Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 74. SAYANG, AKU RINDU


__ADS_3

Asmi sudah cantik dalam balutan kebaya putihnya. Acara adat kali ini mungkin akan dilaluinya penuh sukacita.


"Cepet nèng Sasi!" ujarnya meminta sang adik untuk cepat bersiap, ia sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan sang pujaan hati, sudah lama tak bertemu.


"Sabar kaleee! Mentang-mentang mau ketemu sama ayangggg!" cibir Sasi. Kayanya sehari aja ngga berantem tuh hidup mereka kaya kurang asupan nutrisi.


"Ck! Bukan karena itu, itu amih udah nungguin dari tadi di luar!" jawab Asmi sama-sama masih memakai flatshoes miliknya.


Sasi keluar dengan kebaya senada, acara ngemban taun memang diharuskan memakai kebaya putih bagi perempuan, dan pangsi untuk lelaki.


Sasi mengepang rambutnya dan menggelungkan kepangannya melingkar agar tak membuat risih, sementara Asmi lebih senang mengepangnya saja seperti elsa.


"Sampurasun!" Kali ini Katresna ingin pergi bersama dari rumah apih--amih. Begitupun Nawang dan Bajra.


"Nah kan, teh Katresna sama a Candra aja baru datang!" Sasi memeletkan lidahnya pada Asmi, ia masih memilih sepatu yang akan dipakainya, tak mau flatshoes, kesannya itu kaya gadis feminim, mirip-mirip tétéhnya Asmi. Sungguh ia tak mau disama-samakan.


Alva mematut dirinya di depan kaca jendela rumah ambu Euis, ia dengan stelan pangsi? Please atuh dunia terbelah di langit Bandung!



Saka dan Anjar saling menertawakan diri sendiri yang terlihat goks, dengan stelan pangsi.



"Mirip abah-abah!"



"Mau nunggu disini atau nyusul ke gerbang depan?" tanya Alva.



"Si aa mah meski kaya tukang peuyeum Bandung, tapi tetep lah ada manis-manisnya!" imbuh Anjar pada Alvaro, antara mencibir dan memuji.



"Si alan, tukang peuyeum." dengus Filman, "ngga apa-apa ai tukang peuyeumnya banyak cabang tokonya mah!" ujarnya membela diri. Meskipun sebenarnya ia tak cukup percaya diri akan bertemu dengan Asmi menggunakan pakaian ini. Tapi ini adalah tradisi, maka sebagai tamu mereka harus menghargai itu.



"Gue bareng, Va!" Filman melompat dari tempatnya berjongkok, membuat kedua lainnya mau tak mau ikut karena rumah sepi. Kamera tak luput dibawa Alvaro.



Degupan jantungnya sudah menggebu, seolah mengajak dan membimbingnya untuk segera beranjak menuju gerbang kampung.



Dhara dan Kelana berjalan bergandengan tangan, "awas turunnya néng.." bimbing Kelana pada adik sepupunya itu saat menemukan batu-batu cukup besar menghalangi jalan turun Dhara dari mobil.


Asmi turun dari mobil, pasukan hitam putih sudah mulai ramai di gerbang desa bersama gunungan hasil pertanian desa. Para ibu membawa serta tampah berisi aneka produk hasil pertanian yang menjadi komoditas kampung Cireundeu.


"Assalamu'alaikum!"


"Raden," kepala kampung adat disini menyambut kedatangan Asmi sekeluarga. Asmi juga membalas sapaan beberapa ibu juga perangkat desa dan para sesepuh.


Amih tak kalah ramah, sekarang. Ia sadar jika semua derajat manusia sama di mata Sang Pencipta.


"Den rara," para kembang desa yang membawa serta tampah sesajian menyapa Asmi, terkesan segan padanya termasuk Intan.


"Awis tepang den rara," ujar ambu Euis, "eleuh-eleuh, meni tambah geulis aden!" pujinya membuat rona bahagia di wajah Asmi.

__ADS_1


"Nuhun ambu."


Mereka masih bertegur sapa, di sana.


"Apih, abah Eman mana?" tanya Asmi mencari-cari sang ais pangampih leweung larangan.


Apih menggeleng, "sebentar."


"Kang, abah Eman kemana?" tanya apih pada kepala desa disana.


"Abah Eman teh sudah 3 hari sakit. Makanya acara hari ini beliau absen hadir," jawab kades.


Asmi melirik apih, "tapi kan abah Eman tinggal sendiri, kenapa ngga dibawa ke rumah sakit aja?"


"Abah Eem ditemani siapa kang?"


"Ada Tarman yang menemani disana." singkatnya.


"Nanti selesai acara kita jenguk," seolah tau apa yang ada di pikiran putrinya, apih memberikan usul demi menenangkan Asmi.


"Kenapa?" tanya Bajra.


"Abah Eem sakit, a."


"Udah dibawa ke dokter?" tanya Bajra.


"Kaya yang ngga tau aja, abah Eem mah ngga percaya dokter, bilangnya teh, ah! Da hidup mati mah udah ada yang ngatur!"


Asmi dan Candra menyemburkan tawanya atas dumelan menggerutu Nawang.


"Lebih tepatnya tidak berani menerima kenyataan kalo nanti segala ke detect, téh. Kaya noh!" tunjuk Candra pada apih dengan lidah yang sengaja di sembunyikan di balik kulit pipi.


"Akang kaya bukan orang berpendidikan aja ngomong kaya gitu, kalo ngga mau ditakut-takutin jaga kesehatan yang bener!" tukas amih, mencubir perut buncit apih.


