Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 34


__ADS_3

Hubungan Austin dan Nesya semakin dekat,mungkin bisa dikatakan bahwa mereka memiliki perasaan lebih hanya sekedar teman.


Hal itu terjadi dengan seiring berjalan nya waktu.berkat banyak saling berkomunikasi dan bertemu,membuat seorang Nesya yang tidak punya perasaan apapun kini mulai jatuh cinta kepada Austin.


"Gimana,apa teman mu puas dengan menu catering ku?" tanya Nesya yang baru tiba di cafe.


"Mau tau aja atau mau tau banget?" Bukan Austin jika tidak membuat ulah dahulu,sebelum bicara serius.


"Mau tahu banget,ayolah beri tahu." Desak Nesya menggoyang lengan Austin.


"Dia syuka," ujar Austin membuat Nesya kegirangan tanpa sadar berteriak.


"Ehm ... " Dia berdehem untuk menetralkan keadaan.


Sejak Austin memberi handphone canggih itu, Nesya banyak mendapatkan ilmu dari berbagai fitur di layar ponsel.hal itu membawa keuntungan tersendiri untuknya.contohnya saja dia mulai berjualan catering dengan bantuan Austin yang mempromosikan dengan rekan kerjanya.


Kini usaha catering nya mulai dikenal masyarakat dan mulai ada langganan tetap.berkat usahanya yang berkembang pesat, Nesya telah memutuskan untuk membeli sebuah rumah sederhana untuk menjalankan usahanya itu.


"Alhamdulillah aku seneng banget," ujar Nesya menggenggam tangan Austin.


"Besok ada teman ku yang ingin pesan,katanya 50 kotak." Mendengar kabar baik itu Nesya semakin senang.


"Oh ya,apa kali ini untuk acara sunatan?" tanya Nesya.


"Bukan,tapi untuk di sedekahkan untuk orang yang tidak mampu." Austin membalas genggaman tangan Nesya.


"Baik sekali teman mu itu." Puji Nesya.


"Ayo pesan apa saja?biar aku yang traktir." Tawar Nesya.


"Yakin," ujar Austin memastikan.


"Lihat wajah ku,apa aku terlihat bohong?" Nesya menunjuk wajah nya di depan Austin.


"Tidak terlihat bohong.tapi terlihat cantik," ujar Austin jujur.


"Gombal terus,Ampe subuh." Gerutu Nesya memalingkan wajah agar Austin tidak menyadari bahwa pipinya memerah.


Austin memilih menu makanan ia dan Nesya,karena sering makan berdua membuat Austin sedikit tahu makanan kesukaan sang pujaan hati.


"Apa Bobi masi suka menganggu mu?" Austin menanyakan kurir pengantar makanan yang bekerja dengan Nesya.


"Sejak kapan dia mengganggu ku,bukannya kamu yang terganggu?" tanya Nesya balik.

__ADS_1


"Kenapa tidak cari orang lain aja,Sayang?pecat aja dia." Nesya langsung menatap tajam Austin.


Jika sudah membahas mengenai Bobi,bisa di pastikan perdebatan akan hadir di antara mereka berdua.


"Gak bisa,dia itu kerja nya bagus dan jujur.sayang kalau di pecat," tolak Nesya membuat Austin menghela nafas.


"Banyak kok yang lebih baik dari dia di luaran sana,apa salahnya kamu cari kurir wanita?biar aku tenang." Usulan untuk sekian kalinya namun Nesya tidak mau menerima usulan itu.


"Berhenti bahas Bobi.aku gak mau kita berantem karena bahas dia," ujar Nesya memainkan ponselnya.


"Gak bisa gitu dong,Sayang.kalau dia terus bekerja dengan mu,aku takut kamu suka dengan dia.posisi ku di hatimu bisa terancam," jelas Austin membuat Nesya tersenyum dengan ketakutan Austin.


"Aku gak mungkin suka dengan dia.dia itu lebih muda dari ku mana mungkin aku menyukai anak kemarin sore," ungkap Nesya meyakinkan.


"Nah,itu yang aku takutkan sayang.karena dia muda dari pada aku,posisiku benar-benar di pertaruhkan disini.aku tidak mau bersaing dengan nya,jadi kamu pecat saja dia." Pinta Austin lagi.


"Percaya padaku,aku tidak akan menyukainya!" tegas Nesya agar Austin berhenti membahas Bobi.


