
"Bisa-bisa nya kamu berselingkuh dengan satpam dan meninggalkan ku." Omel Austin setelah menarik Nesya dan membawanya ke parkiran.
"Kurang apa aku,Neng?jika di bandingkan dengan satpam itu aku lebih segalanya." Sok dramatis sedangkan Nesya terus menatap Austin.
"Apa punya ku kurang besar dan panjang?apa kamu kurang puas?.semua itu bisa kita bicarakan tanpa harus berselingkuh." pengunjung disana tertawa kecil mendengar pertengkaran itu.
Plak.
Nesya memukul pelan bahu Austin untuk menghentikan drama yang ia lakukan,karena saat ini mereka mulai menjadi pusat perhatian para pengunjung.
"Apa yang kamu katakan,Austin?Apa kamu senang membuat ku malu?" ketusnya membuat Austin terdiam karena menyadari bahwa Nesya semakin marah.
"Hehehe ... maafkan aku,Neng.aku hanya bercanda." Austin tersenyum sambil melihat Nesya yang semakin cemberut.
"Ayo naik,kita pergi dari sini." Austin merasa canggung sendiri,karena semua perkataan nya tidak di tanggapi oleh Nesya.
Sepanjang perjalanan Austin terus melirik Nesya dari kaca spion,dia melihat Nesya cemberut dan mungkin sedang mengumpat nya dalam hati.
"Kenapa aku tidak bisa mengontrol sifat tengil ku,sih?lihat Nesya semakin kesal pada ku.tapi entah mengapa aku gemas sendiri,melihat wajah nya jika sedang marah begitu."
Austin membawa Nesya ke taman kota,mudahan dengan membawa Nesya kesini mood nya kembali membaik dan tidak kesal lagi padanya.
"Ayo,kita duduk di bangku sebelah sana.kebetulan hari sudah sore pasti pengunjung mulai ramai,nanti kita gak kebagian tempat duduk." Tanpa menolak Nesya membiarkan tangan nya di genggam oleh Austin.
"Adem nya disini,ini tempat favorit ku saat aku lagi stress." Nesya melihat sekeliling rasanya ia tidak asing dengan tempat ini.
"Kenapa?apa kamu pernah kesini?" Austin mulai memancing Nesya agar ingat dengan pertemuan pertama mereka.
"Gak tuh!" seru nya ketus mungkin dia masi kesal.
"Kamu masi marah," ujar Austin sambil menatap dalam wanita di samping nya itu.
"Udah tahu,masi juga nanya." Gerutu nya dalam hati.
"Maafkan aku," ucap Austin lembut dan sengaja terus menatap wanita yang terus memalingkan wajah itu.
"Nesya ... maafkan aku," ucapnya semakin lembut dan kini dia mulai menggenggam salah satu tangan Nesya.
"Apa aku harus mengizinkan mu selingkuh dengan satpam itu?baru kamu mau memaafkan ku," canda Austin,membuat Nesya langsung menarik tangan nya sambil menahan senyum.
"Tuh kan suka banget bikin aku kesel," imbuhnya sedangkan Austin menahan tawa.
"Ya,inilah aku sayang,inilah sifatku.aku sangat suka membuat mu kesal karena mulai sekarang itulah hobi ku." Austin kembali menggenggam tangan Nesya.
__ADS_1
"Jangan pegang-pegang,dasar kang modus." Nesya berusaha menarik tangan nya namun Austin semakin kuat menggenggam tangan itu.
"Jangan marah lagi," ujar Austin karena saat ini Nesya tersenyum tipis karena berusaha melepaskan tangan nya.
"Kalau aku gak mau,emangnya kamu mau apa?" tantang nya sambil membalas tatapan Austin.
Austin menyatukan keningnya dengan kening Nesya.lalu menatap dalam dua mata indah itu.
"Aku akan membawa mu ke kantor KUA untuk aku nikahi.lalu malam pertama nya,aku akan membuat mu gak bisa berjalan kerena permainan ku."
"Otak mu tidak jauh dari hal kotor!" tegasnya sambil menjauh kan keningnya.
"Ayolah,Sayang.aku hanya bercanda,hahaha." Tawa Austin yang tidak tahan melihat wajah Nesya.
"Dia harus di beri pelajaran.dari tadi dia selalu membuat ku kesal,kita mulai balas dendam yang sebenarnya."
"Apa kamu mau aku maafkan?" Austin menghentikan tawanya dan tertarik dengan ucapan Nesya.
"Emangnya jika aku tidak dapat maaf dari mu,apa ruginya untuk ku?" sombong nya membuat mata Nesya memancarkan api kemarahan.
