
Hari ini Nesya di izinkan untuk pulang.setelah satu Minggu berdiam diri di ruang rawat,kini akhirnya Nesya bisa bebas juga.
Hati nya bertambah senang karena pagi tadi Austin memberitahu,bahwa dia akan pergi ke kampung halaman Nesya.
"Akhirnya setelah sekian lama,Aku balik kampung juga," celetuk Nesya kegirangan.
"Makanya jangan kabur,jadi rindukan dengan kampung halaman sendiri," balas Austin.
"Kalau aku gak kabur,mungkin kita tidak akan bertemu dan mungkin aku sudah menjadi istri juragan!" ketus Nesya membuat Austin tersenyum.
"Benar juga.cie ... yang hari ini pulang kampung bawa calon suami," ledek Austin.
"Masi calon,belum tentu babe mau merestui hubungan kita."
"Nanti aku akan bujuk dia,agar mau menerima ku," balas Austin mulai melajukan mobil.
"Ini tidak mudah.babe ku itu keras kepala mana garang lagi." Entah mengapa nyali Austin tiba-tiba tergoyah.
"Emangnya dia segarang apa?" tanya Austin.
"Sangat garang.sebenarnya aku takut jika pulang ke rumah semua alat dapur melayang, ikut menyambut kedatangan ku." dusta Nesya sengaja menakuti Austin.
"Wah,aku tidak menyangka babe mu segarang itu." Nesya dapat melihat wajah Austin sedikit panik.
"Panik gak ... panik gak ... panik lah masa enggak,rasain lo." Nesya diam-diam tertawa.
"Kenapa tersenyum?" tanya Austin melihat sekilas Nesya tersenyum tipis.
"Ah,tidak ada." Nesya memperbaiki duduknya agar Austin tidak curiga ia telah berbohong.
"Awas ya kalau kamu ngarang cerita tentang babe,tidak akan ku ampuni kamu saat malam pengantin kita!" ancam Austin membuat Nesya mengerjapkan mata berulang kali.
"Austin,lihat wajah ku.ade kesah," ledek Nesya sambil memperhatikan lubang hidungnya pada Austin.
"Oh,berani." sungut Austin sengaja mengupil dan mengelapkan tangannya pada lengan Nesya.
"Ih,jorok!" jerit Nesya mengusap lengannya berulang kali.
"Hahaha,rasain lo." Austin tertawa puas.
Menuju kampung halaman Nesya memerlukan waktu sekitar tiga jam.cukup membuat bokong panas karena terlalu lama duduk dan membuat kepala pusing.
"Austin ... aku mabok," keluh Nesya sambil memijat keningnya.
"Ha,mabok.aku belum nanam saham,loh.kok kamu mabok aja," ujar Austin.
__ADS_1
"Aku mabok kendaraan,bukan mabok hamil,tauk." Nesya langsung mencubit pelan pinggang Austin.
"Gak harus cubit juga,neng." Protes Austin.
"Siapa suruh kamu ngomong sembarangan," sungut nya.
"Nah,kita sudah sampai.maboknya ditahan dulu ya neng, nanti kalau sudah sampai rumah baru mabok sepuasnya," pinta Austin sambil membuka pintu untuk Nesya.
"Mabok nya gak bisa di atur seperti itu austin,awas aku mau muntah." Nesya langsung berlari dan muntah di pinggir jalan.
"Huek ... huek ... " Nesya sampai berjongkok untuk mengeluarkan isi perutnya.
Austin mendekati nesya dan memberikan minyak kayu putih,dia sesungguhnya ingin memijat tengkuk Nesya.namun keinginan itu ia urungkan,mengingat Nesya akan marah jika berani menyentuh nya.
"Terimakasih," ujar Nesya setelah merasa mendingan.
"Apa kamu kuat berjalan,apa perlu aku mengendong mu?" tawar Austin.
"Tidak usah,aku masi bisa pulang kerumah." tolak Nesya.
Mereka mulai berjalan memasuki perkampungan,kebetulan Mereka tiba saat siang hari.sehingga keadaan kampung lumayan ramai dan mereka menjadi pusat perhatian warga kampung.
"Kenapa orang sini,kalau Mandang segitunya seperti kita ingin mereka makan saja," bisik Austin.
"Warga disini memang seperti itu,mungkin mereka penasaran denganmu," balas Nesya terus berjalan tanpa peduli tatapan warga.