"Betul! Amih bestie Nawang!" peluk Nawang pada amih.


Katresna masih momong Kelana dan Dhara sambil sesekali mengobrol dengan para ibu.


Sementara Sasi sudah berbaur bersama sebaya yang ia kenal, san para orangtua sudah bersiap menyiapkan gladi resiknya.


Asmi menjauh sedikit demi mendapatkan angle bagus memotret acara ini dengan kamera ponselnya, "akang kuman kemana sih, katanya kangen juga. Asmi udah nyampe dianya malah ngga ada!" dumelnya bermonolog.


Alva yang baru saja sampai di titik berkumpul akhirnya bisa melihat sosok yang sangat ia rindukan selama beberapa lama ini.


Rindu ini semakin tak tertahan ketika wajah Asmi terlihat semakin cantik dimatanya.


Kembali bertemu dalam acara adat, dengan hati dan perasaan yang sudah berbeda. Status pun sudah berbeda.


"Itu Asmi," tunjuk Saka. Baru akan menyapa, Alvaro menahan Saka agar tak berteriak manggil Asmi.


"Suth!"


"Emhhh," decak Saka, taulah yang punya ngga suka kalo miliknya di sapa orang!


"Ngga usah so akrab, udah biarin kawan kita itu menumpahkan rindu! Wahai sahabat!" tawa Anjar, namun mendadak hatinya mencelos melihat Asmi dan Alvaro dapat bertemu, setelah sekian lama saling menahan rindu.


Ahhh, ia jadi rindu Cintya.


Alva berjalan menghampiri Asmi namun dari arah belakang gadis itu, "kalo mau gambarnya clear, jangan goyang-goyang hapenya den rara..." lirihnya langsung menumpukan dagu di pundak Asmi dan membantu mengarahkan ponsel Asmi, jemarinya tiba-tiba mengalihkan kamera belakang menjadi kamera depan, hingga berakhir memotret keduanya, sementara Asmi masih diam diantara keterkejutannya.


"Akang," gumamnya dengan posisi yang belum berubah. Dapat ia lihat pantulan wajah Alvaro dari kamera depan berada tepat menempel di samping wajahnya.

__ADS_1


Dapat ia hirup pula aroma tubuh Alva yang maskulin itu lagi.


"Hay, apa kabar? Ambu Euis bener, ternyata den rara'nya kasepuhan cantik pisan! Kaya kecantikan Citraresmi, tersohor kemana-mana..." imbuh Alvaro.


"Boleh dong ya, keturunan pajajaran yang udah bangkrut ikut ngantri buat lamar?" Alvaro menyeringai.


Asmi menoleh ke arah Alva, hingga keduanya tak lagi berjarak.


"Miss you," bisik Alva, sepasang mata bulat Asmi memperhatikan bibir Alva yang berucap manis.


"Miss you more," balas Asmi, ia memutar tubuhnya lalu refleks memeluk Alvaro meski harus berjinjit.


"Akang, Asmi kangen!" bisiknya menenggelamkan wajahnya di dadha Alvaro. Moment itu membuat Intan dan Ifa yang sejak tadi berada di dekat Asmi tak bisa untuk tak melihat itu.


"Kang Alva ternyata pacarnya den rara," Ifa melongo. Intan menatap getir nan nyalang.


Tangannya mengerat memegang tampah hingga buku-buku kukunya memutih.


Asmi mengurai pelukannya ketika Saka, Filman dan Anjar langsung mengganggu moment haru itu, mereka memang makhluk minus akhlak, tak akan membiarkan Alvaro bahagia di atas penderitaan mereka yang masih jomblo, belum lagi Anjar yang sedang berjauhan denvan Cintya, makin ngenes saja melihat Alva dan Asmi.


"Tempat umum woy! Ntar kalo udah halal baru pelukan!" sewot Saka.


"Kang," sapa Asmi mengangguk sekali pada Filman, Saka dan Anjar.


"Hay, Mi. Apa kabar? Gimana kampus ada yang gendong ngga?" tanya Anjar berkelakar.


Asmi terkikik, "kang Anjar...ada pesen dari Cin-cin buat akang, kasian tuh di kelas mewek terus!" adu Asmi. Anjar menaikan alisnya, "pesen apa? Kenapa ngga langsung ngehubungin aku?"


Asmi menggidikan bahunya.


"Tuh, Njar! Lo tega sama anak orang, digantungin sampe mewek gara-gara ngga kering!" balas Saka menyenggol Anjar. Pemuda itu mulai berwajah kusut sekaligus khawatir, rupanya tindakannya membuat Cintya sampai menangis.


"Pesen apa, Mi?" tanya Anjar.


"Tapi Asmi sampein lewat kang Alva aja ya?" ujar Asmi menggaruk kepalanya pelan.


"Kenapa?" tanya mereka.


"Gini nih ya, nyuruhnya!"


Asmi menghadap ke arah Alva lalu menangkup wajahnya, "sayang, maafin akuuu...aku yang egois, please jangan cuekin aku, aku ngga suka!" wajah Asmi begitu menggemaskan membuag mereka tertawa termasuk Alvaro.


"Aku sayang kamu, muaachhh!" meski tak mencium Alvaro namun bibir Asmi yang dimanyunkan sontak mengundang tawa.


"Kan! Kan!" Asmi melepaskan wajah Alva dan malah menamparnya pelan.


"Dasar emang, pacar akang mah gila! Di kampus Asmi sampe diketawain karena dikira lesbii!"


Mereka kembali tertawa, dan lagi-lagi Alva pun. Asmi adalah mentarinya semua orang.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2