
"Bob,ini nasi kotaknya kamu antar sesuai lokasi GPS yang aku kirim di wa mu ya," ujar Nesya yang baru datang dari dapur.
"Oke,kak." ujar Bobi.
Nesya menjalankan rutinitas biasanya,dia sibuk mengurus pesanan catering nya yang akhir-akhir ini semakin banyak peminatnya.
Berkat pesanan nya meningkat dia sekarang mempunyai tiga orang pekerja termasuk Bobi.
Plak.
"Kenapa akhir-akhir ini pesanan kita menurun?" tanya Siska melemparkan laporan kepada karyawan nya.
"Anu ... itu bos,kita memiliki pesaing baru jadi catering kita mulai menurun," ujar Andre.
"Oh ... pesaing baru lalu apa hubungan nya dengan ku!" pekik nya geram dengan bawahan nya itu.
"Sejak ada catering Dijamin Nagih semua pelanggan kita memesan catering padanya dan melupakan kita," jelas Andre.
"Kita ini salah satu catering terbesar di kota ini,masa bisa bersaing dengan catering kecil itu." Siska Masi tidak menyangka dengan kenyataan pahit itu.
"Mungkin itu bisa terjadi,soalnya aku melihat yang punya catering itu memiliki hubungan dekat dengan pak austin.mungkin saja pak Austin membantu mempromokan pada klien-klien kita," Adu Andres membuat Siska mengepalkan tangan.
"Wanita tak tahu malu itu ... benar-benar harus di beri pelajaran.dia bukan hanya merebut Austin dari ku dia juga merebut pelanggan ku,tunggu pembalasan ku!" ujarnya marah dan meninggalkan restoran nya.
Siska menjalankan mobil miliknya,setelah sampai ke tujuan dia bergegas masuk kedalam mansion itu.
"Tante ..." rengek nya setelah duduk dan menyelonong masuk tanpa di persilahkan.
"Loh,siska.ada apa kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Tina dengan calon mantu idaman nya itu.
"Austin ... ?" Mulai menangis.
"Kenapa dengan Austin sayang?" desak Tina yang menghapus air mata Siska.
"Dia jahat,tan.dia mengganggu usahaku," adu nya.
"Maksudnya?" tanya Tina tak mengerti.
"Anak Tante membantu usaha wanita itu dan mulai mengambil alih pelanggan ku,catering ku mulai sepi.yang makan di restoran ku juga mulai menurun,aku harus gimana,Tan?" Tina syok mendengar kabar itu.
"Benarkah?kasihan sekali kamu,nak." Tina memeluk Siska yang langsung menangis tersedu-sedu itu.
__ADS_1
"Tidak bisa di biarkan,aku tidak bisa mengharapkan papa.aku harus bergerak sendiri untuk mengurus hal ini,pokoknya impian untuk menjodohkan Austin dengan siska harus terjadi."
Siska seorang pekerja keras,meski orang tuannya memiliki perusahaan pangan di mana-mana.namun tidak membuat ia bergantung pada harta orang tuanya.
Ia rela membuka usaha sendiri untuk memulai karir nya,saat ini dia telah memiliki kekayaan sendiri yang membuat ia bangga pada dirinya sendiri.
"Udah jangan nangis sayang,hubungan austin dengan wanita tak jelas itu.Tante tidak akan restui,jadi jangan bersedih lagi." Tina mengusap bahu Siska.
"Beneran?" tanya Siska dengan suara seraknya.
"Beneran,Sayang.mana mau Tante punya mantu seperti dia.mantu Tante cuma kamu yang cantik ini." Puji Tina agar Siska percaya padanya.
"Terimakasih,Tan." Siska memeluk erat Tina kerena sangat senang mendapat dukungan darinya.
"Semoga impian ku terwujud,sudah lama aku menyukai Austin bahkan sejak Masi TK.dia itu pahlawan di hatiku tidak akan ku biarkan wanita manapun merebutnya dari ku."
Tak lama Deru mobil terdengar,dua wanita itu tersenyum senang karena mengetahui siapa yang telah datang.
Degup jantung Siska bergetar menanti pria idaman nya hadir di hadapan nya.
"Austin," tegur Tina mengalihkan pandangan Austin dari ponselnya.
"Ia kenapa,ma?" tanya Austin.
