Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 67. NONTON


__ADS_3

Alvaro dan Asmi masih mengantre. Cukup ramai mengular, tapi tak membuat Alvaro dan Asmi sampai gelar tikar dan bawa rantang disana.


"Film action aja lah," tunjuk Alva dengan dagunya ke arah layar televisi dimana judul film yang sedang ditayangkan hari itu beserta jamnya terpampang.


"Ngga mau horor aja?!" tanya nya mendongak dengan alisnya naik turun.


"Kaya yang berani aja, nanti kamu pipis di celana," kekeh Alva membuat matanya sipit, tangannya bahkan sudah menjiwir hidung Asmi, "biar mancung!"


Asmi meninju keras lengan Alva yang dipeluknya, "sakit! Enak aja! Asmi ngga penakut!" keduanya maju beberapa langkah saat pengunjung di depan mereka selesai melakukan pembelian tiket.


Setelah drama perdebatan sengit, sampe-sampe kasirnya nyiapin tameng takut kena imbas dari perdebatan Alva dan Asmi. Akhirnya sudah diputuskan, keduanya menonton film kartun.


Alvaro tertawa, sepanjang perjalanan hidupnya mulai sejak di aqiqahin sampe sekarang udah pinter kawin, Alvaro belum pernah merasakan hal selucu ini. Nonton kartun bareng para bocah dan bocah ketemu gede.


"Berasa lagi mau masuk playgroup lagi engga sih ini, kang?" tanya Asmi saat studio 3 didominasi oleh krucil-krucil yang ingin menonton judul film yang sama dengan Alva dan Asmi.


"Emhhh, berasa ngangon bocah bareng bocah!"


Asmi tertawa, "yahhhh, jatoh dong harga diri premannya, anak underground jadi anak playground!" ia kembali tertawa sambil membawa pop corn dan minuman masuk ke dalam studio.


Alvaro sampai menjaga langkahnya saat dengan hebohnya anak-anak yang didampingi orangtuanya, juga anak-anak usia sd berlarian masuk dan mencari tempat duduk, kenapa juga ia harus kepancing emosi dan hasutan Asmi.


"Misi a, tétéh !" ijin mereka mendahului, ada pula yang karena tertinggal rombongan sampe nekat jalan tengah, iya jalan tengah! memisahkan Asmi dan Alva.


"Eehhhh, téké gera!" geram Alvaro ditertawai Asmi. (jitak juga nih!)


"Kamu ih, galak! Gimana nanti kalo sama anak sendiri?!"


"Aku rebus!" Asmi meledakan tawanya dengan jawaban Alvaro.


"Ku bikin jadi baso!" tambahnya, semakin membuat Asmi tertawa, "ganteng-ganteng saravvv!" hardiknya.


Moment yang seharusnya romantis penuh kalimat puitis berujung komedi begini. Alvaro itu, bagaimana Asmi menjelaskannya. Dingin, begitu jutek, tapi----hahaha entahlah! Asmi justru lebih sering tertawa dengannya, mirip lagi nonton stand up comedy.


Asmi dan Alvaro duduk di kursinya masing-masing. Asmi kembali tertawa ketika pandangan Alva justru lebih horor saat menatap tingkah anak-anak yang berada disana terlebih dibawah usia 5 tahun begitu pecicilan dan luar biasa aktifnya, berisik!


"Berasa pengen nyekek ya, wa?" bisik Asmi cengengesan.

__ADS_1


Lampu mulai redup, anak-anak riuh berseru begitu excited termasuk Asmi dan Alva. Jika mereka excited karena film siap dimulai, lain halnya dengan Asmi dan Alvaro.


"Ini yang aku tunggu, lampunya mati!" senyum devil Alva tercipta seraya mengecup punggung tangan Asmi yang digenggamnya.


Dilatari dengan film kartun yang entah bagaimana ceritanya, entah siapakah pemeran utamanya karena keduanya bukan asik menonton namun asik bersyahdu-syahdu ria, menumpahkan semua rasa rindu yang nanti akan bersarang selama berbulan-bulan.


Jarak memang dekat, namun Alvaro tak selalu bisa menemui Asmi berhubung ia pun akan tinggal disana selama pelaksanaan KKN.


