
"Ibunnn!" panggil Asmi seraya mengetuk pintu rumah setengah kaca, ciri khas rumah tua di masa kolonial Belanda. Gadis itu bahkan meninggalkan Alvaro yang kini masih memarkirkan motornya di halaman.
Asmi menerawang dari kaca yang tertutup gorden setipis saringan tahu ke area dalam, "ko sepi?"
Alvaro baru saja menjejak teras lalu mencoba membuka handle pintu yang ternyata terkunci. Kemudian ia berjinjit mencari kunci di atas meteran listrik dan menemukan kunci rumah
Asmi sampai mendongak terkejut, karena posisinya yang tinggi.
Klek!
Alvaro membuka pintu, membiarkan Asmi masuk, "ibun kemana? Kok dikunci?"
"Kayanya lagi ke luar," jawab Alvaro menaruh tas dan membuka sepatu.
Asmi melakukan hal yang sama dengan Alva, lalu duduk di sofa depan. Pemuda itu mengecek ponsel dan ternyata benar satu notifikasi masuk sejak tadi, hanya saja dirinya memang selalu menyetel ponsel dalam mode silent membuat notifikasi itu baru saja ia ketahui.
"Ibun lagi ngga di rumah, lagi ke rumah opa." Alva berujar, yang sontak saja membuat Asmi merengut, "yahhh, kok pergi sii...terus disini ada siapa? Bagas?" tanya Asmi.
"Ada kita," jawab Alva ke belakang demi mengambil sebotol minuman dingin untuk Asmi.
Gadis itu membulatkan matanya menatap Alva horor, "kita?! Cuma berdua?!" serunya diangguki Alva dengan santai, "kenapa?"
Percayalah, Asmi langsung memboyong tasnya keluar cepat-cepat dan duduk di kursi teras.
"Disini aja kang!" teriaknya, "sekalian bawain teh dinginnya buat Asmi!" titahnya, right! It's Rashmi!
Alva mengehkeh dengan gelengan kepala, gadis ini sungguh tak serius saat memintanya untuk menghamili Asmi. Hanya emosi sesaat yang membludak saking ia merasa kecewa, marah, dan kesal.
Alva keluar dengan sendal jepit dan membawa 2 botol teh manis dingin ia juga mengeluarkan satu box rokok lalu asbak, "sorry kalo gue ngerokok, soalnya ngga bisa ditahan lagi!"
Asmi menggeleng, "ngga apa-apa."
"Disini ngga ada cemilan, ibun ke rumah opa. Jadi ngga bikin apapun. Mau gue beliin cemilan ke minimarket depan?"
Asmi tentu saja mengangguk, "tapi Asmi ikut!"
"Lo ngikut mulu kaya daki," cibir Alva ditertawai Asmi, "seumur hidup baru kali ini Asmi disebut daki! Hahaha!"
"Ngga apa-apalah disebut daki sama kuman!" jawabnya tak mau kalah.
"Tunggu, gue ambil kunci motor dulu!" Alvaro mengambil kunci motornya ke dalam. Asmi memanjangkan lehernya ke dalam gawang pintu dan menaruh tasnya di sofa, takut hilang. Kemudia ia mengekor di belakang Alva seperti yang dibilang Alvaro, gadis ini mirip daki.
Karena miss'nya komunikasi, Asmi yang benar-benar berada di belakang Alva dalam jarak minim harus merasakan terinjak dan tertubruk badan Alva, saat pemuda ini membalikan badan tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Aduhh akang ih! Pake manuver dulu kek pake aba-aba dulu gitu!" sewotnya.
"Sorry--sorry, abisnya jarak lo deket-deket amat, keinjek kan! Sakit ngga?" tanyanya tertawa kecil, membuat bibir Asmi semakin di depan kaya slogan motor.
"Yang bener aja?! Untung kaki Asmi ngga gepeng! Idung Asmi langsung pesek gini euy!"
Alva tergelak dengan pengakuan Asmi, "idung lo emang pesek dari awal ketemu, daki!"
Matanya menatap sengit, "wah body shaming nih!" tunjuk Asmi menusuk dadha Alva.
Alva naik dan memutar kunci motor dengan masih menggelengkan kepalanya, hanya pengakuan kecil nan receh tapi mampu membuatnya geli. Dan Asmi, ikut tertawa...baru kali ini ia melihat tawa Alvaro. Wajah jutek yang biasa ditampilkan di luar begitu hangat saat ini.
"Yuk naik," pintanya.
