
Rumah besar meski tak sebesar rumah Asmi. Hanya saja, ini terasa lebih hangat.
"Mang, bukain!" ucap Asmi, bukan pagar besar layaknya penjara seperti di rumah Asmi, hanya rumah biasa dengan pagar besi setinggi 1,5 meter.
Pagar besi digeret kasar, sekasar kulit kaki yang pecah-pecah.
"Den rara," angguknya ramah.
Alva masih meneliti jalan begitupun kediaman Candra hingga Asmi membuatnya mengalihkan pandangan, "mau ikut masuk?"
Alva menggeleng, "untuk kali ini nganter aja dulu ya."
Asmi mengangguk paham, "oke. Ya udah hati-hati.." Alva mengiyakan lalu memutar laju motor dan berlalu diiringi lambaian tangan Asmi.
"Teteh ada mang?"
"Ada den rara, baru pulang nganter den rara Dhara berobat sama raden Candra."
"Oh, makasih mang." langkahnya membawa Asmi masuk ke dalam rumah.
Dan kini ia disuguhkan dengan pemandangan yang menggelikan, dimana Candra menggendong sang putri dengan baju casualnya seraya membujuk sang putri untuk meminum obatnya.
"Cepet neng, ini mah manis rasa jeruk!" rayunya sudah kepayahan dan berkeringat karena Dhara yang menolak dari tadi.
Asmi terkekeh, "iya bener obatnya rasa jeruk, tapi kulitnya!" tawa Asmi ikut bergabung.
"Nah, ini mau ngapain lagi kesini?! Mi--- bantuin aa, Mi....bujukin neng Dhara biar mau minum obat!" ia menyeka kening yang geli karena keringat.
Asmi terkekeh dan memilih duduk di sofa, menjatuhkan semua rasa lelah disana, "capek ah! Teteh mana?"
"Cepet, a ! Dibilangin juga pegangin aja lah, neng Dhara mah harus dipaksa!" Katresna keluar dengan 2 botol obat di tangannya, dan hal itu sukses membuat Dhara semakin menjerit histeris berontak minta turun.
"Ngga mau!"
"Dhala ngga mau minum obatt! Pait!"
"Ngga enak!"
Dhara menjerit-jerit tak mau.
"Pinjem sebentar tangannya," pinta Katresna pada sang anak, "engga apa-apa, nanti udahnya bunda kasih pisang dicoklatin! Mau engga?!" bujuknya.
Dhara masih menggeleng, "sok Asmi weh teh, tapi udahnya kasih pisang dicoklatin!" imbuhnya.
"Apa, kamu mah dikasih den Agah!" usil Candra berhasil bikin Asmi mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Dhara sedang dipegangi oleh Candra yang terkesan seperti sapi kurban, lalu Katresna memegang rahang sang putri dan memaksa meminumkan obat sirup ke dalam mulut Dhara.
"Wah, kekerasan dalam rumah tangga ini mah! Harus dilaporin!" Ucap Asmi tertawa geli melihat sepasang orangtua ini kompak memaksa memberikan obat pada putri kesayangan.
"Kamu yang aa laporin ke amih, karena punya pacar!" balas Candra sambil memegangi tangan Dhara dengan hati-hati.
Asmi mencebik dan bangun dari sofa, "engga! Fitnah ih! Tau ngga fitnah teh lebih kejam dari pemban taian? Matinya teh kuburannya nyatu sama tanah!"
Katresna menyemburkan tawanya, "dasar gelo! Ya iya atuh da dikubur mah di tanah! Aya-aya wae kamu mah!"
Asmi ikut tertawa dan menyerbu kulkas Candra, mengobrak-abrik isinya siapa tau nemu emas!
"Kan katanya a Candra mah pengen dikubur di dalem kubangan dosa cenah teh!" Asmi tertawa puas. (katanya)
"Kaya kamu engga aja, segitu suka ngomongin amih di belakang teh!" jawab Candra melepaskan putrinya dan menepuk-nepuk punggung Dhara yang menangis sesenggukan dengan lembut, menyalurkan ketenangan dari seorang ayah.
"Berisik ah! Sama-sama berlumur dosa jangan saling mendahului, sok mau ngambil nomer engga?!" tanya Katresna mengambil alih Dhara dan menggendongnya penuh sayang.
"Nomer apa?"
"Nomer antrian, buat pesen kavling!" jawab Candra, Asmi bergidik ngeri, "amit-amit ! Aa dulu aja duluan, kan aa lebih tua!" jawab Asmi mengambil sekotak teh dingin.
"Hey, usia bukan patokan kapan mati. Yang mati muda aja banyak!" Candra duduk di samping Asmi dan merebut teh kotak dari tangan Asmi seperti jambret lalu meminumnya.
Asmi mendesis, "shh, ambil sendiri kenapa sih! Punya sendiri juga," omel Asmi.