Austin sangat memperhatikan wanita di samping mamanya itu,setelah di perhatikan ia melihat sekilas tahi lalat tepat di dahi wanita itu.
"Apa dia boneka India?" tanya Austin mendekat untuk melihat lebih dekat wanita itu.
"Cantik-cantik gini kok di sebut boneka India," protes Tina.
"Hahaha ... beneran boneka India," tawa Austin sepintas ingatan kebersamaan waktu kecil teringat di otaknya.
"Sekarang aku gak boneka India lagi,lihat kulitku sudah putih bersih." Siska sangat senang karena Austin mengingatnya.
"Pake cara apa kamu hilangkan kulit hitam mu?dan dimana kamu sembunyikan kaki robot ku?" Austin kini telah duduk dan dia kembali menanyakan hal yang sama di masa kecil.
"Sudah berulang kali aku katakan,aku tidak menyembunyikan kaki robot mu." Siska merenggut karena Austin menuduhnya mencuri kaki robot.
"Lalu kemana kaki robot Optimus ku?seingat ku kakinya hilang saat aku bertemu dengan mu." Austin Masi penasaran dengan misteri hilangnya kaki robot kesayangan nya.
"Mana ku tahu,mungkin saja terjatuh." Tebaknya.
__ADS_1
"Jelas saja kamu tidak tahu.orang kamu sibuk berebut kue dengan yang punya acara," Siska langsung malu mengingat hal itu.
"Bagaimana bisa kamu ingin mengambil kue ulang tahun milik orang lain?dasar boneka India beda dari yang lain." Siska malu setengah mati.
"Waktu itu aku tak mengerti Austin,jadi tolong lupakan kejadian itu!" jerit Siska agar Austin berhenti meledek nya.
"Kalian mengobrol dulu,mama mau siapkan cemilan untuk kalian." Tina sengaja pergi meninggalkan mereka berdua agar Austin dan Siska semakin dekat.
"Gak usah repot-repot Tante,aku bentar lagi ada urusan." Cegah Siska.
"Eh,boneka India mama ku nyiapin cemilan untuk ku.jadi biarkan mama pergi." Diam-diam Tina senang mendengar hal itu.dia menyangka bahwa Austin ingin berduaan dengan Siska.
"Udah jangan berantem,mama pergi dulu."
"Gimana rasa kue hasil merebut milik orang lain,apa enak?" tanya Austin.
"Sudah ku bilang aku tidak berakal waktu itu,aku belum mengerti yang mana milik ku dan milik orang lain," jelas Nesya.
"Hahaha ... dia marah,Sindu mu makin membesar." Siska langsung menutupi tahi lalat itu dengan rambutnya.
"Kamu tidak berubah,selalu suka mengejek ku." Omel Siska.
"Kulitmu memang berubah,tapi tahi lalat itu Masi ada.yang menjadikan mu boneka India," ejeknya lagi.
"Tahi lalat ini mati,kenapa mata mu setajam itu mencari kekurangan ku?" gerutunya marah.
Belum sempat kata keluar dari mulut Austin,semuanya terhenti karena dering ponsel di saku celana Austin.
"Aku tinggal dulu,karena kekasih ku telpon." hati Siska yang senang tadi kini terluka mendengar pengakuan austin.
Tanpa mendengar jawaban Siska,Austin tega meninggalkan Siska sendiri di ruang tamu.
"Ya Tuhan ... apakah sesakit ini?baru saja dia mengobrol hangat pada ku,kini dia berbicara hangat pada wanita lain.pokoknya aku harus menikah dengannya,agar aku dapat memilikinya seutuhnya."
"Loh,kemana Austin?" tanya Tina yang membawa cemilan dan dua cangkir minuman.
"Dia mengangkat panggilan dari kekasihnya," adu Siska memaksakan senyum.
"Kenapa kamu tidak mencegahnya?" tanya Tina yang telah duduk di samping Siska.
"Aku siapanya Austin?aku tidak punya hak untuk mencegahnya." Tina terdiam karena membenarkan ucapan siska.
__ADS_1
"Kamu itu calon nyonya di rumah ini,untuk sementara kamu sabar dulu.tunggu sampai Tante menyingkirkan wanita itu," ujar Tina.
"Aku tidak bisa berdiam diri saja,aku harus bergerak juga agar keinginan ku memiliki Austin segera terwujud."