Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 59. ADIWANGSA


__ADS_3

Jika sudah bersama keluarga Alvaro, Asmi seakan lupa daratan. Lupa jika ia punya rumah, lupa jika ia punya keluarga juga yang menunggunya sambil marah-marah.


"Kelewatan!" amih berdecak berulang kali, mungkin decakannya sudah bisa dapat gelas saking seringnya. Ia melirik arloji kecil di pergelangan tangan kiri.


"Jam 5 belum pulang juga?! Sejak gaul sama Alvaro, Asmi bantah terus, Asmi jadi liar dan jadi ngga karuan!" gerutunya menyalahkan semua hal yang buruk akhir-akhir ini pada Asmi terhadap Alvaro.


"Emang bawa pengaruh buruk! Bibit, bebet, bobot tuh memang menjamin kualitas seseorang!"


"Mang!"


"Mang Dedi!" teriaknya mencari supir Asmi, ia juga mencari Eka yang kini menjadi supirnya bergantian dengan mang Dedi.



Asmi tertawa bersama ibun di dapur, sementara Alva duduk dengan badan yang masih lemas dan kleyengan. Wira dan Bagas juga sudah ada disana.



Asmi melirik jam di dinding, "udah jam 5 bun, Asmi udah harus pulang...." ucapnya sudah mengirimkan pesan pada mang Dedi untuk menjemputnya dan diokei oleh mang Dedi.



"Yaaaa, sayang banget. Ibun masih betah kamu disini, abisnya disini makhluknya lelaki semua!" rengek Ganis.



Asmi tersenyum simpul, "besok Asmi kesini lagi,"



"Janji?" Ganis menunjukan kelingkingnya.



"Janji!" jawab Asmi membalas tautan kelingking Ganis.



Suara deru mesin mobil terdengar dari luar, Asmi berseru keluar dari dapur bersama Ganis, "mang Dedi udah jemput. Asmi pamit dulu," diraih punggung tangan putih Ganis dan menyaliminya takzim.



"Hati-hati, kalo jatoh apa?" tanya Ganis.



"Bangun lagi sendiri..." tawa Asmi menjawab ucapan Ganis. Bagas bahkan cengengesan melihat Asmi yang mau-maunya ngikutin keabsurdan ibun.



"Om Nata," panggilan Asmi berubah sesuai permintaan Ganis.



"Asmi pulang dulu," Asmi melewati Alvaro yang duduk lebih luar dari ayahnya dan malah memintanya mengangkat kedua kaki demi bisa lewat, "awas ih, Asmi mau salim!" tepuknya di lutut Alva. Asmi dan Alva memang terkadang seperti teman bukan kekasih.



Alvaro menurut dengan mengangkat kakinya agar Asmi bisa lewat, "bentar dulu."



"Iya. Hati-hati Asmi..." jawab Wira mengangguk sekali.



"Gas, Asmi pulang dulu...."



Bagas mengangguk, "iya teh, hati-hati jam segini mah masih macet."



Asmi mengangguk cepat, "iya."



Terakhir saat ia ingin pamit pada Alvaro, ketukan pintu mengejutkan mereka.



Tok-tok-tok



"Siapa?" tanya Ganis.



"Mang Dedi bukan ya? Masa sampe ngetok, Asmi udah bilang sebentar mau pamit dulu..." imbuhnya pada Alvaro. Bagas yang lebih dekat dengan pintu mendongkang dari tempatnya dan membuka pintu.



Pemandangan pertama yang disuguhkan adalah sosok mang Dedi di ambang pintu, membuat Asmi berdecak lega, karena sosok pria paruh baya itu nyengir asin.



"Den rara,"



"Mang Dedi, kirain siapa! Asmi kan udah bilang mau pamit dulu sebentar..."

__ADS_1



Tapi ucapan Asmi bak langsung disambar petir saat dari belakang mang Dedi muncul sosok amih dengan wajah angkuh, dan judesnya, mendadak langit runtuh.



