
"Jangan dekat-dekat dengan ku,aku tidak mau lagi berteman dengan mu." Nesya terduduk lemas karena baru saja berkejaran dengan Austin.
Austin sangat puas karena berhasil mengelapkan tangan nya di baju Nesya,kini wanita itu cemberut dan sangat marah padanya.
"Jadinya sama-sama bau,deh." Austin tersenyum bangga.
"Dasar jahat!aku menyesal menemani mu jalan-jalan," ucap Nesya menatap tajam Austin.
"Tunggu disini,jangan kemana-mana.kalau sampai kamu meninggalkan ku lagi,aku akan mencari mu walaupun kamu bersembunyi di lubang semut." Ancam Austin sebelum meninggalkan Nesya.
"Aku tidak takut dengan mu," ucap Nesya karena saat ini dia benar-benar marah dengan Austin.
Austin mulai mendekati Nesya dan tanpa aba-aba dia mengendong Nesya seperti memikul beras.
"Apa yang kamu lakukan?turunkan aku!" Berontak nya sambil memukul punggung Austin.
"Aku tidak akan menurunkan mu,sebelum kamu berjanji akan menunggu ku disini." Pinta Austin.
"Ia aku berjanji menunggu mu.sekarang turunkan aku!" jeritnya.
"Dasar pemaksa!" umpat nya setelah Austin menurunkan nya.
"Ingat janji mu." Austin mulai pergi meninggalkan Nesya,entah apa yang ingin dia lakukan?
"Bisa-bisa nya dia melakukan hal itu,lihat semua orang melihat kearah ku," gerutu Nesya meringkuk menyembunyikan wajahnya.
"Kemana perginya Austin,kenapa lama sekali?" lirihnya karena saat ini risih menjadi pusat perhatian.
"Maafkan sifat tengil ku sayang,semoga dengan ini kamu mau memaafkan ku." Austin baru saja membeli buket bunga dan buket coklat.
"Nesya ... " panggil Austin membuat dia langsung menoleh ke suara itu.
"Untuk apa itu?" tanya Nesya melihat buket di tangan Austin.
"Untuk mu," ujar Austin menyodorkan buket itu pada Nesya.
"Coba romantis terus kayak gini,gak ngeselin terus seperti tadi." Gerutu nya sambil mengambil buket itu.
__ADS_1
Nesya mencium buket bunga itu,namun ia masi samar-samar mencium bau busuk bunga ta*i ayam.
"Akhhh ... kenapa kamu tidak mencuci tangan,buket cantik ini jadi ikut bau busuk juga!" jerit Nesya geram.
"Aku lupa,Sayang." Austin bergegas pergi lagi mungkin untuk mencuci tangan.
"Gak bau lagi,kan." Austin menaruh tangan milik nya tepat di depan hidung Nesya.
"Ia gak bau lagi,tapi seharusnya kamu mencuci nya sebelum membeli buket ini," jelas Nesya kesal.
"Sudahlah sayang,semuanya sudah terlanjur.mending kita duduk sambil membicarakan masa depan kita." Ajak Austin mendudukkan diri.
"Buket cokelatnya aku buka,aku kepingin makan cokelat nya," ucap Nesya.
"Buka saja.nanti kalau kamu mau lagi akan ku belikan," ujar Austin membuat Nesya tersenyum.
"Dulu aku pernah malam-malam kesini,waktu itu aku sangat sedih hingga aku tanpa sadar menangis dan berbicara sendiri." Austin sedikit cerita membuat Nesya diam-diam menghayati cerita itu.
"Apa kamu cowok waktu itu?" tanya Nesya setelah mengingat.
"Cowok yang mana?" Austin pura-pura tak mengerti ucapan Nesya.
"Ternyata kamu memang gadis Jawa waktu itu,bisa bisa nya kamu berbicara bahasa Jawa ketika menegur ku."
"Hehehe,aku sangka kamu orang Jawa jadi aku mengunakan bahasa suku ku." cengengesan sambil menikmati coklat.
"Waktu itu aku kesal dengan kedua orang tua ku,mereka itu selalu memaksa ku untuk melakukan keinginan mereka,tanpa bertanya padaku apakah aku suka atau tidak?"
