
Berkat bantuan Hans,Nesya berhasil di tangani.setelah menunggu berjam-jam akhirnya Austin kelelahan dan tertidur sambil menggenggam tangan Nesya.
Hati Austin lega karena Nesya tidak terluka parah dan telah keluar dari masa krisis nya.austin sangat nyenyak saat tidur hingga tidak menyadari bahwa Nesya telah bangun.
"Apa ini cuman mimpi?apa aku sudah mati?"
Nesya menyentuh perlahan wajah Austin untuk memastikan bahwa yang dilihatnya itu adalah nyata.
"Aku tidak bermimpi.ini memang Austin," gumam Nesya lirih.
"Emmm ... kamu sudah bangun," ucap Austin dengan suara parau.
"Bagaimana keadaan mu,apa ada yang sakit?" tanya Austin menatap Nesya.
"Ngapain kamu kesini?!" ketus Nesya membuat Austin terkejut.
"Aku kesini ingin bertemu kamu,neng.masa gitu aja gak ngerti." Goda Austin sambil mencolek dagu Nesya.
"Aku gak suka kamu disini!" tegas Nesya membuat Austin terdiam mematung.
"Kamu neng pagi-pagi udah mau ngeprank aja,gak mempan neng.mana imut lagi itu wajahnya pura-pura marah." Austin Masi menyangka bahwa Nesya hanya mengerjai nya.
"Apa wajah ku terlihat bercanda?KELUAR!" usir Nesya menunjuk pintu dan pancaran matanya terlihat ia sedang marah.
"Nesya tenang,semuanya bisa kita bicarakan." Pinta Austin dengan tatapan memohon.
"Apa lagi yang ingin kamu katakan,ha?tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan,urusan kita sudah selesai!" tegas Nesya dengan nafas naik turun.
"Ini semua hanya salah paham Nesya,aku tidak ada maksud hilang tanpa kabar," jelas Austin lirih.
"Aku tidak peduli.aku mau kamu keluar dari sini dan jangan pernah temui aku lagi!" Jerit Nesya dengan air mata berlinang.
"Nesya,ku mohon jangan minta itu dari ku.aku benar-benar tidak sanggup jika pergi dari mu,ku mohon hiks ... hiks ... " Austin menangis sambil menggenggam erat tangan Nesya.
"Jangan luluh Nesya,ini hanya tipu muslihat dia saja."
"Pergilah.ini semua demi kebaikan kita berdua,biarkan aku hidup sendiri tanpa gangguan darimu.anggap saja kita tidak pernah bertemu," ujar Nesya menahan tangis dan membiarkan tangannya digenggam oleh Austin.
"Jangan katakan itu,nesya.aku tidak bisa hidup tanpa mu,mari kita menikah!" ajak Austin membuka kotak cincin di hadapan Nesya.
__ADS_1
"Aku tidak mau jadi istrimu,jadi pergi dari sini!" usir Nesya untuk sekian kalinya.namun tidak membuat Austin goyah untuk tetap membujuk Nesya.
"Nesya aku tahu kamu marah padaku,jika kamu marah karena aku tiba-tiba menghilang.aku akan jelaskan."
Austin menjelaskan kronologis tentang ia yang di tipu oleh mamanya,meski Nesya tidak merespon tapi Austin tahu bahwa Nesya sedang mendengarkan dengan seksama.
"Begitulah ceritanya.jadi maukah kamu memaafkan ku," ujar Austin setelah selesai meluruskan kesalahpahaman itu.
"Kenapa kamu tidak menikah dengan wanita itu?bukankah dia jauh lebih baik dari ku," ucap Nesya membuat Austin tersenyum masam.
"Aku hanya ingin kamu,nesya.kamu tidak bisa digantikan oleh siapapun,jangan meminta aku menikahi wanita lain.karena itu sangat melukai hatiku," jelas Austin sedikit kecewa.
"Maaf aku tidak bisa menikah dengan mu," tolak Nesya menarik tangannya dari genggaman tangan Austin.
"Tapi ... kenapa Nesya?apa karena restu orang tuaku.jika ia aku tidak peduli dengan mereka!" tegas Austin agar Nesya yakin dengan nya.
