
"Nesya ... Nesya ... Nesya!" Teriak Austin di segala penjuru hutan agar Nesya mendengar nya.
"Nesya kamu dimana?" keluh Austin sesaat.lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Hutan yang tadinya sepi kini mulai ramai karena teriakan memanggil nesya.jalanan yang curam dan banyak semak yang menutupi mereka,tidak membuat semangat mereka pudar untuk mencari Nesya.
"Ya Allah mereka terus mengejar ku,aku harus lari kemana.aku tidak tahu jalan di hutan ini,semoga saja aku tidak berjumpa hewan buas disini."
"Kejar ... kejar ... tangkap wanita itu?" Jeritnya membuat Nesya semakin semangat berlari.
"Aku benar-benar kewelahan,kaki ku rasanya udah ge-gemetar.hufh ... hufh ... " ujar Nesya ngos-ngosan.
Ketika Nesya ingin lari kearah kanan ternyata sudah ada preman yang menghadangnya.lalu di segera menghindar dengan lari ke sebelah kiri,tapi arah itu juga sudah ada preman.
"Mau lari kemana gadis cantik?" Preman itu merentangkan tangan ingin menangkap Nesya.
"Jangan mendekat!" tegas Nesya sambil melangkah mudur.
"Berani kamu kabur dariku," sahut seseorang yang baru datang dari arah depan.
"Bu-buk Marwah," gumam Nesya tergagap.
"Ternyata kamu memilih mati secara mengenaskan dari pada mati setelah merasa kenikmatan," ungkapnya yang telah berdiri dihadapan Nesya sambil melipat tangan.
"Kenapa kamu tega merencanakan semua ini?bukankah kamu juga seorang wanita,apa kamu tidak merasa bersalah merencanakan hal sadis seperti ini?!" Nesya marah dan ia tidak terima Telah di jebak oleh Marwah.
"Merasa bersalah.oh,tentu saja tidak hahaha." Ledeknya lalu tertawa dan preman itu juga ikut menertawai nya.
"Bukankah kamu ingin bertemu risma.kamu harus mati dulu jika ingin bertemu dengannya,nanti jika kamu mati kamu bukan hanya bisa bertemu.tapi juga menyapu neraka bersama-sama." ejeknya lagi membuat Nesya menggeleng tak percaya.
"Mbak Risma telah meninggal," lirih Nesya sambil menangis.
"Dasar wanita jahat!kejahatan mu akan segera diketahui walaupun kamu berusaha menghilangkan barang bukti!" Teriak Nesya yang jengkel dengan kejahatan Marwah.
"Aku takut." ledeknya.
"Bos,sudah mengobrol nya.aku ingin segera menangkap gadis manis itu ke pelukan ku," sahut preman itu yang menatap Nesya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Oh,kamu udah gak sabar rupanya.kalau begitu tangkap dia!" Titah Marwah menatap Nesya buas.
"Ayo kemari adek sayang," ujar preman berkalung.merentangkan tangan dan berjoget ria mendekati Nesya.
__ADS_1
"Aku tidak Sudi,kalian berdua pria bejat!" umpat Nesya terus berjalan mundur.
"Sekarang kamu mencaci maki kami,tapi nanti saat kamu mendes*h pasti kamu terus memuji kami,hahahaha."
"Dasar gila!" umpat Nesya lagi.
Dibelakang Nesya ada jurang,semua orang tidak menyadari hal itu karena jurang itu tertutupi oleh semak-semak.
"Nesya!" teriak Austin yang baru datang.
"Austin.Aght ... !" Nesya menoleh kearah Austin dan tanpa sadar kakinya tergelincir sehingga jatuh ke jurang.
"TIDAK ... NESYA!" teriak Austin sambil mengulurkan tangan seakan-akan ingin menarik tangan Nesya.
Polisi mulai berdatangan hal itu membuat Marwah dan dua preman itu ketakutan,mereka mencoba melarikan diri,tapi sayang polisi telah mengepung mereka dan segera menangkap mereka.
"Lepaskan saya,pak.saya tidak bersalah,saya hanya di suruh dengan wanita gemuk itu." Berontak nya.
"Ikut kami kekantor,semua bisa kalian jelaskan disana."
Austin tidak peduli dengan penjahat yang di tangkap.sekarang hanya Nesya yang menjadi pusat perhatian nya,dia segera mendekati jurang itu hampir saja dia melompat.
