Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 74


__ADS_3

Handphone di lemari terus menyala,Austin yang ingin mengambil dompet baru menyadarinya.dia mengambil handphone itu, ternyata ada pesan masuk di handphone nya.


Wajahnya yang semula biasa saja kini berubah panik saat membaca pesan itu.tapi dengan segera ia sembunyikan karena saat ini ia sedang bersama Nesya.


"Ada apa?" tanya Nesya melihat austin memegang handphone nya.


"Tidak ada.hanya pesan masuk dari teman," bohong Austin.


"Oh.jadi beli kopi?" ujar Nesya.


"Ia,jadi.aku pergi dulu," pamitnya sambil mengunakan jaketnya dan memasukan handphone di saku celananya.


Saat keluar dari rumah,bukan warung tujuan utama Austin melainkan tempat sepi.dia mencari tempat yang aman untuk menelpon seseorang.


"Hallo."


"Akhirnya kamu menelpon ku,hahahaha."


"Kenapa kamu Masi menggangguku?tidak bisakah kita hidup masing-masing!"


"Tidak bisa!kamu harus kembali ke kota atau wanita itu aku buat tak bernyawa.jangan main-main dengan ku,austin.atau aku akan menghancurkan kebahagiaan mu."


"Tega kamu,ya!berani kamu melakukan teror itu hingga membunuh orang yang tidak bersalah.kenapa kamu melakukan hal sejahat itu?"


"Jika kamu tidak berulah maka aku tidak akan melakukan nya!"


"Dasar baji*Ngan!"


"Hahahaha aku suka kemarahan mu,rasanya aku ingin segera melanjutkan permainan nya."


"Awas saja kau!" langsung memutuskan panggilan.


Austin memijat pelipisnya,dia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.tiba-tiba dia memiliki ide tapi dia memerlukan bantuan dari sekertaris Hans,mungkin dengan mengunakan cara itu ia bisa bebas dari tekanan sang papa.


"Aku akan meminta bantuan pada Abang Rey,hanya dia yang di takuti oleh papa.untuk sementara aku ikuti saja keinginan papa,lalu selanjutnya aku akan melawannya lagi."


Setelah membeli kopi,Austin kembali kerumah.saat membuka pintu kamar Austin menarik nafas dalam-dalam,ia tahu tidak mudah meminta izin pada Nesya.


"Udah,beli kopinya."


"Heem," balas Austin tak bersemangat.


"kenapa wajahmu murung?apa ada masalah?" tanya Nesya langsung menangkup wajah Austin.


"Kamu tahukan aku berhenti kerja di kota,tadi teman ku mengirim pesan bahwa aku harus menandatangani surat pengunduran diri," ucap Austin.


"Maksudmu kamu mau kembali ke kota!"


"Ia.ini hanya sebentar sayang cuma tanda tangan saja.aku masuk bekerja di sana secara baik-baik,masa berhentinya main pergi tanpa permisi."

__ADS_1


"Kenapa harus pergi?" sedih Nesya.


"Hanya sebentar," bujuk Austin.


Nesya belum memberi jawaban,karena wanita itu memilih menarik selimut dan memejamkan mata.austin tahu ini akan terjadi,tidak mudah untuk Nesya melepaskan nya kembali ke kota. apalagi dengan status nikah sirih yang mereka jalani.


"Aku juga sangat berat meninggalkan mu,tapi ini harus kita lakukan agar rumah tangga kita tidak ada yang menganggu lagi."


Austin memeluk Nesya dari belakang,tanpa terasa air matanya mengalir karena ia merasa perpisahan ini sangat berat untuknya.


"*Austinnnnnnn!"


Nesya memanggil Austin yang menjauh darinya,pria itu terus berjalan menjauh darinya.berkali-kali Nesya memanggilnya namun Austin tidak juga menoleh padanya seperti dia tidak mengenali Nesya.


"Austin jangan pergi!"


Menangis hingga meraung di bawah derasnya air hujan hanya itu yang dapat Nesya lakukan.saat sedang menangis,tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh di kepalanya dan ia segera mengambil benda itu*.


"*Au-austin ... hiks ... hiks ... "


Benda itu adalah boneka yang sangat mirip dengan austin.dengan rasa sedih Nesya membawa boneka itu kearah yang berlawanan dengan arah Austin*.


"TIDAKKK!"


"Ada apa?" tanya Austin.


Sudah bermimpi buruk lalu setelah bangun di dunia nyata malah di sambut dengan koper yang telah berisi baju austin.nesya langsung menatap suaminya itu.


