Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 44


__ADS_3

"Oh,jadi itu rencana kalian.jadi selama ini aku di bohongi,benar-benar keterlaluan!" Suara bariton itu mengagetkan mereka berdua.


"Austin!" pekik mereka serentak.


"Kenapa ... kaget aku disini?" tanya Austin yang telah memancarkan aura kemarahan.


"Austin kamu hanya salah paham," ujar Siska.


"Diam!" Bentak Austin dengan suara keras hingga terdengar sampai penjuru rumah sakit.


"Kenapa kamu membentak Siska Austin?dia tidak tahu akan hal ini,semua ini murni kesalahan mama!" Tina kesal melihat Austin membentak Siska.


"Aku benci wanita ular ini,sampai kapanpun aku tidak Sudi menikah dengan nya.lebih baik aku menjadi perjaka tua dari pada menjadi suaminya!" Tegas Austin,Siska menangis mendengar perkataan Austin.


"Apa yang kamu katakan?di keluarga kita hanya dia yang boleh menjadi menantu mama bukan perempuan manapun,apalagi gadis kampung itu!" ucap Tina marah.


"Oh,jadi mama telah mengetahui hubungan ku dengan nesya.apa jangan-jangan mama pura-pura sakit untuk menjauhkan aku dengan Nesya?jawab,ma!" pekiknya murka setelah mengetahui sandiwara yang Tina mainkan.


"Benar.mama rela melakukan apapun untuk menjauhkan kamu dari wanita miskin itu,mama tidak terima jika kamu menikah dengan nya." Austin sangat marah mendengar pengakuan itu,vas bunga di atas meja ia lemparkan ke lantai untuk melampiaskan kekesalan nya.


Prang.


"Apa yang kamu lakukan Austin?jangan berbuat gila hanya untuk membela wanita gembel itu!" Tegur Tina membuat hati Austin semakin meletup-letup.


"Jangan menghina wanitaku!" tegasnya menunjuk kearah mamanya.


"Kau ... adalah wanita jahat,kamu tidak pantas menjadi ibuku.kau pembohong,pemaksa. semua yang buruk ada padamu.Tega-teganya kamu melakukan hal ini pada anak mu,dimana hati nurani mu sebagai seorang ibu?" Austin sampai menangis karena menahan diri agar tidak sampai memukul sang mama.


"Tutup mulutmu,austin.hanya demi wanita kampung itu kamu berani membentak mama bahkan sampai menghina mama mu sendiri,"

__ADS_1


"Aku yang melahirkan mu.banyak pengorbanan yang ku lakukan untuk kebahagiaan mu,sekarang setelah kamu besar,beraninya kamu bertanya padaku tentang hati nurani seorang ibu!" Bentak Tina dengan nafas yang turun naik menahan emosi.


"Tidak ada pengorbanan seperti itu,tidak ada!" sanggah Austin.


"Kamu ungkit pengorbanan seperti apa,ha?apa seperti menitipkan anaknya dengan pengasuh,tidak mau menyusui karena takut badanmu rusak.mengekangku terus hingga aku tidak punya teman,menuntut ku belajar bisnis di usia belia.memilihkan masa depan ku tanpa mendengar pendapat ku,yang seperti itu kah yang kamu maksud?jika ia itu bukan pengorbanan seorang ibu tapi pengorbanan untuk memanfaatkan ku," Jelas Austin membuat Tina terdiam tidak berkutik.


"Tapi semua itu agar masa depan mu cerah." Austin menggeleng kepala sambil menghapus air matanya.


"Aku tidak butuh masa depan cerah,yang aku butuhkan teman dan keluarga yang hangat.hanya sesederhana itu keinginan ku,tapi orang kaya seperti kalian tidak mampu melakukan nya," ucap Austin.


"Cukup Austin,hiks!" bentak Tina sambil menangis.


"Aku menyesal lahir di rahim mu,jika seandainya saat ini aku bisa kembali masuk kedalam perut mu,lebih baik aku kembali.dari pada ada di dunia menjadi anak kalian," Tina semakin menangis mendengar ucapan Austin.


