
"Semoga dengan aku membelikan handphone ini,mood Bos berubah."
Dengan hati gembira Febri membawa paper bag itu,dia baru saja pulang dari mall untuk membelikan pesanan bos nya.
Merasa dia bekerja dengan benar,Febri langsung pergi menuju ruangan bos nya untuk memberikan handphone baru itu.
Dhuak.
Bunyi itu berasal dari pukulan Austin yang meninju meja kerjanya.Febri mematung di tempat beberapa saat,rasanya ia ingin keluar. namun niat itu ia urungkan karena Austin telanjur melihat nya.
"Ya Tuhan ... kenapa aku selalu datang di waktu yang tidak tepat?kalau sudah begini habislah aku jadi kambing hitamnya."
"Ada apa lagi kau kemari?" tanya Austin sedikit kesal.
"Lihatlah ... menegur mu saja sudah seperti itu,apa lagi jika dia marah bisa di telan nya kamu?"
"Berhenti mengumpat ku dalam pikiran mu." Tegur Austin sambil memperbaiki jas nya yang sedikit kusut itu.
"Anu ... itu bos.sa ...saya hanya ingin memberikan handphone yang bos pinta tadi." Febri memberikan paper bag itu dengan sedikit gemetar.
Austin membuka paper bag itu,setelah melihat jenis handphone yang di beli oleh Febri,tiba-tiba dia merasa kesal.
"Bukan merek ini yang aku inginkan," pungkas Austin.
"Terus anda ingin yang seperti apa?seperti handphone Nokia yang kuno itu." Ledek Febri yang selalu disalahkan itu.
"Jangan berani mengatai hp Nokia,atau aku akan menghajar mu." Ancam Austin semakin marah.
"Jika mood nya sudah rusak,aku terus yang selalu salah di matanya.sampai-sampai hp Nokia itu lebih baik di matanya dari pada assisten nya sendiri."
"Anda tadi meminta saya membelikan handphone keluaran terbaru,tapi setelah saya belikan Anda bilang salah,sudahlah saya membelinya dengan uang saya." Bukan Febri namanya jika tidak membela diri.
"Lain kali jika menyuruh saya membelikan sesuatu,tolong uangnya juga di kasi." Austin semakin emosi mendengar ucapan Febri.aura api telah berkobar di atas kepalanya saat ini.
"Kamu ... benar-benar .... " Geram Austin berjalan mendekati Febri.
Kaki Febri mulai bergetar saat Austin berjalan mendekat ke arahnya,jika adu argumen dia akan sanggup menghadapi Austin.tapi jika adu kekuatan sudah di pastikan Febri kalah karena Austin mantan pemegang sabuk hitam.
Ting.
Bunyi pesan masuk membuat Austin mengundurkan niat untuk memberi pelajaran kepada assisten nya.
Febri sangat penasaran siapa yang mengirim pesan pada bos nya.karena saat ini Austin tersenyum lebar membaca pesan itu dan juga sangat semangat membalas pesan itu.
__ADS_1
"Sepertinya ucapan Lola benar,bos Austin benar-benar jatuh cinta."
"Kali ini kamu aku ampuni,pergilah dari ruangan ku dan nanti aku akan Menganti uang mu dua kali lipat." Mulut Febri sedikit terbuka melihat perubahan suasana hati Austin yang berubah begitu cepat.
Febri keluar dari ruangan itu,setelah menutup pintu dia segera memegang dadanya yang terasa sesak karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kamu kenapa?" tanya Lola yang memperhatikan Febri yang terdiam lama di depan pintu.
"Kamu tahu apa yang baru saja aku lihat?" tanya Febri tanpa menjawab pertanyaan Lola.
"Mana aku tahu kan aku dari tadi disini," ucap Lola.namun tidak di pungkiri bahwa dia juga penasaran.
"Lola kamu benar,bos Austin memang jatuh cinta." Febri mengoncang kedua bahu Lola,seakan akan turut bahagia.
"Kamu tahu darimana?" menepis kedua tangan Febri di bahunya.
