Bujang Tenar

Bujang Tenar
Part 42


__ADS_3

Tanpa terasa sudah sebulan Nesya berada di dalam penjara,selama hidup disana ia memahami bahwa bukan dia saja yang di perlakukan tak baik.namun ada juga beberapa napi yang dapat perlakuan sama,bahkan ada yang jauh lebih buruk darinya.


"Kasihan Mbak Risma itu," ujar Nesya memulai pembicaraan malam itu.


"Udah biasa itu Nesya,dia itu terlalu baik.sudah banyak orang memberi saran padanya untuk melawan namun dia tidak juga nurut,jadi makin gila si Marwah itu menyiksanya." Sahut Reva.


"Padahal dia itu orang kaya,tapi kenapa keluarganya satupun tak ada yang membebaskan nya?" Celetuk Vina yang memainkan ponselnya.


"Tentu saja mereka tak mau,orang tua Risma itu sudah meninggal.jika Risma keluar dari penjara ini,tentu semua harta warisan itu jatuh ke tangan nya karena dia anak tunggal," ujar Reva.


"Aku yakin semua keluarga nya sekarang tengah berebut harta warisan itu,mereka pasti memikirkan cara untuk mendapatkan nya." Sambung Reva.


"Kasihan sekali Mbak Risma.sudah yatim piatu keluarga nya malah jahat padanya," ucap Nesya.


"Disini dia bukan hanya dikurung tapi juga di minta untuk disiksa,aku yakin si Marwah itu ikut andil dalam hal ini." Tebak Reva.


"Benar kakak,buk marwah sangat kejam padanya,aku lihat tadi tangan mbak Risma di injak olehnya dengan alasan tak sengaja." Adu Nesya mengingat peristiwa siang tadi.


"Oh ya ... keterlaluan sekali si gendut itu,dia bisa jadi psikopat jika terus menerus menyiksa orang tiap hari." Vina kaget mendengar cerita Nesya.


"Apa Tidak ada satupun yang kasihan pada mbak Risma,maksudku mencoba membantu nya?" tanya Nesya yang sangat kasihan dengan Risma.


"Dia itu bukan orang sembarangan Nesya,dia itu keturunan orang kaya.jika membantu dia sama saja mencari mati.keluarganya itu bisa membeli hukum,apalah daya kita yang tak mampu ini.menghadapi masalah sendiri saja pusing,apalagi jika terlibat masalah dengan keluarga nya." Jelas Vina.


"Kamu jangan coba-coba ikut andil dalam masalah Risma,itu sangat membahayakan mu Nesya." Saran Reva seakan tahu niat Nesya.


"Benar Nesya,mereka bisa saja membunuhmu jika kamu berani ikut campur." Sahut Vina.


"Sudahlah lebih baik segera istirahat," Ujar Vina menyimpan ponselnya dan merebahkan diri.


"*Kamu dasar tidak becus,apa kamu tidak tahu cara mengepel?apa perlu aku mencontohkan nya mengunakan rambut mu?" teriak Marwah menarik rambut Risma.


"Buk itu saya yang mengepel lantainya,bukan mbak Risma." Nesya angkat bicara agar Marwah melepaskan rambut Risma.

__ADS_1


"Kamu diam jangan ikut campur,kerjakan saja tugas mu!" ucapnya marah.


"Dan kamu ikut aku!" melepaskan rambut Risma dengan kasar dan menarik tangannya menjauhi Nesya*.


Bayangan kejadian siang tadi muncul di pikiran Nesya,dia melihat Reva dan Vina yang telah terlelap namun ia tidak bisa tidur.


"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan?apa hamba diam saja ketika melihat saudari hamba disiksa?" gumam Nesya.


"Semoga ujian yang engkau berikan pada saudari hamba cepat berlalu,semoga banyak pelajaran yang bisa dia ambil dari cobaan yang engkau berikan." doa Nesya lalu memaksakan diri untuk tidur.


Kurang tidur itulah yang terjadi pada Nesya,akibat sibuk memikirkan masalah orang lain.membuat dia pusing dan tidak bisa tidur nyenyak.


