
"Den rara Sasi," panggil seseorang yang baru saja datang dan melihat Sasi berjalan bersama Bagas. Sasi dan Bagas menoleh ke sumber suara bersamaan.
Seorang pemuda lainnya yang hampir seumuran dengan Sasi menghampiri dengan membungkuk sopan.
"Wilang?!" sapa Sasi, pemuda coklat manis dengan stelan batik rapi yang sama dengan para ais pangampih itu tersenyum membungkuk segan, namun dari senyumnya menyiratkan bau-bau bunga dan roman-romannya ia menyukai Sasi, dapat Bagas lihat itu di sorot mata Wilang sebagai sesama lelaki.
"Den rara apa kabar?"
"Wilang!!! Ih, Sasi nyari kamu dari kemaren-kemaren! Kata ambu sama nini kamunya lagi ikut study tour ke Jogja!" Sasi bergerak tak canggung pada pemuda itu membuat Bagas menaikan alisnya, oke she is so playgirl! Entah bocil satu ini emang doyan ngoleksi cowok seperti dirinya!
"Muhun raden," senyumnya menguar begitu menyejukan, kecil-kecil udah kalem gitu, lu! Dengus Bagas.
"Saya denger dari ibu, raden rara nyariin saya. Kebetulan sekarang ketemu," ujarnya menaruh kedua tangan sopan di depan.
Beda halnya dengan Wilang yang menjaga tata krama kesopanan pada radennya, Sasi justru sudah dengan tak segan lagi menepuk lengan Wilang, "iya ih! Sasi kangen sama Wilang! Kangen main bareng atuh!"
Ucapan Sasi jelas membuat Bagas dan Wilang menohok. Mungkin bagi Sasi hal ini wajar dilakukan, dan tak berefek apapun, tapi bagi kedua pemuda yang ada di dekatnya, jelas ada perasaan berbeda jikalau seorang gadis mengucapkan kata kangen, mungkin faktor pubertas atau semacamnya yang melibatkan perasaan.
"Heh bocil! Lo ngomong kangen-kangen gitu tau ngga artinya kangen apa?!" sewot Bagas, jangan sampai Sasi tak tau apa arti kata dari yang diucapkannya, perlu Bagas garis bawahi, Sasi ini polos sepolos-polosnya persis bubur sum-sum yang belum dikasih gula kinca. Dan perlu ia beri capslock, jika Sasi harus mendapatkan guru asmara yang tepat.
Bagas bahkan tak segan menahan lengan Sasi yang hendak berjalan bersama Wilang.
"Apa sih, a Bagas sewot amat! Ya taulah akang ganteng! Kangen itu rindu, miss youuuu....pengen ketemu, pengen liat, pengen berada bareng-bareng kaya gini!" jawab Sasi.
"Lagian akang sewot banget, deh. Terserah Sasi lah, mau bilang kangen, rindu, sayang, cinta sekalipun!"
Ctak!
Bagas menjitak kening Sasi yang bicara seenak dengkul membuat Sasi mengaduh, dan dengan refleks Wilang menjadi garda terdepan radennya, "punten kang, ini teh raden saya...." Wilang mengerjap mengetahui padanan kata yang rancu dan riskan.
"Maksud saya teh, den rara Sasi ini majikan saya....raden yang harus saya lindungi, jaga baik-baik, jadi tidak seharusnya akang kasar begitu..." pemuda sma kelas X yang jangkung itu melindungi Sasi dari Bagas.
"Lang, dia..." Sasi nyengir getir menggaruk tengkuknya bingung.
"Iya gue tau. Nih bocil itu majikan lo. Tapi nih bocil adek gue...catat! Gue kakaknya!" akui Bagas sudah teken kontrak jadi kakak-kakak'an Sasi.
"Kakak?" tanya Wilang menatap Sasi.
"Iya Lang, dia itu adek iparnya teteh...adiknya kang Alvaro, manten di depan...." jelas Sasi meredupkan pandangan Wilang.
Bagas merasa menang dari Wilang, padahal mereka tidak sedang berkompetisi apapun.
"Nah tau kan." jumawanya.
"Ya udah, akang mau makanan kan? Tuh dapur disitu! Sasi sama Wilang mau ke depan dulu, akang sendiri aja!" ucapan Sasi itu membuat Bagas tersentak, "ngga bisa! Lo temenin gue lah! Masa iya...gue tamu disuruh ke dapur sendirian kaya kucing maling aja!" tolaknya.
Sasi menghela nafasnya, "ck. Oke---oke! Jadi kakak gantengnya Sasi ini mau dianter adek emeshnya?! Boleh lah," angguk Sasi.
"Lang, temenin Sasi nganter nih kakak Sasi dulu ke dapur yuk! Katanya laper, aus! Sekalian, Sasi kangen sama awug langseng'nya ambu Darmi, mamah kamu!" senyum Sasi.
"Boleh den, saya juga punya sesuatu kemarin dari Jogja, khusus buat den rara, soalnya saya tau den rara mau kesini."
"Wah?! Iyakah?! Asikkkk, dapet oleh-oleh dari Wilang!!!" serunya menyentuh lengan baju batik Wilang, Bagas berdecak, "ngga boleh sentuh-sentuhan Si...bukan mahrom! Masih bocil, takut nyetrum!" omel Bagas.