"Seharusnya kamu bersyukur,diluar sana banyak yang ingin berada di posisi mu.hidup berkecukupan sejak lahir,memiliki orang tua lengkap.dan yang terpenting karena kami,kamu menjadi CEO terkenal di kota ini," ucap Tina.


"Benarkah,kalau begitu suruh orang lain saja yang mengantikan posisi ku.aku tidak sanggup lagi menjadi anak kalian dan meneruskan usaha milik kalian," tantang Austin.


"Diam!semua ini terjadi karna mu," Bentak austin membuat Siska menunduk.


"Jangan salahkan dia.dia orang lain saja berani membela mama sedangkan kamu yang anak kandung ku sendiri malah tega menyakiti ku,hiks ... hiks." Tina menangis pilu.


"Aku sekarang telah besar dan menjadi anak durhaka,kamu tahu kenapa?itu semua karena didikan kalian yang menyiksa ku," terang Austin.


"Sekarang apa mau mu?" tanya Tina yang telah muak dengan perkelahian itu.


"Keluarkan aku dari keluarga Abraham,biarkan aku hidup sesuai keinginan ku.carilah orang lain yang mau mengantikan posisiku!" Tekad Austin membuat Tina tidak menyangka dengan keputusan Austin.


"Apa ini hanya demi wanita itu?kamu rela meninggalkan semuanya hanya untuk dia,jangan bodoh Austin,belum tentu Wanita itu baik untuk mu.hiks ... hiks huhuhu." Tina menangis setelah menerima kenyataan bahwa Austin lebih memilih wanita itu dari padanya.

__ADS_1


"Itu akan menjadi urusan ku,biarkan aku hidup dengan pilihan ku.ingat jangan coba-coba mengganggu ku!" tegas Austin lalu meninggalkan ruangan itu tanpa peduli dengan Tina yang menangis histeris.


Meninggalkan rumah sakit dengan keadaan kacau itulah yang Austin lakukan,hingga menjadi pusat perhatian.tanpa peduli pasang mata yang memandangnya Austin tetap melangkah kakinya untuk pergi ke bandara.


Saat ini tujuannya adalah pulang ke tanah air dan mengajak Nesya untuk menikah dengan nya.


"Tertipu lagi untuk sekian kalinya,kenapa aku bodoh sekali sampai jatuh berkali-kali di lubang yang sama?kenapa mama Setega itu pada ku?"


***


"Ma,ada apa kenapa mama menangis?" tanya Bimo yang baru datang dengan paper bag di tangan nya.


"Austin,pa.hiks ... hiks ... " adu Tina yang menangis.


"Kenapa lagi dengan austin?" tanya Bimo yang telah duduk di hadapan Tina.


"Dia pergi,hiks ... hiks ... Dia tidak mau jadi anak mama lagi,pa.huhuhu ... dia memilih wanita itu." Bimo langsung memeluk istrinya itu,dia sangat sedih melihat kesedihan Tina.


"Biarkan saja dia pergi,nanti dia pasti pulang sendiri.dia tidak bisa hidup tanpa harta kita,ma." Bujuk Bimo agar Tina berhenti menangis.


"Nak,Siska lebih baik pulang dulu.terimakasih sudah menjaga Tante," pinta Bimo membuat siska mengerti.


"Sama-sama,om.tante aku pergi dulu," pamit Siska mengelus bahu Tina.


"Austin jahat,Pa.uhk ... uhk ... " Tina terbatuk karena terlalu lama menangis.


"Sabar ma,biarkan saja dia pergi dulu.nanti papa yang akan membuatnya kembali," ujar Bimo yang menghapus air mata di kedua mata Tina.


"Papa,janji ya?" pinta Tina dia sangat takut kehilangan anak semata wayangnya.

__ADS_1


"Ia,papa janji.mama jangan sedih lagi,besok kita pulang ketanah air untuk menyusun rencana." Bimo memeluk erat Tina.


"Beraninya kamu membuat wanita yang ku cintai menangis,lihat bagaimana aku akan membuat mu hidup tak tenang?wanita itu kelemahan mu Austin,aku akan mengunakan nya agar kamu mau menuruti keinginan ku."


__ADS_2