Bos Somplak

Bos Somplak
Part 20 : Dua Istri Liburan Bareng


__ADS_3

Hari ini adalah weekend. Jadi, pak Erwin libur bekerja. Biasanya kalau hari Ahad beliau sering liburan dengan istri dan anaknya.


Berbeda dengan sekarang, bukannya bersenang-senang malah terkungkung ke dalam masalah yang dibuat keluargaku.


Pagi ini kami membeli sarapan di luar. Sementara keluarga paman Aji asyik sarapan sendiri.


Pak Erwin yang sedang merebahkan tubuhnya pada sofa ruang tamu, masih sibuk bermain dengan ponselnya.


"Kalau jenuh, liburan aja, Pak."


Pria itu menoleh, dengan wajah datar.


"Lagi pula kan, kita belum honeymoon." Aku menaik-turunkan sebelah alis.


"Iya, nanti kita cari destinasi wisata yang pas."


Terdengar derap langkah kaki mendekat. Aku dan pak Erwin langsung menoleh ke sumber suara.


Nampak kak Sari yang masih mengenakan piyama tidur berwarna ungu datang menghampiri. Wanita itu baru selesai sarapan.


"Em, Zahra." Kak Sari tampak ragu.


"Kenapa?" Aku menaikkan sebelah alis.


Pak Erwin yang tadi merebahkan diri langsung beranjak. Sekedar menghormati kak Sari.


"Boleh nggak, kakak pinjem ...," Kak Sari *******-***** jemarinya, gugup.


"Ngomong aja kak, pinjem apa?" tanyaku tak sabaran.


"Pinjem mobil suami kamu. Kami mau jalan-jalan." Kak Sari tampak sedikit lega setelah berhasil mengucapkannya.


"Hmm, gimana mas, boleh?" tanyaku pada pak Erwin. Aku berharap pak Erwin tidak mengizinkan. Karena mobilnya mewah dan mahal, takut rusak dibawa keluarga benalu ini.


Pak Erwin mengambil kunci mobil yang kebetulan berada di saku celananya. Kemudian melemparkannya ke arah kak Sari.


Kak Sari menangkapnya sambil tersenyum senang. Kemudian berlari menghampiri suaminya.


"Kok dipinjemin sih, Pak?" Aku mendengkus.


"Kita bisa nyuruh orang buat bawa mobil lagi ke sini."


"Emangnya mobil bapak berapa sih, kok gonta-ganti?"


"Dua belas."


"Whattt?" Aku terbelalak.


Pak Erwin tersenyum miring. Kemudian kembali sibuk dengan ponselnya.


"Bapak terlalu baik deh sama mereka."


"Kamu cepet mandi, kita juga akan berangkat jalan-jalan."


Wajahku langsung berbinar.


"Ikut keluargamu. Rame-rame biar seru."


Bibirku mengerucut. "Jangan ah, kita nyari tempat lain aja."


Pak Erwin beranjak dari duduk kemudian menepuk-nepuk puncak kepalaku. "Ikuti saja rencanaku."


Aku mengekori pria tampan itu melangkah ke dalam. Menghampiri paman Aji yang sedang asyik menonton televisi.


"Kalian tidak jalan-jalan?" tanya paman Aji.

__ADS_1


"Kami bingung memilih tempat rekreasi. Boleh kami ikut kalian?" tanya pak Erwin.


Aku langsung mencubit lengannya. Agar mengurungkan niat.


Paman Aji menyorot kami dengan tatapan datar.


"Saya akan menanggung biaya kalian jalan-jalan," imbuh pak Erwin membuat paman Aji terlihat senang.


"Baiklah, kita berangkat jam 9." Paman Aji tampak antusias.


Dasar kikir!


Pak Erwin merangkul bahuku. Mengajakku masuk ke dalam kamar. "Ayo cepetan mandi, kita siap-siap!"


***


PoV Erwin


Aku sudah rapi mengenakan pakaian santai berupa kaos hitam dan jaket bomber berwarna gelap. Rambut pun sudah klimis, tersisir rapi.


"Saya keluar sebentar mengambil sesuatu," pamitku kepada Zahra dan paman Aji. 


Aku langsung melajukan mobil BMW putihku keluar dari pelataran rumah Zahra. Sialnya, jalanan sedikit macet. Banyak orang-orang yang berangkat liburan di akhir pekan.


Setelah hampir setengah jam, mobil yang kukendarai sudah sampai dikediaman rumahku.


Aku menutup pintu mobil sedikit keras, kemudian melangkah memasuki rumah.


"Papa!" teriak seorang bocah yang berlari ke arahku.


Aku langsung menangkap tubuh mungilnya, lalu melemparkannya ke udara hingga jatuh ke dekapanku.


"Papa ke mana aja nggak pernah pulang?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.


"Rena kangen sama papa." Rena masih menyorot wajahku dengan tatapan sendu.


"Papa sibuk kerja, Sayang." Aku mengecup pipinya sedikit lama, sambil memejamkan mata.


