Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 28. HUKUMAN ASMI


__ADS_3

Ibun Ganis mengganti tumpuan kakinya, kaki kanan ditumpukan di atas kaki kiri lalu 5 menit kemudian sebaliknya dan begitu seterusnya, kalo boleh Ganis akan melakukan itu sambil nyemilin bunga kantil sebakul.


"Bisa ngga kakinya diem?" tanya Wira terlalu rajin memperhatikan kaki semulus pualam di usia yang sudah tidak muda lagi itu, terlihat menggiurkan dan tersodor di depan mata. Bukan apa-apa, masalahnya di depan kedua bujangan dan setumpuk pekerjaan, membuat Wira ingin membedong saja kaki pecicilan Ganis dengan kain bedong bayi baru lahir.


"Kertawidjaja itu yang punya pabrik teh tua di Ciwidey kalo ngga salah, salah satu keluarga menak yang ada di Bandung, bener kan bang Nat?" tanya Ganis diangguki Wira.


"Ibun sama mpap tau?" bukan Alvaro yang bertanya melainkan Bagas yang ikut bergabung sambil nyemil dan nonton acara olahraga. Ia cukup tertarik dengan sesuatu yang tidak biasa, macam Rashmi.


"Tau." Jawab Wira singkat.


"Aduhhh, cintaku nyangkut di menak kalo gini mah!" seru Ganis berseloroh ringan seraya tertawa renyah menggoda Alvaro.


"Kamu ada hubungan apa sama Rashmi?" tanya Wira to the point dan memang selalu begitu setiap kali bicara, tak ada basa basi blekok yang bikin otak muter dari Jakarta ke Depok balik lagi ke Jakarta pada Alva, yang sejak tadi diam saja menonton tv. Padahal penghuni lain sedang meributkan hubungan antara dirinya dan si menak manja, Asmi.


Alva melirik ayahnya, "ngga ada apa-apa." Ia menghela nafas tak yakin, kini perasaannya sendiri tengah berperang atas ucapannya, mungkin sedang saling ketapel atau lempar granat di dalam sana. Mulut bisa berbohong namun hati tak pandai berkilah.


"Mpap ngga akan larang kamu untuk dekat dengan siapapun termasuk Asmi, cuma kamu harus hati-hati jika bergaul dengan ningrat, apalagi sampai suka, harus siap mental dan modal...." seperti tau dengan isi hati putra sulungnya, Wira memberikan petuah saktinya, sambil melirik-lirik manja pada istrinya.


Bukan ia ingin membuat Alvaro berkecil hati, hanya saja mereka seperti memiliki aturan tersendiri dan itu mutlak, apalagi pasal pergaulan dan jodoh, sudah pasti harus melihat dari silsilah keluarga dan status sosial. Wira hanya tak ingin Alva frustasi saat ia terlanjur sayang pada Rashmi, makanya si mpap ini memberi lampu oranye terlebih dahulu pada sang putra.


"Jangan sampai lo mainin bang, bisa-bisa lo berurusan sama hukum!" ujar Bagas mewanti-wanti kakaknya, pasalnya yang sudah-sudah hubungan Alvaro kandas berujung si gadis menangis diputus atau ditolak Alva.


Alva sendiri tau resikonya sejak awal menaruh hati pada Rashmi tanpa harus keluarganya beritahu, apakah ia harus menyesal dan menyalahkan takdir sekarang? Kenapa harus pada Rashmi hatinya memberikan respon nyaman juga degupan kencang?


Asmi pulang benar-benar kesorean, sampai-sampai kumandang adzan magrib saja terdengar ketika Asmi masih di jalan.



"Macet banget ya mang, ck." berkali-kali Asmi berdecak sambil melihat ke arah kaca depan mobil mencari tau kenapa jalanan Bandung bisa macet begini, apakah cucunya si komo lewat? Amih bahkan sudah menghubunginya beberapa kali sambil ngomel-ngomel bikin kuping mendadak co ngean.



Salahnya yang terlalu lama dan betah bersama Alvaro, Asmi tak yakin jika setelah ini, amih akan memberinya ijin keluar lagi.



Dan benar saja, dimana hari gelap mobil baru memasuki pekarangan rumah, Asmi menghela nafasnya auto kena dakwah 7 mulud.


Wajah amih benar-benar tak bersahabat, "assalamu'alaikum amihku sayang! Makasih loh Asmi sampe disambut gini! Karpet merahnya mana?!" Asmi nyengir kuda menampilkan gigi-gigi rapinya di depan gawang pintu. Kali ini bukan hanya amih, namun apih ikut keluar.


"Neng Asmi darimana? Ngga biasanya ngampus sampe semalem ini, hampir 12 jam?!" apih menjatuhkan pandangan pada arloji di tangan.


"Anuu pih, tadi----"


Grepp!


Amih menjewer kuping putri bandel itu, hingga ia mengaduh, "bagus! Ngga usah pulang sekalian! Bukan karpet merah, tapi kuping merah," amih menarik telinga Asmi masuk ke dalam.