"Ini harus,sayang.aku di sana hanya satu Minggu lalu akan segera kembali ke sini," balas Austin.


"Aku baru bermimpi tentang mu,austin.please,jangan pergi!" mohon Nesya dengan menatap Austin penuh harap.


"Mimpi itu hanya bunga tidur,jangan di pikirkan.aku akan baik-baik saja,percayalah," bujuk Austin lalu melanjutkan mengemas pakaiannya.


Nesya hanya memperhatikan pergerakan Austin.dia masi tidak merelakan kepergian Austin ke kota,perasaan nya saat ini tidak enak seperti hal buruk akan segera terjadi.


"Loh,austin.kamu mau kemana?" tanya Roma melihat Austin membawa koper ke ruang tamu.


"Mau ke kota,be.aku harus tanda tangan surat pengunduran diri di tempat kerja,aku kemarin baru mengajukan nya," bohong Austin.


"Kenapa kamu tidak mengurus dari kemaren?kalau seperti ini ribet jadinya," omel Roma.


"Yah,gak bisalah,be.kontrak kerja aku baru habis jadi baru bisa urus."


"Apa kami tidak kamu aja ke kota?" tanya Roma.


"Lain waktu saja,be.soalnya aku pasti sibuk mengurus ini dan itu,nanti kasihan kalian terbengong di rumah."


"Mana Nesya?" tanya Roma.

__ADS_1


"Masi di kamar," ucap Austin.


Tak lama Nesya menampakan diri.bisa di lihat bahwa dia tidak baik-baik saja,wajahnya yang biasanya tersenyum dan segar.kini nampak sedikit pucat dengan mata sedikit bengkak.


"Ayo kita sarapan," ajak Roma.


"Wah,apa babe yang memasak?" tanya austin melihat menu sarapan.


"Ia.babe lagi kepengen makan nasi kuning,jadi babe memasaknya."


"Masakan babe memang tidak di ragukan lagi,selalu bisa membuat cacing di perutku kenikmatan," puji Austin.


Nesya hanya diam saja,jika Roma dan Austin menikmati makanan nya,namun tidak dengan Nesya dia malah hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya.


"Dimakan atuh,nengelis.sini biar mas austin suapi," tegur austin yang telah mengambil alih piring Nesya.


"Ayo buka mulutnya,sayang.selagi aku masi ada nanti kalau gak ada,kamu akan merindukan ku," ucap Austin.


"Aku tidak selera makan," tolaknya


"Satu suapan saja.aku tidak ingin kamu sakit," bujuk Austin lagi.


Dengan perlahan Nesya menerima suapan Austin,tanpa terasa nasi di piring itu telah habis berpindah ke perut Nesya.


"Ciileh gak mau makan rupanya mau di suapi,aduh anak babe manja nya," goda babe dengan nada mengolok.


"Babe syirik aja," sungut Nesya lalu meminum air putih.


Ini adalah momen yang tidak di inginkan oleh Nesya,momen mengantarkan Austin pergi dan meninggalkan nya.


"Jangan mewek atuh,neng.dia pergi gak lama ,cuma seminggu," ucap Roma menyenggol siku Nesya.


"Gak bisa,be.aku tetap sedih," bisik Nesya Masi memperhatikan Austin memasukan barang.


Ada beberapa warga melihat Austin,ada yang sekedar melirik dan ada juga langsung menanyakan kepergian Austin pada roma.dengan tenang Roma menjelaskannya,orang itu pun langsung menghampiri Austin untuk sekedar berpelukan dan mendoakannya.


"Aku pergi," pamit austin pada Nesya yang berdiam kaku itu.


"Hey,kok diem.gak mau peluk aku,nanti lama loh,gak meluk aku lagi," ucapnya menghapus air mata Nesya.


"Hiks ... hiks ... hiks ... " tangis Nesya sambil memeluk Austin.


Bukan nya ikut sedih dengan kesedihan Nesya,warga yang menyaksikan nya malah terpingkal tertawa.ada sebagian dari mereka yang meledek nesya,seakan tidak mendengar nya,Nesya terus memeluk Austin dengan erat dan menangis sejadi-jadinya.


"Udah,jangan nangis," bujuk Austin menahan senyum padahal hatinya juga ikut bersedih.


"Jahat," gumam Nesya.


"Aku pergi,muah." Austin mengecup kening Nesya sangat lama membuat warga heboh di buatnya.

__ADS_1


Austin masuk kedalam mobilnya.sepanjang mobil melaju ia terus memperhatikan kaca spion miliknya yang terdapat lambaian tangan dari warga kampung yang mengantar kepergian nya.


__ADS_2