"Berangkat sama mang Dedi aja kaya biasa, atau mang Eka." Alva menyentuh dan menelusuri lekukan hidung Asmi dengan telunjuknya.


"Jangan ikut atau nebeng sama kang Agah, dia masih suka kamu." lanjutnya lagi beradu suara dengan pemeran di layar.


Asmi menyedot minuman bersoda miliknya, "jangan ngerokok di tempat sepi..." ia menyentuh rahang Alva dengan tangan yang bebas bekas mengambil minum.


"Kenapa? Ada hal tabu yang perlu kutau?" tanya Alva. Asmi menggeleng sepaket senyuman usil, "nanti ketemu cewek lain yang siap nyeruduk dadha kamu!"


Tak peduli dengan situasi sekitar yang dipenuhi bocil, adrenalinnya memicu Alva untuk mengecup hidung yang dijuluki si pesek itu.


Cup!


"Akang, jangan me sum disini ih!"


"Ini ceritanya tentang apa sih? Geje banget!" omel Asmi.


"Si kancil," jawab Alva sekenanya, jelas-jelas ini adalah cerita dunia fiksi ilmiah bukan fabel. Asmi meledakan tawanya membuat orang-orang sekelilingnya menoleh seketika, jelas mereka menoleh! Adegan film lagi sedih kok dia ngakak sendiri.


Asmi menutup mulutnya dan melipat bibir kencang-kencang.


Hingga film berakhir, mungkin hanya mereka yang tak tau inti dari cerita yang baru saja ditonton, mubadzir! Numpang ketawa mah, di alun-alun kota juga bisa, gratis pula! Ngga mesti di bioskop.


Selanjutnya, Asmi dan Alvaro masuk ke dalam bilik foto box yang masih berada di mall tersebut. Dengan gaya nyeleneh, keduanya mengabadikan potret diri dalam selembar film foto dengan beberapa jepretan foto.


"Apih udah bilang sama kamu?" tanya Alva kini serius. Asmi menoleh mendongak, kini keduanya memutuskan untuk pulang.


"Tentang?" Asmi balik bertanya, sebenarnya hatinya sudah berdegup kencang setengah hidup. Namun untuk memastikan, biar ngga malu di kemudian menit, ia memilih bertanya pada Alvaro. Khawatir disangka kepedean.


"Lamaran," singkatnya.

__ADS_1


Dan, ahhhhh! Meleleh hati Asmi, lumerrrr kakinya terasa tak menjejak tanah.


"Mi, kemarin aku pernah nanya sama kamu. Kamu mau kuseriusin...terus jawaban kamu adalah iya."


"Terus?" tanya Asmi lagi.


"Terus waktu ke rumah kamu, aku sama mpap---ibun ngomong itu lagi sama apih kamu, tapi apih kamu belum kasih jawabannya,"


"Apa alesannya?" tanya Asmi.


"Apih bilang, kita masih sama-sama muda. Biarkan semua berjalan seperti air mengalir, apih menyerahkan semua keputusan di kamu, karena nantinya kamu yang akan menjalani."


Langkah keduanya kini terhenti setelah sampai di pelataran mall, angin yang bertiup cukup menerbangkan surai panjang bergelombang Asmi.


Langit malam seolah memancing Alvaro untuk melakukan hal sesuai intuisinya.


"Rashmi Sundari, will you marry me?"


Begini rasanya jika dilamar oleh seseorang yang disayangi? Asmi mengerjap membawa serta rasa haru. Tak pernah terpikirkan olehnya akan secepat ini hubungannya dan Alvaro naik level.


Asmi masih menatap Alvaro dengan rasa haru, dan perasaan yang membuncah namun tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, ia hanya bisa berlinang dan berjinjit meraih Alvaro ke dalam pelukannya, meski nantinya ia akan berakhir di klinik patah tulang, karena lehernya yang kecengklak.


"I will..." bisiknya.


Diantara ribuan manusia, dan kerlap-kerlip bintang di langit atmosfer bumi, keduanya berjanji untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius, tak ada masa pacaran selama masa bercocok tanam apalagi harus nunggu sampe pohon karet bisa dipanen.


Bertemu, bertengkar, lalu berakhir di pelaminan......


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2