan besar yang menunggu di depan pintu. Mengenakan seragam hitam.
"Siapa kalian?"
"Kami diutus tuan Erwin untuk menjaga nyonya," jawab pria berkepala pelontos.
"Nggak jelas!" Aku melanjutkan langkah menyelusuri lorong. Kulirik mereka berdua mengikutiku dari belakang.
"Aku bisa jaga diri!" ucapku sedikit kesal. Mereka berdua hanya terdiam. Ikut masuk ke dalam lift dengan ekspresi datar.
"Kenapa pak Erwin menyuruh kalian untuk menjagaku?" tanyaku saat di apit oleh mereka berdua di dalam lift. Mereka berdua hanya terdiam.
__ADS_1
"Apa karena takut aku kabur?"
Tidak ada jawaban.
Aku menonjok bahu mereka berdua. Kemudian meringis sakit, karena keras sekali seperti besi.
Ting!
Pintu lift terbuka, aku melangkah dengan kesal melewati lobby. Seluruh karyawan yang berdiri di ruang receptionist membungkuk sopan. Seakan memberi hormat kepada majikannya yang sedang lewat.
Aku menatap mereka dengan tatapan bingung. Sebelum bibir ini tersenyum tipis.
Cahaya terik matahari mulai menyambar tubuhku saat keluar dari lobby. Seseorang berlari membawa payung, kemudian memberikannya kepada dua bodyguard tadi.
Salah seorang dari mereka berdua mengekor sambil merekahkan payungnya, melindungiku dari panas.
"Pakai kaca matamu, Nyonya," ucap Pria berambut jambul sambil menyodorkan kaca mata hitam.
Aku menoleh kikuk, kemudian mengambil kaca mata itu. Dan memakainya.
Bak istri pangeran William, mereka memperlakukanku layaknya seorang permaisuri kerajaan. Sial! Angkuh sekali aku hari ini.
Sebuah mobil Alphard hitam mendekat. Kemudian kedua bodyguard yang mengawalku membukakan pintu.
"Anda mau kemana, Nyonya?" tanyanya.
Aku terdiam mengamati mobil itu dari balik kaca mata hitam. "Eum, aku naik taksi saja."
"Kami tidak bisa membiarkan Anda naik taksi, Nyonya."
"Apa urusanmu?!" bentakku geram.
"Ini perintah."
Hufft! Aku menghela napas. Kemudian masuk ke dalam mobil. "Aku mau ke kantor pak Erwin."
Aku melotot ke arahnya saat duduk di kursi penumpang. "Kantor properti, tempat dulu aku bekerja."
Sang sopir langsung melajukan mobilnya. Mengemudikan dengan kecepatan penuh. Hingga tak sampai satu jam kami sudah sampai di depan gedung tinggi menjulang penuh aktivitas yang menyibukkan.
Aku melepas kacamata hitamku dan menaruhnya di kursi penumpang. "Tolong kawal aku di belakang saja. Aku mau ngeprank karyawan-karyawan lain."
Mereka mengangguk. Aku tersenyum simpul. Seru juga jadi nyonya muda.
Kulanjutkan langkah dengan anggun. Setelah sebelumnya merapikan kerudung.
Dua satpam yang berjaga terbelalak melihat kehadiranku bersama dua bodyguard.
Aku memasuki lobby dengan santai. Dua receptionist yang berjaga langsung melotot tajam.
"Zahra! Sudah berapa hari kamu nggak masuk kerja?!" tanyanya.
Sambil merekahkan senyuman. Aku terus melangkah dengan tenang.
"Nggak punya malu kamu ya, absen tanpa keterangan. Tiba-tiba nongol gitu aja."
Sekar yang sedang mengepel lantai, mendengkus kesal. Perempuan itu menghampiriku dengan wajah murka.
"Eh Zahra, kemana aja kamu nggak pernah berangkat?!" sengitnya menggetok kepalaku dengan kurang ajar.
Dua bodyguard yang mengawasiku dari jauh langsung buru-buru mendekat. Menjagaku dari serangan Sekar.
"Ini maksudnya apa?" tanya Sekar menunjuk kedua bodyguard itu bingung.
"Anda tidak boleh menyakiti istri tuan Erwin." Bodyguard itu melotot.
"Ha?" Sekar tampak terkejut. Pun juga dengan dua penjaga receptionist itu.
Aku terbahak melihat ekspresi Sekar. "Dah ya, aku mau ke ruangan suamiku."
__ADS_1
Sekar menelan ludahnya dengan susah payah. "Zahra, tolong jelasin dong. Aku lagi mimpi, kan?"
Aku menggindikan bahu, kemudian melangkah memasuki lift. Kedua bodyguard tadi mengkituku masuk.
"Jangan mengikutiku terus."
"Ini tugas kami, Nyonya."
"Tunggu saja di luar."
Mereka berdua pura-pura budek.
Setelah pintu terbuka, kami berpapasan dengan Bu Dona yang berdiri memeluk berkas-berkas.
"Zahra, kemana saja kamu?" tanya wanita itu sambil mengamati penampilanku dari atas sampai bawah. Pandangannya kemudian beralih ke arah dua bodyguard di sebelahku.
"Pak Erwin minta dibuatkan kopi. Cepat buatkan!" titahnya.
"Kalau aku nggak mau?" tanyaku tenang.
"Berani kurang ajar kamu. Udah lama nggak berangkat, sekarang jadi nglunjak. Lagipula mana seragammu, kenapa nggak pakai seragam resmi dari kantor?"
"Bukan levelku." Aku bersedekap santai.
Bu Dona melotot. "Kamu lupa siapa saya?!"
"Bu Dona?"
"Saya punya wewenang untuk memecat kamu, Zahra!" geramnya.
"Silahkan saja," jawabku santai.
Kedua tangan Bu Dona terkepal. Aku melangkah melewatinya begitu saja.
Wanita itu mencekal lenganku. "Saya belum selesai bicara, Zahra!"
"Saya tidak punya kepentingan dengan anda."
Tangan Bu Dona melayang, hendak menamparku. Namun langsung berhenti di udara.
"Jangan sakiti istriku!"
Bu Dona langsung terbelalak melihat pak Erwin ternyata sudah berdiri di depan pintu ruangannya, sambil bersedekap.
Aku menjulurkan lidah ke arah Bu Dona. Kemudian melangkah menghampiri pak Erwin. Pasti bentar lagi kantor ini bakalan gempar karena aku menjadi suami bos mereka.
Pak Erwin membukakan pintu. Kemudian menyusul masuk.
"Ada apa, hmm?"
"Kenapa bapak nggak ngasih kabar?" Aku duduk di kursi hitam yang ada di ruangan. Sementara pak Erwin bersender pada meja, dengan kaki menyilang.
"Kamu kan tahu saya ada di sini."
"Harusnya ngasih pesan atau SMS gitu. Orang pacaran aja dikit-dikit ngasih kabar, masak kita yang udah nikah enggak."
Pak Erwin terkekeh.
"Dih, malah ketawa."
"Pemikiranmu terlalu kuno."
"Bapak sebenarnya cinta sama saya nggak sih?" tanyaku sambil menatapnya intens.
Pak Erwin terdiam.
"Kalau nggak cinta kenapa nikahin saya?"
Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira
__ADS_1