Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 50. INTIMIDASI AMIH


__ADS_3

Asmi kembali ke dalam setelah hubungannya bersama Agah jauh lebih baik.


Kedua alisnya menempatkan diri di level paling atas dari wajah Asmi melihat sakadang kancil (seekor kancil) sedang mencuri cireng miliknya yang diberi ibun Ganis.


"Aduhhh nikmatnya---nyuri!!" Asmi menepuk punggung Candra keras yang sedang menyuapkan rujak cireng ke dalam mulut.


"Enak, Mi. Beli dimana?"


Asmi memanjangkan lehernya ke arah kotak makan, menyisakan 2 cireng tersisa.


"Idihhh! Cireng Asmi diabisin!!!! Apihhhh!" jeritnya memukul-mukul punggung Candra, sontak lelaki itu bangun dari duduknya dan menahan diri dari pukulan-pukulan Asmi sambil tertawa, "beli lagi weh jig, nih aa kasih uangnya..."


"Ngga mauuuu! Itu mah ngga ada yang jual!" ketusnya menggerutu marah. "Apihh!" adunya.


"Apa sih, masih ada keluarga Raden Mas Harya di depan pada berisik aja!" Bajra melangkah menghampiri keduanya yang bak kucing dan an jink sembari mengunyah dan melahap potongan cireng juga.


"Tuh! Tuh! Bukan aa aja yang makan, a Bajra juga!" tunjuk Candra tak mau disalahkan sendiri. Lantas tatapan Asmi yang begitu tajam itu terlempar tepat di tangan Bajra, "aa ihhh! Cireng Asmi!"


"Oh, ini punya neng? Enak neng, beliin lagi---dimana belinya?"


"Aaaaa ih! Itu teh dapet dikasih dari ibunnya Alva! Bukan dapet beli," sengit Asmi.


"Alva, Alvaro?" tanya Bajra.


Asmi merebut kotak makan dari meja makan lalu menutupnya cepat-cepat, "cireng Asmiiiiii...."


"Minta dibikinin aja lagi sama ibunya Alva, Mi...pesen-pesen!"


Blugh!


Asmi masuk ke dalam kamarnya, niat hati menikmati kembali cireng itu setelah bicara dengan Agah, tapi kenyataannya menyakitkan.


"Alvaro?" Candra melirik Bajra, bertanya hal yang ia tertinggal tau.


"Alvaro, pacar Asmi..." jawab Bajra singkat, mengambil garis besar antara hubungan Asmi dan Alva.


"Jadi penasaran, cowok mana yang nyawanya banyak, sampe berani deketin Asmi. Amih sama apih?" tanya Candra menuangkan air putih di gelasnya.


"Biasa aja, kaya mahasiswa umumnya." Jawab Bajra datar seakan tak terlalu peduli, "apih terima-terima saja, apapun yang bikin Asmi membaik dan bahagia apih oke." Jelasnya membuat Candra mengangguk setuju, Katresna pun bukan dari kalangan ningrat. Namun Apih merestui mereka.


"Kalo amih..." Bajra menjeda ucapannya, karena ia yakin adiknya itu pasti paham dengan watak amih mereka.


"Tau." tukas Candra. Pasalnya kejadian ini pun terjadi saat ia memutuskan memilih Katresna, awalnya amih menentang hubungannya dan Katresna.


"Mungkin untuk kasus Asmi, amih akan sangat kecewa ketimbang waktu kamu. Karena ini artinya amih gagal menjalin kekeluargaan dengan keluarga raden ajeng Kutamaya." Lanjut Bajra.


Candra menelan air minumnya sulit, lalu mendorong gelasnya agak ke depan agar tak tersenggol saat ia melipat kedua tangan di meja.


"Amih terlalu mengkhawatirkan hal yang belum terjadi." Jawab Candra setuju dengan Asmi.


"Apa amih setuju sama Alva?" tanya Candra, Bajra menatap adiknya itu, "Asmi dan Alva masih terlalu muda untuk ke jenjang yang lebih serius, hubungan mereka juga masih terlalu awal untuk meminta persetujuan amih."


Candra melipat bibir ke dalam begitu asam, "well, kita lihat saja lanjutannya seperti apa!"



Alva masih di atas motornya, menunggu Asmi keluar dari rumah. Tapi yang ia temui justru ambu Lilis menemuinya, "punteun aden, dipanggil raden apih buat masuk ke dalam," angguknya lungguh.



Alva menautkan alis tebal hitamnya, "saya bu?"



"Muhun aden."



Alva terpaksa membuka helmnya dan turun dari motor. Sedikit merapikan rambutnya, Alva kemudian berjalan mengikuti arah langkah ambu Lilis.



Asmi duduk dalam diam, di sebrangnya amih sudah memasang wajah-wajah kecut juga topeng barong, seram, galak, menakutkan dan merah.

