Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 22. SABAR ADA BATASNYA


__ADS_3

Ganis tergelak saat Asmi terlihat panik, padahal jelas-jelas Alva tak ada disana, kembali ia kena prank ibunnya Alvaro lagi untuk ke sekian kalinya.


"Ah ibunnnn," rengek Asmi, Ganis mencubit pipi bakpau Asmi.


"Banyak temen yang Alva bawa kesini, entah itu lelaki atau perempuan. Pokoknya rumah ini tuh udah kaya paguyuban kalo lagi pada ngumpul, apalagi kalo pacar gelapnya ibun juga ngumpulin temen-temennya," ujar Ganis.


Kini ia menatap Asmi, yang seperti melihat cerminan dirinya dulu. Lebih tepatnya ia dan Nata.


"Tapi dari sekian banyak temen perempuan yang dibawa, belum ada yang kaya Asmi..." Ganis mengulas senyuman lebar tanpa memberikan kejelasan dan melengos ke dalam meninggalkan Asmi sendiri, karena rupanya beberapa detik setelah itu suara motor Alvaro terdengar kembali ke rumah.


"Mau balik sekarang? Ntar lo dicariin orang rumah?" tanya Alva, selalu to the point ngga mau banyak bertele-tele.


"Iya." jawabnya mengangguk, "tapi pamit dulu sama ibun," Asmi beranjak masuk ke dalam.


"Bun,"


Ganis memeluk Asmi hangat, "nanti maen aja lagi kesini, kalaupun ngga ada si akang gondrong....kaka senior kamu itu." Asmi tertawa di antara pelukan Ganis, ibun Alvaro memang beda dari emak-emak lain.


"Ibun tuh disini sendirian, neneknya Alva lagi di rumah tante Indy di Soreang, disini cewek cantik cuma ibun sendiri. Mereka ngga asik," lanjutnya lagi.


"Ahhh, ibu bikin Asmi ngga mau pulang." jawab Asmi kini entah kenapa ia merasa terharu.


"Boleh kan nanti Asmi main lagi kesini? Ngga akan kena usir?" Asmi mengurai pelukannya.


"Boleh. Boleh banget! Nanti ibun ajarin gitar sama bikin bolu caramel," Ganis mengangguk.


Asmi pamit disusul Alvaro ke arah depan rumah, nampak dari luar sebuah sepeda motor lain datang, pemuda SMA yang wajahnya mirip-mirip tipis kaya ibun Ganis, namun rambut lebih rapi dan pendek.


"Dari mana dulu? Jagain ibun di rumah."


Dan voalah! Pemuda itu lebih ramah dari Alvaro, ia mengulas senyuman, "dikira ibun kambing kurban dijagain, cewek ya bang?!" ia menyunggingkan senyuman miring.


"Bukan."


Bagas langsung masuk tanpa menyapa Asmi, hanya tersenyum sekali nan tipis saja seraya menatap Asmi singkat saat berpapasan di undakan tangga teras lalu masuk ke dalam.


"Adik ya?" ucapnya turun.


"Hm." Alva memasang helmnya.


"Gue anter kemana nih?"


"Ke rumah Elisa aja," jawab Asmi menatap Alvaro mendongak dengan kernyitan di dahi karena terangnya langit.


"Lo masih mau maen?!" cercanya seperti tak terima.


Asmi menggeleng, "engga. Asmi kan bilangnya mau maen ke rumah Elisa. Jadi minta mang Dedi jemput di rumah Elisa. Ya kan ngga mungkin tiba-tiba Asmi bilang sama orang rumah atau mang Dedi, Asmi mau ke hotel baremg cowok buat bikin anak?!" matanya membulat bak kucing persia, dan justru itulah yang membuat Alvaro menatapnya lama lalu menggeleng.


"Naik."



Asmi sudah berani memegang melingkari tanpa ragu, ia memiringkan kepalanya ke arah Alva, "kang, Asmi boleh kan main lagi ke rumah nanti, ketemu ibun?"



Baru kali ini, ada gadis yang ingin main ke rumahnya untuk bertemu ibunnya bukan dirinya.

__ADS_1



"Terserah lo."



"Kang, makasih." lirihnya sendu, meski menyentuh hati namun Alva tak sampai menghentikan laju sepeda motornya dan melaju sesuai arahan Asmi. Tak sampai 20 menit Asmi dan Alvaro sudah sampai di rumah sederhana Elisa. Gadis itu terlihat menunggu Asmi di teras, saking tak percayanya jika Asmi datang bersama Alva bahkan Elisa sampai menjemput mereka di pagar rumah.



