
Malam telah tiba,Nesya segera bersiap-siap untuk pergi kerumah buk RT.tadi sore babe telah menemui pak RT dia telah berbicara padanya mengenai Nesya yang ingin menginap di rumahnya.
"Jadi kamu mengungsi,nduk," ledek Roma melihat Nesya berkemas.
"Jadilah,be.gak mau aku sendiri di rumah," balas Nesya sebal di ledek oleh babe nya.
"Nanti sebelum kami pergi ke pos ronda,kami akan menghantarkan kamu ke rumah pak RT," jelas Roma.
"Kamu hati-hati disana,jangan tidur mendengkur.ingat kamu menginap di rumah orang," celetuk Austin.
"Ye ... siapa juga yang tidur mendengkur," sungut Nesya semakin kesal.
"Dibilangin kok ngeyel," balas Austin.
"Babe ke dapur dulu.mau ambil kopi dan beberapa cemilan agar kita gak ngantuk saat jaga," pamit Roma.
"Jangan cemberut terus," pinta Austin yang kini memeluk Nesya dari belakang.
"Kayak mana gak cemberut,orang kalian berdua ngeledek aku terus," sungut nya memasukan selimut dengan kasar.
"Kan,bercanda sayang." Austin menaruh dagunya di bahu sang istri.
"Bercandanya keterlaluan.lagi pula kalian itu tega banget sih ninggalin aku,bisa-bisanya kalian membiarkan aku tidur sendirian di rumah." Nesya menggeleng tak percaya.
"Bukan tega sayang,tapi ini demi ketentraman masyarakat.aku juga mana tega membiarkan mu sendirian di rumah,nanti jika maling masuk dan melecehkan mu,bagaimana?mana bisa aku membiarkan semua hal buruk terjadi padamu!" tegas Austin mengecup singkat tengkuk Nesya.
"Tapi kamu mau aja pergi jaga pos?"
"Aku tidak akan pergi!jika kamu tetap sendirian di rumah dan tidak menginap rumah buk RT.lebih baik aku nemenin kamu di rumah,lagi pula warga sini banyak untuk gantiin aku," jelas Austin.
"Maaf tadi aku sempat berpikir kalau kamu tidak peduli lagi padaku," ucap Nesya yang berbalik menghadap suaminya.
"Aku tidak peduli padamu,semua itu terjadi jika aku sudah meninggal.aku sangat mencintai mu dari dulu hingga sekarang," rayu austin mulai mendekat kan bibirnya.
Saat bibir itu ingin menyentuh bibir nesya,semuanya ambyar karena teriakan babe yang mengagetkan mereka.
"Kalian berdua,cepat keluar!" pekik babe membuat Austin menepuk jidatnya nya.
"Hancur momen ku." Austin mengecup singkat bibir Istrinya.
"Ayo,kita keluar," ajak Nesya yang telah membawa tas ransel.
"Gak jadi kita ciuman,jangan nangis ya sayang besok Abang cium." Austin berkata seolah-olah Nesya yang mengharap kan ciuman darinya.
__ADS_1
"Yang jangan nangis itu kamu bukan aku!" ketus Nesya meninggalkan Austin.
"Kenapa istri ku akhir-akhir ini emosional?apa mungkin dia lagi menstruasi?" gumam Austin lalu ikut ke luar setelah mengunci jendela.
"Kenapa lama sekali?hampir saja babe berjamur karena kelamaan menunggu kalian," omel Roma yang berdecak pinggang.
"Sabar,be.masi ada beberapa jam lagi untuk jaga ronda nya," balas Austin yang mengembok pintu.
"Semuanya sudah terkunci,lampu juga sudah babe hidupkan.sekarang kita pergi,kunci nya berikan saja pada Nesya," titah Roma sangat bersemangat.
"Babe semangat sekali," ujar Austin melihat Roma yang telah hilang dari penglihatan nya.
"Jelas semangat,orang tua itu pasti tak sabar bertanding catur." Nesya yang tahu tujuan Roma.
"Emang babe bisa main catur?" tanya Austin sedikit kagum dengan mertuanya itu.
"Enggak,dia akan main terus sampai menang baru berhenti.lawannya terpaksa mengalah agar babe menang dan permainan segera berakhir," jelas Nesya membuat Austin tertawa.
"Babe mu ada-ada aja," balas Austin.