"Engga. Asmi mau ngambil tiket nonton punya teteh, ya teh?! Mana tuh?!" tanya Asmi, kini gadis itu beranjak menuju ruang makan dan membuka tudung saji demi melihat menu makan yang tersaji disana. Meski sudah ditraktir cuanki rupanya kalo ngga masuk nasi perutnya masih meronta minta jatah.
"Ada, bentar! Aa maaf lah ambilin tiket di atas meja rias..." mohonnya pada sang suami.
"Tiket apa?" tanya nya seraya beranjak dari duduknya.
"Nonton teater, tadinya kan aku mau ngajakin teh Nawang buat nonton teater Citraresmi, dikasih dari Anggi, tapi ternyata teh Nawang punya janji temu sama pasien, neng Dhara juga sakit...jadi kukasiin aja ke Asmi," jelasnya menimang-nimang sang buah hati dengan kain jarik sampai Dhara tertidur setelah mengamuk dan diberi obat.
"Mau nonton sama siapa kamu? Elisa? Fajrin, Den Agah, atau pacar kamu?!" sengak Candra.
Asmi mengambil piring setelah memilih menu makanan yang akan ia makan.
"Siapa weh! Kepo amat!" jawabnya dikekeho Katresna, "pasti sama ayang atuh, ya Mi?!"
"Ih, pasti ini mah tau dari teteh da...nih si julid bisa tau kalo Asmi punya temen deket?!" tembak Asmi mengomel pada Katresna menyamakan kakak keduanya itu dengan netizen julid.
"Kualat siah, nyebut aa sendiri julid!" omel Candra, yang dimata Asmi lebih cerewet dari emak-emak komplek.
Candra menghampiri adiknya di meja makan, lalu menggeser kursi dan duduk, "jawab aa, Mi."
__ADS_1
Asmi menoleh, "emang dari tadi aa, Asmi cuekin gituh?"
Katresna kembali tertawa kecil, jika Asmi dan Candra bersatu dunia persilatan akan meledak.
"Ck! Dengerin dulu, jangan dulu ngomong!" pelototnya lebih galak dari nenek sihir.
"Kamu punya pacar?" tanya Candra mulai serius, Asmi menggeleng.
"Serius Rashmi Sundari!" bentaknya.
"2 rius malah, Asmi ngga punya pacar, cuma deket aja..." jawab Asmi tak berbohong karena ia dan Alva tak memiliki hubungan apapun.
"Siapa?! Anak mana?! Kamu tau resikonya, Asmi?!" tanya Candra.
Asmi menaruh sendok di atas nasi, "bisa ngga ngomongnya nanti aja, Asmi lagi makan atuh, a! Jangan jadi amih kedua lah! Asmi teh capek, ngga betah di rumah, udah kaya penjara, hidup Asmi teh udah kaya bukan milik Asmi, Asmi mah udah mati sejak lahir!" jawab Asmi berwajah dingin. Ia mendorong piring dan menghentikan makannya.
"Asmi pikir teh, aa mah beda dari amih, beda dari apih, beda dari a Bajra, tapi nyatanya sama aja!" Asmi beranjak mendorong kursi, selera makannya hilang begitu saja dan menghampiri Katresna, "mana teh tiketnya? Asmi mau balik ke penjara."
Katresna menthesah bingung. Ia benar-benar kasihan dengan adik iparnya itu, "abisin dulu atuh makannya neng, mubadzir. Udah si aa mah jangan didengerin lah!"
Katresna melotot pada suaminya, berulang kali ia bilang pada Candra begitupun Bajra masalah kesehatan Asmi.
"Nih tiketnya! Sini ambil, ngga usah pundungan. Maaf kalo aa salah udah nyinggung kamu," Candra mengangkat 2 buah tiket di tangannya. (gampang marah)
"Aa cuma mau nanya aja..."
"Aa mah nanya tapi kaya ngasih warning buat Asmi teh!" balas Asmi sengit lalu merebut tiket itu dan salim takzim pada Katresna saja tanpa mau salim pada Candra.
"Aa cuma ngga mau kamu di hukum terus amih, Mi. Ngga tega aa liatnya," lirih Candra melembut.
"Asmi ngga apa-apa, udah biasa." jawabnya dingin, membuat Candra menthesah khawatir.
"Asmi pulang dulu, pinjem mang Ali buat anterin Asmi!"
"Iya, biar teteh panggil dulu mang Ali." Katresna menggumam seraya melengos, "aa liat kan, Asmi sekarang, beda?!"
Ia tidak meminta Candra membujuk amih ataupun apih, ia juga tidak meminta dukungan Candra seperti biasanya. Apakah Asmi sudah lelah? Candra mulai khawatir jika apa yang dikatakan istri dan kakak iparnya benar.
.
.
.
.
__ADS_1
.