
Suara keributan dari belakang mengagetkan mereka berdua,karena penasaran mereka segera menghampiri suara itu.
"Astaghfirullah,geribo!" pekik Austin segera menolong geribo yang terluka di bagian sayap.
"Bocah mana yang memanah ayam ku." Austin melihat sekilas anak panah yang di dapatkan Roma.
"Babe bawa dulu geribo untuk segera di obati,aku akan mencari pelakunya." Austin menyerahkan geribo dan Roma segera membawa ayam kesayangan itu.
Setelah memastikan Roma yang masuk kedalam,Austin segera mengambil panah itu.dia memperhatikan panah itu dengan sangat detail.
"Berarti dia memata-matai rumah ini,berani bermain dengan keluarga ku siap-siap menanggung akibatnya." Austin mencengkram anak panah itu hingga patah menjadi dua.
"Diam,geribo!" bentak Roma yang mencoba mengikat geribo agar mudah untuk ia obati.
"Dasar ayam aneh,kamu bisa mematuk ku.kenapa kamu tidak mengejar orang itu?" tegur Austin menatap geribo.
"Akhirnya diam juga," ujar Roma mulai melihat luka di bagian sayap ayam itu.
"Kasihan,pasti sakit." Austin yang ikut melihat luka nya.
"Semoga dia cepat sembuh," doa babe setelah selesai mengobati dan melepaskan ikatan di badan geribo.
"Babe," panggil Austin karena geribo mendekati nya.
"Tidak apa-apa," balas Roma tertawa melihat ketakutan austin.
"Huft ... syukurlah dia tidak mematuk ku."
"Ketemu pelaku nya?" tanya Roma.
"Tidak,be.mungkin dia sudah melarikan diri," dusta Austin padahal dia sama sekali tidak mencari orang itu.
"Aneh,tumbenan bocah sini main panah-panahan.mana mainnya di belakang lagi," ujar Roma.
"Mungkin dia berlatih berburu,agar mahir dan bisa memanah babi hutan."
"Bisa jadi." Austin lega karena babe memercayai ucapannya.
Austin pamit untuk masuk kedalam,dia masuk kedalam kamar dan mengambil ponsel nya yang telah lama tidak dia sentuh.
"Aku harus memikirkan cara untuk menjebak balik penjahat itu,apa aku menceritakan semuanya pada Nesya atau aku rahasiakan?"
"Kamu sedang apa?" Austin terkejut hingga ponsel nya ia buang ke lantai.
"Astaghfirullah,kamu ngagetin aja," ujar Austin sambil mengambil kembali ponsel nya.
__ADS_1
"Hehehe,maaf." Nesya hanya cengegesan.
"Imut nya istriku," puji Austin menoel dagu istrinya.
"Istri Austin gitu,loh."
"Kira-kira jika aku pulang ke kota,kamu bakal izinin gak?" Nesya langsung terdiam mendengar ucapan Austin.
"Tergantung tujuan kamu.jika tujuan nya Masi wajar aku izinin,tapi jika tujuan nya untuk menikah lagi mungkin aku tidak akan mengizinkan mu pergi," balas Nesya.
"Haha ... aku hanya bercanda," tawa terpaksa Austin berikan membuat Nesya sedikit curiga.
"Ada apa?sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu dari ku," selidik Nesya menatap Austin.
"Ti-tidak ada,mungkin hanya perasaan mu saja." Austin tergagap membalas ucapan Nesya.
"Katakan saja padaku,kita sudah suami istri tidak baik main rahasia seperti ini," desak Nesya membuat Austin menghela nafas.
"Aku takut mengatakan nya padamu,nanti kamu membenci ku," balas Austin sedih.
"Aku berjanji tidak akan membencimu,jadi cepat katakan."
"Sebenarnya teror itu di lakukan oleh musuhku." Nesya kaget mendengar nya.
"Makanya aku minta izin untuk pulang ke kota untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Austin lagi.
"Aku gak izinin!" tegas Nesya.
"Kenapa?jika ini di biarkan kasihan kamu dan warga desa,kalian tidak tahu apa-apa?tapi menjadi korban karena ulahku," jelas Austin.
