Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 32


__ADS_3

Yang benar saja,hari ini Austin benar-benar dibuat pusing oleh nesya.tadi pagi Nesya masi dapat di hubungi meskipun panggilan darinya tidak diangkat,namun setelah Austin hubungi lagi di siang hari,nomornya selalu berada di luar jangkauan yang membuat Austin gelisah sendiri.


"Kemana kamu Nesya?tidak tahukah kamu bahwa aku merindukan mu.kenapa kamu susah di hubungi?" Austin mengacak rambutnya frustasi.


"Apa Nesya menelpon Febri?apa dia selingkuh?" Austin mulai menduga-duga.


"Oh,tidak bisa ku biarkan.akan ku mutilasi Febri jika dugaan ku benar." Austin dengan segera menghubungi assisten nya itu untuk segera keruangan nya.


Kali ini Febri datang tidak tepat waktu,hal itu semakin membuat Austin curiga.


"Kenapa dia lama sekali kesini?apa dia sedang menghapus jejak di ponselnya agar tidak ketahuan oleh ku?awas saja jika dia berani menikung ku!" Austin meninju meja kerjanya karena geram sendiri dengan pikiran buruk itu.


Tak lama Febri datang dengan tergesa-gesa dia tampaknya berlari hingga wajahnya sedikit berkeringat.


"Darimana saja kamu?beraninya kamu membuatku menunggu." Febri terdiam kaku melihat pancaran api di mata sang bos,entah apa kesalahan yang ia perbuat hari ini,sehingga sang bos nampak murka padanya.


"Anu ... itu ... bos ... " Febri tergagap sendiri karena perasaan takut kini mulai menyeruak dalam benaknya.


"Ngomong itu yang jelas!" ketus Austin sambil melayangkan berkas ke wajah Febri.


"Ini bos kenapa lagi sih?kenapa selalu aku yang di jadikan pelampiasan kemarahan nya?awas saja jika besok pagi tuhan memberikan kesempatan satu hari untuk menjadi bos di perusahaan ini,orang yang pertama kali ku siksa adalah Dia."


"Kenapa lihat-lihat,gak suka dengan perilaku ku.kalau gak suka silahkan undur diri dari perusahaan ku," usir Austin lalu duduk santai di kursi kebesaran nya.


"Tidak,Bos.jangan pecat saya," iba Febri dengan wajah puppy eyes.


"Jijik saya lihat wajah sok imut itu!" Tegas Austin membuat febri mengumpat dalam hati.


"Tadi saya dari toilet,bos.biasa panggilan alam." Febri menjawab pertanyaan Austin tadi,bukan nya Austin percaya malah menganggap assisten nya itu mengelabuhi nya.


"Bawa kemari handphone mu," pinta Austin membuat Febri terdiam kaku.


"Un-untuk apa bos?" tanya Febri gelagapan membuat kecurigaan Austin semakin kuat.


"Jangan banyak tanya,cepat bawa kemari!" titahnya sedikit memaksa.

__ADS_1


"Apa handphone milik bos gak ada pulsa sehingga meminjam handphone milik saya," ledeknya.


"Jangan menguji kesabaran ku! mentang-mentang aku tidak menghukum mu atas kejadian kemaren.kamu sesuka hatinya menentang ku!" seru Austin membuat nyali Febri menciut mengingat kesalahan dia didepan mall.


"Hehehe,maaf bos.ini ponsel ku,tapi janji ya gak di banting soalnya cicilan nya belum lunas." Dengan tangan bergetar Febri menyerahkan handphone miliknya.


Austin diam saja dan tidak membalas ucapan Febri,dia segera mengambil handphone itu dan mulai mengotak Atik nya.


"Apa password nya?" tanya Austin.


"Tidak tahu," balas Febri membuat Austin langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel untuk menatap Febri.


"Ini ponsel mu masa kamu gak tahu password nya,jangan bermain-main dengan ku.nanti kalau aku geram bukan ponsel ini lagi yang ku geser tapi kepala mu!" bentak Austin emosi dengan tingkah assisten nya.


"Saya sudah memberi tahu yang sebenarnya." Febri membela diri.


"Beri tahu sejujurnya apa password nya?" tanya Austin lagi dengan menggoyang kan postel itu.