"Kang, mau masuk dulu?" tanya Elisa, Alvaro menolak, "engga usah. Gue duluan." Ia menjatuhkan tatapannya pada Asmi seolah sedang berpamitan dan bilang----*hati-hati lo! Sampe rumah cuci kaki, cuci muka, langsung bobo*!



Elisa tak buta, ia bisa melihat interaksi keduanya, apalagi saat Asmi mengangguk dan berkata *iya hati-hati*, layaknya sepasang kekasih yang sedang pamitan dan menitipkan diri.



"Ini gue ngga gila, kan Mi?!" tanya nya membeliak tak percaya seraya mengekori Asmi masuk ke dalam rumah sambil nutup pager.



"Maunya kamu gimana?" Asmi mengulas senyum, ia saja tak percaya jika ia baru saja jalan bersama Alvaro.



"Ih, kamu mah ih! Coba cerita! Kenapa bisa jalan sama kang Alva, kemana aja, ngapain aja?!" ceroscosnya mencecar, seperti itu adalah keajaiban dunia yang perlu di abadikan. Seharusnya ia rekam kejadian barusan.



"Kepo!" tengil Asmi tertawa duduk di teras depan selagi menunggu mang Dedi.




"Belum apa-apa gue udah kangen sama ibun," keluh Asmi meloloskan nafas lelah. Elisa menarik kedua kakinya ke atas kursi, "ibun siapa?" alisnya berkerut beberapa lipatan, baru denger nama ibun, apakah anak kampus seni juga?



"Ibunya kang Alvaro," jawab Asmi sambil tersenyum, dan weww! Elisa semakin terkejut, "kamu udah dibawa ke rumahnya?! Ketemu ibunya?!" nada bicara Elisa bahkan setinggi tegangan listrik 900 watt.



"Mi, Mi...jangan terlalu berharap tapinya, takutnya kamu cuma di kasih harapan palsu sama kang Alva, kata yang lain sih gitu! Tapi setau gue ya, jarang-jarang cewek yang dibawa langsung ke rumahnya. Ini Elisa makin penasaran, ada hubungan apa kamu sama kang Alva, kalian pacaran?"



Asmi bereaksi menggeleng kuat, "engga. Asmi sama kang Alva ngga ada hubungan apa-apa, Asmi juga ngga mengharapkan hubungan apa-apa, emangnya orang begitu bisa serius suka sama orang? Udah jutek, dingin, ngomongnya sula nyakitin hati!" ucap Asmi padahal jauh di dalam hati ia meragukan ucapannya sendiri.



*Iya, Sa. Asmi suka sama kang Alva*.



"Ati-ati Mi, biasanya lain di mulut lain di hati!" cebik Elisa.

__ADS_1



Mang Dedi membunyikan klakson mobil, membuat obrolan sepasang teman ini harus terhenti.



"Mang," sapa Elisa.



"Eh, mama mana?!" tanya Asmi baru ingat dengan ibu Elisa. Sejak datang ia tak melihat ibu dari sahabatnya itu karena Elisa yang tiba-tiba mencecarnya dengan pertanyaan.



"Mama ngaji, pulang magrib."



Asmi hanya beroh singkat, lalu ia membuka pintu mobil, "Asmi pulang ya Sa....makasih!"



"Yok, hati-hati, Mi!" Elisa melambaikan tangannya pada Asmi yang sudah masuk. Menatap nyalang kepergian mobil hitam itu, "kamu lagi memulai permainan hati, Mi. Aku harap semua sesuai harapan dan keinginan hati kamu nantinya," gumam Elisa. Ia bukan tidak tau dengan perjodohan Asmi dan raden Agah, namun sebagai seorang sahabat, Elisa merasa kasihan dengan Asmi dan tak bisa berbuat banyak selain dari mengikuti kemauan Asmi.



*Seseorang yang terkekang memang akan berontak pada waktunya, begitupun Asmi*.



Asmi memandang jalanan dari balik kaca jendela mobil, "amih marah ya mang?"



Mang Dedi menatap Asmi dari rear vision dan menyunggingkan senyum seraya terkekeh, "udah biasa."



Asmi terkekeh sumbang, "iya bener udah biasa. Ijin aja masih dimarahin, apalagi kalo engga..." gumamnya berceloteh. Mang Dedi kembali memandang getir, "yang sabar ya den..."



*Sabar*.....


*Sampai kapan....bukankah kesabaran manusia ada batasnya*?



Kemudian gadis itu kembali memandang keluar, dan kilasan memory yang diingatnya adalah kebersamaan singkat tadi, Asmi tersenyum sendiri di tempatnya, pipinya menghangat manakala mengingat ia yang memeluk Alvaro.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2