
Tap tap tap.
Suara lari seseorang menganggu kenyamanan para napi,hari baru pukul tiga pagi tapi bumi rasanya telah bergetar karena kedatangan seseorang.
"Ada apa?" tanya Vina pada penghuni sel didepannya.
"Gak,tahu.aku juga baru bangun," sahutnya.
"Ada apa,kenapa kalian ribut di subuh hari?" omel Nesya dengan suara parau nya.
"Aku dengar ada orang berlarian.aku sangka ada maling jadi aku bangun," celetuk Vina.
"Yang benar saja,maling di kantor polisi." Gerutu Reva mengucek matanya.
Tak lama di depan mereka ada anggota medis yang membawa seseorang,mungkin ada yang sakit sehingga membuat para suster dan dokter hadir di kantor polisi.
"Astaga,bukankah itu Risma!" Jerit Vina yang memegang sel saat para medis lewat di dekatnya.
Nesya langsung bangun dari tidurnya,dia melihat para medis itu membawa tubuh Risma.
"Mbak Risma," ulang Nesya.
"Ia Nesya,itu risma.astaga apa yang terjadi padanya?apa dia sakit?" tanya Vina.
"Aku belum bergerak mencari penawar itu,tapi mbak Risma sudah masuk rumah sakit.secepat itu racun itu menyebar.ya tuhan tolong lindungi mbak Risma sampai aku menemukan obat itu." Doa Nesya dengan cemas.
Seluruh tahanan heboh dengan berita Risma yang tiba-tiba masuk rumah sakit,banyak yang menduga-duga apa yang terjadi pada Risma?
"*Aku malam tadi melihat dia makan didepan ku.eh,gak nyangka paginya sakit.padahal malam itu aku lihat dia baik-baik saja."
"Mungkin dia ada penyakit bawaan,"
"Semoga saja dia baik-baik saja*,"
Begitulah obrolan di sarapan pagi ini,Masi banyak yang tidak menyangka dengan Risma yang kemarin sore sehat sekarang jatuh sakit.
"*Nah,itu ana.dia itu teman satu sel dengan Risma,"
"Ana bagaimana kejadiannya,bagaimana bisa Risma sakit?" tanya salah satu napi.
"Tadi malam dia muntah darah,dia bilang padaku dadanya sangat sakit.katanya seperti ada yang menusuk-nusuk jantungnya," ujar ana.
"Wah,kejadiannya itu mirip seperti orang di santet," membuat keadaan makin memanas.
"Bisa jadi.tadi malam aku melihat kupu-kupu hitam masuk disekitar sel.mungkin saja itu adalah santet yang di kirim untuknya."
__ADS_1
"Wah,kasihan sekali risma.siapa orang jahat yang tega menyantet nya*?"
Tidak henti-hentinya semua orang membicarakan risma.nesya yang mengetahui semuanya hanya diam sambil memikirkan cara untuk menolong Risma.
"Aku harus meminta tolong dengan pengacara itu,semoga saja dia dapat membatu mbak Risma."
"Buk perutku sakit,aku kebanyakan makan cabe.boleh aku beristirahat sebentar," pinta Nesya pada Marwah.
"Jangan mencoba mengelabuhi ku.kamu mau menghindar mencuci WC makanya banyak alasan." Tudingnya.
Ntuuttt.
Tiba-tiba Nesya buang angin,bau Ketut menyeruak hingga menusuk hidung marwah.
"Dasar tidak tahu adab!" umpat nya mengibaskan tangan agar bau busuk itu tidak masuk ke hidungnya.
"Saya tidak bisa tahan Bu,perut saya benar-benar sakit.aduh ... aku ingin Ketut lagi." Nesya memegangi pantatnya seakan-akan menahan kentut.
"Pergilah masuk ke sel mu,cepat pergi!" usir nya agar Nesya tidak kembali kentut.
"Terimakasih,buk." Nesya segera melarikan diri sambil menutupi pantat dengan salah satu tangannya.
"Akhirnya bisa terbebas juga dari si gendut itu.aku harus menjalankan rencana pertama ku."
"Kak Vina," panggil Nesya yang baru saja masuk ke sel.
