
"Bik,apa Austin tadi malam pulang kerumah?" tanya Tina setelah duduk dimeja makan.
"Ia Nyonya," jawab pelayan itu.
"Dia pulang jam berapa?" tanya Tina lagi sambil mengoleskan selai.
"Sekitar jam sebelas malam,Nyonya," balas pelayan itu lagi.
"Pasti dia bertemu dengan wanita itu lagi ... ."
"Apa ada lagi yang ingin anda tanyakan,Nyonya?" tanya pelayan itu sopan.
"Tidak ada,pergilah lanjutkan pekerjaan mu." Titah nya.
"Pagi,Ma." Sapa Bimo yang baru datang.
"Pagi juga,Pa." Bimo memperhatikan wajah istrinya yang seperti murung memikirkan sesuatu.
"Mama lagi mikirin apa?" tanya Bimo sambil memakan roti yang di berikan istrinya itu.
"Mikirin masa depan Anak kita,Pa." Tina menuangkan segala susu untuk suaminya.
"Sudah papa katakan jangan terlalu dipikirin nanti jadi beban pikiran,Mama." Bimo sedikit kesal dengan istrinya karena selalu memikirkan Austin.
"Terus maksud,Papa.mama harus diam aja gitu,membiarkan Austin menikah dengan wanita miskin itu.Apa papa setuju punya mantu seperti dia?" tanya Tina dengan sedikit emosi.
Dengan tenang Bimo meminum segelas susu nya dan lalu menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Biarkan dulu mereka bersama,jangan buat Austin yang menjauhi dia,tapi lakukan cara agar wanita itu yang meninggalkan Austin."
"Maksud papa,Apa?" tanya Tina tidak mengerti.
"Nanti Mama akan tahu sendiri,percayakan semuanya pada Papa,ok." Tina menggeleng lemah mendengar penuturan sang suami.
"Kenapa selalu begini,Pa?setiap ada masalah papa selalu bilang begini ke mama,apa mama tidak berhak tahu rencana yang papa susun?" imbuh Tina dengan suara lirih.
"Bukan begitu,Ma.didalam rumah ini dinding pun bisa berbicara.Papa gak mau semuanya gagal karena banyak orang yang mengetahui rencana papa," bisik Bimo agar istrinya mengerti.
"Tapi papa yakin,rencana papa akan berhasil." Ada begitu banyak keraguan di hati Tina,dia takut rencana suaminya gagal.
"Sangat yakin.jadi mulai sekarang
mama jangan pikirin lagi soal ini." Bimo mengelus lembut rambut istrinya.
"Pagi semuanya," sapa Austin yang baru hadir di meja itu.
__ADS_1
"Pagi juga,Sayang." Mereka langsung menghentikan pembicaraan mengetahui kedatangan Austin.
"Austin mau selai apa?biar mama bantu oleskan." tanya Tina.
"Selai kacang saja,Ma." Tina langsung mengambil selai itu.
"Nih,rotinya.makan yang banyak biar semangat saat bekerja." Tanpa menolak Austin langsung mengambil roti itu dan memakan nya.
"Terimakasih Ma," ucap Austin setalah menyelesaikan sarapan.
"Kamu nanti pulang jam berapa?" tanya Tina membuat Austin memicingkan mata pada nya.
"Tumben mama menanyakan hal itu,apa ada hal penting saat aku pulang kerja?" tanya Austin tanpa menjawab pertanyaan sang mama.
"Mama ingin menjodohkan mu,jadi pulang cepatlah." Canda Tina namun di anggap serius oleh Austin.
"Aku tidak mau di jodohkan!" Tolaknya tegas. mood nya mendadak buruk mendengar perjodohan itu.
"Austin, mama mu hanya bercanda jadi tidak usah di tanggapi.sekarang pergilah bekerja,kamu sudah hampir terlambat." Potong Bimo membuat Austin langsung mengembuskan nafas lega.
"Mama,suka sekali membuat ku emosi pagi-pagi." gerutu nya sambil merapikan dasi.
"Hahaha anda tertipu,pergilah bekerja cari uang yang banyak untuk mama." usir nya membuat wajah Austin semakin cemberut.
Setelah melihat Austin pergi,Bimo segera mengeluarkan unek-uneknya, "Kenapa Mama berbicara seperti itu?Mama tahu hampir saja Austin curiga pada kita."
"Curiga apa nya,Pa?" Sungguh saat ini Tina tak mengerti dengan suaminya yang tiba-tiba mengomeli dia.