__ADS_1



"Taruhan sama aa, amih pergi atau bertahan?" tanya Candra pada Katresna berbisik pelan bak bisikan setan.



"Ish, dasar anak ngga tau diri. Menurut aku mah amih pergi." Jawab Katresna terkekeh.



Alvaro berjalan ke arah meja makan karena ambu Lilis menggiringnya kesana.



"Hay..." Asmi melambaikan tangan pelan dan bergumam meskipun langsung mengatupkan mulutnya.



Alva cukup dibuat kaget dengan itu, terang saja ia digiring masuk ke area ruang makan disaat para penghuninya tengah bersiap sarapan bersama, macam lalat yang tak diinginkan kehadirannya dan siap untuk dipukul hingga gepeng.



Amih menghirup nafas kasar saat Alva masuk.



"Alva, duduk dulu. Ikut sarapan bareng-bareng, ngga etis nungguin di depan sementara yang punya rumah enak-enak sarapan." Ajak Apih mempersilahkan Alvaro.



"Sok duduk," Katresna menggeser kursi untuk Alva di samping Asmi.



"Ngga usah pak, ngga apa-apa...barusan saya sudah---"



"Jangan nolak, Asmi juga kalo di rumah kamu sering nyusahin juga, sering numpan makan kan, dia?"




"Udahlah pih, Alva juga ngga mau kan? Ngga usah dipaksa!" amih buka suara membuat suasana semakin awkward dan panas mirip di neraka.



Bukannya mengangguk merasa terselamatkan, Alva justru duduk di samping Asmi.



Asmi terkekeh lalu memiringkan kepala, "belum pernah ngerasain kan rasanya sarapan di bawah pengawasan mata daj jal?" bisiknya pelan, sontak Sasi tersedak dengan kalimat itu dan menyemburkan air yang sedang diteguknya.



"Neng, yang sopan kalo lagi makan?!" mata amih langsung menyerang tajam pada Sasi, "teh Asminya amih!" tuduhnya.



"Apa ih?! Nyalahin!" gidik Asmi, si usil dan nyablak telah kembali.



*Dasar menak gelo*, Alva menggelengkan kepalanya.



"Semester berapa?" tanya amih sengit dan angkuh.



"Sudah masuk semester 5," jawab Alva, ia begitu tenang, datar tanpa grogi atau terbata.

__ADS_1



"Oh, baru juga." gumamnya meremehkan lalu minum. Alva tidak berniat mengambil nasi dari sana.



"Kang, mau sarapan sama apa?" tanya Asmi.



Alva menggeleng, "engga usah. Udah sarapan barusan."



"Tapi disini belum kan?" Nawang tersenyum. Amih menatap mendelik dengan postur tegak tak tergoyahkan.



"Rumah dimana?" tanya amih lagi.



"Daerah Cipaganti," jawab Alva lagi singkat, hanya melihat Asmi melahap nasinya tanpa bersuara.



"Orangtua kerja apa?" tanya amih lagi, menghentikan kunyahan apih, Bajra, bahkan Asmi.



"Mih!"



"Kenapa? Ngga salah kan cuma nanya!" jawab amih, Asmi langsung menatap nyalang Alva yang mengangguk tenang, seolah ia tak gampang terintimidasi.



"Ayah saya hanya *seseorang biasa*, pekerja keras sudah sejak di bangku sekolah, apapun dia kerjakan, berwirausaha juga untuk menghidupi ibu dan adiknya. Ibu saya juga cuma ibu rumah tangga yang bantu ayah ngurus usaha kecil-kecilan." Jawab Alvaro diangguki amih, seakan-akan ia sedang menilai Alvaro dari berbagai segi.



"Kamu kerja juga?" tanya amih semakin dalam dan membuat semua tak nyaman, Asmi sudah sejak tadi menaruh sendoknya mendadak kenyang.



"Serabutan." Imbuh Alvaro sukses membuat amih mengulas senyuman miring.



Asmi menatap amih sebal, "Asmi udah selesai. Kalo gitu Asmi sama kang Alva berangkat dulu!"



"Neng, mang Dedi nganggur kalo kamu dijemput terus!"



"Kalo gitu amih aja yang dianter mang Dedi, biar mang Dedi ngga nganggur...." jawab Asmi dingin. Apih menggaruk kepalanya, setelah kejadian kemarin kini Asmi dan amih harus kembali berseteru.



Alva akhirnya merasakan duduk di meja makan begitu menegangkan bertaruh nyawa, tapi berkat ocehan Asmi tadi hampir semua yang mendengarnya berujung ngilu bagian perut karena harus menahan tawa sepanjang sarapan.


Dapat Alva lihat wajah dan sorot tatapan tak suka dari amih Asmi padanya. Mungkin, jalanan terjal yang akan dilaluinya sudah dimulai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2