"Aku tidak mau mengingatmu,jangan temui aku lagi dan anggap saja kita tidak saling kenal," geram Nesya sambil berdiri dari duduk nya.
"Astaghfirullah kamu emosian sekali,baiklah cintaku.apa yang kamu ingin aku lakukan?" Diam-diam Nesya tertawa jahat.
"Tujuh rupa neng bukan tujuh warna" Ralat Austin.
"Aku maunya tujuh warna," ucap Nesya membuat Austin menggeleng tak percaya.
"Astaghfirullah.memangnya untuk apa bunga seperti itu?mau memenuhi syarat sajen kah," Protes Austin.
"Ia untuk sajen dan nanti kamu yang jadi tumbalnya." Nesya menimpali ucapan Austin.
"Sadis banget,Neng." Histeris Austin.
"Beneran mau bunga,gak mau di tukar jajan aja," tawar Austin sebelum pergi mencari bunga.
"Enggak.waktu kamu cari bunga cuma setengah jam dan di mulai dari sekarang," jelas Nesya membuat Austin bergegas pergi.
"Hahaha ... siapa suruh ngeselin dari tadi," tawa Nesya pecah setelah kepergian Austin.
"Kemana aku mencari bunga untuk nyai kembang?" Austin bingung sambil melihat kiri kanan.
"Haruskah bunga tujuh warna,dasar Nesya ada-ada saja permintaan nya."
__ADS_1
Ketika Austin yang bingung mencari bunga keinginan Nesya,disaat itulah Nesya senang dengan penderitaannya.
Nesya kini menikmati semua jajanan yang di jual di sekitar taman,berkat jaket Austin yang tertinggal dan kebetulan didalam nya terdapat dompet dan handphone.membuat Nesya sesuka hati belanja berbagai macam cemilan.
"Sangat enak,nyamm." geregetan sendiri menikmati batagor didalam mulutnya.
"Aku sungguh berani membelanjakan uang Austin,tapi anggap saja ini balasan ku karena hari ini energi ku terkuras.karena dia membuat ku kesal."
"Aku benar-benar lapar." semangat memakan jajanan nya
Nesya membeli berbagai cemilan dari mulai cilok,batagor,somay,bakso dan masi banyak lagi.
Ketika ia membuka kemasan gulali,tiba-tiba Austin telah ada di hadapan nya.menyadari kehadiran Austin sedikit membuat dia terkejut.
"Loh,cepat banget datang nya.emangnya bunga pesanan ku sudah ketemu?" melahap gulali tanpa jaim di hadapan Austin.
Austin membersihkan sudut bibir Nesya dengan jarinya dan lalu menghisap jari itu,Nesya geli sendiri melihat aksi Austin.
"Kenapa kamu makan yang itu?ini kan gulali nya Masi banyak." Nesya menyodorkan gulali ditangan nya.
"Enggak mau,yang di sudut bibir mu lebih manis dan nikmat." Mengeluarkan lidahnya untuk membasahi bibir miliknya,seakan akan meresapi gulali itu.
"Apa kamu baru di sengat tawon?sehingga berbicara seperti orang tak waras." Austin cemberut mendengar pertanyaan itu.
"Ini bunga yang kamu minta." menyerahkan bunga itu sambil cemberut.
"Secepat itu kamu mendapatkan nya,ini baru lima belas menit dan kamu sudah memenuhinya.aku curiga apa kamu ayah Tinker bell?" tuduh nya sambil melihat jenis bunga yang Austin dapatkan.
"Aku bukan ayahnya tapi Datuk moyang nya," imbuh Austin kesal.
"Astaga dari mana kamu mendapatkan bunga ta*i ayam ini,untung aku gak terpegang jika tidak habislah bau tangan ku," ucap Nesya sambil menunjuk bunga berwarna kuning dan berbau busuk itu.
Austin langsung mencium telapak tangan nya,soalnya tadi dia sempat meremas bunga itu karena terlalu geram dengan warna cerah nya.
"Benar-benat busuk,huek." Austin termual mencium aroma menyengat itu,bisa bisa nya ia tidak menyadari nya.
"Apa kamu memegangnya?"
Seketika ide jail mulai terlintas di pikiran Austin.
"Ia aku memegangnya." Dia melambaikan tangan dan sengaja ingin mengelap kan tangan nya di baju milik Nesya.
"Austin cuci tangan mu,jangan coba-coba menyentuh ku." Histeris Nesya sambil menjauhkan diri dari Austin.
__ADS_1