"Tidak tahu," balas Austin.


Mulut Febri terbuka karena baru saja remod AC yang tidak bersalah kini menjadi korban kegilaan sang bos,remod AC itu di lempar Austin tepat di depan kaki febri.


Kaki Febri kini gemetar hampir saja ia pipis di dalam celana karena syok dengan kesadisan sang bos.


"Berbohong lagi,handphone ini yang aku lemparkan tepat di mulutmu." Ancam Austin menahan senyum melihat kaki Febri yang bergetar.


"Tahan Austin jangan tertawa,sebenarnya aku kasihan dengan nya.tapi ... mengingat dia berani berniat menikung ku,membuat aku harus mengeretak nya agar tak berani macam-macam."


"Password nya tidak tahu," jawab Febri membuat Austin sedikit mengerti.


"Maksud mu tidak tahu ... Astaga kenapa kamu membuat sandi sekonyol itu." Austin menepuk jidat setelah mengerti ucapan Febri.


"Sedari tadi saya bilang begitu,tapi ... bos tak percaya,hiks ... " jelas nya dengan menangis.


"Kenapa kamu menangis?astaghfirullah sejak kapan aku punya assisten cengeng?" Austin tak menyangka Febri menangis.

__ADS_1


"Saya sedih karena barusan bos tidak percaya ucapan saya.padahal saya sudah jujur,tapi ... bos malah menuduh saya berbohong mana pake bentak-bentak lagi,hiks ... " jelas nya menahan tangis.


"Itu salah mu sendiri,siapa suruh bikin password begitu?" Austin menutupi kesalahannya sesungguhnya ia sangat menyesal memarahi Febri.


"Udah salah masi saja tidak mengaku,coba saja saya yang melakukan kesalahan pasti langsung heboh dan marahi saya." Protes nya membuat Austin semakin menyesali perbuatannya.


"Ia aku salah.aku minta maaf," ujar Austin membuat Febri sedikit tersenyum karena baru kali ini Austin meminta maaf padanya.


"Udah seneng,kan.berhenti menangis aku risih melihatnya," pinta Austin membuat Febri segera menghapus air matanya.


Austin melanjutkan pemeriksaan nya,dia membuka aplikasi yang ia curigai tapi setelah dia membuka galeri dan video dia terkejut.


Niat hati ingin mencari foto Nesya mana tahu Febri menyimpan nya diam-diam,tapi malah ketemu foto dirinya sendiri.


"Aku tarik kembali permintaan maaf ku,febri berani-beraninya kamu mengkendit ku!" pekiknya murka.


"Maaf bos,waktu itu saya hilaf.habisnya itu mengemaskan kapan lagi lihat bos ngupil?" Aura Austin kini benar-benar panas.


Bukan foto dia ngupil saja,ada foto dia lagi mengagaruk pantat,mencium ketiak dan masi ada banyak lagi berbagai macam foto aib Austin.


"Benar-benar sangat kreatif." sindir Austin.


"Hehehe,ampun bos." Febri berdoa dalam hati agar bos nya tak memecatnya.


"Gaji mu ku potong 50 persen karena berani mengambil foto ku diam-diam." Febri bersyukur Austin tidak memecatnya meskipun gajinya di potong tapi dia tidak mempermasalahkan itu.


"Tidak masalah bos,asal saya masi di ijinkan bekerja di sini," balas Febri.


Ketika Austin membuka video dan terbuka lah aib Febri.Austin menggeleng tak percaya di balik fisik yang polos tersimpan ke mesuman yang hakiki.


"Pengoleksi film biru,seleranya yang mulus-mulus.pantas saja aku menyuruh mu kemari kamu telat dan tadi kamu bilang dari toilet,jangan bilang kamu habis main solo." tuding Austin membuat Febri cengengesan.


"Biasa bos.kebutuhan laki-laki,dari pada aku main di klub mendingan nonton yang begituan.kan dosanya gak besar amat," ujarnya.


"Intinya sama-sama dosa,lebih baik kamu cepat nikahi si Lola biar gak ngedosa terus." Saran Austin membuat Febri terkejut.

__ADS_1


"Ogah kalau sama dia," tolaknya cepat membuat Austin tertawa.


__ADS_2