Bukan Citra Rashmi

Bukan Citra Rashmi
BCR #77. PERGINYA SANG AIS PANGAMPIH


__ADS_3

Tak ada kebahagiaan yang lebih bahagia lagi dari hari ini, Kelana dan Dhara bahkan tak mau jika hari ini segera berakhir.


Namun pada kenyataannya, waktu terus tergelincir ke arah barat dan perayaan ngemban taun ini akan di tutup oleh acara musik tarawangsa yang berbau sedikit mistis juga wayang golek semalam suntuk, nanti setelah isya.


Sebelum hari semakin sore, apih memutuskan untuk menengok abah Eman.


"Néng, mau ikut engga?" tanya apih menghampiri Asmi.


"Kemana?"


"Nengok abah,"


Asmi menepuk jidatnya, kali aja bisa langsung cerdas abis itu, "hayuk atuh pih!"


"Kang." panggil Asmi pada Alvaro yang duduk melihat hasil bidikan kameranya.


"Kenapa?"


"Asmi mau nengok dulu abah Eman, katanya udah 3 hari beliau sakit," ijin Asmi, namun di luar dugaan Alvaro justru sudah tau lebih awal, "iya. Dia seneng dibawain roti sisir sama susu ber uang. Mau kubawa ke rumah sakit, tapi beliau nolak terus."


Asmi menaikan alisnya setinggi langit, "akang tau abah Eman?"


"Tau. Kan kamu yang nyuruh buat ketemu," jawab Alvaro. Asmi masih menaikan alisnya tanda tak percaya, pasalnya ais pangampih itu sulit sekali dekat dengan orang lain, apalagi sampai mau-maunya menerima pemberian orang lain, kalau bukan abah Uwie, Tarman dan apih, ia tak mau. Sekalipun itu tamu wisatawan yang hendak ke puncak Salam.


"Sedeket itu?!" tanya Asmi berseru 8 biji.


"Kurasa," singkat Alvaro cuek, "emang kenapa? Abah Eman baik,"


"Really?!" tanda seru Asmi semakin banyak.


"Iya. Dia ngajak ngopi bareng, ngerokok bareng." Alvaro semakin senang menggoda Asmi melihat reaksi gadis itu.


"Malah ngajak nyari cewek bareng,"


Bugh!


Asmi meninju lengan Alva, "ngga mungkin!" Alvaro tertawa.


"Aku ikut ya, boleh?" pinta Alvaro, "kemaren abah pesen kue marie, belum sempet kubeliin. Katanya enak dicelupin bareng kopi."


Asmi mengangguk meskipun masih tak percaya. Bahkan apih, Bajra, Candra, dan amih pun cukup terkejut dengan permintaan Alvaro yang ingin ikut.


Apih tersenyum, "kemon!" ia ingin tau seberapa tau Alvaro dengan abah Eman, mengingat Alvaro adalah calon menantunya, ia memang harus tau dan kenal dengan ais pangampih yang setia seumur hidupnya pada keluarga Kertawidjaja.


Jadilah mereka semua meninggalkan tempat acara menuju kediaman abah Eman di dekat leweung larangan.


Sepanjang jalan tanpa bimbingan siapapun keluarga Kertawidjaja sesekali mengobrol dan berceloteh ria.


Untung saja Nawang selalu membawa alat-alat kesehatan dasarnya di mobil. Jadi ia bisa sekalian mengecek kondisi abah Eman meski baru cek dasar saja. Bajra dan Candra membawa tentengan oleh-oleh favorit si ais pangampih. Sementara Kelana digandeng Asmi.


Cukup jauh mereka berjalan, melewati leweung Baladahan berisi lahan pertanian seperti singkong, kacang-kacangan dan yang lainnya, mereka berbelok melewati leweung tutupan yang berisi tanaman herbal, seperti rendeu, toga, babadotan, mahoni.


"Cape ih!" Dhara bersuara, "ayah! Capek!"


Candra terpaksa memberikan plastic bag yang di tangannya pada sang istri lalu menggendong gadisnya.


"Aa cape juga engga?" tanya Bajra menanyakan kabar bujangnya yang anteng berada diantara Asmi dan Alvaro di belakang.


"Engga." jawabnya.


Lain 5 menit yang lalu, lain saat ini. Kelana menggoyangkan tangan Asmi, "bi, aa capek..." keluhnya.


"Aa capek?" tanya Asmi sekali lagi meyakinkan, ia mengangguk. Baru Asmi akan memanggil Bajra, ayahnya...Alvaro sudah menawarkan bantuannya pada Kelana.


"Aa mau om gendong? Kasian ayahnya bawa barang?"


Kelana belum menjawab tapi jelas pandangan matanya mengarah pada plastic bag di tangan Alvaro, mungkin ia berkata, om juga bawa tuh!