Dengan menguap Nesya menyapu gudang, hari ini dia dan Risma ditugaskan dengan si gendut untuk menyapu gudang.


"Perasan aku tidak pernah mengobrol dengan mbak Risma,aku coba sapa,deh."


"Mbak Risma," panggil Nesya namun Risma hanya menoleh tanpa bersuara.


"Jangan ajak aku Karena itu bisa membahayakan mu,lebih baik kamu ajak yang lain saja." Tolaknya membuat nesya sedih.


"Mbak yang sabar ya," ujar Nesya membuat risma menghentikan menyapu lantai.


"Aku yakin mbak kuat," sambung Nesya kali ini dengan mengusap bahu Risma.


Risma menjatuhkan sapu ditangan nya dan lalu memeluk Nesya,dia saat ini benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar.


"Nangis saja mbak tidak apa-apa," ucap Nesya sedih mendengar tangisan pilu.


"Hiks ... hiks ... boleh aku minta tolong sesuatu padamu," ucap nya sesegukan.


"Katakan saja,Mbak.Insyaallah aku bisa membantu mbak," balas Nesya.


"Jika ... aku mati,bisakah kamu memberikan ini pada seseorang." Nesya terkejut mendengar ucapan Risma.

__ADS_1


"Mbak gak boleh ngomong gitu," sanggah Nesya tak suka dengan ucapan Risma.


"Nesya waktu ku tak banyak,tolong dengarkan aku.simpan flashdisk ini baik-baik jangan sampai buk marwah menemukan nya,jika aku mati,kamu tolong hubungi pengacara Anto yang terkenal itu dan berikan itu padanya," jelas Risma lalu segera keluar dari gudang itu.


Dengan hati-hati Nesya memasukan flashdisk itu kedalam bra miliknya,dalam hati dia selalu berdoa agar risma selalu di lindungi oleh yang maha kuasa.


"Kemana Risma?" suara itu mengagetkan Nesya.


"Dia ke toilet," dusta Nesya.


"Alasan dia saja itu,pasti dia ingin lari dari pekerjaan!" ujar Marwah marah dan meninggalkan Nesya.


"Semoga mbak Risma tidak di hukum lagi dengan buk marwah." Doa Nesya lalu melanjutkan pekerjaan nya.


Tak terasa hari telah siang,membuat Nesya menyudahi pekerjaan nya untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.


Setelah mengambil nasi,nesya duduk sendiri di pojokan.awalnya dia fokus makan,hingga tiba-tiba dia terkejut karena kedatangan seseorang.


"Pipi Mbak kenapa?apa itu ulah buk Risma?" tanya Nesya melihat luka legam di pipi Risma.


"Tidak usah di bahas," ujarnya lalu menikmati makan siang itu.


"Ya Allah kuat sekali wanita di depan ku ini,apa luka dan penyiksaan itu sudah biasa di hidupnya,hingga rasa sakit tidak terasa lagi di tubuhnya,"


"Jangan menatap ku seperti itu." Tegur nya.


"Maaf jika aku tidak sopan," ucap Nesya.


"Aku senang bertemu dengan mu,kamu adalah orang yang berani membelaku sekaligus yang mau dekat dengan ku,ini adalah makan siang pertama dan terakhir kita.jangan lupakan aku," ungkap nya lalu meninggalkan Nesya yang masi bingung mencerna ucapan Risma.


"Terakhir,memangnya mbak Risma mau kemana?apa jangan-jangan dia akan segera bebas?semoga saja tebakan ku benar." Gumam Nesya penuh harap.


"Hari ini adalah hari terakhir untuknya,besok dan seterusnya aku tidak perlu lagi menyiksa nya.biarkan hari ini dia bebas melakukan apa pun,anggap saja itu suatu kebaikan ku sebelum mengakhiri hidupnya." Marwah melihat Risma Dan Nesya yang mengobrol dari kejauhan.

__ADS_1


__ADS_2