
"Nesya dengerin dulu ... please," pinta Austin yang berjalan beriringan dengan Nesya.
"Ngapain kamu ngikutin aku?pergi saja sana pelukan dengan wanita itu!"
Austin mencoba bersabar,karena mereka sedang berada di tempat umum.jangan sampai masalah kesalahpahaman ini di ketahui oleh warga,bisa di gosipin satu kampung nantinya.
"Sayang," panggil Austin lembut saat mengikuti langkah Nesya ke kamar.
Nesya hanya diam saja,dia memilih merebahkan diri di ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak kenal dengan wanita itu,kalau kamu tidak percaya coba saja tanya sama babe." Masi tidak ada sahutan dari Nesya.
"Sayang," ujar Austin senang karena Nesya membuang selimut yang ia gunakan tadi.
"Awas aku mau ke kamar mandi!" ketus nya dengan wajah cemberut.
"Maafin aku,ya.kejadian tadi tidak sengaja,aku tidak selingkuh.kami benar-benar hanya memancing di sana," jelas Austin.
"Jika kamu memancing terus mana ikannya."
"Ikan nya lepas dari pancingan," balas Austin.
"Alah,alasan mu saja.jangan bawa-bawa parfum wanita itu ke mari aku tidak sudi mencium nya," ujar Nesya saat Austin ingin memeluknya.
"Enggak ada," balas Austin sambil mengendus bau parfum yang Nesya maksud.
"Hidung mu sudah kebas karena kebanyakan mencium aroma gadis itu," ucap Nesya kesal.
"Astaghfirullah,sayang.aku tidak selingkuh,tadi kami mengira ada hantu jadi kami mencoba mendekati suara aneh itu.entah dari mana asalnya wanita itu tiba-tiba muncul dan mengaku-ngaku sebagai pengagum ku,aku juga tidak tahu,sayang."
"Yang terpenting aku tidak selingkuh dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan wanita itu," lanjut Austin meyakinkan Nesya.
"Kamu memang tidak melakukan hal itu,tapi kamu memliki perasaan dengan nya."
"Aku hanya cinta padamu,mana mungkin aku memiliki perasaan dengan wanita itu.itu sangat mustahil."
"Males ngomong dengan mu,semuanya yang kamu ucapkan hanya bohong belaka," sungut Nesya lalu meninggalkan Austin.
"Kenapa suasana hatinya makin Buruk? sebenarnya apa yang terjadi pada istriku,ya Allah."
"Loh,kok kamu duduk di sini?" tanya roma yang baru tiba.
"Istriku ngambek,be," keluh Austin terduduk melamun di ruang tamu.
"Biarkan saja dulu.nanti juga akan berhenti ngambek nya," ujar roma meletakkan pancingan di atas meja.
"Gara-gara wanita itu acara memancing kita gagal dan Nesya marah pada ku,niat hati ingin membawa pulang ikan sebanyak mungkin malah ujung nya tidak dapat sama sekali."
"Udan jangan di pikirkan,Masi banyak waktu untuk kita memancing lagi.lebih baik sekarang kita ke pasar," ajak babe.
"Males,be.babe pergi saja sendiri aku tidak ikut," tolaknya.
"Hey,kamu mau istrimu berhenti merajuk tidak?"
__ADS_1
"Jelas maulah,be."
"Makanya ikut babe ke pasar untuk membeli martabak kesukaan Nesya," ujar Roma.
"Ayo,be.kita pergi!"
Austin sangat bersemangat hingga menggandeng tangan roma.mereka ke pasar tanpa memberitahu Nesya,semoga Nesya tidak khawatir dengan mereka berdua yang tiba-tiba menghilang.
"Pasar masi rame di jam segini," celetuk Austin kaget.
"Ia memang rame.biasanya orang hanya beli cemilan dan makanan karena di jam segini hanya ada pedagang makanan."
"Oh,begitu.mari kita borong makanan ini untuk di bawa pulang," ujar Austin berjalan duluan untuk singgah ke gerobak yang menjual rujak.
Prang!
Suara barang pecah mengagetkan Austin yang sedang memakan rujak,hampir saja mangga muda itu ia telan bulat-bulat.
"Bayar hutang,Lo!"
"Jangan sekarang,tuan."
"Terus kapan?tunggu ayam jantan bertelur,ia!"
"Saya benar-benar tidak ada uang."
"Tidak ada uang tapi bisa membeli gerobak baru.jangan coba-coba membohongi kami!"
"Ini gerobak kredit,tuan.saya benar-benar tidak ada uang lagi."
"Arghhhh" teriakan pembeli dan pengunjung.
Semua nya terkejut karena pedagang itu di pukul dan ember beserta mangkuk kotor terlempar di tengah jalan.sehingga hal itu membuat semuanya menjauh kerena ketakutan.
"Disana ada apaan sih?kenapa ribut sekali?apa mungkin ada pesulap?"
"Bukan pesulap,tapi petinju."
