Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 30


__ADS_3

Mengetahui hari menjelang malam,Austin mengajak Nesya pergi dari taman kota itu.


"Kita mau pergi kemana lagi?apa kita pulang?" tanya Nesya sambil memakai helm.


"Kenapa pikiran mu pulang terus,Neng?waktu masi panjang mari kita nikmati." Nesya cemberut mendengar hal itu.


"Ya enakan pulanglah,enak rebahan." Gerutu nya masi terdengar oleh Austin.


Austin menjalankan motornya setelah memastikan Nesya duduk dengan nyaman.saat ini Nesya tidak tahu kemana tujuan Austin. hingga dia terperanjat kaget saat Austin memarkirkan motornya di salah satu hotel ternama.


"Ngapain kita kesini!" serunya marah.


"Emangnya gak boleh kita main ke sini," balas austin tersenyum tengil.


"Jangan macam-macam atau aku akan marah padamu!" jerit Nesya saat tangan Austin menyentuh helm miliknya.


"Gak macam-macam hanya satu macam," balas Austin menahan tawa.ekspresi Nesya saat ini begitu menghibur dirinya.


"Ayolah jangan bercanda terus,sekarang jalankan motornya kita pergi dari sini,"bujuk Nesya membuat Austin gemas sendiri.


"Siapa yang bercanda?memang aku mau berkunjung di sini bahkan aku mau check in sekarang," Nesya semakin panik mendengarnya.


"Tega kamu," ujar Nesya menghela nafas dengan mata yang sudah berkaca.


Austin melihat wajah sendu Nesya,niat hati ingin mengerjai Nesya tapi malah dia yang merasa bersalah.


"Aku bercanda,Sayang.aku lagi nunggu teman ku,buang jauh-jauh pikiran buruk itu." Satu tetes air mata jatuh di pipi Nesya.


"Suka benget becanda yang kayak gitu," ujar nya sambil menangis.


"Gak seru sayang jika gak ada candaan,jangan baper terus dong.kan,kamu tahu sendiri dari awal kalau aku ini suka bercanda jadi jangan di anggap serius," jelas Austin agar Nesya mengerti.


"Jadi maksud kamu aku yang salah disini?" pertanyaan itu mau di jawab ia atau tidak pasti semuanya ada imbasnya.


"Bukan begitu,Sayang." Austin menyentuh lengan Nesya.

__ADS_1


"Terus apa?" Nesya menghindar dari sentuhan Austin dan terlihat dia semakin emosi.


"Maaf jika aku bercanda nya keterlaluan," Nesya tersenyum miris mendengar pengakuan maaf Austin yang entah sudah berapa kali.


"Selalu begitu.selalu meminta maaf dan akan di ulangi kembali,kamu kira aku patung gak punya perasaan jadi sesuka hati mu bercanda keterlaluan,gitu!." Seru nya sedikit membentak.


Austin memilih diam.dia tahu saat ini Nesya tengah emosi jadi dia memberikan beberapa waktu,agar Nesya lebih tenang dan bisa di ajak bicara baik-baik.


"Kenapa aku selalu datang di waktu yang tidak tepat,lihatlah gadis itu menangis sepertinya bos baru saja bertengkar.habislah kamu Febri menjadi pelampiasan nya,"


Febri memperhatikan dua sejoli itu dari arah sedikit jauh,saat ini dia memegang paper bag yang isinya handphone pesanan bos nya.


Tadi sore ketika dia dalam perjalanan pulang,tanpa di duga sang bos mengirim pesan untuk membelikan ia handphone dengan merek yang ia beli kemarin.


"Mungkin bos mau capelan merek handphone dengan gadis nya," tebak Febri sambil memperhatikan handphone didalam paper bag itu.


"So sweet boleh,bos.tapi ingat waktu juga dong.masa aku disuruh beli beginian ketika aku sudah separuh perjalan pulang,tega banget." gerutu nya.


"Sekarang lihat lah hukum alam berlaku,kamu di acuhkan dengan wanita mu dan wanita mu marah pada mu, hahahah ... rasakan itu.akhirnya aku berhasil membalas tanpa menyentuh hahaha ... " Tawa Febri melihat wajah kusut bos nya.


Tanpa sengaja Austin melihat Febri yang tertawa sendiri,tangan Austin menggenggam setang motor begitu erat mungkin ia merasa Febri tengah mengerjai dia.


"Sampai kapan kita disini,apa sampai hotel ini beranak-pinak?" tanya Nesya setelah sedikit tenang.