"Mama Masi belum mengerti." Bimo menepuk pelan keningnya, "Kenapa Mama bercanda soal perjodohan?Austin hampir saja tahu bahwa kita mengetahui hubungan dia dengan gadis itu."
"Mama hanya terbawa emosi saja,Pa.rasa nya mama tadi ingin marah karena saat ini Austin menyukai gadis itu." Tina mengakui kecerobohan nya.
"Sudah papa bilang serahkan semua pada papa,hampir saja semua nya kacau." Karena tidak mau terbawa emosi,Bimo meninggalkan ruang makan.
"Pa,maafin mama!" pekik Tina agar Bimo mendengar nya.
"Kenapa jadi begini?" Tina menggigit bibir bawahnya.
***
"Bagaimana kesepakatan kita dengan perusahaan baru itu?" tanya Austin kepada Febri yang berapa waktu tadi ia panggil.
"Berjalan mulus seperti cinta anda pada wanita itu." Austin mendongak mendengar ucapan assisten nya.
"Kamu ... . "
__ADS_1
"Ya saya tahu,saya tahu dari mata anda." Febri memotong ucapan Austin dia menjawab seakan akan tahu apa yang ingi ditanya kan oleh Austin.
"Aku bukan menanyakan itu bod*oh!" Austin melempar kan berkas ke wajah Febri.
"Lalu apa yang ingin anda sampaikan?apakah anda ingin saya memesan gaun pengantin ternama untuk acara pernikahan anda?" tanya Febri dengan usilnya.
"Jangan membuatku marah,apa aku terlalu baik padamu hari ini,sehingga kamu melunjak?" Austin mulai marah dengan assisten nya yang tidak proporsional itu.
"Apa anda benar-benar marah?tapi ... kenapa saya melihat sedikit pancaran bahagia di mata anda saat saya mengatakan soal pernikahan?" Febri semakin iseng menggoda atasnya itu.
"Sekali lagi kamu mengatakan itu,siap-siap kena ulti ku." Ancam Austin membuat nyali Febri menciut.
"Baiklah mari kita akhiri soal itu," ucap Febri yang tidak tahan dengan tatapan mematikan yang Austin lakukan.
"Belikan aku handphone keluaran terbaru!" titah Austin.
"Anda bilang apa,Tuan?" Febri memastikan pendengaran nya.
"Dasar budek!" umpat Austin.
"Pendengaran saya anda ingin membeli handphone terbaru,apa benar itu yang anda katakan?" tanya Febri namun Austin hanya menatap sekertaris nya.
"Baiklah akan saya belikan,tapi kapan anda membutuhkan nya,apa harus hari ini?" Febri jadi salah tingkah sendiri karena Austin menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Bukan hari ini,tapi ... tunggu aku menyunat mu dan memecahkan dua telur mu itu." Pena di tangan Austin di genggam erat hingga patah.febri bergedik karena membayangkan seandainya pena itu adalah barang pribadi miliknya.
"Hehehe,anda bisa saja,Tuan." Ucapnya cengegesan.
"Masi bisa tersenyum rupanya,Apa kamu Masi sayang nyawa mu?kalau ia tinggalkan segera ruangan ku!" usir Austin seperti raja yang memberikan pengampunan pada pelayan nya.
"Ba .... baik Tuan." Meninggalkan ruangan itu dengan segera.
"Bos benar-benar dalam suasana hati yang buruk,aku harus berhati-hati lagi dalam menghadapi nya."
"Kemana dia,kenapa tidak membalas pesanku ataupun mengangkat panggilan ku?Apa dia Masi marah?" gerutu Austin setelah Febri pergi dari hadapan nya.
Mood Austin berubah karena dia tidak mendapat balasan dari sang pujaan hati,padahal dia mencoba menghubungi Nesya dari berangkat kekantor.namun sampai sekarang Nesya tidak ada menghubungi dia kembali atau membalas SMS nya.
Alhasil mood Austin memburuk dan Febri jadi korban nya.
Sedangkan orang yang menjadi sumber mood Austin berubah,kini Masi tertidur nyenyak.
"Kenapa Masi gelap?mungkin Masi malam.ayo Nesya tidur kembali." Keadaan ruangan gelap itu karena Nesya tidak membuka korden dirumahnya.
Biasanya dia membuka korden waktu subuh hari ketika dia pergi ke warung.tapi karena hari ini dia tidak berjualan sehingga dia tida membuka korden.alhasil dia mengira hari selalu malam.
__ADS_1