Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR # 76. JALEULEU....JA!


__ADS_3

Ada yang menarik hati dan minat para mahasiswa disini, bukan kesenian tradisional seperti tarian dan musiknya.


Pagelaran tari dan hiburan memang dilakukan, namun itu sudah tak aneh. Sebagai sesepuh kampung adat, abah Uwie mengumpulkan remaja dan anak-anak kampung dalam satu wadah bernama sanggar budaya ECO Cireundeu. Lengkap dengan alat-alat permainan yang menunjang demi melestarikan adat budaya juga permainan tradisional yang semakin tersisihkan oleh modernisasi.


Seringkali sanggar Cireundeu ini bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan playgroup se-Bandung Raya terutama di hari jeda sekolah.


Anak-anak remaja berkumpul di tanah lapang dekat dengan alun-alun kampung dan dibatasi oleh rumpun bambu membuat udaranya tetap sejuk dan nyaman.


Semua remaja dan anak-anak membuat beberapa kelompok bermain, jika Intan dan Ifa lebih memilih membentuk kelompok perempuan. Dengan jenis permainan yang lebih perempuan banget seperti congklak, engklek dan sondah, juga sapintrong, serta anjang-anjangan.


"Yang mau main anjang-anjangan sini sama téh Intan!" serunya, beberapa anak perempuan berlarian masih dengan kebayanya ke arah Intan, dimana perelatan dapur mini dan uang-uangan dari genting yang sudah dibentuk adalah peralatan mainnya.


Ifa membawa congklak dari kayu serta kapur dan tali karet, "yang mau ikutan main sondah, sapintrong sama congklak sini sama tétéh!"


Ada sekitar 5 anak lebih ikut Ifa juga. "Den rara, mau ikut?!" tanya nya pada Rashmi dan Sasi, juga Kelana dan Dhara.


"Dhala mau itu, bunda!" tunjuk Dhara pada Intan, senang melihat peralatan dapur mini.


"Boleh, sini den!" ajak Intan. Sementara Kelana menggeleng tak mau, yang benar saja, masa laki-laki maen masak-masakan.


"Aa mau ikut maen apa?" tanya Rashmi pada keponakannya itu. Alvaro yang awalnya sibuk mengabadikan potret anak-anak sedang bermain, kini menghampiri Rashmi, Sasi dan Kelana.


"Jangan itu atuh néng, masa cowok maen begituan..." ujar Alva memposisikan diri di samping Asmi.


"Kelana mah suruh main sama a Iwan aja, téh. Ikutan yuk!" tunjuk Sasi ketika remaja lelaki itu sedang bersiap main permainan yang lebih dinamik dan bergerak aktif dan didominasi oleh anak laki-laki.


"Aa mau main itu ngga?" Asmi berjongkok, menyamakan tinggi dengan sang keponakan, ia dan Sasi dimintai memomong para keponakannya saat para orangtua sibuk melihat hiburan pagelaran di sudut lain.


"Sama bibi," jawab Kelana mencicit malu.


"Sama aku katanya? Sama bi Sasi aja, ya?!" bujuknya, bahkan Sasi ikut membujuk namun Kelana seolah tak mau lepas dari Asmi, ia bergidik heboh, "alim." (ngga mau)


Asmi menatap Alvaro lalu ke Sasi, "ya udah sama tétéh juga atuh," pinta Sasi.


Akhirnya mau tak mau Asmi ikut, ia berjalan bersama Kelana dan Sasi ke arah gerombolan anak laki-laki.


"A Iwan! Ikutan!" seru Sasi, diangguki Iwan, "mangga den rara, sini den!"


Alva terkekeh melihat Asmi yang beberapa kali menengok ke arahnya yang justru sedang memilih angle bagus demi memotret Asmi.


"Den rara Rashmi ikutan den?"


"Iya Wan, Asmi ikutan juga!"


Iwan menepuk lalu menggosok-gosok telapak tangannya, "oke!"


"Mau main apa dulu nih?! Oray-orayan, bebedilan, ucing-ucingan?!!" seru Syarif.


"Oray-orayan A!!!!"


"Bebedilan,"


"Ucing-ucingan!"


Alvaro tertawa renyah melihat Asmi bermain bersama anak-anak.


"Den rara, mau main apa dulu?!"


"Oray-orayan weh, a!" usul Sasi.


"Oke,"


"Oray-orayan dulu yuk!" setuju Syarif.


"Siapa kapten timnya sok?!"


