
"Awww," ringis Austin saat Nesya mengobati lukanya.
"Makanya jangan berkelahi," sungut Nesya.
"Aku tidak akan berkelahi dengan nya,jika dia tidak memukul orang lain."
"Babe sangat suka waktu kamu memukulnya.jarang-jarang,loh,ada orang yang memukul juragan.pukulan kamu tadi mewakilkan keinginan para warga selama ini," puji Roma.
"Jangan lagi berkelahi dengan nya,aku tidak mau berurusan dengan juragan itu," pinta Nesya.
"Aku tidak bisa janji."
"Oh,ya,aku lupa!" jerit Nesya.
"Lupa apa?" tanya Austin penasaran.
"Lupa jika saat ini aku marah padamu!" ucapnya sambil menutup pintu dengan kencang.
"Astaghfirullah,aku sangka dia tidak lagi merajuk pada ku.babe,apa yang harus ku lakukan?" keluh Austin meminta bantuan pada Austin.
"Babe juga tidak tahu.sepetinya martabak saja tidak cukup meluluhkan hati Nesya,tapi ... " Roma menghentikan ucapannya sambil mengelus dagu nya.
"Tapi apa,be?" tanya austin tak sabaran.
"Tapi jika berlian dan uang mungkin bisa membuat dia berhenti merajuk," ujar Roma.
"Itu mah keinginan babe," balas Austin membuat Roma tersenyum.
"Tapikan Nesya itu anak babe.bukankah buah jatuh tidak jauh dari pohon nya,bisa saja Nesya juga menyukai berlian dan uang yang kamu berikan."
"Nesya tidak seperti itu,be," sanggah Austin.
"Sekarang babe tanya.selama kamu menikah, apa kamu pernah memberikan dia uang atau hadiah?"
"Ti-tidak," ujar Austin tercekat.nampaknya racun Roma mulai masuk kedalam otak nya.
"Ah,pantas saja anak ku merajuk padamu," balas Roma.
"Tapi dia tidak ada meminta hal itu pada ku,be."
"Meski dia tidak meminta seharusnya kamu lebih peka,biasakan inisiatif sendiri untuk menyenangkan hati istrimu."
"Astaga dari mana babe tahu kata peka itu ... tapi akan ku coba semua saran nya,semoga saja Nesya tidak marah lagi dengan ku dan aku akan kembali dapat jatah dengan porsi seperti biasanya."
"Baiklah akan ku coba," ujar austin.
"Bagus,semangat anak muda," balas Roma menepuk-nepuk bahu Austin.
Nesya sedang berkutat di dapur,hari ini dia sangat kesal dengan suaminya.terlalu banyak hal buruk yang terjadi,mulai melihat suaminya di tindih oleh wanita hingga berkelahi dengan juragan.
"Ini Austin ... ini selingkuhan nya lalu aku akan meratakan mereka tak ... tak ... tak ... bonyok kan kalian berdua," gumam Nesya yang sedang menumbuk pisang untuk di olah menjadi cengkodok itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah,dia sangat marah.hingga pisang itu ia kira aku,ini sangat mengerikan."
"Kamu ... ."
Nesya menunjuk dengan pisau di tangan nya membuat Austin refleks mundur ke belakang.
"Kemari?"
Dengan sedikit gugup austin mendekati Nesya,entah mengapa istrinya tiba-tiba menyeramkan di matanya.
"Belikan aku roti tawar," pintanya.
"Selain roti tawar kamu mau apa lagi?" tanya Austin.
"Tunggu sebentar," balasnya membuat Austin dengan senang hati menunggu.
"Seperti nya Nesya tidak merajuk lagi pada ku,ah,senangnya."
"Beli barang yang aku tulis di kertas ini,ingat di beli jangan sampai lupa.awas saja jika kamu kembali ada yang kurang," ucap nya membuat Austin meneguk ludah dengan susah payah.
"Akan ku belikan semuanya," ujar Austin mengambil kertas itu dan mulai pergi.
"Tunggu dulu!" pekik Nesya lagi.
"Ada apa lagi?"
"Kamu harus pulang setelah membeli itu,ingat jangan mencoba berkencan dengan wanita tadi atau aku akan memotong pusaka mu," ancam Nesya.
"Pegilah!" usir Nesya tanpa memperdulikan ucapan Austin.
Dengan segera Austin pergi.bak anak kecil yang di suruh Emak membeli sesuatu,austin membaca tulisan di kertas itu sebelum menyebutkan nya.
