
"Kenapa kamu meninggalkan ku?" tanya Austin setelah berhasil mengejar Nesya di parkiran.
"Tanya saja dengan batu." Kesal itulah yang kini Nesya rasakan,sebenarnya dia juga tidak tahu mengapa perasaan marah hadir di lubuk hatinya.
"Astaga sebenarnya apa yang aku lakukan?kenapa kamu merajuk begini?" Austin bingung sendiri melihat perubahan Nesya yang begitu cepat.
"Aku ingin pulang sendiri," Nesya makin kesal mendengar pertanyaan Austin,apakah pria didepan nya ini memang tidak tahu atau pura-pura tak menyadari kesalahannya?
"Jangan begini,jelaskan apa kesalahan ku?jika kamu diam saja aku tidak akan tahu." Bujuk Austin lembut menurunkan sedikit egonya.
"Salah mu terlalu banyak,jika aku jelaskan hingga mulut ku berbusa pun tidak akan selesai-selesai dan kamu juga tidak akan mengerti," sungut Nesya dan memalingkan wajah nya seakan-akan muak melihat Austin.
"Aku minta maaf jika aku berbuat salah," ujar Austin lembut dan memandang lekat sang pujaan hati.
Jantung Nesya berdebar hebat saat di tatap sedalam itu,jika sekarang ia tidak marah dengan pria di depan ini,pasti dia sudah membalas tatapan itu.
"Ini handphone,ambilah.anggap saja ini sebagai permintaan maaf ku pada mu,jadi kamu tidak perlu membayar kembali." Austin menyodorkan paper bag yang ia pegang,bukannya senang tapi justru Nesya kembali kesal padanya.
"Buang saja sana kelaut!" seru nya sambil cemberut.
"Kenapa harus di buang?ini Masi baru loh sayang kalau di buang," jelas Austin sambil memperhatikan handphone yang ada di dalam paper bag itu.
"Kalau sayang ya udah simpan aja untuk mu sendiri.kalau perlu di kekepin,di cium,dikelonin sekalian kalau mau tidur." Nesya mengerang kesal.
"Kok ngomong nya gitu,enakan ngelonin kamu dari pada handphone ini." Canda Austin namun Nesya tidak terhibur sama sekali.
"Gombal.jangan-jangan mbak yang tadi kamu ajak gitu juga." tuduh Nesya dengan tatapan yang siap mencabik-cabik Austin.
"Astaghfirullahalazim jangan fitnah sembarangan,aku gak selingkuh kok,percayalah padaku sayang." Austin sekarang tahu mengapa Nesya marah padanya ternyata karena cemburu dengan wanita genit itu.
"Dasar buaya darat!." umpat Nesya Karena terlalu kesal.
"Udah mau jam sepuluh malam nih,Masi mau berdebat atau kita pulang." Austin mencoba menghentikan pertengkaran itu mengingat hari semakin larut.
__ADS_1
"Pulang aja sendiri,aku bisa pulang tanpa kamu yang mengantar ku." usir Nesya yang telah turun dari jok motor Austin.
"Jangan aneh-aneh,ini udah malam.nanti kalau kamu pulang sendiri di hadang preman siapa yang akan nolongin?" tanya Austin yang kini sudah memegang pergelangan tangan Nesya.
"Jangan menakut-nakuti ku." menghempaskan tangan Austin yang memegang nya.
"Aku senang melihat mu semarah ini,tapi entah benar atau tidak yang jelas sekarang ini aku menganggap mu tengah cemburu pada ku." Nesya langsung melihat Austin,dia baru sadar dengan apa yang di perbuat nya saat ini.
"Apakah aku benar-benar cemburu?tapi ... aku baru saja mengenal Austin,bagaimana bisa aku memiliki perasaan lebih padanya?"
"Jangan ke gr-an,aku marah bukan cemburu pada mu.aku semarah ini karena tadi kamu mengacuhkan ku." bantah Nesya.
