
..."Gusti sikang sakang sawiji-wiji, mulih kajati mulang ka asal...."...
...Di atas segalanya, ada Allah sebagai Tuhan Maha Pencipta. Semua yang bernyawa akan kembali pada-Nya........
Sebelum benar-benar berpulang, abah Eman tersenyum pada Rashmi, "*den rara Rashmi, pidu'a sareng restu abah sareng karuhun kanggo den rara sareng den Alva mugia diijabah gusti nu maha suci. Sangkan duduluran sareng Pajajaran tiasa awet salawasna*."
(**den rara Rashmi, do'a dan restu abah serta leluhur buat den rara sama den Alva, semoga diijabah gusti yang maha suci. Biar kekeluargaan dan kekerabatan bersama Pajajaran bisa awet langgeng selamanya**)
"Abah,"
Uhukkk---uhukkk, "astagfirullah," ucapnya kembali terbatuk dan mulai hilang kesadaran.
"Abah, istighfar bah!"
"Abah!"
Amih bahkan terisak si tempatnya berdiri, Tarman di sisi lain tempat tidur mengguncangkan abah, agar tetap terjaga, "abah nyebut bah, kang Alva nuju nyandak motor!"
"Bah, ikutin saya..." pinta Bajra dan apih.
Teh Nawang yang baru kembali dari luar kembali ke dalam, "astagfirullah!" ia mengambil tempat Bajra, "coba bun, ini abah masih sama kita apa udah ngga ada?" tanya Bajra.
Nawang mengecek denyut nadi abah Eman, ia juga memeriksa detak jantung dan hawa nafas sang ais pangampih.
°°°°°°°°°°
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un." Ucap Nawang, ia melihat arlojinya untuk mencatat waktu kematian.
"Abah! !" Asmi ditarik Alva kembali saat ia hendak menyerbu sang ais pangampih, yang telah mengabdikan diri seumur hidupnya, hingga akhir hayat pun yang dipikirkan adalah kehidupan majikannya itu.
Dhara, Kelana dan Sasi yang mendengar ikut menyerbu area dalam.
"Néng, anak-anak bawa ke luar dulu!" pinta Candra.
"Abah teh ada omongan den, katanya kalo meninggal pengennya disaksiin den Amar sekeluarga, katanya juga beban dari pendahulunya udah tersampaikan juga katanya, sama menak Adiwangsa," ucap Tarman menyampaikan pesan terakhir, kemarin.
"Beban apa? Amanat apa?" sontak saja mereka semua melihat Alvaro.
"Yang penting sekarang urus dulu abah, nanti kita bicarakan." Ujar Alvaro diangguki apih, Alva membawa Asmi keluar dari kamar abah, "jangan gitu atuh, kasian abah nanti berat perginya..."
"Man, coba panggil kang Budi, jangan ribut di tempat acara. Bilang sama dia, ditunggu saya sekarang juga," pinta apih pada Tarman untuk memanggil kades setempat.
"Nawang, gimana nemu sinyal? Bisa?" tanya apih.
Sementara amih mencari-cari samping batik di lemari milik abah Eman.
Amih cukup terkejut sekaligus mencelos. Abah Eman bahkan sudah menyiapkan semuanya. Termasuk kain kafan untuk dirinya sendiri. Mungkin hal ini patut dicontoh, agar tak merepotkan dan menyusahkan orang lain.
"Man, ini abah nyiapin semuanya sendiri? Sejak kapan?" tanya amih mengeluarkan semuanya, lalu ia membentangkan jarik itu untuk menutupi keseluruhan tubuh abah Eman.
Orang yang dulu begitu setia mengabdi serta melayani mulai dari kakek Asmi, hingga sekarang apih Asmi yang memiliki penerus juga, berbalik diurusi oleh keluarga menak yang dilayaninya semasa hidup.
"Nawang tadi jalan agak ke perbatasan, pih. Udah dapet, nanti minta ambulans rumah sakit yang paling deket aja dari sini, pih."
"Dibawa ke rumah apa disini?" tanya Nawang.
__ADS_1
"Disini aja, nanti dibawanya ke Cigugur. Abah Eman sempet ngomong dulu, kalo meninggal pengen pulang katanya...ngumpul sama bapaknya."
"Kapan dibawanya, biar Nawang sewa ambulans?"
"Besok aja. Ini udah sore,"
Perayaan yang seharusnya berujung penuh suka cita dan euforia malah berakhir duka. Seorang sesepuh kampung sekaligus ais pangampih menak telah berpulang hari ini.
Demi menghormati abah Eman, kampung membatalkan acara wayang golek dan musik tarawangsa, dan memilih mengatur ulang jadwal wayang setelah 40 hari-an abah Eman.
Posisi abah digantikan Tarman, sebagai kuncen leweung larangan juga ais pangampih disana, Tarman yang masih terikat tali kekeluargaan serta mengetahui seluruh tanggung jawab dan kewajiban seorang abah Eman, sejak masih smp.
Apih Amar melakukan acara tahlil di hari pertama hingga tujuh kepergian abah Eman, lalu di hari 40.
Di hari ke 7, Alvaro hadir bersama Wira dan Bagas, tak lupa ibun Ganis ikut datang dan menyumbang bolu karamel jagoannya, resep turun temurun dari sang mertua.
Sasi turun dari mobil jemputannya, "ada siapa sih, itu mobilnya kang Alva bukan?!" tanya Sasi pada mang Dedi, yang kini beralih jadi supirnya. Karena di rumah ini supir hanya ada 3, mang Dedi, mang Eka, dan mang Yadi yang merupakan supir tetap apih.
Jika tidak mang Dedi, maka mang E yang akan menjemputnya di sekolah dan padepokan.