"Tepung terigu 5000,gula 3000,minyak goreng 5000.apa ini tidak salah?kenapa sedikit sekali?harga diri ku terlukai melihat ini."
"Beli apa?" tanya ibu penjual menyadarkan Austin.
"Itu ... roti tawar," ujar Austin sedikit gugup karena kaget.
"Oh,itu ada di keranjang.silahkan pilih yang kamu inginkan," ibu itu menunjuk keranjang yang telah berisi berbagai makanan ringan.
"Wah,banyak sekali jajanan.aku harus membeli nya sebanyak mungkin untuk cemilan di rumah.ah,roti tawar Nesya rasa apa ya?dari pada pusing lebih baik ambil semuanya."
"Saya mau gula itu semuanya,tepung terigu sekarung kecil itu,lalu minyak goreng Bimoli yang besar itu satu, dan yang terakhir Snack yang ada di keranjang itu semuanya di bungkus," jelas Austin membuat yang lainnya ternganga mendengar nya.
"Se-semuanya?" tanya penjual itu memastikan.
"Ia,semua yang ada di keranjang itu.bisa ibu bungkus sekarang istriku menunggu ku di rumah," ujar Austin.
"Aku gak di rumah,kok,sayang,aku disini."
Bulu kuduk Austin berdiri mendengar suara itu, dengan berat hati dia berbalik ke belakang dengan memanjatkan doa agar ia salah dengar.
__ADS_1
"Kamu!" jerit Austin yang telah di sambut senyuman manis wanita itu.
"Ia,aku sayang.kenapa kaget?oh aku tahu,kamu kaget lihat aku makin hari makin cantik,makanya sering-sering main kerumah biar lebih tahu kecantikan ku yang sebenarnya," celoteh Jamila membuat Austin tersenyum jijik.
"Buk,cepat bungkus pesanan saya," desak austin sambil menepuk-nepuk meja.
"Sabar,den ibu Masi total belanjaan kamu,"
"Jangan terburu-buru sayang,waktu masi panjang untuk main kerumah," bisik nya membuat Austin langsung menjauh.
"Kamu itu siapa,sih?apa kamu tidak malu di lihatin orang?mana memakai baju kurang bahan lagi," omel austin.
"Ih,kamu kalau lagi sewot seperti itu kenapa gemes banget sih.ingin aku ci*ok rasanya itu bibir," balas nya mencolek dagu Austin.
"Astaghfirullah,istighfar,nyebut.gak malu kamu ngomong gitu sama suami orang,apalagi di tempat umum seperti ini," gerutu Austin.
"Enggak," balas nya.
"Ya ... salam," ujar Austin.
"Eh,neng jamila.mau beli apa neng?" tanya bapak itu.
"Beli timun,pak," balasnya genit.
"Aduh,siang begini beli timun.bikin bapak langsung mikir apa gitu?" ucapnya sambil memperhatikan lekuk tubuh Jamila.
"Ah,bapak mikirnya jorok Mulu.nyebut pak,bener gak sayang?" ucap nya kecentilan.
"Ini,den pesanan nya,totalnya 450.000,belanja lagi ya di warung ibu," ujar penjual itu dengan tersenyum lebar.
Dengan perlahan Austin membuka dompetnya dan mengambil beberapa uang lembaran merah untuk di berikan pada penjual itu.
"Wah,banyak banget.kamu gak kasi aku uang jajan,aku udah kasi jatah,loh," sahut Jamila yang memperhatikan isi dompet Austin.
"kalau ngomong jangan ngawur!" ketus austin sambil menyerahkan uang pada ibu itu.
"Kembalian nya ambil saja,buk," ujar Austin sambil membawa belanjaan itu.
"Mau aku bantu,sayang?" ujar Jamila sengaja menunduk agar aset gunung nya di lihat oleh Austin.
"Jangan sentuh belanjaan ku!" tegas Austin yang sedang berjongkok memikul tepung itu.
"Aduh,jangan galak-galak dong sayang," balas Jamila ikut jongkok,kebetulan dia hanya mengenakan daster sehingga dengan jelas memperlihatkan paha mulusnya.
Tanpa menghiraukan wanita itu Austin segera Menteng kresek besar itu dan meninggalkan warung itu dengan wajah kesal.
"Udah mainnya sama bapak aja,jangan sama timun atau dengan suami orang," bisik bapak itu.
"Aku tunggu di rumah,bawa makanan ya?" bisik Jamila lalu pergi meninggalkan bapak yang tersenyum lebar itu.
"Dasar Jamila,apa anak itu Masi tidak berubah?merusak citra perempuan saja."
__ADS_1