"Bukan karena itu,tapi ... aku tidak pantas untuk mu,hiks ... " tangis Nesya.
"Kamu sangat pantas untuk ku Nesya.jangan merendah seperti ini karena kamu tidak kaya seperti keluarga ku," balas Austin.
"Aku ... tidak suci lagi,hiks ... hiks .. aku ... tidak pantas untuk laki-laki manapun." Nesya langsung menangis dan menenggelamkan wajahnya di atara lututnya.
Terdiam itulah yang terjadi pada Austin,melihat Nesya yang menangis membuat hati Austin juga turut bersedih.
"Pergilah cari yang lain." Pinta Nesya sambil menatap Austin.
"Aku tidak mau!" tegas Austin membalas tatapan itu.
"Kita akan menikah setelah kamu Sehat dan keluar dari rumah sakit ini!" ucap Austin tidak terbantahkan.
"Apa kamu tidak rugi jika menikah dengan ku?"
"Nesya,ayolah.jangan bahas itu!" geram Austin. ingin rasanya ia mengigit bahu Nesya karena terlalu geram.
Nesya berdiam diri,tidak bersuara sedikit pun.hal itu membuat Austin merasa hampa dan mencoba melihat Nesya.apakah wanita itu sedang tidur sehingga tidak berbicara padanya?
"Kenapa diam saja?apa kamu menahan sakit?" tanya Austin menghapus sisa air mata di sudut mata Nesya.
"Malas berbicara padamu," balas Nesya memainkan kalung Austin.
__ADS_1
Tiba-tiba Nesya teringat dengan buk marwah dan juga Risma,dia sangat penasaran dengan kabar dua wanita itu.
"Austin apa kamu tahu kabar buk marwah?"
"Kenapa kamu bertanya tentang wanita jahat itu?" tanya Austin tak suka.
"Aku penasaran saja.buk Marwah berhasil ditangkap atau malah melarikan diri?"
"Wanita itu sudah mati," balas Austin.
"Inalilahi wa innailaihi rojiun.kenapa dia bisa meninggal apa dia jatuh ke jurang?" Tebak Nesya.
"Dia meninggal karena dia dieksekusi.kejahatan yang dia lakukan itu sangat fatal sehingga dia pantas menerima hukum mati."
"Benar dia sangat jahat," balas Nesya.
"Teman mu itu juga meninggal,kalau tak salah namanya Risma."
"Mbak Risma semoga tenang disana.dia itu baik Austin,aku sangat senang berteman dengan nya." Nesya tersenyum mengingat momen kebersamaan dia dan Risma.
"Aku juga senang,waktu kamu di penjara banyak orang-orang baik yang berteman dengan mu.hanya wanita gendut itu saja yang jahat," ungkap Austin.
"Katanya kalau dia jahat pada seseorang itu berarti dia disuruh oleh seseorang.kan aku di siksa juga olehnya,kira-kira siapa yang menyuruh dia melakukan hal itu?"
"Siska.wanita ular itu yang berani memfitnah mu sampai di penjara seperti ini dan karena dia juga aku berpisah dengan mu." Austin saat ini sangat benci pada wanita itu.
"Oh,Siska.wanita yang mencalonkan diri menjadi ibu dari anak-anak mu itu kan?"goda Nesya.
"Idih,gak mau aku nikah dengan nya." Jijik Austin.
"Ih,dia itu cantik tauk.nyesel kamu menyiakan gadis cantik seperti dia," goda Nesya membuat Austin menatap tak suka kearahnya.
"Aku gak peduli dia secantik apa,yang aku tahu wanita di depan ku inilah yang akan menjadi ratu di hatiku," gombalnya membuat Nesya terdiam kaku.
"Buaya!" Ledek Nesya menyembunyikan wajah merahnya.
"Mana buaya,gak ada." Austin pura-pura kaget dan mencoba melihat wajah Nesya.
"Buaya darat," jelas Nesya.
__ADS_1
"Oh,buaya darat yang meresahkan hati seorang Nesya,itu kan maksudmu." Nesya langsung mencubit pelan pinggang Austin.
"Gemesnya calon istriku,hahahaha." Austin tertawa renyah dan membawa Nesya di dalam pelukannya.