Rambut panjang putri bungsu keluarga Kertawidjaja ini dicepol tinggi menunjukan leher putihnya yang bersih berkeringat setelah mengikuti ekskul pencak silat, ia dan Asmi berbeda karakter.
Jika Asmi lebih kepada feminim namun gahar dengan menyukai hal berbau underground. Berbeda dengannya yang tak suka hal berbau feminim, meskipun tak menutup dirinya yang selalu tampil feminjm karena paksaan amih dan aturan.
Ia turun melompat dari mobil dengan sendal jepit, menggendong tas kulit berwarna hitam aksen gold, ia mendekap botol minum ukuran 2 liter di pelukannya.
Sasi masuk ke dalam rumah, "assalamu'alaikum." Ia nyelonong masuk ke dalam ketika mereka sedang asik ngubek-ngubek balong ikan, bahkan Alvaro dan Bagas ikut turun demi mengambil ikan untuk acara makan-makan mereka.
"Nah, ayo tangkep Gas!" tunjuk ibun heboh meminta Bagas menangkap ikan gurame yang besarnya sebesar pa ha orang dewasa.
Amih tertawa kecil, "a, nangkepnya pake saringan tuh, yang di mang Wardi!"
"Mang, coba kasih saringan!" titah amih.
Asmi tertawa, "masa nangkep cewek ngga mesti pake jaring bisa Gas, nangkep ikan lolos mulu?! Pake teknik!" sahut Asmi melihat dari pinggiran kolam.
Alva begitu khusyuk menangkap, terkadang ia berdecak sendiri saking kesalnya, "anj!"
Asmi tertawa melihatnya, "ini lagi, 2in!"
"Waduhhh! Lagi pesta nih?!" gumam Sasi baru saja sampai dan kini ikut bergabung ke arah belakang kolam, dimana apih mengobrol santai dengan Wira, Bajra memomong Kelana dan Dhara di pinggir, padahal Candra ikut turun menemani Alva dan Bagas serta mamang-mamang rumah.
"Turun a! Masa Candra aja, buru!" pinta Candra pada Bajra digelengi Bajra, "ntar gue mau jemput, si tétéh di RS, masa basah-basahan!" jawabnya.
Amih, Ibun, dan Katresna ngolah masakan serta kue-kue'an.
Sasi menyapukan pandangan ke arah orang-orang yang dikenalnya itu, ada satu sosok yang baru ia lihat sedang berdecak kesal karena tak jua mendapatkan ikan.
"Néng Sasi turun, Si!" teriak Candra membuat mereka menoleh ke arah Sasi.
Pandangannya bertemu dengan sosok Bagas.
"Weyyyy, calon atlit nih!" sapa Alva.
__ADS_1
"Weyyyy, calon suami-suami takut istri nih!" balas Sasi ditertawai mereka, termasuk Alvaro.
"Jangan nanya dia, kang. Emang rada nyebelin!" balas Asmi.
"Kang, yang baju putih namanya siapa?!" seru Sasi pada Alva yang merujuk pada Bagas.
Bagas sendiri malah tertawa, bocah kecil yang berani.
"Tanya aja coba," jawab Alvaro.
"Apa kamu, anak tuyul belum boleh ngajak kenalan-kenalan! Belum cukup umur!" jawab Candra memberi warning.
"Dih, biarin atuh. Tak kenal maka tak sayang, iya ngga?!" balasnya.
"Huuuu!" Asmi, Candra bahkan Bajra langsung menghujani adik kecil mereka dengan air kolam yang dicipratkan.
"Anak *cereme* (buah ciremai) lagi belajar gombal, a! *Téké! Téké*!" Candra sewot. (Jitak kepalanya! Jitak!)
"Liat kan kang!" Sasi berujar pada Alva yang ia kenal.
"Sasi mah punya kakak 3 berasa kaya punya haters! Ngga ada yang sehati, sejiwa! Kerjaannya julidddd terus! Ya Allah, hidup dede cantik ngenes amat!" lanjutnya pada Alvaro.
Bagas sudah kembali terkekeh menggelengkan kepalanya, *bocah menarik*. Alva ikut tertawa kecil, sementara Candra sudah hendak beranjak dari kolam, "*téwak* (tangkap), A, Mi!" titahnya berseru pada Bajra dan Asmi, sontak saja gadis smp itu berlari berbalik, namun sayang...cipratan air tadi cukup membuat jalannya licin dan...
Blughhh!
"Aawwww!" Sasi terjatuh terduduk.
"Bwahahahaha!"
"Néng Sasi, astagfirullah!" Katresna mencoba meraih adik ipar bungsunya itu.
"Dede emesh teh jatoh," ucap Katresna membantu sekaligus mencibir, "mana yang sakit? Centil atuh da ai ada lelaki teh!"
"Astagfirullah, dosa ya Allah jangan ketawa jangan ketawa! Takut kualat ngetawain Sasi, mah. Suka tulah!" Asmi komat-kamit tapi kemudian ia menyemburkan tawanya tak bisa untuk tak tertawa.
"Arjuna tolongin Sasi atuh," pintanya pada Bagas yang malah ikut tertawa geli.
"Arjuna, sembarangan! Orangtuanya udah ngasih nama pake bubur merah bubur putih, maen ganti-ganti aja!" sewot Asmi.
"Ya da engga tau namanya. Sok atuh kenalan dulu, aku Sasmita!" modusnya.
"Modusnya bisaan euy!" cibir Bajra.
Tapi diluar dugaan Bagas keluar dari kolam dengan celana yang dilinting meski tetap basah kuyup, lalu mengulurkan tangannya pada Sasi.
"Ngga apa-apa?" tanya Bagas.
Asmi melongo dibuatnya lalu ia melirik Alvaro.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.