Alvaro melajukan motor pelan keluar rumah tanpa helm, hanya minimarket di depan perumahan tak butuh waktu lama dan jarak jauh.
Tapi baru saja melewati beberapa rumah dari kediaman Alvaro, Asmi justru meminta berhenti.
"Kang, stop! Beli cemilannya disini aja!" tunjuknya pada sebuah rumah yang sengaja membuka garasi rumahnya sebagai warung dadakan.
...Sedia :...
...Basreng...
...Karedok basreng...
...Seblak...
...Minuman dingin...
Dengan etalase sederhana dan beberapa rak jajanan anak kecil tertata rapi disana ber-renceng-renceng.
"Lo mau jajan disini? Kaya anak sd?" tanya Alva memutar kepala ke sisi Asmi.
Asmi memiringkan kepalanya, "lah emang kenapa?! Itu dijual kan?! Kecuali kalo sama ibunya dilarang dibeli, baru Asmi ngga mau!!"
Jawaban pintar! Alva menggelengkan kepalanya kembali lalu menepikan masuk ke sana, "ya udah lo aja yang beli, gue nunggu disini. Ada ngga duitnya?" Alva merogoh saku dan memberikan uang selembar merah pada Asmi.
Asmi mendorong itu, "Asmi punya uang sendiri!"
"Tapi gue tuan rumah," jawab Alva. Asmi menatap menyipitkan matanya dengan raut wajah sengit nan judes ciri khas Asmi, namun sedetik kemudian ia merubah raut wajahnya jadi menggemaskan, "ya udah! Ini akang kuman loh yang maksa! Akang maksa Asmi terima!" ia merebut uang itu dari tangan Alva.
"Ikhlas ya?! Jazakallah akang kuman!" Asmi segera masuk dan memilih jajanan yang ia mau, "ibu, Asmi mau basreng..." gadis itu mengantei bersama anak-anak yang sedang membeli.
__ADS_1
Ia juga memilih jajanan lain, diantara semua jajanan yang ada disana yang dipilihnya justru makanan receh, gummy jelly, keripik murah meriah dengan kadar minyak dan bubuk cabe banyak, roti bagelen murah, minuman seduh, dan masih banyak ciki-cikian sumber micin.
Alva melihat gadis menak yang seperti kuda baru saja lepas dari kandang, begitu bebas, bahagia, dan menggemaskan, tak seperti Asmi di acara Seren Taun.
Alva mengehkeh tiada henti, melihat Asmi heboh dengan jajanan yang dipegang, "jadi sebenernya, kamu tuh mau kesini mau ketemu ibun atau mau jajan?" tanya Alva yang tak lagi menggunakan kata lo.
"Mau....mau kamu," Asmi menyemburkan tawanya.
"Tadinya mau belajar main gitar sama ibun, tapi ibun ngga ada." Jelas Asmi. Motor memasuki halaman rumah Alvaro, dan Asmi duduk di teras lagi, gadis itu tak sabar menikmati jajanan miliknya yang baru saja dibeli.
"Kamu ngga pernah jajan kaya beginian? Oh iya, aku lupa masa sih menak jajan beginian!" cibir Alva.
Alis Asmi terangkat demi mendengar itu, "garis bawahi, bukan ngga pernah tapi jarang!" jawab Asmi.
Alva masuk ke dalam lalu membawa gitar miliknya dan duduk di kursi samping Asmi, "kamu mau belajar gitar kan?"
Asmi menggeser sedikit kursinya agar lebih dekat dengan Alva, sambil mulut yang suhah-suhah nikmatin basreng.
"Mau,"
"Pernah bawain instrumen senar gini?" tanya pemuda ini, Asmi mengangguk, "pernah, tapi kecapi."
"Ngga beda jauh, bedanya sih kalo kecapi pake tangga nada pentatonis, da-mi-na-ti-la-da. Kalo gitar udah modern diatonis, justru menurutku, yang tradisional itu lebih susah. Gimana kalo barter?" tawar Alva. Gadis itu mengunyah makanannya dan sesekali minum.
"Barter apa?"
"Kamu belajar instrumen modern, aku belajar instrumen tradisional."
"Oke. Tapi Asmi guru yang galak loh!" jawabnya.
"Yakin?" cibir Alva meragukan. Lelaki ini menatap Asmi lekat-lekat selagi gadis itu nyemil dengan riang.
...Rashmi Sundari Kertawidjaja, sepertinya aku tertarik........
Alvaro Karunasankara Ganendra....
.
.
.
.
__ADS_1
.