"Apanya sih yang nyetrum, gaje!" omel Sasi, Wilang hanya tersenyum miring melihat Bagas, ia mencium bau-bau adik ipar suka pada adik ipar dari Bagas pada Sasmita.
Alvaro menatap antrian orang yang mengular, dan mereka bersiap untuk menyalaminya serta Asmi.
Inilah prosesi yang membuatnya tak mau menikah lagi, resepsi! Berdiri hampir seharian memasang tampang mirip orang gila yang masang senyum ceria mirip ambassador produk.
__ADS_1
Cukup bosan, karena hampir 95 persen tamu yang hadir ia tak mengenalnya, hingga tiba di deretan muda-mudi yang berseru gembira membawa serta kehebohan.
"Yo mamennnnnn!!!"
"ASMI!!!"
"KANG ALVA!!!"
Teman-teman kampus, Rampes, KMT, anak antropologi, dosen, rektor, sengaja datang rombongan demi mendatangi pernikahan anak sultan ini.
"Vaaaa! Kang bro!"
Kang Hendi, beserta kang Cecep dan para sesepuh Cigugur tak luput datang kesini, membentuk satu grup kehebohan, riuh tinggi tercipta ketika mereka bertemu melepas rindu.
"Asmiiii! Néngggg! Néng tega sama aa!" seru Fajrin dihadiahi toyoran Elisa, "Miii!" ia memeluk sahabatnya itu.
"Ngga nyangka lah kamu teh se sultan ini! Ngga nyangka kalo ningratnya kamu teh ternyata se ningrat ini!"
Yang lebih membuat Alvaro tercengang adalah penampilan mereka dengan pakaian rapi batiknya.
"Njirrrt, seumur-umur tinggal di bumi, baru kali ini gue batikan rapi begini! Biasanya mah ke kondangan cuek-cuek aja, ini gue sampe bela-belain nyari batik di pasar baru, njirr!" akui Uheng ditertawai.
"Piercing'an dicopot dulu ya bro?! Takut yang datang pada kabur liat lo!" tawa Pilox, menciptakan suasana riuh penuh canda.
"Ngedadak beli pomade, biar keliatan rapi, glowing!" tawa mereka yang benar-benar terlihat berbeda.
"Heem lah! Dikirain teh kamu mah pake minyak jalantah bekas goreng jengkol mengkilat gini euy!" sentuh Gigih di rambut Uheng yang langsung ditepis si empunya. Asmi ikut tertawa mendengar dan melihatnya.
"Woowww, bang brooo! Sslamat lah, jadi besan menak gini euy!" Acuy dan rekan lain berseru pada Wira dan Ganis yang mendapatkan besan ningrat, mereka tak tau jika si akang Wira ini pun sebenarnya ningrat no kaleng-kaleng, biarlah rahasia itu tersimpan rapi bersama sejarah indah Pajajaran yang asri.
"Kang!" Anjar bersuit pada fotografer di depan meminta agar mereka berfoto ria.
__ADS_1
"Foto guys!"
"Sok, lah semua masuk satu frame!"
Mereka langsung excited membentuk barisan merapat sampai ada yang duduk dan berjongkok di bawah. Benar-benar hari bahagia mereka setelah apa yang dilewati keduanya.
Asmi menatap Alvaro penuh kelembutan dan seluruh rasa hormat, "kang...makasih, mau perjuangin Asmi..." ucapnya membiarkan yang lain sibuk mengatur posisi disaat pengambilan moment ini.
Alvaro membalas tatapan Asmi tak kalah lembut penuh sayang, "terimakasih sudah percaya. Ini adalah awal perjalanan yang pastinya bakal lebih berliku."
Asmi dan Alvaro menatap ke depan ketika si fotografer meminta mereka fokus serta bergaya.
Asmi memang menatap lurus memasang wajah tersenyum bahagia dengan gaya bebas, namun hatinya lebih merasa bebas.
...*Aku Rashmi Sundari, berdiri tegak memegang janji! Tidak menyerahkan diri sebagai upeti pada Pajajaran...namun menyerahkan seluruh hidup untuk cinta dan keinginan serta cita-citaku sendiri*.......
***Aku, Rashmi Sundari Kertawidjaja, bukan CitraRashmi***....
~Rashmi Sundari Kertawidjaja~
...°°°°°°°°°°...
...***The End***...
Yeayy! Selesai sudah kisah Alvaro dan Rashmi ya zeyeng! Akhirnya setelah sekian lama aku berkelana menyelesaikan dan pasang surutnya mood, sampai tak rela untuk menyelesaikan, akhirnya cerita ini kelar juga 🤗
Terimakasih untuk dukungannya selama ini, mulai dari kembang, hati, tiket vote, kursi, dan do'a-do'a terbaik yang disampaikan untuk aku. Do'a yang sama aku panjatkan untuk para pembaca sekalian juga.
Ambil sisi positif dan buang sisi negatif ya guys, hapunten nih! Kalo banyak salah dalam penulisan, typo dan semacamnya 🙏 see you at next project guys ❤❤
.
.
.
__ADS_1
.
.