
"Mbak Risma kemana ya?tumben hari ini buk marwah gak menyatukan aku dan dia untuk membersihkan gudang,biasanya kami selalu ditugaskan bareng." Nesya celingukan melihat kearah pintu untuk menanti kehadiran Risma.
"Aku harus cepat selesaikan pekerjaan ku,lalu pergi untuk mencari Mbak Risma." Nesya dengan semangat mempercepat pekerjaan nya.
Setelah usaha dengan keras mengunakan kekuatan penuh akhirnya pekerjaan Nesya telah selesai.mumpung tidak ada buk marwah,dia memanfaatkan peluang itu untuk keluar gudang mencari keberadaan Risma.
"Kira-kira Mbak Risma kemana ya?jujur saat ini perasaan ku tidak enak.entah mengapa aku menghawatirkan Mbak Risma?"
Dengan jalan mengendap-endap Nesya berjalan tanpa tujuan,sebenarnya Nesya tidak tahu jalan yang ia lalui.namun dengan mengikuti kata hatinya ia terus melanjutkan langkah kakinya.
Hingga tanpa sengaja ia melihat buk marwah menarik paksa tangan Risma,entah kemana buk marwah membawa Risma?
"Ternyata Mbak Risma di siksa lagi dengan buk marwah.apa aku harus mengikuti mereka?tapi kalau sampai buk marwah mengetahuinya maka habislah aku." Nesya bingung menentukan pilihan.
Buk marwah semakin jauh dari pandangan Nesya.tidak mau kehilangan jejak,Nesya tanpa sadar terus mengikuti mereka.hingga ia sampai di sebuah bangunan kosong mungkin itu bekas asmara lama.
"Katakan padaku,dimana kamu menyimpan flashdisk itu?" buk marwah menjambak rambut Marwah.
"Aku tidak akan memberitahu mu walaupun kamu membunuhku." Tantang Risma.membuat Marwah melepaskan rambut Risma dengan kasar.
Plak.
"Katakan dimana flashdisk itu?" tamparan keras ia berikan pada Risma,hingga tubuh Risma terjatuh kelantai.
"Tidak akan," Tolaknya semakin membuat Marwah marah.
"Katakan ... katakan ... katakan!" pekiknya sambil menendang berkali-kali tubuh Risma.
"Tidak akan," Balas Risma lemah.
"Ya Allah kasihan Mbak Risma,hiks.jahat sekali buk marwah,kenapa dia tega melakukan hal itu padahal dia sendiri perempuan?apa dia tidak memiliki hati nurani?"
"Kamu tahu aku sangat capek menyiksamu,jadi hari ini aku akan membunuhmu.untuk apa aku membiarkan mu hidup? jika kamu tidak memberi tahu ku dimana keberadaan flashdisk itu,lebih baik kamu mati!" Bentak nya mengeluarkan suntikan dari saku celananya.
"Bunuh saja aku.aku lebih baik mati dari pada melihatmu setiap hari," ujarnya membuat Marwah langsung menyuntikan cairan itu di leher Risma.
"Aku telah memenuhi keinginan mu.dengar itu adalah racun yang akan menyiksamu sebelum mati.aku tidak akan membiarkan kamu mati dengan tenang." Marwah menepuk pelan pipi Risma.
__ADS_1
"Selamat menikmati rasa racun itu,aku punya penawarnya.jika kamu memberitahuku keberadaan flashdisk itu,aku akan memberikan penawar nya," Marwah mencoba sekali lagi melakukan penawaran.
"Hahaha ... ternyata kamu masi mengharapkan flashdisk itu,kasihan sekali kamu sudah mencari kemana saja sampai menjadi gila,tapi tetap tidak menemukan nya."
"Apapun yang kamu lakukan tetap aku pemenang nya,karena sampai sekarang aku berhasil mengamankan flashdisk itu dari mu." ledeknya.
"Dasar bedebah!" umpatnya lalu segera meninggalkan Risma.
Melihat Marwah keluar,membuat Nesya segera menyembunyikan diri dibalik tembok.setelah yakin bahwa marwah menjauh darinya barulah Nesya berani masuk ke dalam untuk menolong Risma.
"Astaghfirullah,Mbak!" jerit Nesya lalu membantu Risma duduk.
"Kenapa kamu kesini?" Risma kaget melihat kehadiran Nesya.