"Raden Rara Rashmi sama a Iwan aja!!" ujar mereka sepakat melihat usia keduanya yang paling tua.


"Gimana raden?" tanya Iwan.


"Oke, siap! Aa, aa sama bi Sasi jadi oray, nanti sama bi Asmi ditangkep!" Kelana mengangguk, Kelana adalah sosok yang cukup pemalu dan terkesan pilih-pilih, ia tak banyal bicara pada orang yang tak kenal.


"Sini, aa!" ajal Sasi.


"Siap ya!" Syarif, Sasi dan Pian membuat barisan hingga para bocah mengikutinya menjadi ekor, oray-orayan (ular-ularan) ini cukup panjang, karena nyatanya peminatnya cukup banyak. Bahkan anak-anak yang tadinya ikut di kelompok Ifa dan Intan ikut bergabung.


"A Iwan, aku ikutan!"


"Aa, aku ikutan!" putus mereka berseru.


"Boleh, boleh sini!" Asmi membalas dengan tawa, karena melihat senyuman Kelana dan anak-anak lainnya.


Di sudut kursi tamu, Nawang mencolek Bajra, "liat aa, dia bisa berbaur sama yang lain. Videoin, a.." pintanya.


"Can, bawa handycam ngga? Liat Kelana sama Dhara!" tunjuk Bajra pada Candra.


"Itu néng Asmi gede-gede ikutan juga!" tunjuk Katresna tertawa.

__ADS_1


"Siap ya?! Asmi nyanyi, pada ikutan nyanyi semuanya ya?!" pinta Asmi, saling menggenggam tangan dengan a Iwan yang sebelumnya minta maaf terlebih dahulu, "maaf ya den rara," ujarnya tak enak.



"Ngga apa-apa, Wan..."



"Nyanyi bareng!!!"



"Maju, oray!" titah Iwan.



▪》"*Oray-orayan luar---leorrr ka sawah, entong ka sawah paréna keur sedeng beukah*...." dendang Asmi dan anak-anak itu lantang, hingga suara mereka mengundang atensi massa, seraya anak-anak itu masuk ke dalam kolong tangan Asmi dan Iwan lalu membelit dan berjalan melingkar layaknya ular. (Ular-ularan, melata ke sawah, jangan ke sawah padinya baru mulai merekah)



"*Oray-orayan, luar---leor ka kebon, entong ka kebon, di kebon loba nu ngangon*!" diselingi dengan tawa dan canda, Asmi begitu bahagia disana. (ular-ularan, melata ke kebun, jangan ke kebun, di kebun banyak yang sedang menggembala!)



Kebahagiaan Asmi menular pada Alvaro yang sejak tadi mendokumentasikan dan melihatnya.



"Hayooo, lagi ngapain kakang mas?! Liat yang nyanyi jadi kapten timnya pasti!" tepuk Filman, ikut menonton, padahal Saka dan Anjar sudah ikut bergabung disana.



"Tuh, masa kecil kurang bahagia!" tunjuk Alvaro pada Saka dan Anjar yang ikut berbaris dengan anak-anak sambil ikut bernyanyi meski tak hafal, yang penting ikut teriak, meski hanya eaaaa....



"Video, liatin ke anak-anak di kampus."



"*Mending ka leuwi, di leuwi loba nu mandi, saha anu mandi? Anu mandina pandeuri*....." (lebih baik ke sungai, di sungai banyak yang tengah mandi, siapa yang mandi? Yang mandinya paling terakhir)



"Eaaaa!" seru Anjar tertawa. Sasi bahkan tertawa dengan kelakuan Anjar dan Saka.




"A Saka!" jawab Sasi.



"Pilih Asmi, pilih Iwan?!" tanya Asmi.



"Pilih Asmi atuh!" ia bersiap menjadi ekor Asmi.



Lagu berlanjut sampai ekor oray habis dan mereka saling berebut untuk mengenai dan berhasil mematuk ekor satu sama lain.



Banyak tawa siang itu.



Karena keseruan itu, akhirnya kelompok Intan dan Ifa ikut bergabung bersama kelompok Asmi serta Iwan.


"Sok sekarang mah, siapa yang mau ucing-ucingan, cung?!" Iwan memegang tali scarf merah putih. Hampir semua anak menunjukan telunjuknya, termasuk kini para mahasiswa dan tamu disana ikut bergabung, menjadi satu lingkaran besar di lapang itu.


"Buat cari kucingnya, nyanyi kacang panjang ah!"


"Sok ah siap!" jawab Asmi antusias.