Asmi membeliak, begitupun Alvaro yang cukup terkejut saat sudah siap mengantar Asmi ke teras.



"Amih?" Asmi menatap Alvaro di samping belakangnya.



"Bu," Alvaro mengangguk singkat.



"Ibu? Amih?" Ganis mengernyit dan melihat suaminya, langsung saja ia menyentak dirinya sendiri dari keterkejutannya terhadap kedatangan ibunda Asmi, Raden Nganten Sekar Taji Kertawidjaja.



Amih menatap bangunan dan sekitaran tempatnya berdiri dengan congkaknya, seolah tak ada yang bagus untuk dilihat disini.



"Ibunya Asmi?" Ganis berinisiatif untuk menyambut dan mengulurkan tangan untuk salam.



Amih memang menerimanya namun dengan gaya congkak. Asmi masih mematung di tempat, kakinya mendadak kaku demi melihat sosok menakutkan tiba-tiba datang di tengah-tengah keluarga Alvaro, ditambah saat ia memandang Eka dan mang Dedi wajah keduanya pias tak berwarna.



"Masuk dulu ibu, biar saya buatkan minum...." sambutan hangat Ganis namun Sekar Taji tak menggubris Ganis, ia justru melihat Asmi dengan tatapan tajam bergantian dengan Alva.



"Neng, pulang!" ucapnya dingin. Wira masih mengamati namun sudah mulai berdiri saat Ganis mengulurkan tangan untuk bersalaman menyapanya. Ia cukup tau siapa dan pamor Sekar Taji.



"Iya amih, ini Asmi mau pulang tadi Asmi cum----"



"Pulang!" tegasnya lagi.



Baru Asmi mau melangkah amihnya kembali buka suara, "apa kamu belum mengerti? Apa yang saya bilang kemarin?" tanya Sekar Taji pada Alva.




"Amih kita pulang, jangan cari ribut di rumah orang...." ajaknya.



"Neng, yang sopan. Kalo orangtua mau ngomong itu jangan nyela, awas!" tatapnya tajam, Alvaro sudah menggenggam dan siap menyingkirkan Asmi jikalau Sekar Taji kelewat batas pada Asmi.



"Amih yang ngga sopan. Amih selalu ngasih aturan sama Asmi adab bertamu, menjamu tamu, terus amih disini ngapain? Dengan tidak menghargai ibun aja amih sudah keluar dari aturan..." tentangnya berani, ia sudah tak peduli jika amih akan memancungnya di hari itu juga.



"Raden rara Rashmi Sundari Kertawidjaja! Jangan mendikte amih! Sejak gaul sama dia, kamu jadi liar! Sering langgar aturan!" tunjuknya pada Alvaro.



"Wo...wo...wo, sebentar! Kenapa jadi putra saya yang kamu salahin!" Ganis ikut maju.



"Pantes aja ya, saya sering liat Asmi tertekan, kaya orang stress, ngga nyangka begini kondisi rumahnya!" sengit Ganis, jika ada makhlul yang paling ganas saat anaknya disenggol, maka ibulah jawabannya.



"Ay," Wira ikut menahan Ganis, yang ia tau akan selalu meledak dan nyeroscos. Begitupun Alvaro, "bun..."



Bagas pun tak kalah menatap Sekar Taji dengan kerutan dan ikut berdiri di samping belakang lain ibunya.



Sekar Taji menatap Ganis dengan alis mengernyit dan tajam, "ini urusan rumah tangga saya, bukan anda. Ngga usah ikut campur..."



"Amih!" sentak Asmi sudah tak tahan.



"Apa harus Asmi sampai gila dan diambang kesadaran amih baru sadar? Apa harus sekarang nunggu Asmi bunuh diri dulu, sampe amih sadar betapa Asmi tertekan hidup sama amih?!"



"Kepalang tanggung ribut disini, maafin Asmi kang Alva, ibun, om Nata, Bagas...." Asmi melihat keluarga Alvaro satu persatu.