"Aku tidak peduli,aku ingin kamu tetap disini austin.kita hadapi semuanya bersama-sama,ya," bujuk Nesya.
"Tidak bisa,mereka menginginkan aku pulang ke kota nesya.maka itu jalan terbaik yang harus aku lakukan," tolak Austin dengan suara tercekat.
"Apa kamu pikir dengan kamu pergi ke kota mereka tidak menganggu mu lagi?justru karena kamu meninggalkan ku disini aku semakin gencar mereka teror,tidak ada lagi yang melindungi ku.bisa saja mereka membunuh ku," ujar Nesya membuat Austin mengacak rambutnya karena frustasi.
"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?"
"Karena aku adalah kelemahan mu,dengan membunuh ku maka mereka akan merasa menang karena berhasil membuat orang yang kamu sayang tiada lagi di muka bumi ini."
Hening.
Austin terdiam begitu pula Nesya,mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.mungkin mereka sedang memikirkan cara untuk mengahadapi teror itu.
"Masi perkiraan ku jika mereka mengincar mu,mungkin bisa benar atau juga tidak." Austin buka suara.
__ADS_1
"Aku punya rencana,tapi aku tidak tahu kamu akan setuju atau tidak?"
"Rencana apa?" tanya Austin.
"Untuk saat ini mereka sepertinya menargetkan aku,bagaimana jika kita menjebak mereka?" usul Nesya membuat Austin sedikit tertarik.
"Caranya?" balas Austin.
"Kita pura-pura buat rumor bahwa kamu dan babe akan pergi seharian di sawah,biarkan aku sendirian di rumah ini.aku yakin mereka akan datang untuk menyakiti ku atau menculik ku," jelas Nesya.
"Tidak!itu sangat berbahaya," tolak Austin tegas.
"Ayolah,Austin.ini demi kebaikan kita semua,kita akan tahu dalang di balik semua ini," bujuk Nesya.
"Aku tetap tidak setuju!" tegas austin tidak terbantahkan.
"Ini satu-satunya cara," imbuh Nesya agar Austin mau melakukan nya.
"Biarkan teror itu terjadi terus,aku akan menangkap mereka jika aku melihat keanehan.seperti sosok nyai Blorong yang kamu katakan itu,jika aku melihatnya aku akan segera menghampiri mereka."
"Jika dia beneran nyai Blorong,kamu mau apa?" tantang Nesya ingin tahu jawaban Austin.
"Mustahil jika dia asli," sanggah Austin.
"Tidak ada mustahil jika hidup di kampung seperti ini,mahluk mistis itu ada yang benar-benar nyata.jadi kamu tidak boleh menepis kehadiran mereka," tutur Nesya.
"Tapi tidak mungkin mereka mengganggu ku jika aku tidak menggangu mereka."
"Maksudmu jika nyai itu asli,berarti ada yang mengganggu dia."
"Ia.tapi jika palsu ada yang sengaja mengerjai kita,mungkin orang itu iri dan dengki dengan keluarga kita," balas austin.
"Sudahlah,bahas soal teror ini.jika kita terus membahasnya pasti tidak ada ujung nya,lebih baik kita melakukan sesuatu yang berfaedah." Nesya mulai pusing memikirkan teror itu.
"Lebih baik kita masak bersama di dapur, seperti nya itu jauh berfaedah dari pada mendekam di kamar ini," usul Austin.
"Tidak,ada yang lebih bermanfaat.contohnya memakan mu," balas Nesya mendorong pelan tubuh austin keranjang.
"Hahaha ... ternyata kamu menginginkan ku," senang Austin sambil memperhatikan Nesya yang mulai melepas kancing bajunya.
"Shutt ... nanti babe dengar," Nesya mendekatkan jari ke arah bibir Austin agar tidak bersuara keras.
"Baiklah,baby.sentuhlah aku sepuas hati mu." Austin pasrah ditindih Nesya.
Entah ada angin apa sehingga Nesya inisiatif melakukan hal ini,jujur Austin tidak menyangka istrinya bisa seagresif ini.dia sangat suka saat Nesya memimpin permainan membuat dia ingin mengulang hal itu lagi dan lagi.
__ADS_1