"Aku melihat sendiri tingkahnya yang sangat senang menerima pesan dari seseorang.berarti tadi dia sangat kesal karena wanita itu lama membalas pesan dari nya, sehingga dari tadi uring-uringan dan aku selalu di marahi oleh nya." Febri sangat senang karena merasa benar membaca situasi yang dia alami.
"Hanya itu?" tanya Lola.
"Ia." Febri mengangguk.
"Kalau hanya itu tidak perlu seheboh itu," seloroh Lola membuat febri kesal.
"*Aku harus memberi tahu info ini pada bos besar."
***
"Akhirnya dia membalas pesan ku*."
Austin sangat senang hingga membawa handphone nya kedalam pelukan nya,pesan yang di kirim Nesya belum ia baca karena merasa deg deg kan.
"Rasanya aku tidak mau membuka pesan ini," melepaskan handphone itu dari pelukan nya.
"Aku masi tidur,bagaimana bisa aku sarapan?apalagi aku belum memasak mungkin aku akan melewatkan sarapan ku."
Begitulah balasan pesan yang dikirim Nesya,dengan Austin yang membayar biaya pengiriman.karena saat ini Nesya tidak memiliki pulsa.
"Kasihan kekasih ku tidak punya pulsa." Austin turut sedih.
Dengan rasa rindu Austin memutuskan untuk menghubungi Nesya.
"Hallo ... " suara lemas dan nada parau menandakan Nesya baru bangun tidur.
__ADS_1
"Apa kamu baru bangun tidur?" tanya Austin.
"Tentu saja aku masi tidur,ini kan masi malam."
"Hahaha .... Malam.ini udah jam sebelas dan kamu masi bilang malam.aku ingi tahu malam yang kamu miliki itu berapa jam,kalau orang bumi cuma dua belas jam."
"*Masa sih," terdengar suara berlari dan menyibakkan gorden.
"Astaghfirullah benar-benar sudah siang." suara kaget dan syok*.
Rasanya Austin ingin berada disana untuk melihat ekspresi Nesya.
"Aku kesiangan,mungkin itu karena tadi malam tidur terlalu malam sehingga aku bangun jam segini,hehe."
"Tidak masalah,nanti jika kamu menjadi istri ku kamu bisa bangun siang sesukamu."
"Hadeh," keluh nya.
"Makanya jadilah istri ku agar kamu bisa membuktikan nya."
"Pernikahan itu bukan tempat untuk uji coba,tapi untuk bersama seumur hidup." Cerocosan itu yang Austin rindukan sejak dia membuka mata dari tidurnya.
"Calon istri ku memang bijak.kamu belum sarapan,kan?bersiap siap lah,aku akan menjemput mu." Sudah di pastikan Nesya syok di sebrang sana.
"Jangan membuat pertemuan dadakan,aku sekarang belum mandi,belum cuci baju dan belum mengemas rumah.aku tidak bisa pergi meninggalkan itu semua."
"Baiklah Ayang beb ku,lain waktu kita keluar.tunggu di depan rumah karena aku memesankan makanan untuk mu."
"Gak usah,aku bisa masak untuk sarapan ku.".
"Ambil makanan catering itu atau aku kesana menjemputmu untuk sarapan." Pilihan yang sangat susah untuk di putuskan seorang Nesya.
"Baiklah aku akan mengambil makanan catering itu.terimakasih sudah membelikan sarapan untuk ku,lumayan sarapan gratis."
"Siapa bilang itu gratis?kamu perlu membayarnya dengan menemani ku jalan-jalan."
"Astaghfirullah ternyata ada udang di balik bakwan,aku akan menemani mu jalan-jalan.tapi tidak untuk hari ini karena besok aku jualan."
"Lusa kita keluar,jika kamu masi menolak aku akan menerobos kosan itu untuk menangkap mu." Ancam Austin membuat perempuan itu berdecak kesal.
"Baiklah tuan pemaksa,besok kita jalan-jalan.sudah dulu karena aku mau mandi,da ... da ...da ... " langsung mematikan panggilan.
"Berani-beraninya dia mematikan panggilan ku." Omel Austin sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Hati Austin kini telah lega karena telah mendapat kabar dari sang pujaan hati.