__ADS_1


"Amih dan segala aturan menak yang bikin Asmi seolah mati sejak lahir! Kalo boleh milih, Asmi mau dilahirin dari orang biasa-biasa! Bukan diantara kehidupan ningrat macam amih, Asmi sesek mih....Asmi sakit....Asmi sendiri, Asmi kesepian !!" Asmi menitikan air matanya.



Ia langsung berlutut di depan amih, "Asmi selama ini nurut, patuh, dan menekan perasaan sendiri karena Asmi sayang amih...Asmi tau surga ditelapak kaki ibu," isaknya.



"Stop ganggu Alvaro, cukup Asmi aja yang amih teken, jangan Alvaro....Asmi sayang Alva..." lirihnya.



"Rashmi!" bentak amih, "bangun!"



"Mi," tegur Alvaro.



"Jangan bikin ribut disini, jangan ganggu kenyamanan rumah ibun...Asmi sayang ibun, keluarga Alva yang udah kasih Asmi kehidupan...." lirihnya lagi.



"Amih boleh lakuin apapun, asal jangan ganggu ibun sama kang Alva, termasuk jodohin Asmi sama kang Agah." Asmi menghela nafasnya berat, Alva tentu tak terima, "Mi. Ngga bisa gitu."



"Asmi rela kang, ketimbang harus liat akang sama ibun tertekan atau terganggu. Makasih banyak akang udah mau perjuangin Asmi, tapi kayanya temboknya terlalu kokoh, kang. InsyaAllah Asmi ikhlas," Asmi tak mau jika sampai amihnya nekat mengganggu Alvaro apalagi ibun, apalagi mempersulit bisnis Wira dan Alvaro, No!



"Neng, engga gitu juga." Ganis menyentuh pundak Asmi.



Sekar Taji begitu sebal melihat Asmi sebegitunya pada Alvaro terlebih pada Ganis, wanita yang baru dikenalnya namun sudah menanamkan rasa sayang, atau mungkin lebih tepatnya iri.



"Eka! Mang Dedi! Bawa Asmi!"



"Bu, bisa saya bicara sebentar!" Alvaro meminta waktu pada Sekar Taji.



"Saya akan meminang Asmi kalau ibu mengijinkan," ucap Alvaro.



Sekar Taji tertawa sumbang, dan hanya menggelengkan kepalanya. Ganis hampir melemparkan gelas dari meja ruang tamu jika Bagas tak menahannya, "kurang aj ar! Ngga nyangka Asmi, kamu mah baik punya ibu kaya se tan!" ujar Ganis.



"Raden Sekar Taji," Wira bersuara lirih.



"Apakah karena status Alvaro dan kondisinya, kamu begitu melarang Alva mendekati Asmi?" tanya Wira.



"Mpap, udah. Abang bisa beresin ini sendiri," ucap Alva.



Namun Wira hanya melirik putranya sekilas, "apakah bibit, bebet, bobot masih jaman di masa modern sekarang dimatamu? Ataukah harta dan kekuasaan sudah menggerogoti akal sehatmu? Apa yang kamu cari?" tanya Wira lagi.



Sekar Taji mengerutkan dahinya melihat Wira yang tau namanya.



"Kalo itu masih berlaku, sebenarnya kamu hanya ronggeng biasa, tak ada apa-apanya jika disandingkan dengan nama Sumini Adiwangsa,"



"Bahkan kamu tak lebih berharga dari Alvaro."



"Bang Nat apa sih, siapa lagi Sumini?!" Ganis gatal jika tak bersuara.



"Siapa kamu?" tanya Sekar Taji pada Wira.



"Saya hanya orang biasa, yang pernah tinggal di kediaman Adiwangsa sebagai hak waris, nama saya NataPrawira Adiwangsa, ayah dari pemuda yang kamu tunjuk-tunjuk barusan agar menjauhi Rashmi..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2