Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 31


__ADS_3

"Akhirnya sampai," ujar Nesya meloncat turun dari motor karena senang di antar pulang.


"Seneng banget bisa pulang," ucap Austin tersenyum miris dia merasa Nesya sangat terpaksa menemani nya jalan-jalan.


"Seneng dong.akhirnya pulang dan bisa tidur rebahan." Hanya itu tujuan Nesya pulang, Austin tertawa kecil mengingat bagaimana Nesya mengajak pulang ketika jalan-jalan dnegan nya.


"Apa tidak ada aktivitas yang lebih bermanfaat untuk kamu lakukan selain tidur?" tanya Austin menarik pelan hidung pujaan hatinya itu.


"Makan," ucap nya sambil cengengesan.


"Astaghfirullah,ternyata wanita tukang rebahan dan doyan makan.harus punya suami kaya kamu,neng.supaya semua itu terus berlanjut," saran Austin membuat Nesya cemberut.


"Gak punya suami kaya juga aku mampu rebahan dan terus makan,jadi kesimpulannya aku gak perlu nikah,karena tanpa suami ... aku bisa menghidupi diri ku sendiri," ujar Nesya.


"Apa kamu sedang memberi tahu ku,bahwa kamu ingin menjomlo seumur hidup?maksud ku jadi perawan tua," tanya Austin sambil senyum mengejek.


"Bukan gitu maksudnya.kok serem amet masa aku mau mencalonkan diri menjadi perawan tua.ih,amit-amit." Bantah nya bergedik sendiri.


"Lah terus,apa?tadi katanya gak mau nikah," ledek Austin memotong ucapan Nesya.


"Maksud ku gak mau nikah saat ini artinya sementara waktu,bukan untuk selamanya, kampret," jelas Nesya tanpa sadar air liur di mulutnya keluar dan sedikit mengenai wajah Austin.


"Biasa aja jelasin nya gak usah pake nyembur-nyembur wajahku." Protes Austin sambil mengelap wajahnya yang terkena hujan bandang itu.


"Kamu,jika gak di gituin gak akan ngerti," balas Nesya kesal.


"Iya sekarang aku udah ngerti.nih,handphone baru mu semoga suka." Austin menyerahkan paper bag itu.

__ADS_1


"Wah baik banget cogan itu membelikan ku handphone,padahal kami tidak saling kenal tapi dia sudah sebaik ini." Kepala Austin mulai mengeluarkan asap karena mendengar ucapan Nesya.


"Aku yang membelikan itu,bukan Febri kutu kampret itu!" tegas Austin membantah ucapan Nesya.


"Bukankah Febri yang membayar transaksi nya. itu menjadi bukti bahwa Febri yang membelikan ini untuk ku bukan kamu," jelas Nesya dengan wajah meledek.


"Sudah ku bilang aku yang belikan bukan Dia!" teriaknya membuat Nesya memejamkan mata dan tubuhnya terdorong kebelakang seolah olah ada angin dahsyat yang keluar melalui teriakan Austin.


"Berhenti berteriak di depan wajahku,apa kamu tidak sadar barusan mulutmu mengeluarkan angin tornado yang membuat aku oleng ke belakang.hampir saja aku melayang." Canda Nesya agar Austin berhenti teriak.


"Gak lucu," balas Austin sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sekarep mu.aku mau pulang sampaikan terimakasih ku pada Febri,bilang padanya handphone nya sangat keren." Nesya sengaja membuat Austin marah.


"Nesya itu handphone dari ku,bukan febri.ini sudah sekian kalinya aku mengatakan hal yang sama,berhenti membuatku kesal." Pinta Austin karena saat ini dia lelah menghadapi Nesya.


"Bagaimana?" tanya Nesya membuat Austin tak mengerti.


"Bagaimana rasanya jika selalu di buat kesal oleh seseorang?pasti sangat emosi dan geram.nah,itulah yang ku rasakan saat kamu selalu melakukan hal tengil pada ku," jelas Nesya membuat Austin terkekeh.


"Oh,jadi kamu sedang balas dendam pada ku," tuding Austin setelah menyadari semuanya.


"Bukan balas dendam tapi hanya menyadarkan mu," ungkap Nesya.


"Maksud mu?" tanya Austin masi tak mengerti.


"Terkadang kita tidak akan menyadari kesalahan yang kita perbuat,mungkin menurut kita itu hal sepele dan tidak melukai seseorang."

__ADS_1


"Tapi jika kita sudah merasakan apa yang orang itu rasakan selama ini.mungkin kita akan tersadar dari kesalahan kita dan mungkin itu menjadi efek jera,yang membuat kita tidak mau mengulanginya." Nesya menjelaskan dengan perlahan agar Austin mengerti.


"Aku rasa semua sifat tengil ku itu kurang nyaman dialami oleh korban,namun untuk ku sendiri itu sangat menyenangkan.rasanya menyenangkan ketika membuat seseorang kesal terhadap kita," Nesya menghela nafas mendengar pengakuan Austin.


"Itu menghibur untuk mu namun merugikan untuk orang lain.ayolah Austin rubah kebiasaan buruk mu itu." Desak Nesya yang jenuh menjadi korban kenakalan Austin.


"Tidak mau.karena hal itu lah yang menjadi ciri khas seorang Austin,begitu syulit lupakan itu karena tengil itu baik," Nesya menggeleng karena berakhir dengan Austin bernyanyi.


"Hufh ... harus banyak stok sabar untuk menghadapi mu.semoga kita tidak berjumpa lagi," Kesal Nesya.


"Kamu salah.di handphone itu sudah tersimpan nomor ku,jadi bersiap-siap lah karena setiap waktu aku akan menghubungi mu.semoga senang karena aku mengganggu mu." Austin tersenyum penuh kemenangan.


"Aku akan membanting hp ini agar kamu tidak bisa menghubungi ku," ancam Nesya.


"Tidak bisa karena handphone itu tahan banting," bantah Austin.


"Kalau begitu akan ku celupkan ke air agar modar." meski tak mengerti akhir ucapan Nesya ,namun Austin tetap membalas perkataan nya.


"Tidak akan mempan karena handphone itu tahan air,Haha." Tawa penuh kemenangan itu sangat merusak gendang telinga Nesya.


"Aku akan mencabut kartu SIM nya," ancam Nesya lagi tak mau kalah.


"Hahaha ... kartu SIM itu sudah tertanam dan tidak bisa di gonta-ganti.terima saja ketika aku mengganggu mu," ujar Austin melihat wajah putus asa Nesya.


"Untuk kali ini kamu berhasil membuat aku kalah telak,lihat saja kejutan ku besok.akan ku buat kepala mu berdenyut hebat karena tindakan ku," Ancam Nesya yang membuat Austin terbengong kaku mencerna perkataan nya barusan.


Nesya meninggalkan Austin yang terdiam itu.entah apa yang akan Nesya lakukan besok? namun,saat ini Austin sedikit takut mendengar nya.

__ADS_1


"Apa dia akan kawin lari dengan Febri besok?jika itu terjadi akan ku banting si Febri!" Austin menggeleng pelan untuk mengusir berbagai pikiran buruk tentang ancaman Nesya.


"Kita lihat saja besok,semoga Nesya tidak nekat untuk kabur atau menikah dengan Febri." Doa Austin lalu melajukan motornya untuk meninggalkan gang melati.


__ADS_2