"Dhala juga Dhala juga, bi!" seru Dhara menggemaskan dengan poni sealisnya.


Mereka semua memanjangkan lengannya ke depan bersiap hompimpa ala kacang panjang.


"Cang, kacang panjang anu panjang ucinggg!"


Asmi gagal fokus, ia malah memanjangkan lengannya namun dengan curangnya langsung memendekan tangan.


"Aaaaaahhhh den rara!"

__ADS_1


"Tétéh ucing!"


"Asmi, ucing Mi!" seru mereka.


"Engga ih, Asmi mah pendek tuh!" kilahnya.


"Tadi kamu panjang, néng! Ngga usah curang!" bukannya membantu, Alva malah mendorong Asmi ke tengah-tengah lingkaran.


"Hahahaa! Pacar laknut!" tawa Anjar.


"Akang ih!" Asmi menggerutu namun akhirnya ia menerima saat Syarif mengikatkan scarf di matanya.


"Maaf ya den rara," ucapnya saat mengikat, Asmi mengangguk, "ngga apa-apa, Rif."


"Dah." Syarif kembali ke tempatnya, "siap ya, semua jalan melingkar sambil nyanyi! Biar den rara bisa nebak dimana dan siapa!" intruksi Syarif.


▪》"Ayang-ayang gung, gung go'ong na rame...Menak ki mas Tanu, nu jadi wadana...." mereka mulai berjalan melingkari Asmi sambil bernyanyi dan berpegangan tangan satu sama lain, membuat Asmi bingung untuk menangkap dan menebak.


"Naha maneh kitu, tukang olo-olo...loba nu giruk, ruket jeung kumpeni. Niat jadi pangkat, katon kagorengan.... Ngantos kanjeng dalem, lempa lempi lempong, jalan ka batawi ngemplong, ngadu pipi jeung nu ompong..."


Asmi melangkah perlahan dengan tangan ke depan mencari-cari orang dan menebaknya.


Ia meraba-raba, membuat anak-anak tertawa termasuk Dhara dan Kelana.


"Dhala disini, bi----" Sasi dan Alva membekap mulut Dhara yang ember.


"Suuttt! Nanti bi Asmi tau! Dhara jadi kucing."


Dhara membekap mulutnya sendiri cukup terkejut. Bajra, Nawang, Candra dan Katresna sudah tertawa, "lurus néng terus! Sampe Bandung!" teriak Candra.


"Berisik, bapak-bapak ngga usah ikut speak up!" balas Asmi sambil terus meraba-raba udara.


"Kode pertama den rara!" teriak Syarif dan Ifa.


"Oke," ujar Asmi.


▪》"Jaleuleu...."


"Jaaaa!" seru mereka semua, Asmi menajamkan suara mencari sosok yang dikenalnya dan dimana, lalu ia merubah arah langkahnya saat satu garis lengkungan tertarik dan ia tau harus berjalan kemana.


"Tulak tuja éman....." lanjut Asmi.


"Gogggg!" balas mereka semua. Asmi kian tertawa tau kemana arahnya berjalan.


"Seureuh leweung..." kembali Asmi berdendang. (Sirih hutan)


"Bayy!" jawab mereka, mereka semua semakin gemas dan excited, saat Asmi semakin mendekat. (suaranya BAY, jika tertiup angin)


"Jambé kolot...." (pinang tua)


"Buggg!" seruan mereka sambil menjerit-jerit ketika Asmi berjarak hanya 1 depa dari suara berat Alvaro. (suaranya BUG!)


"Ucing katinggang songsong???" tanya Asmi. (kucing tertimpa songsong[pipa dari batang bambu])


"NGEEKKKK!" (suaranya NGEK!)


"Bwahahahahahaha!" Saka, Filman dan Anjar tertawa bahagia, seakan masa kecil mereka baru mereka dapatkan kembali, "njirr lah, lagi--lagi nyanyi nya!" pinta Saka.


Grepp!


"Kang kuman," lirih Asmi mendapatkan seseorang.


.


.


.


.


.


Noted:


* anyang-anyangan : masak-masakan, rumah-rumahan.


*sapintrong : lompat tali dengan tali karet.


* oray-orayan : ular-ularan.


* bebeudilan : tembak-tembakan.


* ucing-ucingan : main kucing-kucingan.


* note ▪》 kakawihan/ lagu humor yang dinyanyikan saat anak-anak bermain, bernada humor receh.


* ralat jika aku salah ya, 😅

__ADS_1


__ADS_2