"Itu bagus,berarti dia sayang padamu.mungkin itu adalah bentuk kasi sayang mereka pada mu," kata yang sama yang di ucapkan Nesya waktu itu
"Memang ada kasi sayang orang tua yang seperi itu?" tanya Austin.
"Ada biasanya hal itu dilakukan oleh orang mampu,mereka tidak mau masa depan anak nya muram.jadi mereka memaksakan keinginan mereka untuk di tanam kan pada sang anak."
"Bisa di bilang itu resiko kita jika terlahir dari kalangan atas." Nesya menatap Austin.
"Jika aku bisa memilih,aku ingin terlahir dari orang biasa," seru Austin.
__ADS_1
"Kalangan biasa juga ada pemaksaan contohnya saja yang aku alami," ujar Nesya.
"Memangnya apa yang kamu alami?" tanya Austin sedikit penasaran.
"Kamu tahu kenapa aku bisa sampai di kota besar ini?" tanya Nesya.
"Mana aku tahu,neng.kamu belum pernah menceritakan nya pada ku," imbuh Austin.
"Kalau begitu dengarkan cerita ku.dulu aku ingin di jodohkan dengan juragan Empang di kampung ku,babe ku kan matre jadi dia mau saja anak gadis nya dinikahi oleh juragan itu."
"Tapi karena aku tidak mau jadi aku melarikan diri ke kota.untung ada bik Surti yang membantu ku di kota ini.jadi aku bisa bertahan hidup di kota dan terbebas dari pernikahan itu."
"Kamu sangat berani,apa babe mu tahu kamu disini?" tanya Austin sungguh saat ini dia ingin mengenal Nesya lebih jauh.
"Ia dia tahu.babe tahu dari bik Surti.Babe ku itu orang Betawi jadi temperamen nya sangat berbeda dengan ku yang lebih menurun sifat ibuku yang bersuku Jawa."
"Oh begitu.Apa alasan mu tidak mau menikah dengan juragan Empang?" tanya Austin menyambut suapan cokelat yang Nesya sodorkan.
"Juragan itu kasar,dia hobi memukul orang.aku takut terjadi kdrt jika aku mau menikah dengan nya," ujar Nesya.
"Apa dia masi muda?" tanya Austin lagi penasaran dengan sosok juragan Empang itu.
"Masi.dia itu pemuda yang sangat terkenal dikampung ku karena selain tampan dia juga kaya." Entah mengapa Austin kesal mendengar Nesya memuji juragan itu.
"Jika dia tampan kenapa dia mau menikah dengan m?,seharusnya dia mencari orang yang sederajat dengan nya.bukankah di kampung jika orang kaya biasanya nikah nya dengan orang kaya," ujar Austin.
"Seharusnya begitu,tapi karena dia menyukai ku,jadi dia melamar ku.gara-gara dia terang-terangan mengatakan menyukai ku, sehingga aku di musuhi oleh para gadis di desa ku." Nesya kesal mengingat hal itu.
"Semua orang tahu dia itu kasar dan pemukul, atau hanya kamu saja yang mengetahui nya," Austin heran banyak orang di desa Nesya yang menyukai juragan yang kasar itu.
"Ia tahu,soalnya juragan itu suka memukul tanpa mengenal tempat.dia itu suka memukul orang yang tidak membayar hutang tepat waktu," ujar Nesya.
"Jika yang meminjam nya Kakek-kakek atau nenek-nenek apa dia akan di pukul juga?" tanya Austin yang ingin mengetahui kesadisan juragan itu.
"Ia dia akan men-cabuk,biasanya sepuluh cambukan,aku paling gak suka jika dia melakukan hal itu pada orang tua.rasanya aku ingin mematahkan tangan nya itu." Nesya tanpa sadar meremas buket bunga di tangan nya.
"Ternyata dia sekejam itu," Austin menggeleng sendiri mendengar cerita Nesya.
__ADS_1
"Aku sangat bersyukur tidak menikah dengan nya," ujar Nesya setelah menghabiskan buket coklat itu.