Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 54


__ADS_3

Mata keduanya saling bertatapan,Nesya sedikit merinding saat tengkuknya di kecup oleh Austin.


"Nikmat,bukan.ayo kita mandi bareng biar aku beri kenikmatan lainnya," ujar Austin tersenyum miring.


Plak.


Nesya memukul pelan lengan Austin,dia kesal karena Austin berbicara vulgar padanya.


"Dasar mesum!" umpatnya menyilang kan tangan.


"Apa salahnya mesum dengan istri sendiri," balas Austin mengusap lengannya yang sedikit pedas.


"Astaghfirullah,kenapa kita pulang kampung Austin?seharusnya aku di penjara,masa tahanan ku belum selesai,pasti sekarang aku menjadi buronan polisi," ujar Nesya tiba-tiba teringat hal itu.


"Kamu sudah bebas.jadi tidak perlu lagi kesana," ucap Austin memeluk istrinya dari belakang dan menaruh wajahnya di bahu Nesya.


"Jangan berbohong,austin.kapan aku di bebaskan?kenapa aku tidak tahu?!" tegas Nesya membiarkan Austin memeluknya.


"Suamimu ini yang telah membebaskan mu,kamu tidak bersalah.kamu itu di jebak oleh boneka India itu." Austin mencium singkat pundak Nesya.


"Oh,jadi semua ini ulah wanita itu." Kaget Nesya.


"Heeh.Maafkan aku,karena aku semua itu terjadi padamu," ujar Austin.


"Ini bukan salah kamu.mungkin ini hanya ujian di hidupku,lagi pula banyak hikmah yang terkandung dari semua ujian ini," jelas nesya yang telah membersihkan makeup.


"Bijaknya istriku,muah." Austin mencium pipi Nesya.


"Ha ... kok di cium,sih," rengek Nesya.


"Lah,emangnya kenapa?"


"Kan jadi bau," ledek Nesya tertawa ringan.


Tatapan tajam terarah kepada Nesya,tanpa aba-aba Austin mengendong Nesya dan membantingnya di kasur.


"Aaa ... kamu mau ng-ngapain?" tanya Nesya tergagap.


"Mau enak-enak," balas Austin sambil melepaskan tali pinggang nya.


"Jangan sekarang,aku belum mandi," cegah Nesya.


"Mandinya nanti saja setelah urusan kita selesai," ujar austin yang telah bertelanjang dada.


Nesya memejamkan mata karena saat ini Austin menindih tubuhnya.


"Buka matanya," bisik Austin namun Nesya menggeleng.

__ADS_1


Austin mencium lembut bibir Nesya,rasa manis yang ia rasa membuat dia semakin semangat memperdalam ciuman itu.


Merasa susah bernafas Nesya langsung membuka matanya dan memukul pelan dada suaminya.


"Huh ... huh .. apa kamu mau membunuh istri mu sendiri?" protes Nesya setelah ciuman itu terlepas.


"Rasanya sangat nikmat,sehingga aku lupa memberi jeda." Austin menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nesya.


"Mau apa lagi?" tanya Nesya yang mencegah Austin membuka resleting bajunya.


"Mau melanjutkan yang tertunda," balas Austin memeluk Nesya untuk membuka resleting itu.


Ciuman panas kembali tejadi kali ini dengan sentuhan tangan Austin yang menjalar kemana-mana,Nesya hanya pasrah menerima sentuhan itu.


"Jangan menatap ku seperti itu," protes nesya yang menutupi tubuhnya.karena ia tak sadar bahwa Austin membuang semua pakaiannya yang melekat di tubuhnya.


"Kapan baju ku lepas dari badan ku? habislah aku."


Dengan mata yang berkabut austin menyingkirkan tangan Nesya,setelah puas memandangi tubuh indah itu Austin mulai menyentuhnya.


Suara haram Nesya terdengar di telinga austin,meski suara itu pelan namun terdengar indah di telinga austin.


"Austin ... " jerit Nesya,entah kenapa tubuhnya tiba-tiba bergetar dan ia merasa baru saja buang air kecil.


Nesya menyingkirkan Austin dari tubuhnya,dan ia terduduk bersandar di sudut ranjang.pandangan ia terarah di setiap sudut kasur mungkin ia sedang mencari sesuatu.


"Tadi aku pipis,tapi kok kasurnya tidak basah." Nesya sampai menyentuh kasur untuk mencari air kemihnya.


"Astaghfirullah,kenapa kamu polos sekali?itu bukan pipis tapi klimak*s," jelas Austin yang gemas dengan tingkah Nesya.