"Itu tidak penting,yang terpenting sekarang mencari obat penawar untuk mu." Nesya sangat cemas karena tubuh Risma terdapat racun.
"Ternyata kamu mengetahui semuanya,aku mohon jangan melakukan apa pun karena itu membahayakan mu.lakukan saja permintaan ku kemarin,itu sudah membuat ku senang," ujar Risma yang pura-pura kuat padahal sekarang jantungnya bergetar hebat.
"Tidak bisa,mbak.aku akan sangat merasa bersalah jika sampai mbak kenapa-napa," ujar Nesya sedih.
"Aku akan tetap menolong,mbak.jadi aku mohon mbak terus bertahan," ujar Nesya kekeh ingin mencari ramuan itu.
"Kau akan mati juga bodo*h,jika si gendut itu mengetahuinya!" Tegas Risma agar Nesya mengurungkan niatnya.
"Aku tidak peduli,hiks ... yang terpenting sekarang adalah keselamatan,mbak." Risma menghela nafas menghadapi Nesya yang keras kepala itu.
"Sangat sulit memberitahu orang baik," gumam Risma yang memaksakan diri untuk berdiri.
"Mbak,mau kemana?biar aku bantu," tawar Nesya melihat Risma yang berjalan mendahuluinya.
"Tidak usah,aku bisa sendiri." Tolaknya membuat Nesya terdiam di tempat.
"Apa Mbak Risma marah padaku?apa dia marah karena aku memaksa membantunya?"
***
"Kapan kita pulang,Tante?" tanya Siska yang kini tengah duduk santai bersama Tina yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Entahlah," balas Tina yang meminum susunya.
"Apa Tante tidak bosan disini?" tanya Siska.
"Jujur bosan.tapi demi kebahagiaan kalian berdua,Tante tidak peduli dengan kebosan ini," ujar Tina membuat Siska tersentuh.
"Tante baik sekali,aku pasti beruntung jika suatu hari memiliki mertua seperti tante." Pujinya.
"Bisa saja kamu.nanti kalau kamu sudah menikah dengan Austin,kamu cepat buatkan Tante cucu ya,biar saja Austin jarang masuk kerja untuk menanam benih bersamamu." Siska tersipu malu mendengar penuturan Tina.
"Aman Tante,aku akan mengabulkan keinginan Tante.membuat bayi itu tidak sulit untuk ku.satu bulan menikah mungkin aku sudah hamil," Canda Siska.
"Percaya diri sekali anda," ledek Tina.
"Kita lihat saja nanti," tantang Siska.
"Ah,rasanya tidak sabar melihat kalian menikah dan lalu aku akan menimang cucu.aku benar-benar tidak sabar menunggu hari itu," ujar Tina semangat.
"Sepertinya Tante sangat yakin bahwa Austin mau menikahi ku," ucap Siska sedih.
"Sangat yakin,sebentar lagi Tante akan pura-pura koma dan meminta dia untuk menikah dengan mu." Tina sedikit memberi tahu rencananya untuk mengelabuhi Austin.
"Apa Tante yakin ini semua akan berhasil? secara ... cara itu sangat pasaran,maaf jika ucapan ku menyingung Tante." Siska sebenarnya tidak setuju dengan rencana itu.
"Jelas berhasil,sayangku?sama strategi tapi beda orang yang melakukan nya.walaupun cara ini terbilang pasaran,tapi Tante akan berusaha untuk akting.sehingga Austin yakin semua itu benar adanya," jelas Tina.
"Semoga rencana Tante untuk sekian kalinya berhasil," harap Siska.
"Doakan saja.ini adalah rencana terakhir Tante untuk membuat kalian menikah,sangat banyak perjuangan Tante untuk membuat kalian bersatu." Siska sedikit terharu dengan perjuangan calon mertuanya.
"Terimakasih Tante sudah memperjuangkan menyatukan aku dan Austin,aku akan membalas semua kebaikan Tante dengan mejadi menantu yang baik dan memberikan Tante cucu," ujar Siska tulus.
"Tante tunggu semua itu," Tina mengusap sayang rambut calon menantunya itu.
"Oh,jadi itu rencana kalian.jadi selama ini aku di bohongi,benar-benar keterlaluan!" Suara bariton itu mengagetkan mereka berdua.
"Austin!" pekik mereka serentak.
__ADS_1