"Aku akan percaya.jika ... kamu bilang padaku jika kamu mencintai ku." Nesya tidak menyangka dengan perkataan Austin.


"Jangan konyol Austin,ingat ini tempat umum jangan membuatku malu dengan permintaan mu," ujar Nesya.


"Aku tidak peduli,cepat katakan itu.jika tidak aku sendiri yang akan menendang Bobi sepulang dari sini." Austin melipat tangan nya di dada setelah mengatakan hal itu.


"Apa sulitnya sih,mengatakan aku mencintaimu.ingat kata itu selalu ada aku ucapkan jika kita bertemu meskipun hanya sekali." Nesya malu sendiri mendengar penuturan austin.


"Siapa suruh kamu mengatakan nya?kan,aku tidak memintamu mengucapkan hal itu." Austin mendadak gemes dengan wanita di depannya ini.


"Meskipun kamu tidak memintanya,namun saat kamu mendengar kata itu terucap di bibir ku.kamu pasti senang,benarkan?" Nesya hanya menahan senyum saja.


"Kenapa pesanan tidak datang juga sih?ayolah datang,selamatkan aku dari situasi ini." doa Nesya.


"Jangan mengharapkan kedatangan pelayan, untuk melarikan diri dari topik pembicaraan ini." Tegur Austin seakan tahu niat Nesya.


"Tahu saja isi hati ku," dumel Nesya namun sedikit terdengar oleh Austin.


"Taulah.kan,hati kita udah terikat satu sama lain," ujar Austin yang kini memangku wajahnya dengan tumpuan tangan dan menatap intens Nesya.


"Emangnya bisa.emang terikat nya pake apa?" tanya Nesya sambil menetralkan detak jantung nya.


"Terikat dengan tali cinta," gombal Austin membuat pipi Nesya merah.


"Gombal." ucapnya menahan senyum.

__ADS_1


"Beneran loh sayang,Babang Austin gak bohong." tangan Austin mengambil sehelai tisu dan mengelap keringat di pelipis wanitanya.


Benar-benar hal romantis yang dilakukan oleh Austin,hingga pengunjung disana rata-rata mencuri pandang kearah meja mereka.


Pelayan yang ingin menghidangkan pesanan mereka terpaksa memundurkan langkah setelah melihat adegan romantis tengah berlangsung.


"Kenapa?terhipnotis dengan cintanya,Babang." tanya Austin menyadarkan Nesya dari lamunannya.


"Eng-enggak." Nesya tergagap.bisa-bisa nya dia berdiam diri bak patung ketika Austin menghapus keringat di pelipisnya.


"Jangan gugup,Neng.tenang Babang Austin gak makan orang,kok." Ledek Austin mulai usil.


"Siapa juga yang gugup," imbuh Nesya memalingkan wajah.


"Itu,loh.calon ibu dari anak-anak ku," goda Austin lagi.


"Udah dong,aku malu." Nesya menutup wajahnya dengan kedua tangan,karena malu terus-terusan di goda Austin.


"Hahaha ... lucunya wajah istriku.singkirkan tangan nya,Babang mau lihat wajahnya." Nesya semakin erat menutupi wajahnya.


"Janji dulu gak akan goda aku," tawar nya.


"Ia sayang,buka ya." Nesya menyingkirkan tangan nya.Austin gemas melihat pipi merah itu,dia mencubit pelan pipi Nesya karena terlaku geram.


"Makin imut," ujarnya setelah tangannya di tepis pelan oleh Nesya.


"Katanya janji gak akan goda aku," balas Nesya memelas.


"Ia sayang.tadi Babang lupa," ujarnya cengegesan.


Tak lama pesanan mereka tiba,dua ayam geprek dan minuman jeruk peras kini telah tersusun rapi di meja mereka.


Tanpa buang waktu Nesya segera melahap makanan itu,sungguh perutnya lapar melihat makanan lezat.


"Makan yang banyak," ucap Austin setelah memindahkan separuh nasinya di dalam piring Nesya.


"Kenapa di tambah lagi?padahal aku udah habis." protesnya.


"Makan aja.biar badanmu yang kerempeng itu berlemak." Austin memberikan separuh lauknya kedalam piring Nesya.


"Kerempeng apaan orang badan berlemak kayak gini.ini sama saja aku makan dua porsi." gerutunya lagi dan mulai makan lagi.


Austin mengamati Nesya yang kini melahap makanan yang ia berikan,Austin sangat menyukai sifat penurut yang Nesya miliki.

__ADS_1


__ADS_2