
Setelah makan malam,Austin menepati perkataan nya.malam ini dia mengantar sang pujaan hati pulang ke kosan.
"Bik aku pulang dulu,ya!" pamit Nesya sedih begitu juga bik Tutik.
"Hati hati Non,sering sering main kesini ya." Pinta bik Tutik namun tidak di iyakan oleh Nesya.
"Gak bisa janji bik.semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu." Austin hanya melihat perpisahan itu.
"Udah bik jangan sedih.nanti kalau bibi rindu dengan Nesya bilang saja,aku akan menjemputnya dan membawa nya kesini," sahut Austin agar mereka tak sedih.
"Beneran,Den?" tanya bik Tutik memastikan.
"Iya," ucap Austin agar bik Tutik percaya.
"Kami pergi dulu bik." Pamit Austin sambil menggenggam tangan Nesya.
Sebelum lift tertutup mereka berdua melambaikan tangan kearah bik Tutik.
"Beruntung banget kamu,punya Art seperti bik Tutik." Puji Nesya setelah lift tertutup.
"Nanti dia juga akan menjadi Art mu,kalau kita sudah menikah." Seloroh Austin membuat Nesya langsung menatapnya.
"Jangan bercanda terus." Nesya mengira ucapan Austin itu hanya candaan biasa.
"Mentang-mentang aku sering bercanda. setelah aku berkata serius pun kamu anggap itu hanya candaan,nesya aku serius dengan ucapanku tadi." Austin memegang kedua bahu nesya dan mereka saling bertatapan.
"Lihat kedua mata ku,apa aku terlihat bercanda?" Nesya menatap mata itu dan ia melihat bahwa Austin serius padanya.
"Sudahlah Austin.kita baru kenal,tidak mungkin langsung menikah." Tolak Nesya dan langsung menjauh dari Austin.
"Baiklah kita saling kenal saja dulu,satu sama lain.jika kamu merasa cocok dengan ku,baru kita menikah." Nesya hanya mengangguk saja.
Tak lama pintu lift terbuka dan mereka langsung menuju parkiran.Austin mengantar Nesya pulang mengunakan motor yang sering ia gunakan itu.
"Bisa pakai helem nya?" tanya Austin. sejujurnya dia takut ada kecanggungan diantara mereka,setelah ia mengajak menikah di lift tadi.
"Bisa kok," balas nya dengan tersenyum.
"Nesya ucapan ku tadi jangan di pikirkan,jujur aku takut kamu menjadi canggung dengan ku." Pinta Austin.
"Iya Austin," balas Nesya dan mulai duduk di atas motor itu.
Sebelum mengantar Nesya pulang.Austin singgah di salah satu konter di pinggir jalan.
__ADS_1
"Kenapa singgah disini?" tanya Nesya sedikit bingung.
"Mau beli handphone untuk calon istri ku." Nesya bersemu merah mendengar gombalan Austin.
"Memang nya siapa calon istri mu?" tanya Nesya memastikan tebakan nya.
"Ini dong calon istri ku,yang comel dan ngangenin." Rayu Austin sambil mengedipkan mata.
"Idihh,siapa juga yang mau menjadi istri mu?!" tolak Nesya membuat Austin tersenyum.
"Kalau kamu gak mau aku paksa." Ancam nya sambil memulai membuka helem miliknya.
"Dasar pemaksa!" gerutu Nesya kesal.
"Ayo sayang turun," ajak nya sambil membuka helm di kepala Nesya.
"Aku gak mau ikut." tolaknya,membiarkan Austin membukakan helm di kepalanya.
"Ikut aja,kita pilih merek handphone nya sama sama." Bujuk Austin dengan suara lembut.
Perlahan Austin turun dari motornya dan menggandeng tangan Nesya untuk masuk kedalam.sampai di konter yang mereka tuju,kini mata Nesya sedikit termanjakan dengan banyak handphone yang mengkilap di sana.
"Cari apa,mbak?." tanya penjual itu sambil menata wajah Nesya cukup lama,mungkin ia terpesona.
"Saya yang mau beli,jadi tanya saja pada saya.dan tolong mata nya di jaga,saya gak suka kamu melihat istri saya dengan pandangan seperti itu!" Tegur Austin membuat Nesya dan costumer pria itu terkejut.
"Kamu kenapa,sih?jangan bikin ulah disini," bisik Nesya, sejujurnya dia merasa tak enak hati karena ucapan Austin kepada pelayan tadi.
"Maaf atas ketidak sopanan,yang saya lakukan." Pria itu menunduk dengan wajah bersalah nya.