"Aduh mih, sakit---sakit, ampun!"


Apih menggelengkan kepalanya, sementara Sasi yang tengah mengaji di pendopo rumah sampai menghentikan bacaan qur'annya demi mendengar rintihan Asmi dan menoleh ke belakang.


"Ayok den rara, ngajinya diterusin..." imbuh guru mengaji Sasi.


Asmi tau resikonya melanggar begini, ia sudah siap dengan kemben dan jariknya lalu masuk ke dalam kolam dan menenggelamkan diri sebatas dadha hingga batas waktu yang ditentukan amih.


Sebenarnya Raden Amar selaku ayah tak cukup tega, "mih---udahlah, siapa tau memang Asmi mengerjakan tugas kuliah."


Amih menggeleng, "sejak lahir Asmi sudah tau kodratnya, ia juga sudah cukup besar untuk menyadari kesalahan juga resiko, amih memang kasih toleransi tapi neng Asmi tetap melanggar, neng bilang sore tapi ini?! Apih bisa liat sendiri, amih cuma ingin menerapkan sikap disiplin pada Asmi! Biar ngga bersikap seenaknya, gimana nanti kalo udah jadi bagian dari keluarga Raden Mas Harya Enjan?! " tatapannya killer bak pemeran pembunuh dalam film bergenre thriller.


Yah, jika sudah begini....apih hanya bisa menepuk pasrah, "kalau neng Asmi kenapa-napa, itu tanggung jawab amih!" tunjuk apih dan berlalu masuk.


Amih mendekat ke arah kolam, "hukuman sesuai keterlambatan neng, maafin amih....ini buat kebaikan neng sendiri, harusnya neng Asmi paham kalau amih tidak main-main." ucapnya.


Asmi benar-benar tidak berkutik lagi, tanpa membalas tatapan amih dan orang-orang sekitarnya bahkan para mamang dan bibi yang menatapnya getir, Asmi hanya mengangguk paham.


Asmi kuat! Asmi pasti kuat!


Matanya mulai berembun, karena kilasan ingatan bersama Alvaro dan keluarga juga teman-teman terlukis jelas berputar bak rewind sebuah kaset. Ia bahkan menyeror air di hidungnya merindukan mereka.


"Kang kuman, ibun...." gumamnya.


"Den rara," gumam bi Lilis dari gawang dapur.



Asmi cukup menggigil kedinginan, ia terlambat sekitar 1,5 jam dari janjinya pada amih, itu artinya ia harus berendam di kolam ini bersama ikan-ikan selama itu pula.


Kulit tangannya sudah keriput, ia bahkan belum makan malam mengingat waktu sudah pukul 20.00 wib.


Katresna yang sudah pulang bersama Nawang bahkan sampai tak mau melihat dan mengobrol ini, saat Sasi mencuri-curi sambungan panggilan ponsel pada kedua kakaknya untuk mengadu.


"Aa---" tatapnya getir pada Candra, dari ke-4 anak amih dan apih, terutaman perempuan, Asmi memang yang paling ngeyel dan sering melanggar aturan rumah.


"A, ngomong sama amih-apih atuh, jangan kaya gini....Asmi bisa-bisa stress, psikologinya bisa keganggu, kamu mau adek kamu kena mental?!" Nawang sampai berapi-api saking khawatirnya dengan aturan konyol yang amih terapkan.

__ADS_1


Bajra menelan salivanya sulit, Asmi memang selalu membuatnya galau, serba salah!


"Hukuman ngga harus kaya gitu, Asmi bisa sakit, a! Ngomong atuh! Mental, karakter, penerimaan orang tuh beda-beda, Asmi perempuan jangan disamain sama cara didik kamu sama Candra," Nawang mengguncangkan lengan Bajra.


"Seharusnya Asmi tau amih bakal kaya gini, ini bukan kali pertama buat Asmi," jawab Bajra, ia dan Candra pun pernah merasakan hukuman amih dan apih, Candra paling sering, dan see----kini ia dan Candra bisa sampai di titik ini karena didikan amih dan apih.



"Lis,"


"Den," Lilis menunduk dalam saat majikannya menghampiri.


"Tolong buatkan bandrek untuk Asmi, kasih diam-diam tanpa sepengetahuan istri saya," ucap apih diangguki cepat oleh Lilis.


"Muhun den,"


Asmi melirik bi Lilis dan Eka, "den rara---" bisik keduanya, membawa nampan berisi bandrek hangat. Asmi tersenyum kaku di dalam kolam.


"Ambu sama mamang bro ngapain kesini, nanti dimarahin amih?"


Dengan mengendap-endap keduanya mendekat, "diminum dulu den, biar anget badannya ngga masuk angin! Nanti kalo udah selesai, biar ambu pijitin sama gosokin badannya pake minyak kayu putih," bisiknya. Eka berlari kecil sambil mengawasi sekitar membawa segelas bandrek hangat.


Asmi ikut celingukan dan menerima itu lalu meminumnya, "emhhh, enak ! Anget, makasih mamang bro, ambu." Asmi tersenyum.


