
"Semuanya berjalan lancar bos,wanita itu sudah di penjara." Lapor wanita separuh baya itu.
"Kerja bagus,kamu memang sangat bisa diandalkan.tunggu aku kembali keluar negeri aku akan memberikan upah mu."
"Kenapa tidak sekarang saja bos?di transfer saja," Pinta wanita itu.
"Ck ... ck ... kamu benar-benar tidak sabaran!" decak nya kesal.
"Nah,itu bos tahu.transfer ya ... saya mau shopping," ujarnya.
"Baiklah akan ku transfer." Langsung mematikan panggilan.
"Yes ... yes ... yes.akhirnya wanita itu di penjara,aku akan membuat dia sengsara di sel itu,haha ... haha ..." ujarnya menelpon seseorang.
"Hallo."
"Ini aku Siska Wijaya,aku sedang membutuhkan bantuan mu,apa kamu mau membantuku?" Siska langsung to the points.
"Aku akan membantu mu,tapi seperi biasa harus ada money untuk menggerakkan tanganku."
"Itu mudah,kerjakan saja yang aku minta.maka kamu akan menerima imbalan nya," ujar Siska tahu maksud wanita itu.
"Memangnya apa yang kamu mau aku lakukan?"
"Aku ingin kamu menyiksa tahanan baru yang bernama Nena Nesya itu," ucap nya sambil tersenyum jahat.
"Oh,tahanan wanita muda yang cantik itu," pujinya.
"Hey,apa matamu buta.gadis kumuh itu kamu bilang cantik,masi jauh cantik aku dari pada dia.tarik ucapan mu dan lalu puji kecantikan ku," titahnya.
"Aku salah berucap.mungkin kemaren saat aku melihatnya,mata ku tertutupi kotoran.tapi hari ini aku sadar bahwa hanya kamu yang cantik di dunia ini,sudah cantik baik hati pula.mana kaya raya lagi," pujinya bertubi-tubi.
"Nah,itu baru benar.kerjakan apa yang aku mau?aku tunggu kabar baik dari mu esok hari," Siska memutuskan panggilan.
"Dasar orang kaya seenak hatinya saja mematikan telpon sepihak.tapi tak apalah yang penting aku segera dapat cuan yang besar,bisa beli mobil baru nih," gumam nya kegirangan.
"Saudari Nena Nesya mohon ikut dengan saya," ujar penjaga yang bernama Marwah.
Nesya di bawa oleh Marwah ke toilet yang dari jauh saja sudah tercium bau-bau yang tak sedap,Nesya sampai menahan nafas saat berada di depan toilet itu.
"Kamu bersihkan toilet ini," ujar wanita gemuk itu.
__ADS_1
"Sendiri?" tanya Nesya.
"Tidak berenam,ya ... sendirilah.kamu itu napi baru,harus di beri aktifitas.agar tidak gemuk di dalam sel terus," ujarnya.
"Kenapa tidak dia saja yang kerjakan?bukan kah yang gemuk itu dia,lalu kenapa aku yang kurus ini yang di suruh,dasar aneh." gerutu Nesya dalam hati.
"Cepat bersihkan,jika aku kembali nanti kamu tidak selesai.jangan harap dapat jatah makan siang." Ancamnya meninggalkan Nesya.
"Baik buk," ujar Nesya.
Setelah kepergian Marwah,Nesya membersihkan toilet itu.bau menyengat yang menusuk hidung sebisa mungkin ia tahan.jika dituruti mungkin saat ini Nesya sudah muntah.
"Berapa abad WC ini tidak di cuci,baunya semerbak satu ruangan." Nesya menutup hidungnya dengan satu tangan,sedangkan satu tangannya ia gunakan untuk menyikat lantai WC.
Nesya memerlukan waktu cukup lama untuk membersihkan empat toilet itu,hingga waktu siang tiba baru ia bisa bernafas lega karena kerjaan nya telah selesai.
"Apa sudah selesai?" tanya Marwah.
"Sudah,Bu." Nesya mengelap keringat di kening nya.
"Bagus," ujarnya setelah memeriksa satu persatu toilet itu.
"Sekarang ikut aku makan siang." Ajaknya.
"Kamu dari mana?" tanya Vina melihat wajah Nesya yang sedikit pucat.