"Carikan aku handphone keluaran terbaru dan limed Edison," titah Austin Masi dengan wajah tak bersahabat.
"Ak...akan saya Carikan,mohon tunggu sebentar." Pria itu berlalu dengan wajah tertekan.
"Kamu jangan begitu,kasian mas itu jadi ketakutan karena mu." tegur Nesya setelah kepergian pelayan.
"Kamu panggil dia apa tadi?" tanya Austin memastikan pendengaran nya.
"Astaga cuma panggilan saja kamu permasalahan,kan." omel Nesya.
"Jangan sebut dia dengan panggilan itu,aku tidak suka." Entah mengapa Austin mulai posesif pada Nesya.
"Terus aku harus memanggil dia dengan sebutan apa?aku kan tidak tahu namanya." protes Nesya.
__ADS_1
"Kamu cukup diam saja,biar aku yang berbicara padanya." Nesya hanya menggeleng tak percaya dengan tindakan Austin.
"Terus apa guna nya aku disini?lebih baik aku duduk manis menunggu mu di jok motor saja dari pada disini hanya menonton,tidak bisa melakukan apa pun." Rajuk nya.
"Ayolah Nesya jangan mengajak ku berdebat terus." mohon Austin karena perdebatan mereka tak kunjung selesai.
Pelayan datang membawa barang yang di minta Austin,membuat dua sejoli itu menghentikan perdebatan.
kali ini pelayan yang melayani mereka bukan pelayan yang tadi,melainkan pelayan wanita yang cantik dengan dada besar serta berbody semok. melihat pakaian seksi yang di gunakan pelayan itu Nesya malu sendiri.
"Mas,ini handphone yang anda minta." Pelayan itu memberi kan handphone ternama di hadapan Austin tanpa memperdulikan keberadaan Nesya.
"Apakah cuma merek ini?" tanya Austin membolak-balik handphone di tangan nya.
"Ia mas," balas nya sambil memainkan rambutnya seakan-akan menggoda Austin.
"Apakah ada handphone yang seperti ini?" tanya Austin sambil melihatkan handphone miliknya.
"Sudah habis,mas.handphone merek yang seperti ini cuma ada satu di toko kami dan kebetulan kemaren di beli oleh seseorang," ujar wanita itu dengan tingkah ke centilan dan parahnya dia sengaja menunduk untuk mempertontonkan da*da besar miliknya.
"Sudah dari tadi wanita ini bilang tidak ada,tapi Masi juga di tanyakan.apa Austin sengaja melakukan itu karena betah melihat wanita seksi ini?"
"Jika mas mau,silahkan tinggalkan no handphone agar memudahkan kami untuk mengabari anda bahwa barang yang anda ingin kan sudah tersedia." Wanita itu menatap Austin sesekali dia mengingat bibir nya.
"Kenapa harus meninggalkan no hp?seperti tidak ada konter lain saja,emang dia pikir cuma dia saja yang dagang hp.bilang saja kamu ingin meminta no hp Austin untuk pdkt dengan nya." batin Nesya bergejolak melihat interaksi dua orang itu.
Karena sudah telanjur emosi,Nesya langsung meninggalkan konter itu tanpa berkata apa pun.
"Nesya mau kemana?" tanya Austin melihat kepergian Nesya yang tiba tiba.
"Masi bilang mau kemana?apa dia tidak sadar dengan apa yang dia lakukan?dasar tak peka."
"Yang ini saja,tolong bungkus dengan cepat!" Pinta Austin sambil menyodorkan kartu hitam miliknya,semakin membuat wanita itu terpesona oleh Austin.
Wanita itu sengaja memperlambat pekerjaan nya agar Austin melihat aksi yang dia lakukan.wanita itu sengaja menjatuhkan kartu milik Austin dan mengambil nya dengan posisi menunduk untuk memperlihatkan belahan da*da nya dan juga paha mulus yang ia miliki.
"Jika kamu masi memperlambat nya,aku tidak jadi beli dan bawa kemari kartu ku!" geretak Austin yang tahu dengan niat wanita itu.
"Tunggu sebentar lagi,mas!" Dengan terpaksa pelayan itu mempercepat pekerjaan nya.
"Ini pesanan anda,semoga anda puas dengan pelayanan kami." Pelayan itu menyerahkan pesanan Austin.
"Saya bukan nya puas malahan muak,dan kamu dengar baik-baik.ini yang pertama dan terakhir kalinya saya singgah di sini!" seru Austin lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Dasar pria sombong!" umpat pelayanan itu.