Sadar akan arah mata Kelana, Alvaro dapat menjabarkan maksud Kelana, maklumlah, sesama orang yang pendiam dan cuek, tidak banyak bergaul dan bicara, mereka akan mengerti satu sama lain. Semacam punya intuisi.


"Nih, kamu yang bawain. Aku gendong Kelana." Alvaro menyerahkan plastic bagnya pada Asmi. Gadis itu mengangguk menerima sambil tersenyum penuh makna.

__ADS_1


Alvaro berjongkok dan meminta Kelana untuk naik ke pundaknya, dengan sendirinya bocah itu naik.


Kelana sedikit terhenyak ketika Alvaro berdiri, karena tingginya lebih dari tinggi sang ayah. Bersanding dengan Asmi udah mirip satu sama koma.


Asmi tertawa renyah, "waaa! Aa jadi tinggi banget euy!" ucapnya pada sang keponakan yang mau mengulas senyuman bangga namun pula malu.


"Sesama orang pendiem, punya naluri sefrekuensi ya bro?" tanya Asmi pada Alvaro, Alva hanya menyunggingkan senyuman tipis.


Dhara yang hanya digendong di punggung melirik ke arah belakang, ia berseru heboh melihat Kelana yang lebih tinggi di pundak Alvaro, ditambah kakak sepupunya itu tergelak terbahak karena Asmi yang mengusilinya dengan mengejar dan menggelitiki kaki juga pan tat Kelana.


"Dhala mau kaya aa Lana! Ngga mau kaya gini ayah! Dhala mau tinggi-tinggi!" serunya heboh, membuat sang ayah mengaduh, "aduh néng, nanti kecengklak pundak ayah atuh, néng!"


Asmi tertawa, "bilang aja ngga bisa," cibirnya.


"Néng Dhara, liat aa tinggi! Winggggg!" ia merentangkan kedua tangannya di udara.


"Aa, kasian atuh om Alva'nya, keberatan..." ujar Nawang.


"Engga ya om, ya? Lana ngga berat ya?" tanya Kelana pada Alva, bocah ini buka suara.


Alva menyunggingkan senyumnya, "engga."


"Cieee, udah bestie'an a Lana sama om'nya!" cibir Katresna.


Apih dan amih hanya bisa mengulas senyum melihat itu, begitupun Bajra, dalam sekejap Alvaro bisa meraih Kelana. Padahal tidak semua orang bisa akrab dengannya, raden Agah saja sampai sekarang belum bisa sedekat ini, meski terkadang sering memaksa Kelana untuk ikut mau, namun bocah itu seolah masih enggan berinteraksi hangat seperti sekarang. Tanda jika ia terpaksa.


Hawa dingin nan sejuk menyapa, bahkan terlihat dari tempat mereka berada sekarang, bahwa kabut sudah mulai turun gunung. Pepohonan pinus melambai seolah menyambut riuh dan segan dengan orang-orang yang datang.


Rumah gubug itu terlihat sepi dari luar, meskipun di luar pintu terdapat dua sendal berbeda.


"Tarman nungguin abah sendiri?" tanya amih.


"Iya." singkat apih.


Dhara dan Kelana turun dari gendongan, mereka tidak lagi bertanya kemana akan pergi atau rumah siapa itu, karena jelas merrka hampir tiap 2 kali dalam setahun kesini.


Alvaro duduk di bale-bale depan rumah abah dan membuka sandalnya, begitupun keluarga Kertawidjaja, "assalamu'alaikum!"


"Coba liat dulu, Can." pinta apih.


"Bah? Tarman?" Candra masuk duluan.


"Wa'alaikumsalam den...masuk saja!" Tarman rupanya tengah berada di kamar abah Eman.


Dilihatnya abah Eman sedang rebahan di kasur usangnya, bersama Tarman yang baru saja membereskan bekas kompresan kain lap dan air hangat di baskom.


Pria tua itu terbatuk dan membuka matanya, "eh, aden Candra..." ia hendak bangun saat menemukan Candra di gawang pintu kamar.


"Eh, ngga usah bangun bah!" Candra segera menahan abah Eman.


"Biar aja, abah tidur aja..." ucapnya.


"Abah kunaon atuh, cenah tos 3 dinten teu damang?" tanya Candra duduk di tepian ranjang. (Abah kenapa atuh, katanya udah 3 hari sakit?)


Ia melebarkan senyuman lebar di wajah pucatnya, kulit keriput yang membalut tulang rahang tegasnya mulai menunjukan gelambir pertanda ia kurus sekarang, tak segagah dulu.


"Assalamu'alaikum abah..." kini apih bersama yang lain masuk.