"Iya,benar.pantas saja Aku tidak asing melihat wajahnya,"
"Siapa laki-laki itu,apakah pacarnya?"
"Mungkin saja."
"Wah,ini bahaya jika sampai juragan tahu.perkelahian besar-besaran akan segera terjadi."
" Pasti seru,aku pergi dulu untuk memberi tahu juragan*."
"Ternyata juragan Empang itu memang sangat terkenal disini,awas saja jika dia berani mencari masalah dengan ku."
Dua orang itu telah berada di depan rumah Nesya,dengan tangan sedikit bergetar Nesya memberanikan mengetuk pintu itu.
"Assalamualaikum." Terdengar langkah kaki membuat hati austin tiba-tiba bergetar.
"Waalaikum salam." Kini terlihat Pria paruh baya dengan kumis tebal dan tak lupa peci di atas kepalanya.
"Babe,Nesya pulang." Nesya langsung memeluk babe nya.
__ADS_1
"Ini beneran kamu,nduk." Roma melepaskan pelukan untuk melihat anak gadisnya.
"Iya,babe.ini Nesya," ujar Nesya lagi.
"Alhamdulillah kamu mau pulang,babe rindu dengan mu." Roma kembali memeluk Nesya dengan erat.
"Babe lepas,dulu.kenapa babe bau asem?" protes nesya melepas paksa pelukan dan menutup hidungnya.
"Ah,itu babe tidak mandi tujuh hari." Nesya mual tiba-tiba karena bau itu Masi menempel di hidungnya.
"Huek ... Babe jorok sekali," ucap Nesya.
"Hehehe,ini siapa nduk?" Austin berdiri kaku saat babe Roma menanyakan nya.
"Oh,ini calon suami Nesya." Roma sedikit kaget. dia langsung memperhatikan penampilan Austin dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Luar biasa kamu,nduk.pulang dari kota ole-ole nya menantu untuk babe," sindir Roma sepertinya tidak menyukai Austin.
"Kalian bedua cepat masuk,babe mau bicara serius dengan kalian," ajak nya lalu segera menutup pintu rapat-rapat.
Rumah yang sangat sederhana,dengan dekorasi mengunakan gaya tradisional kini terasa aneh di pandangan Austin.
"Kenapa lihat-lihat,jelek ya rumah nya?" bisik Nesya.
"Enggak,aku suka rumahmu sangat bagus," puji Austin.
"Nesya kemari,jangan bisik-bisik dengan pria asing itu," Titah Roma menepuk bangku sebelahnya.
Tanpa melawan Nesya segera pindah di samping babe nya.
"Ehm,perkenalkan nama saya austin.tujuan saya datang kemari untuk melamar anak babe," jelas Austin.
"Kamu melamar anak saya sendiri.dulu si juragan melamar anak saya,seluruh keluarga nya berbondong-bondong kemari.meskipun akhirnya Nesya tidak mau."
"Ih,babe gak baik membandingkan orang seperti itu.semua orang itu berbeda,tidak bisa di samakan!" Nesya menekankan ucapan nya.
"Diam kamu!" Nesya langsung merenggut.
"Astaghfirullah baru ngomong gini aja,dia sudah marah.apalagi jika aku bilang ingin menikahi Nesya secara sirih,bisa di caci makinya aku."
"Saya tahu kamu orang kota,bisanya orang kota itu banyak pengangguran dan ujungnya numpang hidup dengan pihak wanita.nah,saya tidak mau semua itu terjadi pada putri saya.lebih baik kamu kembali ke kota dan jangan ganggu putri saya." Roma mengusir Austin secara halus sedangkan Nesya hanya menepuk pelan jidatnya.
"Saya tidak pengangguran,dan saya mampu menghidupi kebutuhan Nesya saat kami sudah menikah!" tegas Austin membantah ucapan Roma.
"Saya tidak percaya dengan ucapan mu,lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah saya!" usir Roma.
__ADS_1
"Apaan sih,be.austin jauh-jauh dari kota untuk kemari,tapi setelah sampai malah babe usir.setidaknya beri dia racun baru suruh dia pergi.eh,maksudku minum hehehe." Austin menatap tajam Nesya.
"Seingat ku Nesya pernah bilang kalau babe nya itu matre,jika itu benar maka semuanya akan aman terkendali."