"Hati-hati tidur yang nyenyak,besok pagi kita akan berkumpul kembali," ujar Austin mengecup kening Nesya berulangkali.
"Udah,ah.malu di lihatin buk RT." Nesya mendorong pelan tubuh Austin agar Austin tidak lagi mencium dirinya.
"Lebih baik kamu segera pergi,sebelum Babe menyusul kemari," pinta Nesya.
"Ia,sayang.mimpi yang indah,jangan merindukan ku." Nesya hanya bisa menggeleng kepala melihat kelakuan Austin.
"Ehm ... pengantin baru romantis terus,nih," ledek buk RT setelah Nesya ada di hadapannya.
"Buk RT bisa aja,suami ku memang seperti itu jadi maklumi aja," ujar Nesya tersenyum malu.
"Itu berarti dia romantis,nes.jarang loh suami mau melakukan hal romantis,contohnya saja pak RT." Nesya tertawa kecil.
"Gak romantis kok Imah bisa ada di antara kalian," balas Nesya.
"Bukan hal ranjang,nes.tapi sifat kayak suami mu,dia mau mencium istrinya tanpa malu bahkan tak segan untuk memeluknya,nah sifat yang seperti itu jarang terjadi di rumah tangga ibu," jelasnya.
"Itu mah gampang,minta aja sama pak RT," usul Nesya.
"Aduh,hal itu jarang kami lakukan.jadi susah untuk di lakukan apalagi dijadikan kebiasaan," ujar buk RT.
"Makanya di coba dari sekarang,agar semakin terbiasa," balas Nesya lagi.
__ADS_1
"Mungkin itu akan sulit," keluh buk RT.
"Ayo,masuk," ajak buk RT membuka pintu untuk mempersilahkan Nesya.
"Jadi,gak enak saya merepotkan buk RT," ujar Nesya yang telah masuk di kamar tamu.
"Enggak kok,saya malah seneng.sebenarnya saya juga takut ditinggal berdua di rumah,makanya saya seneng kamu mau menginap di rumah,jadi gak kesepian saya."
"Buk RT yang di tinggal berdua aja takut,apalagi saya yang sendirian." Nesya meletakan ranselnya di ranjang.
Cklek.
Lampu tiba-tiba padam membuat dua wanita itu langsung teriak bersamaan,ruangan yang tadinya terang benderang kini berubah menjadi gelap gulita.
"Aduh,mati lampu," panik buk RT.
"Buk RT jangan kemana-mana,Nesya lagi cari ponsel untuk menyalakan senter," pinta Nesya di tengah kegelapan.
"Cepetan,nes.gelap banget ini," desak buk RT.
"Alhamdulillah ketemu." Nesya segera menghidupkan senter dan buk RT sedikit lega karena melihat cahaya.
"Ayo temenin saya ke kamar Imah," ajak buk RT.
"Sekalian bawa ransel mu,malam ini kita tidur satu kamar aja.gak baik tidur sendiri saat mati lampu," ujarnya lagi membuat Nesya segera mengambil ranselnya.
"Baiklah,tidur beramai-ramai lebih baik dari pada seorang diri," balas Nesya segera mengikuti langkah buk RT.
"Jika mati lampu,kenapa benda-benda selalu berbentuk serem?" tanya buk RT yang telah berbaring di samping Imah.
"Bener,buk.tadi waktu berjalan ke kamar Imah perasaan merinding aja,seperti ada yang lihatin pergerakan kita," imbuh Nesya yang bersandar di ranjang.
"Ini rumah sendiri loh,belum lagi jika kita keluar.pasti makin aneh perasaan," balas buk RT.
"Gak kebayang aku jika nekat sendirian di rumah,mana mati lampu.bisa terdiam kaku aku di kamar." Nesya mendelik membayangkan jika dia sendirian saat mati lampu.
"Jika saya yang ada di posisi itu,mungkin saya sudah lari meninggalkan rumah," monolog buk RT.
Tak lama terdengar suara jendela yang tertutup kencang,Nesya dan buk RT saling bertatapan seolah berbicara lewat mata.apakah yang melakukan itu adalah mahluk halus?
"Coba kamu lihat,ada apa dengan jendela itu?" titah buk RT.
"Gak mau!buk RT aja," balas nesya menyuruh balik.
__ADS_1
"Gimana kalau kita lihat, sama-sama?" usul buk RT membuat nyali Nesya menciut duluan.