Dari dalam sepasang mata kilat melihat adegan curi-curi itu, namun ia membiarkan saja.


"Ning, angetin lagi temen nasi buat Asmi. Biar pas nanti abis mandi, makanannya anget," titah amih pada ambu lainnya di dapur seraya memperhatikan Eka dan Lilis yang selesai menyuplai energi hangat untuk Asmi.


"Iya raden," angguk Ningsih.




"Bulan besok bagian anak Rampes euy yang bikin project, bagusnya apa ya?" Sony berujar.



"Kalo tentang sejarah rajah *kumaha tah*?" usul Filman, alisnya terangkat dengan tangan melambai ke arah gerbang belakang, "Ver! Sehat lo?!" Veranita baru saja masuk kampus kembali setelah beberapa hari absen sakit, ia bukanlah kepanitiaan Rampes, hanya salah satu anggotanya saja. (**gimana**?)




"Saha raden rara? Wah, jangan-jangan crush baru euy! Kenalan sama ningrat atau emang namanya raden rara?!" imbuh Saka menimpali.



"Ada, entar gue kirim ke email." Jawabnya, ucapan Vera semakin mengingatkannya pada Asmi, jika hari ini ia belum melihat si gadis cantik-cantik pesek itu, sebenarnya tidak terlalu pesek, hanya saja jika dibandingkan dengan Alva, hidung Asmi memang lebih sedikit menjorok ke dalam.



"Ya ningrat asli atuh, Ka! Masa di acara begitu ningrat boongan!" jawab Vera.



"Oh kirain," balas Saka.



Alva memang tak sekontras itu mencari Asmi, namun sejak tadi matanya bergerak gelisah meneliti sekeliling, ia bahkan tak sungkan mengambil arah masuk ke kampus lewat gerbang depan dimana gedung fakultas Asmi ada disana, padahal biasanya Alva akan langsung mengambil parkiran dekat fakultas seni budaya.



Namun hasilnya nihil, gadis itu sepertinya sudah masuk kelas atau justru belum datang.



Anjar bergabung dengan menggandeng Cintya.



"Duh, ini...pasangan baru. Masih anget-angetnya kaya awug dadakan! Kemana-mana gandengan, ngga ada kamu aku mati!" ujar Saka mencibir.



"Kalo gue ngga ada duit aku mati, ngga ada kamu cari yang baru!" tawa Sony ditertawai yang lain termasuk Alva.



Cintya terkekeh seiring wajahnya yang merah merona karena digoda, "nganterin ayang ke fakultas etno...ntar si Anjar nganterin si Cintya...gitu weh seterusnya jadi ngga kelar-kelar!" ucap Filman.



Veranita mendorong kepala Filman, "*lieur* kamu mah!" (**pusing**)

__ADS_1



"Cin, Asmi masuk?" tanya Alva bertanya, sontak saja pertanyaannya itu mengundang deheman keras bak deheman kambing dari Filman, "duh, ada yang kesemsem ini mah!" sindirnya.



"Samperin atuh akang, kalo emang suka!"



"Sikat Va, sikat!!"



"Masuk kok, lagi sama Fajrin sama Elisa di perpus. Kenapa gitu? Samperin aja weh atuh kang Alva,"



"Tuhhhh!" tunjuk Sony ke arah depan gerbang jalanan, membuat mereka semua sontak menoleh ke arah jalanan.



"Tuh tuh tukang bubur!" lanjutnya.



Tawa mereka pecah sekaligus kesal, "Guuoblokk, kirain Asmi!" Saka mendorong punggung temannya itu.



Alva berdecak karena sejujurnya ia pun sama dengan Saka.



"Asmi!" tiba-tiba Cintya berteriak dan melambaikan tangannya ke arah gadis yang telah mengusik hidup Alvaro belakangan ini, ia jadi tak enak makan dan tak enak tidur sebelum mengetahui kondisi Asmi.



Gadis itu tersenyum manis di balik balutan outfit feminimnya dengan jepitan rambut pita di sebelah kiri, surai hitamnya yang panjang bergelombang membuat Asmi bak bidadari dari khayangan di mata Alva sekarang.



Asmi melambaikan tangannya, namun tidak mendekat seperti biasa, *wait! Asmi*! Gadis itu hanya menatapnya mendamba dari kejauhan dan melambai tanda pamit, kemudian ia memilih berlalu bersama Elisa.



Alva mengerutkan dahi, lalu merogoh ponselnya cepat, dan mengetik kilat.



*Mau kemana*?


*Buru-buru*?!


*Sampai ngga mau ketemu dulu*?!



Terlihat Asmi yang melihat ponselnya dari ujung mata Alva. Lalu tatapan Asmi jatuh kembali pada Alva.



*Kang kuman, Asmi pulang dulu. Salam buat ibun...kalo ketemu Asmi takut*....



.


.


.


.


***Takut nanti ngga mau pulang, pengen terus bareng akang kuman***....



Asmi sudah berlalu saat Alvaro hendak melihatnya lagi, "Asmi?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2