"Lepaskan aku,Nesya ku ada dibawah!" bentaknya ingin melepaskan tangan polisi di lengannya.
"Jadi maksudmu aku harus menunggu mereka dan membiarkan Nesya di bawah sana!" geram Austin sambil mencengkram kera baju polisi itu.
Tanpa peduli dengan polisi itu,Austin nekat turun kebawah.polisi hanya dapat memanggil nya agar segera naik kembali.namun Austin tidak juga menghiraukan nya.
Terjatuh berkali-kali itulah yang terjadi pada Austin,dia tidak peduli dengan semua rasa sakit di tubuhnya.dia terus berjuang untuk mencapai kebawah untuk menyelamatkan Nesya.
"Nesya tunggu aku,huft ... huft ... aku akan segera menolong mu," gumamnya berhenti sebentar sambil memegang akar pohon.
"Astaghfirullah itu Nesya," ujarnya setelah melihat nesya yang berbaring terlungkup.
"Sayang aku datang,hiks." tangis Austin memeluk Nesya.
"Au-au-austin." lirihnya ingin menyentuh pipi Austin.namun Nesya telah pingsan sebelum tangannya sampai menyentuh pipi itu.
"Sayang,hiks ... hiks ..." Austin mengambil tangan Nesya dan menempel kan di pipinya.
Tim penyelamat datang mendekati kearah Austin,menyadari kehadiran mereka austin segera mengendong Nesya dan mencoba naik keatas dengan tali dan mengikuti arahan polisi.
__ADS_1
"Cepat bawa dia kerumah sakit," ujar austin dia sungguh tidak tahan melihat darah yang terus mengalir di kening Nesya.
"Ayo pak,ikut dengan saya menuju mobil." Austin mengendong Nesya dan mengikuti polisi dari belakang.
Setelah sampai di mobil miliknya,Austin membaringkan Nesya.lalu ia segera masuk kedalam mobil dan langsung melajukan mobil, tanpa menghiraukan teriakan polisi.
Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi itu adalah keahlian Austin.jadi dia tidak takut karena ia telah biasa melakukan nya.
"Cepat tolong dia!" pekik Austin yang berhasil menghebohkan rumah sakit.
"Nesya bertahan lah," ujar Austin yang ikut mendorong brankar.
langkah Austin terhenti ketika ia ditahan dokter. dia terpaksa menurut agar semua proses pemeriksaan cepat selesai dan akan segera tahu keadaan Nesya.
Setelah menunggu sekitar satu jam kini dokter keluar untuk menemui austin.Dokter langsung berkata bahwa Nesya kehilangan banyak darah dan menelurkan pendonor darah.
"Pasien kehilangan banyak darah,di rumah sakit ini darah untuk golongan AB telah habis.saya sarankan bapak agar segera mencari pendonor." Austin menghela nafas karena golongan darahnya berbeda dengan Nesya.jadi otomatis dia tida bisa memberikan darahnya pada Nesya.
"Akan saya usahakan dok," ujar Austin.
"Saya minta sesegera mungkin,karena jika lambat.maka kemungkinan pasien akan koma." Austin terduduk lemah sedangkan dokter itu pergi melanjutkan pekerjaan nya.
"Aku harus meminta bantuan sekertaris Hans," gumam Austin melakukan panggilan.
"Ada apa lagi,bocah Prik.kenapa akhir-akhir ini kamu menganggu ku?"
"Hans Carikan aku darah golongan AB,ku mohon bantu aku."
"Apa teman mu itu telah di temukan?apa dia terluka?"
"Benar,tolong carikan darah itu segera.aku tunggu kabar baik mu secepat mungkin," pinta Austin mematikan panggilan.
"Astaghfirullah,kenapa dia mematikan panggilan sesuka jidat." omel Hans.
"Kenapa lagi bocah itu?" tanya Rey yang mendengar percakapan antara Hans dengan Austin.
"Dia meminta aku mencarikan darah AB untuk menolong teman nya," jelas Hans.
"Sejak kapan dia punya teman?mungkinkah untuk pacarnya dan kamu mungkin saja di bohongi nya," tebak Rey.
"Entahlah.yang jelas aku harus menolongnya, kasihan anak itu tidak ada yang peduli padanya." Hans mulai mengotak atik ponselnya.
__ADS_1
"Berani kamu menyindir ku." Rey melempar bantal dan mengenai wajah Hans.
"Hehehe maaf tuan muda."