"Kita jadi jalan-jalan, kan?" tanya Rena yang sudah rapi dengan balutan bedak bayi pada wajah imutnya.


Aku mengangguk. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Mama mana?"


"Lagi mandi."


"Owh oke!" Aku mengangguk mencium Rena dengan lembut.


"Kalian berdua berangkat aja, aku nggak ikut." Viola menyahut dari atas tangga. Wanita berambut panjang itu masih mengenakan kimono yang membalut tubuh.


Aku menoleh sekilas, kemudian kembali beralih ke arah Rena yang cemberut. "Kenapa mama nggak ikut?" tanya gadis kecil itu.


Viola terdiam.


"Mama nggak kangen sama papa?"


Aku menghela napas kasar sambil mencium tengkuk Rena. Dada ini mendadak sakit melihat sikap Viola yang terlihat jijik menatapku.


"Rena sekarang nggak pernah ngelihat papa dan mama ngobrol kayak dulu lagi."


Viola menggigit bibir. Sorot matanya meredup. "Mama dan papa sudah bukan siapa-siapa lagi, Rena."


"Maksud mama apa?" tanya Rena bingung.


Aku mendorong wajah Rena ke dadaku. Memeluknya semakin erat dalam gendongan. Kemudian membawa gadis kecil itu keluar.


"Kita berangkat berdua aja, ya," ucapku sambil menatap Viola dengan wajah sendu.

__ADS_1


Kami berdua melangkah menuju mobil.


"Papa sama mama kenapa sih?" tanya Rena bingung saat aku mendudukkannya ke kursi mobil.


Aku hanya bisa menjawabnya dengan seulas senyum. Mencium keningnya, kemudian duduk di kursi kemudi.


Rena melipat kedua tangannya di depan dada. Mirip seperti orang dewasa lagi ngambek. "Nggak seru kalau jalan-jalannya nggak ada mama. Kurang lengkap!"


"Rena, mama lagi ada urusan. Dia nggak bisa ikut."


"Arghhh! Kenapa papa nggak paksa mama!!" Rena menjerit sambil memukul-mukul bahuku.


Aku terdiam dengan bibir yang bergetar. Tak jadi menyalakan mobil.


"Papa kenapa diem aja, ayo ajak mama!" Tangan mungil Rena masih memukul-mukul bahuku. Kali ini diiringi oleh isakan yang lolos dari bibirnya.


Sorot mataku meredup, dengan lidah yang terasa kelu. Aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya kepada Rena.


"Ayo Pa, ajak mama biar ikut hiks ... hiks ... hiks ...!!!" Rena mengencangkan tangisnya.


"Maafin papa," jawabku dengan suara serak. Menoleh ke arah Rena dengan mata berkaca-kaca.


"ISH, MAAF KENAPA?!!" teriak Rena kesal karena keinginannya tidak terpenuhi.


Aku menjulurkan kedua tanganku, ingin menggendongnya. Namun, Rena menepisnya dengan kasar.


Bocah kecil itu berteriak dan menjerit kesal melampiaskan kekesalan.


Aku terdiam beberapa detik, lalu menjatuhkan wajah ke kemudi. *******-***** kepala yang terasa pusing. Setetes air mata menitik, meratapi kehancuran ini.


Aku berencana mengajak Rena dan Viola jalan-jalan bersama Zahra. Sekaligus memperkenalkan Zahra sebagai mama baru Rena. Dengan berangkat bersama keluarga Zahra, aku berharap Viola bisa melihat kemesraan Rustam dengan istrinya.


Aku ingin Viola sadar, bahwa dia tidak pantas menghancurkan rumah tangganya sendiri hanya demi pria berhati busuk seperti Rustam.


Cklekk!


Kami berdua menoleh melihat Viola membuka pintu kemudian masuk ke dalam mobil.


"Udah nggak usah nangis," ucapnya sambil berkaca pada cermin kecil di tangannya. Lalu, mengoleskan lipstik ke bibir.


Aku menghela napas lega, kemudian mulai melajukan mobilnya.


Tangis Rena perlahan berhenti. Gadis kecil itu tampak merasa malu. Menyeka air matanya dengan punggung tangan.


Sementara kulirik lewat kaca spion mobil, Viola sedang sibuk chattingan dengan ponselnya.


Hening, tanpa obrolan sama sekali. Hanya terdengar suara deru mesin mobil yang kami tumpangi. Serta suara isakan Rena yang masih tersisa.


"Rena udah jangan nangis lagi, Nak." Viola berdiri, memberikan tissue untuk Rena.


Aku melirik tubuh langsingnya lewat kaca spion. Tubuh terbungkus dress warna tosca yang sangat aku rindukan untuk dijamah.


Kemudian suasana kembali hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Kita mau jalan-jalan kemana?"


Aku terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kita ikut keluarga Zahra."


Viola terbelalak. "Apa?"


"Kenapa?" tanyaku datar.


"Jadi, kita akan semobil dengan Zahra?"


Jangan lupa follow Instagram nurudin_fereira

__ADS_1


__ADS_2