"Klim*aks itu apa?" Austin langsung menindih istrinya dan kembali menciumnya.


Jika ia terus menjawab pertanyaan konyol itu, bisa-bisa malam pertamanya gagal.


"Sttt ... sakit," keluh Nesya setelah austin berhasil mendapatkan jatahnya.


"Sakit,tapi bukankah kamu bilang-" Austin tidak melanjutkan ucapannya karena ia menyibakkan selimut untuk mencari sesuatu.


Senyum mengembang di bibir Austin,dia menemukan noda darah itu dan lalu ia memandang istrinya.


"Neng,kamu Masi perawan?" tanya austin pada isterinya.


"Tidak.preman itu memperosa ku," sanggah Nesya cepat.


"Tapi ini darah neng," tunjuk Austin.


"Mungkin aku halangan," ujar Nesya.

__ADS_1


"Emangnya waktu itu,preman itu melakukan hal yang sama,dengan apa yang ku lakukan barusan?"


"Beda.kalau mereka hanya meraba ku pakai tangan mereka sedang kamu pakai burung perkutut itu," jelas Nesya membuat Austin bahagia,tanpa mempermasalahkan sebutan untuk junior nya.


"Berarti kamu Masi virgin,sayang.mereka cuman melakukan pelecehan,tidak sempat memperkosa mu karena Bobi datang menyelamatkan mu."


"Tapi tetap saja Austin aku tidak perawan, mereka yang mendahului suamiku menyentuh tubuhku," ujar Nesya sedih.


"Mereka memang kurang ajar,tidak akan ku biarkan pria manapun menyentuh tubuh mu lagi." Austin memeluk Nesya.


"Terimakasih sudah menerimaku apa adanya," ucap Nesya membalas pelukan Austin.


Austin mencium kening Nesya dan meresapi sentuhan benda kenyal di dadanya,saat ini Austin berusaha menahan hasrat nya agar tidak menerkam Nesya.


"Tidak,bisa.aku harus memakan mu sekarang juga," ujar austin yang tiba-tiba membaringkan Nesya,dia tidak bisa menahan hasratnya.


"Jangan,Masi perih," tolak Nesya menahan tubuh austin.


"Nanti tidak akan perih lagi,percaya pada ku." Austin menghujami wajah Nesya dengan ciuman.


"Sekali saja,jangan lebih.aku tidak mau besok pagi gak bisa jalan gara-gara ulah mu," pinta Nesya.


Peluh keringat beserta tubuh yang lengket,membuat Nesya tidak nyaman.permintaan nya tidak di benarkan oleh Austin hal itu membuat wajahnya cemberut, meski suaminya memandang nya sambil tersenyum.


"Maaf,aku lupa dengan permintaan mu,hehehe." Austin hanya mampu cengengesan.


"Alasanmu,aku sudah berulang kali mengingatkan mu untuk berhenti,tapi kamu tidak menghiraukan nya," sungut Nesya melempar Austin dengan tisu.


"Bagaimana bisa aku berhenti,jika kamu berbicara saat mende*sah.itu semakin memancing gairah ku dan susah untuk diberhentikan," jelas Austin mendapatkan lemparan bantal dari Nesya.


"Alasan mu,pokoknya aku tidak mau lagi memberi jatah padamu!" tegas Nesya sambil menarik selimut dan tidur membelakangi Austin.


"Astaghfirullah,istriku merajuk."


"Nesya,ayo mandi bersama.apa kamu bisa tidur dengan tubuh lengket seperti itu?" bisik austin membuat Nesya langsung menatap tajam kearah Austin.


"Berhenti berpikir mesum,bisa-bisa kamu mengajak ku mandi dengan alasan seperti itu," sungut Nesya yang mengeratkan selimutnya.


"Dimana salah nya?aku hanya mengajak mu membersihkan diri,kali ini aku hanya membantu mu mandi tidak lebih dan tidak ada tujuan lain," ujar Austin membuat Nesya menatap matanya.


"Benar hanya mandi," ulang Nesya membuat Austin langsung mengangguk.


"Kali ini aku percaya padamu.tapi jika kamu melakukan hal di luar ucapan mu,awas saja!" ancam Nesya yang telah melilitkan tubuhnya dengan selimut.


"Biar aku menggendong mu," ujar Austin yang langsung mengendong nesya ke kamar mandi.


Dengan telaten Austin membantu nesya menggosok tubuhnya,nesya tidak memiliki tenaga saat ini sehingga membiarkan Austin menyentuh setiap inci tubuhnya.

__ADS_1


"Benar-benar indah,aku akan memakan kalian lagi di lain waktu."


__ADS_2