"Petinju,ngapain dia ke pedagang bakso itu?apa pedagang itu tidak ada cara lain untuk menarik perhatian pembeli,hingga mengundang petinju.sampai-sampai barang dagangan nya banyak yang rusak karena pecah."
"Saya kurang paham.lebih baik kamu lihat saja ke sana,siapa tahu kamu tertarik?"
"Oke aku akan kesana.ini untuk mu,ambil saja kembalian nya." Austin menyerahkan uang sepuluh ribu untuk membayar rujaknya.
"Austin," panggil Roma yang telah menenteng banyak kresek entah apa saja yang ia beli.
"Ada martabak nya,be?" tanya Austin.
"Babe belum beli,ayo kita beli bersama-sama!biar kamu tahu di mana penjual martabak itu,agar kamu tahu dimana tempatnya dan bisa datang sendiri di lain waktu."
Kebetulan arah penjual martabak melewati pedagang bakso itu,sehingga mereka melihat apa yang di lakukan oleh preman kepada penjual itu.
"Astaga ada apa lagi ini?kenapa itu juragan sampai kemari?aduh bisa terancam si penjual bakso itu," gumam Roma membuat Austin penasaran.
__ADS_1
"Aku harus menolong bapak itu," ujar Austin lari mendekati pedagang bakso itu.
"Astaga menantuku,aduh bisa kena masalah ini!" panik Roma sambil berlari juga menyusul Austin.
"Hey!" pekik Austin sehingga menarik perhatian para anak buah juragan.
"Wah,pahlawan kesiangan telah datang," ledek baja tidak menyukai kehadiran Austin.
"Apa yang kalian lakukan?apa tidak ada lagi anak muda sehingga kalian memukul orang tua?"
"Jangan ikut campur masalahku,lebih baik kamu tinggalkan tempat ini.sebelum aku berbuat sesuatu padamu," peringatan di berikan baja pada Austin.
"Hey,aku tidak takut padamu!" tegas Austin tidak lupa tersenyum mengejek.
"Sekarang apa mau mu,ha?!" bentak baja.
"Lepaskan dia!jika karena hutang kalian berbuat begini padanya,maka katakan berapa hutangnya dan biarkan aku yang membayarnya."
"Jangan sok kaya kamu," ujar baja yang menganggap austin sedang menyombongkan diri.
"Lah,emang aku kaya!" ujar Austin membuat baja semakin geram ingin memukul wajahnya.
"Bapak,berapa hutang bapak kepada mereka?" tanya Austin pada pria yang masi terduduk, dengan pipi biru dan sudut bibir berdarah.
"Sembilan belas juta,nak.tolong bayarkan hutang Bapak,nanti bapak akan bayar uang mu." pinta bapak itu dengan mata berkaca-kaca.
"Hanya sembilan belas juta,aku sangka miliaran hingga ditagih seperti ini.ini uangnya,untuk mu membayar anak buah mu," sindir Austin memberi satu cek pada baja.
"Jaga ucapan mu!" ucapnya sambil menarik kera baju Austin.
"Aku tidak akan menjaga ucapan ku.pada orang yang tidak bisa menjaga tangan nya,untuk memukul orang lain," sindir Austin sambil menghempaskan tangan baja.
"Kau ingin mati rupanya!" amuk baja mulai memukul Austin.
"Astaghfirullah,jangan sampai menantuku Kenapa-napa?" lirih Roma yang hanya bisa menonton pertarungan itu karena dia takut untuk memisahkan mereka.
Perkelahian antar orang kaya terjadi,banyak warga berkumpul untuk melihat pertarungan itu dan penasaran dengan siapa pemenangnya.
Bagai menonton sabung ayam para warga berteriak sambil memanggil nama jagoan mereka,bahkan ada yang melakukan taruhan.
"Austin!"
Tanda-tanda pertarungan akan berakhir karena pawang Austin tiba,jika wanita hanya berteriak saja ingin memisahkan perkelahian itu.semua tidak berlaku pada wanita yang menghampiri keduanya dengan membawa kayu sebesar pergelangan tangan.
"Apa yang kalian lakukan?apa kalian tidak malu di tonton banyak orang?kalian itu seperti ayam dan mereka yang menyabung nya,apa kalian Masi mau berkelahi?"
"Dia duluan memukul ku,makanya aku ingin memukul nya," adu Austin pada Istrinya.
"Aku tidak akan memukul mu jika kamu tidak mencampuri urusan ku," balas baja.
"Aku tanya sekali lagi,kalian Masi mau berkelahi atau tidak?kalau Masi,akan ku bawakan parang. tidak seru menonton perkelahian baku hantam lebih baik kalian berkelahi tetak-menetak."
"Dasar suami istri gila!" umpat baja lalu memberi kode pada anak buahnya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
"Hey,jaga ucapan mu!" pekik Austin tak terima.
"Sudah,ayo kita pulang." Nesya menyeret austin dari sana.