"Sama aja Nengelis,itu termasuk cemburu." goda Austin.
"Bukan cemburu tapi marah pada mu." kilah Nesya cepat.
"Seterah mau cemburu atau bukan.yang jelas aku tetap menganggapnya cemburu." Tekan Austin membuat Nesya geram sendiri.
"Tidak perlu membelikan aku handphone." Tolak Nesya.
"Siapa juga yang ingin membelikan mu?aku akan mengkredit kan handphone itu padamu," sela Austin.
"Dasar tukang kredit pemaksa." Ejek Nesya sambil duduk kembali di jok motor Austin.
"Gak jadi pulang sendiri,neng?" cibir Austin membuat Nesya langsung mencubit pinggang nya.
"Auwh ... jangan di cubit,neng." Ringisnya sambil mengelus bekas cubitan Nesya tadi.
"Siapa suruh rese," ujar Nesya tersenyum kecil.
Austin menjalankan motor nya untuk menuju gang melati tempat Nesya tinggal,butuh waktu setengah jam untuk sampai disana.
"Akhirnya sampai," ucap Nesya kegirangan dan lalu membuka helm nya tanpa di bantu Austin.
__ADS_1
"Seneng banget,neng." Tegur Austin.
"Seneng lah karena sekarang aku akan berpisah dari kamu yang selalu bikin aku kesel." Nesya menekan setiap kalimat yang ia ucapkan.
"Pedas sekali ucapan mu neng,hingga hati Abang sakit mendengar nya," ucap Austin membuat Nesya langsung memukul pelan bibirnya.
"Oh ya,kalau begitu Maaf kan ucapan ku yang kasar pada mu," balas Nesya sambil menautkan jarinya seperti anak kecil yang sedang di marahi oleh orang tuanya.
"Ia gak apa apa,lain kali di sharing dulu jika berbicara,jangan sampai ucapan kita menyakiti orang lain." Saran Austin sambil mengusap pelan kepala Nesya.
"Hmm ... lain kali tidak lagi." Tutur nya menuruti keinginan Austin.
"Aku pulang dulu,selamat beristirahat." pamit Austin.
"Hati-hati dijalan dan sampaikan salam ku dengan bik Tutik." Pinta Nesya.
"Baiklah,selamat malam." Austin menjalankan motornya dan melihat Nesya yang sedang melambaikan tangan ke arah nya melalui kaca spion.
***
"Kenapa bisa Austin suka dengan wanita berhijab itu?apa sih hebatnya dia? jika sampai Austin menikahinya mau di taruh di mana wajah ku dan apa tanggapan teman-temanku?"
Tina memilih melamun di balkon kamarnya sambil menanti kepulangan anak tunggalnya.setelah bimo melihat kan foto kebersamaan anak nya entah mengapa dia menjadi tidak tenang.
"Kenapa selalu begini,Austin?kenapa kamu selalu menyukai wanita yang aneh?coba saja kamu mau menerima perjodohan yang mama lakukan,pasti sekarang kamu sudah punya anak dan mama sudah menimang cucu." gerutu nya pusing menghadapi tingkah Austin.
"Sudahlah ma jangan terlalu di pikirkan." Tegur Bimo yang terbangun karena tidak menemukan Tina disisinya.
"Hari sudah larut lebih baik mama tidur,tidak baik bergadang terus." Nasehat Bimo sambil membawa masuk istrinya.
"Mama pusing mikirin Austin,pa.mama gak bisa tenang,apalagi harga diri keluarga kita sedang dipertaruhkan disini." keluhnya membuat Bimo hanya mampu mengelus bahu sang istri untuk menenangkan nya.
"Masi ada hari esok untuk kita memikirkan cara untuk mengatasi hal ini,jadi sekarang lebih baik kita tidur." Bujuk Bimo membaringkan Tina dan membawanya ke pelukan nya.
__ADS_1