"Dari toilet." Nesya mencoba mencium bau badan nya mana tahu bau Pesing menempel di bajunya.
"Apa kamu di suruh membersihkan toilet dengan wanita gemuk?" tanya Reva.
"Hehe,ia." Nesya cengengesan sambil memakan tempe goreng.
"Wanita itu memang tak berubah,suka menyiksa orang baru." Reva langsung menatap tajam kearah wanita gemuk itu.
"Benarkah?apa itu suatu tradisi disini?" tanya Nesya.
"Tidak semua napi baru yang di siksanya, kecuali ada seseorang yang meminta dia untuk menyiksa mu disini,maka siap-siaplah hari-hari mu di buat dia seperti neraka," jelas Vina.
" Bukankah dia itu polwan,kenapa tega melakukan hal itu?" tanya Nesya kesal.
"Gaji dia sangat kecil.mana bisa memenuhi perut dia yang gemuk itu,menyiksa orang lain adalah sampingan kerjanya disini.biasa nya yang membayar dia itu orang kaya,kita lihat saja pasti ada barang baru yang ia beli bulan ini." Selera makan Nesya hilang setelah mendengar ucapan Reva.
__ADS_1
"Menurut kalian,apa aku korban dia selanjutnya?" tanya Nesya.
"Mungkin saja,apa kamu punya musuh dari kalangan atas?" Nesya segera menggeleng.
"Aku tidak punya musuh," ujar Nesya menyakinkan.
"Mungkin kamu punya.tapi kamu tidak menyadarinya," sahut Vina.
"Perasaan aku tidak pernah mengganggu orang lain," balas Nesya .
"Jika kamu tidak mengganggu mungkin kamu merebut,mencuri atau apa?coba kamu ingat-ingat," pinta Reva.
"Aku tidak pernah melakukan hal itu,aku saja cuma memiliki beberapa teman dan mereka semua baik pada ku," jelas Nesya.
"Apa kamu punya pacar?bisa saja mantan pacar mu punya dendam pribadi padamu." Nesya terdiam sesaat,apa semua ini ada hubungannya dengan austin?
"Aku gak punya pacar,tapi ... aku punya kenalan baru-baru ini.entah mengapa sejak aku kenal dia,rasanya cobaan silih berganti menghampiri ku." Cerita Nesya.
"Bisa saja karena teman mu itu,apa kami boleh tahu siapa nama teman mu itu?" tanya Vina antusias.
"Namanya Austin." Reva dan Vina terbengong sesaat.
"Apa Austin yang kamu maksud itu pengusaha muda yang terkenal itu?" tanya Reva.
"Wah,pantas saja kamu di ganggu.soalnya kamu lagi dekat dengan anak sultan," ujar Vina.
"Mungkin kalian salah paham,Austin teman ku itu orang biasa.untuk beli apartemen saja dia perlu nabung bertahun-tahun mana mungkin dia anak sultan," bantah Nesya cepat.
"Apa apartemen di jalan anak kembar itu yang kamu maksud?" tanya Vina lagi.
"Ia.aku pernah numpang masak nasi catering disana.jadi aku pernah ke apartemen miliknya," ungkap Nesya.
"Dasar oon.kamu tahu bahwa apartemen itu adalah milik dia.fiks Austin yang kamu maksud itu adalah anak sultan," jelas Vina merasa senang karena tebakan nya tak meleset.
"Aku masi tidak percaya," bantah Nesya lagi.
"Nanti akan ku lihatin wajah anak sultan itu di ponsel ku,tapi kita buka handphone nya jam dua belas malam.ingat jangan sampai ketiduran." Bisik nya.
"Jika sampai Austin teman mu itu memang anak sultan,maka wajar saja jika ada yang memfitnah mu,hingga mencoba menyiksa mu di penjara ini." Reva angkat suara.
"Aku yakin dalang dibalik semua ini
__ADS_1
adalah pengagum nya,secara dia itu tampan,kaya,baik,tidak sombong.wanita mana coba yang tidak menginginkan dia.jika saja aku masi muda seperti mu,mungkin aku juga melakukan hal jahat untuk mendapatkan nya." Vina menggigit jari mungkin dia mengidolakan Austin.
"Dasar gila!" umpat Reva kesal.