"Wa'alaikumsalam, aden...meni rame-rame gini," ia tersenyum hangat, senang rasanya jika sang raden beserta keluarga datang, berasa memiliki keluarga dan tak dibuang.


"Jangan bangun bah!"


Tarman permisi keluar demi membuat suguhan berupa kopi dan teh manis.


"Man, ngga usah, biar nanti menantu sama istri saya aja yang buat!" titah apih. Tarman nyengir segan, "biar raden, biar saya saja. Masa den nganten atau raden Tresna."


Nawang masuk ke dalam kamar dan melihat kondisi abah Eman, "abah, mau ya Nawang periksa?!"


"Aduh den, ngga usah lah. Paling cuma sakit kolot aja ini mah!" abah Eman terbatuk dan duduk di kepala ranjangnya.


"Biar bisa tau abah, kalo sakit...sakit apa, biar bisa diobatin gejalanya," bujuk teh Nawang. Apih mengangguk melihat abah, begitupun Candra dan Bajra.

__ADS_1


Namun abah Eman masih bimbang dan menimbang-nimbang. Alvaro yang awalnya duduk menemani Asmi di luar kini ikut masuk ke dalam, terlihat cukup penuh di ruangan kamar berukuran hanya 4 x 3 m itu.


"Abah," sapanya.


"Den," abah mengangguk sopan pada Alvaro membuat mereka ikut terkejut dengan apa yang dilakukan abah Eman.


"Bah, mau ya diperiksa téh Nawang. Kalaupun abah bersikukuh ngga mau diobatin medis, setidaknya kita tau obat herbal yang bisa dikasih buat abah," ucap Alvaro.


Abah Eman menatap Alva lekat-lekat, alis tebalnya menegaskan sorot dari netra hitamnya.


"Pinjem ya, bah?" Nawang sudah menempelkan alat stetoskop dan thermogun, tanpa penolakan dari abah.


"Bisa gitu ya, aa bro," bisik Candra pada Bajra.


Nawang memeriksa dan mencermati, "coba nafas, bah..."


Pria tua itu menarik nafasnya, namun hanya nafas pendek, "sakit den.." keluhnya.


"Sekali lagi, bah!"


"Sakit den,"


Alis Nawang berkerut, lalu ia menekan perut dan berpindah ke ulu hati abah, ia meringis kesakitan.


"Abah udah berapa lama ini?" Nawang melihat suhu badan dari ais pangampih keluarga Kertawidjaja ini dan cukup mengangkat alisnya, "kang Tarman, ini teh abah panas udah berapa hari?"


"Udah dari 3 atau 4 hari yang lalu gitu, den!" jawab Tarman.


"Waduhhh," sahut Nawang.


Abah Eman terbatuk-batuk dan kini di tangannya keluar bercak merah dari mulutnya.


"Abah?!" mereka cukup terkejut dibuatnya, karen abah Eman terbatuk tak berhenti.


"Eh, kenapa ini teh?!" tanya amih membawa serta nampan berisi kopi dan teh, bersama Katresna.


"Abah infeksi saluran pernafasan pih, lambungnya juga bermasalah..."


"Abah susah makan, muntah terus kan, Man?" tanya Nawang diangguki Tarman.


"Betul aden."


"Gimana atuh?" tanya apih.


"Kang Tarman bawa motor engga?" tanya Alva.


"Ada tapi di deket saung di kebon..." jawabnya.


Alvaro meminta kunci motor pada Tarman lalu segera berlari keluar, membuat Asmi yang berada di luar bersama anak-anak ikut panik.


"Kenapa?!" tanya Asmi.


Alva bergegas berlari hingga beberapa belas menit, dan kembali dengan motor bebek milik Tarman. Menggeber motor itu menuju rumah Abah Eman.


Ia memarkirkan motor itu di depan rumah abah, namun rupanya sesuatu yang buruk telah terjadi karena jelas Asmi sedang sesenggukan bersama Katresna, sementara apih membimbing abah Eman bersama Bajra.


"Asyhadu alla ilaha illalah....ikutin saya, abah..."


"Asyha....du..." ia terbata. Seraya Nawang mencari sinyal meminta bantuan dari rekan di rumah sakit.


Lirikan mata abah sudah tak terlihat lagi, Asmi tenggelam di dalan pelukan Alvaro sambil terisak melihat ais pangampih yang begitu setia mengabdi pada keluarganya, pada kasepuhan, pada masyarakat dan pada alam sekitar ini tengah berjuang mengucap kalimat syahadat, karena sejatinya seorang muslim akan dipertanyakan keimanannya di akhir hayat.


Ia terlambat memaksa abah agar mau pergi ke rumah sakit, atau memang jalan illahi memang harus seperti ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2