"Sebentar lagi,teman ku sudah dekat.sabar ya?" pinta Austin namun Nesya mengacuhkan nya.


"Aku penasaran dengan wanita berhijab itu.samperin aja deh,biar bisa lihat wajah nya dengan jelas." Febri mulai mendekat kan diri ke arah motor Austin.


Setelah Febri berada tepat di hadapan Austin,tatapan mematikan kini yang ia dapatkan.Febri cengengesan saja mendapatkan tatapan seperti itu Austin seperti harimau yang sedang menatap rusa di hadapan nya.


"Darimana saja kamu!" Tegur Austin lantang membuat nyali Febri menciut.


"Tadi jaringan di hotel ini jelek sehingga sedikit memerlukan waktu saat melakukan transaksi pembayaran handphone," ujar Febri sambil melirik Nesya.


"Alasan mu saja,sejak kapan di hotel ini memiliki koneksi buruk?" omel Austin merampas paper bag di tangan Febri.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak sopan padanya? seharusnya kamu berterimakasih padanya bukan malah memarahinya," omel balik Nesya membela Febri.


"Dia pantas mendapatkan itu,karena telah membuat ku menunggu," jelas Austin menatap Nesya.


"Hanya itu saja kamu permasalahan,kan.jauhkan lah hamba mu ini dari laki-laki ber-ego tinggi." Doa Nesya membuat Febri senang karena di bela dengan wanita bos nya.


"Kenapa kamu senyum-senyum?mau mati kamu!" Austin tidak bisa mengontrol emosinya sehingga berkata kasar lagi.


"Astaghfirullah mulut mu.Abang cogan sangat rugi sekali punya teman seperti dia,lain kali Abang cari teman yang lain saja.jangan bentuk nya seperti dia," saran Nesya membuat Austin semakin emosi karena Nesya selalu membela Febri.


"Nesya hentikan ucapan yang tidak bermutu itu,jangan bela dia terus.apa lagi sampai bilang 'Abang cogan' aku ... tidak ... terima!" pekik Austin mengagetkan para pengunjung.


"Apa kau gila?kenapa harus teriak-teriak?" tanya Nesya memperhatikan sekeliling,sedangkan Febri diam saja bak patung.


"Ia aku gila karena kamu terus membela dia," balas Austin.


"Memang dia benar dan kamu salah,jadi wajar aja jika aku membela dia." Ngotot Nesya membuat Austin semakin geram sendiri.


"Puas kamu mendengar aku di marahi oleh nya,awas saja besok di tempat kerja,habis Lo." Ancam Austin menatap jengkel Febri yang menahan tawa.


"Sungguh pemandangan langka,kapan lagi coba lihat bos kalah telak oleh perempuan?pasti si bos cemburu berat,dia merasa kalah saing oleh ku yang sedari tadi di bela oleh calon istri nya."


"Kalau dia hajar kamu,satu kali pukulan ku bayar dengan ciuman.jika kamu sampai koma aku bersedia menemani mu dan ketika kamu sadar akan ku jadikan suami ku," Febri tak dapat menahan senyum mendengar penuturan Nesya.


"Tidak bisa dan tidak akan ku biarkan terjadi ... !" pekik Austin seakan memutuskan ucapan Nesya agar tidak jadi naik ke langit dan terkabulkan.


"Emang nya kamu siapa?kamu setuju atau tidak itu semua tidak berpengaruh pada hubungan kami," ujar Nesya menatap sinis Austin.


"Hubungan kita akan berjalan baik,ada dia ataupun tidak." Rasanya Febri ingin mengucapkan hal itu.namun dengan sekuat tenaga dia menahan bibirnya agar tetap diam.jika sampai kata itu terucap maka habis lah riwayat nya.


"Hentikan semua ini atau aku benar-benar menarik mu masuk kedalam hotel ini," ancam Austin dengan tatapan mematikan yang dapat membungkam bibir Nesya.


"Kamu segera pergi dari sini,sebelum tangan ku benar-benar melayang di pipi mu," usir Austin dengan nada penuh penekanan.


Febri bergegas pergi dari hadapan dua sejoli itu,Nesya memandang sedih punggung yang telah menjauh dari nya itu.

__ADS_1


"Berhenti memandanginya,apa aku kurang tampan sehingga kamu terus memandanginya?" tanya Austin cemburu.


"Dia memang tidak setampan kamu,tapi dia jauh lebih kalem dari mu." Austin ingin mencret saat itu juga,Febri assisten nya di bilang kalem.apakah dunia saat ini tidak berputar?


__ADS_2