"Ada kabar gembira?" Nesya pura-pura senang agar rencana nya berhasil.
"Kabar apa?" Mata Vina langsung cerah mendengar ucapan Nesya.
"Sebentar lagi aku bebas.Austin tadi mengirim orang untuk menemui ku." Bohong Nesya.
"Benarkah.selamat sebentar lagi kamu keluar dari sini,jangan lupakan kami." Vina merangkul bahu Nesya.
"Tapi ... aku punya satu masalah,kak." Raut wajah Nesya berubah sendu.
"Masalah apa?" tanya Vina penasaran.
"Kata teman Austin aku harus mengirim flashdisk ini sama pengacara terkenal,agar aku bisa bebas.austin belum bisa menemui ku karena dia masi berada di luar kota," bisik Nesya.
"Kalau boleh tahu siapa nama pengacara itu?" Nesya senang karena Vina mempercayai ucapan dia.
"Namanya pak Anto,dia tinggal di jalan merpati.rumahnya no 85 blok A," jelas Nesya.
"Wah,pengacara hebat itu.aku akan membantu mu.sore nanti Abang ku datang membesuk ku, nanti aku minta tolong padanya." Nesya langung tersenyum lebar.
__ADS_1
"Terimakasih kak,tapi ini jangan sampai hilang.soalnya ini barang bukti untuk kasus ku agar aku bisa keluar dari sini," ujar Nesya pelan.
"Aman jika berada di tangan Abang ku,dia itu sudah biasa mengirim barang seperti ini." Vina meyakinkan.
"Hati-hati kak,jangan sampai ketahuan dengan si gendut." Pesan Nesya was-was.
"Tidak akan," Vina mengambil flashdisk di tangan Nesya.
"Semoga saja aku benar telah mempercayai kak Vina,ya Allah mudahkanlah semua rencana hamba."
***
"Apa kamu menemukan petunjuk baru?" tanya wanita gendut itu.
"Tidak ada,tapi saya punya berita terbaru."
"Berita apa?" tanya Marwah sambil membuka sesuatu di amplop.
"Tikus itu telah mati." Marwah menghentikan aktivitas nya.
"Secepat itu," ujarnya tak percaya.
"Benar.dia mati karena kehabisan darah,pihak rumah sakit memberi tahukan bahwa dia keracunan."
"Mereka tidak mencurigai bahwa dia mati karena di racuni?" wanita itu menggeleng.
"Dasar dokter bodoh," ejek nya sambil menghitung uang di tangan nya.
"Aku hanya dapat segini.jika saja aku bisa menemukan flashdisk itu,pasti kartu hitam sudah menjadi milik ku," ujarnya melemparkan uang kepada anak buahnya.
"Wanita itu sangat pandai menyimpan flashdisk itu,entah dimana dia menaruhnya?selama ini kita telah menggeledah nya namun tidak ketemu." Jelas wanita itu sambil mengambil uang di lantai.
"Tunggu dulu,katamu tadi kita berkali-kali mengeledah dia tapi tidak menemukan barang itu.berarti barang itu memang tidak ada padanya," ungkap Marwah.
"Jika tidak ada padanya berarti flashdisk itu telah di titipkan dengan seseorang," sambung bawahan itu.
"Kamu benar,kenapa kita tidak berpikir sampai kesana?jika tebakan kita benar,itu berarti masi ada kesempatan untuk kita mengambil flashdisk itu,hahaha." tawa Marwah.
"Jangan senang dulu.memangnya anda tahu tikus itu menitipkan pada siapa?"
"Dengan orang terdekat nya," ujar Marwah sambil mengingat orang yang paling dekat dengan Risma.
"Kemarin aku melihat napi baru itu makan bersamanya,anda juga sering menyatukan mereka di gudang.apa mungkin napi baru itu yang menyimpan flashdisk itu?" tebak nya membuat Marwah tersenyum.
"Jika itu benar,berarti nyali nya sangat kuat untuk ikut campur masalah ku.dia adalah target kita selanjutnya," ucapnya tersenyum jahat.
__ADS_1
"Berani mencari masalah pada anda,berarti sedang mempertaruhkan nyawa nya sendiri."